LOGINTidak membutuhkan waktu lama bagi Evano untuk tiba di rumah Lunaya.Begitu memasuki rumah, Dia langsung menghampiri wanita itu yang sudah menunggunya di ruang keluarga."Mana fotonya?" tanyanya.Lunaya segera menyerahkan foto yang diterimanya."Ini."Evano mengambilnya, kemudian memperhatikan gambar tersebut dengan saksama.Wajahnya tampak serius ketika melihat dirinya sendiri terbaring di ranjang rumah sakit."Apakah kamu sudah memperhatikan bagian belakangnya?" tanya Lunaya.Evano membalik foto itu.Di sana tertulis sebuah kalimat.Dia bukan orang yang seharusnya berada di sana.Evano mengerutkan kening."Apa maksudnya?""Aku juga tidak tahu. Tapi ada sesuatu yang lebih aneh."Lunaya mengambil foto itu kembali, lalu menunjukkan bagian bawahnya."Perhatikan gelang yang dikenakan orang ini."Evano mendekatkan foto tersebut ke arah matanya.
Evano masih terdiam setelah mengakhiri panggilan telepon dari asistennya. Informasi yang baru saja Dia dengar membuat pikirannya semakin kacau. Seseorang yang tercatat sebagai orang yang membawanya ke rumah sakit ternyata sudah dinyatakan meninggal dunia beberapa bulan sebelum kecelakaan itu terjadi. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah meninggal bisa muncul dan menyelamatkan dirinya? "Evano." Suara Lunaya membuatnya sedikit tersadar. "Kamu baik-baik saja?" Evano mengangguk kecil, meskipun raut wajahnya masih menunjukkan kebingungan. "Saya hanya tidak menyangka akan menemukan informasi seperti ini." Lunaya memperhatikan wajahnya. "Apakah kamu sudah mengetahui siapa nama orang itu?" "Belum. Asisten saya masih memeriksanya." Evano mengusap wajahnya pelan. "Namun, ada sesuatu yang membuat saya semakin yakin
Evano baru saja keluar dari rumah Karina ketika ponselnya berdering.Nama Lunaya muncul di layar.Dia segera mengangkat panggilan tersebut."Halo, Lunaya?""Evano, kamu sedang di mana?""Saya baru saja dari rumah Kak Karina. Ada apa?"Lunaya terdiam sebentar."Aku menerima pesan lagi dari nomor tidak dikenal."Evano langsung mengernyit."Pesan apa?"Lunaya tidak langsung menjawab. Dia kembali memperhatikan foto yang dikirimkan kepadanya."Orang itu mengirimkan sebuah foto rumah sakit dari lima tahun lalu. Ada seseorang yang terlihat berdiri di dekat pintu masuk.""Apakah kamu mengenali orang tersebut?""Tidak. Wajahnya tidak terlihat jelas.""Selain foto itu, apakah ada pesan lain?"Lunaya menarik napas."Dia mengatakan agar aku tidak membiarkanmu mempercayai Kak Karina. Katanya, Karina bukan satu-satunya orang yang menyembunyikan kejadian m
Keesokan harinya, Evano benar-benar menepati ucapannya.Dia datang ke rumah Karina menjelang siang. Sebelumnya, Dia sudah menghubungi kakaknya untuk memastikan bahwa wanita itu berada di rumah.Karina sendiri sebenarnya tidak ingin menerima kedatangan Evano. Namun, Dia juga tahu bahwa menghindar hanya akan membuat adiknya semakin curiga."Evano."Karina menyambut adiknya dengan senyum yang dipaksakan."Kak."Evano membalas singkat, kemudian mengikuti Karina menuju ruang keluarga."Kamu mau minum sesuatu?" tanya Karina."Tidak perlu. Saya hanya ingin membicarakan sesuatu."Senyum Karina perlahan menghilang.Dia duduk di sofa yang berhadapan dengan Evano, berusaha terlihat tenang meskipun pikirannya dipenuhi kecemasan."Apa yang ingin kamu bicarakan?"Evano tidak langsung menjawab. Dia justru mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku jasnya.Gantungan kunci.Be
Sepanjang perjalanan pulang, Evano lebih banyak diam. Sesekali Dia melirik gantungan kunci yang diletakkan di atas dashboard mobil.Pikirannya masih dipenuhi oleh pertemuannya dengan pria misterius tadi.Ada banyak pertanyaan yang ingin Dia ajukan, tetapi