Beranda / Rumah Tangga / Menghancurkan Suamiku / Istri Sempurna yang Hancur

Share

Menghancurkan Suamiku
Menghancurkan Suamiku
Penulis: Zenareth-Gdnvl

Istri Sempurna yang Hancur

Penulis: Zenareth-Gdnvl
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-29 13:18:12

Hujan turun pelan di luar jendela, menari di atas kaca seperti tetes air mata yang tak diizinkan jatuh. Lampu di ruangan itu temaram, membentuk bayangan samar di wajah seorang wanita yang duduk dengan punggung tegak, tetapi sorot matanya kosong.

Marianna Fropium tidak pernah terlihat sekacau ini.

Rambut hitam pekatnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan, jatuh di atas bahunya seperti kelopak bunga yang telah layu. Bibir merahnya pucat, ujung jemarinya yang lentik terus meremas gelas kosong di tangannya. Jika seseorang yang tak mengenalnya melihatnya saat ini, mereka mungkin mengira dia hanyalah wanita biasa yang lelah oleh kehidupan.

Tapi Marianna tidak pernah menjadi wanita biasa.

"Aku tidak gila, bukan?" suaranya terdengar rapuh, hampir seperti bisikan. Sepasang mata hazel itu beralih menatap dua orang di hadapannya.

Lisabeth Candrakala, sahabat sekaligus psikiater yang tengah menangani Marianna, menghela napas. Wanita itu duduk di sofa dengan ekspresi penuh pemikiran, jemarinya yang ramping menopang dagunya. Tidak ada catatan atau alat perekam di tangannya. Mungkin karena ini bukan sesi terapi biasa. Ini bukan tentang pasien. Ini tentang sahabat.

Di sudut lain, Selias Anthares hanya diam. Pria itu duduk dengan sikap santai, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat atmosfer ruangan terasa lebih dingin. Jasnya yang berwarna hitam tanpa cela, rambutnya tertata sempurna, seperti biasa. Jika Lisabeth adalah suara empati dalam ruangan ini, maka Selias adalah keheningan yang menusuk.

"Tidak gila, Marianna." Lisabeth akhirnya bersuara, lembut tetapi terukur. Ia melanjutkan,

"Tapi kau... berbeda."

Marianna tertawa. Sebuah tawa tanpa kebahagiaan.

"Berbeda?" Ia memiringkan kepalanya, matanya memancarkan sesuatu yang tidak bisa ditebak.

"Lucu sekali, Lisa. Kau tahu, dulu aku adalah segalanya. Wanita yang sempurna. Cantik, cerdas, menawan. Istri yang baik. Aku adalah impian banyak orang."

Ia menegakkan tubuhnya, meletakkan gelas kosong di meja dengan sedikit lebih kuat dari yang seharusnya.

"Tapi apa yang kudapat? Seorang suami yang memperlakukanku seperti gundik. Sebuah pernikahan yang hanya formalitas. Cinta yang bahkan bukan milikku."

Ruangan itu hening sejenak.

Lisabeth memperhatikannya dengan saksama.

"Dan sekarang? Kau ingin apa, Marianna?"

Marianna terdiam mendengar pertanyaan Lisabeth. Ia kemudian menoleh, menatap lurus ke arah Selias.

"Kau tidak akan menghakimiku, kan?"

Pria itu mendesah pelan, menyesap kopinya sebelum menjawab,

"Aku tidak tertarik menghakimi siapa pun."

Lisabeth melirik Selias sebelum kembali pada Marianna.

"Kau ingin bicara tentang dia lagi, bukan? Abimanyu? Dan... Kasandra?"

Ada kilatan tajam di mata Marianna. Wanita itu menangkup wajah Lisabeth dengan kasar, membuat ketegangan.

"Jangan sebut nama wanita itu di hadapanku."

Lisabeth tidak terkejut. Ia sudah mengenal Marianna terlalu lama untuk tahu batas-batasnya.

"Kalau begitu, katakan padaku. Apa yang sebenarnya kau inginkan, Marianna? Kau sudah tahu apa yang terjadi. Kau bisa pergi dan meninggalkan mereka dalam kebusukan mereka sendiri."

Marianna tersenyum. Senyum yang sangat manis, sangat halus... tetapi begitu beracun.

"Meninggalkan mereka? Tidak, sayang." Ia beranjak dari kursinya, berjalan pelan menuju jendela, membiarkan jemarinya menyentuh kaca yang dingin.

"Aku lebih suka melihat mereka hancur... dengan tanganku sendiri."

Lisabeth diam, tetapi Selias menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Seolah dia baru saja melihat sesuatu yang berbahaya di dalam diri wanita itu.

Dan dia benar.

Hening sejenak. Hanya suara hujan yang mengisi ruangan, iramanya seakan mengikuti detak jantung yang kian mengencang.

"Kau tahu, Lis?" Marianna melanjutkan, masih menatap keluar jendela,

"Aku dulu percaya bahwa karma akan bekerja dengan sendirinya. Bahwa orang yang menyakitiku akan mendapatkan balasannya dari semesta. Tapi lihatlah, hidup mereka masih baik-baik saja. Bahkan bahagia. Sedangkan aku? Aku adalah wanita yang di sia-siakan."

Ia tertawa pelan, tetapi tawa itu lebih terdengar seperti serpihan kesedihan yang tajam. Tanpa diduga, Marianna menghantamkan telapak tangannya beberapa kali ke jendela dengan kekuatan yang berlebih. Jendela kaca itu pecah, serpihannya berhamburan di udara. Melukai tangan Marianna. Sebuah aksi yang membuat Lisabeth dan Selias panik, segera mendekat. Marianna meraung, teriakannya menggema. Tangis tak terelakkan, wanita itu menjambak rambutnya sendiri dengan tangan berlumuran darah. Selias menariknya menjauh dari jendela, sementara Lisabeth segera memeluk sahabatnya.

Air hujan masuk ke dalam ruangan, udara dingin terasa.

“Apa yang kau lakukan Marianna? Apa kau gila?” Tanya Selias dengan suara rendah yang terdengar seperti geraman.

Marianna depresi.

Ia hanya berharap, perih yang terasa di tubuhnya dapat mengalihkan rasa sakit dalam luka batin.

“Sudah cukup, Marianna. Sudah” Lisabeth memeluk Marianna erat-erat, mengusap punggungnya. Ia membawa sahabatnya duduk di sofa, membiarkan tangisnya keluar. Terdengar pilu, namun itulah obat yang sesungguhnya.

Lisabeth mungkin adalah seorang psikiater, namun ia belum pernah mengalami sendiri dihancurkan oleh pria yang harusnya menjadi rumah.

Jadi Lisabeth hanya membiarkan Marianna menangis, meraung, dan mencakar pakaiannya.

Lelaki se-brengsek apa yang telah menghancurkanmu, Marianna?

"Jika semesta tidak akan menghukum mereka, maka aku yang akan melakukannya."

Lisabeth bersandar pada sofa, ekspresinya rumit.

 "Dendam hanya akan mengubahmu menjadi seseorang yang kau benci, Marianna."

Marianna terisak, perlahan mencoba menenangkan diri. Wanita itu menatapnya.

"Mungkin. Tapi aku sudah tidak peduli lagi." Matanya menyorot ke arah Selias.

"Kau mengerti, bukan?"

Selias tetap diam sejenak, sebelum akhirnya beranjak dari tempatnya berdiri. Pria itu membuka laci di ruangan Lisabeth, mengambil perban, kapas dan antiseptik sebelum berjalan mendekat, menatap Marianna dengan cara yang sulit diartikan. Tangannya terulur, membersihkan luka wanita itu dengan gerakan lembut sebelum membalutnya dengan perban.

"Aku tidak akan mencoba mengubah keputusanmu, Marianna," katanya pelan, ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan,

"Aku hanya ingin tahu... seberapa jauh kau siap melangkah?"

Marianna menatapnya balik, lama. Kemudian, senyumnya merekah lagi, tetapi kali ini ada sesuatu yang lebih dingin di baliknya.

"Sejauh yang dibutuhkan."

Lisabeth tampak khawatir dengan jawaban Marianna.

“Kau yakin?”

Marianna menjawab mantap.

“Sangat yakin. Aku hanya membutuhkan bantuan kalian.”

Selias mengangkat alis.

“Kami rasa, tak etis bila kami ikut campur dalam masalah pribadimu.” Ucap pria bersurai klimis itu.

“Aku yang meminta kalian, bukan kalian yang memaksa ikut campur.”

Lisabeth terdiam, tak akan membantah lagi. Jika Marianna menginginkannya, maka Lisabeth hanya perlu memainkan perannya dengan baik demi mewujudkan keinginan Marianna.

“Baiklah, ceritakan pada kami situasinya. Kami akan membantu semampu kami” Ucap Lisabeth, sementara Selias hanya mengangguk.

Marianna tersenyum kelam.

“Semuanya dimulai dari sana”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menghancurkan Suamiku   12. Aku Tak Pernah Mengemis

    “Terus Ma, penjahatnya dipukul sama Iron Man!”Pagi itu, Marianna duduk di ruang makan, mengaduk kopi yang mulai mendingin tanpa berniat meminumnya. Di hadapannya, Adrian duduk dengan sendok kecil di tangan, mencoba menangkap perhatian ibunya. Namun, pikirannya masih terjebak dalam peristiwa malam sebelumnya.“Penjahatnya dipukul, ya?” ulangnya dengan senyum tipis.Saat ia baru saja akan menyuapi Adrian, suara langkah tegas terdengar dari kamar. Abimanyu keluar dengan wajah segar, seolah dunia ini berjalan sesuai keinginannya. Aroma parfum mewah melekat di tubuhnya, seakan menegaskan bahwa ia masih seorang Abimanyu Efmeros yang sempurna. Tanpa peduli pada pandangan istrinya yang penuh pertanyaan, ia langsung berjalan menuju meja dan meraih kunci mobilnya.“Aku akan makan di rumah Mama,” ujarnya santai, bahkan tanpa menoleh pada Marianna.Wanita itu terdiam sejenak, menatap suaminya dengan keterkejutan yang samar. “Kau bahkan belum sarapan.”“Ada acara keluarga. Aku tidak bisa melewatk

  • Menghancurkan Suamiku   11. Kewarasan

    “Mati saja. Mati saja kau, sialan. Masalah seperti ini saja tak bisa kau hadapi.” Bisiknya.Malam itu, Marianna duduk di depan meja riasnya, menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan kosong. Cahaya temaram dari lampu tidur membuat bayangannya tampak lebih pucat, lebih rapuh. Gaun tidur sutra yang membalut tubuhnya terasa seperti belenggu dingin yang mengingatkan bahwa ia bukan lagi seorang istri, melainkan sekadar pemuas nafsu bagi lelaki yang pernah ia cintai.Ia menghela napas panjang, tangannya gemetar saat menyentuh kulit lehernya yang masih terasa panas akibat cengkeraman kasar yang sering kali ia terima. Sejak kapan dirinya berubah menjadi seseorang yang tidak ia kenali? Sejak kapan pernikahannya, yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan, berubah menjadi perang dingin yang penuh dengan penindasan?Pintu kamar terbuka tanpa ketukan, dan sosok Abimanyu muncul dengan wajah yang menandakan kelelahan, namun di matanya terpancar sesuatu yang lain: hasrat yang telah lama menjadi mo

  • Menghancurkan Suamiku   10. Bukan Anak Kita?

    “Teh melati? Aromanya agak kuat. Tapi menenangkan. Hanya saja... agak horor kalau diminum malam”Denting gelas kaca yang diletakkan di atas meja terdengar pelan di ruangan yang dipenuhi aroma teh melati. Marianna duduk di sofa, menatap ke luar jendela dengan mata yang kosong. Hari itu, hujan turun perlahan, membasahi jalanan yang sepi di luar sana. Namun, di dalam ruangan itu, badai yang lebih dahsyat sedang berkecamuk dalam hatinya.Di seberangnya, mata kecoklatan memperhatikan. Lisabeth Candrakala. Wanita itu menyesap tehnya, lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya bersuara, "Kau tahu kenapa aku memanggilmu ke sini, kan?"Marianna mati kutu. Tangannya meremas rok yang ia kenakan, jari-jarinya yang ramping sedikit gemetar. Ia tahu. Tentu saja ia tahu. Lisabeth bukan hanya seorang sahabat, tetapi juga seorang psikiater yang intuisinya menyamai silet. Dan hari ini, tidak ada alasan lain bagi Lisabeth untuk memanggilnya kecuali untuk membicarakan satu hal: pernikahannya."Aku hanya

  • Menghancurkan Suamiku   9. Dia Anakmu!

    “Hah, entah dengan lacur mana lagi dia tidur, Lis.”Ia memutus sambungan telepon mendadak. Rasa pahit di lidahnya menjadi tanda, sebentar lagi ia akan menangis. Ia tak suka Lisabeth mengetahui kerapuhannya.Marianna sudah lama berhenti berharap. Bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang secuil kepedulian dari pria yang seharusnya menjadi kepala keluarganya. Ia masih ingat hari-hari ketika ia menunggu dengan sabar, percaya bahwa Abimanyu akan berubah. Bahwa suaminya itu akan melihat dirinya dan Adrian sebagai keluarga yang pantas diperjuangkan.Namun, hari demi hari berlalu dengan kenyataan yang semakin menghancurkan. Abimanyu bukan hanya seorang pria yang tidak setia, tetapi juga seorang ayah yang tidak peduli. Dan tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat putranya tumbuh dengan perasaan tidak diinginkan oleh ayah kandungnya sendiri.Pagi itu, Marianna menyiapkan sarapan seperti biasa. Meskipun tidak ada yang berubah dari rutinitasnya, ada sesuatu yang semakin menggerogot

  • Menghancurkan Suamiku   8. Mengasah Pisau

    Marianna menelan ludah untuk kesekian kalinya.“Tidak, ini semua tidak benar. Ya, Maria. Dia suamimu. Kau... tidak, aku benci pikiranku” Ia berbisik lirih.Malam itu, ia berdiri di dapur, tangannya gemetar saat menuangkan segelas air. Adrian sudah tertidur di kamarnya, dan Abimanyu baru saja pulang dalam keadaan mabuk berat. Langkahnya tidak stabil, tubuhnya beraroma campuran antara alkohol dan parfum wanita lain. Tidak perlu menebak dari mana ia berasal.“Kau tidak bisa melakukan ini terus-menerus, Abi,” suara Marianna bergetar, meskipun ia berusaha terdengar tegar. “Kita masih punya anak. Adrian butuh ayahnya.”Abimanyu menatapnya dengan mata merah. Ia tertawa kecil, mencemooh. “Kau pikir aku peduli? Aku sudah cukup baik tetap memberimu rumah untuk tinggal.”“Kau tidak memberiku rumah. Rumah ini dari uang kita berdua,” balas Marianna dengan napas tertahan. Ia tahu ia seharusnya tidak melawan, tidak ketika pria di hadapannya sedang dalam kondisi seperti ini. Namun, kelelahan dan kema

  • Menghancurkan Suamiku   7. Bajingan, Abimanyu.

    Marianna merasakan jantungnya berdegup kencang. Adrenalin mengalir deras di nadinya, namun ia menekan gejolak emosinya. Tidak, ia tidak boleh gegabah. Tidak boleh mempermalukan diri sendiri.Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggung, lalu melangkah menuju meja tempat Kasandra duduk."Kasandra," suaranya terdengar tenang, tapi dingin.Kasandra mendongak, sedikit terkejut melihat Marianna berdiri di sana. Namun, ekspresi itu segera berubah menjadi seringai kecil. Seringai kemenangan."Oh, Marianna. Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini," ucapnya ringan, seperti tidak ada yang salah.Marianna tidak menggubris basa-basi itu. Tatapannya langsung tertuju pada kotak bekal yang digenggam Kasandra."Itu milikku," ujarnya singkat.Kasandra mengangkat alis, lalu dengan sengaja memutar kotak bekal itu di tangannya, memperlihatkan detailnya dengan gerakan santai. Menunjukkan bahwa ia tahu Marianna akan mengenalinya."Oh, ini?" Kasandra tersenyum, lalu membuka tutupnya sedikit. Aroma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status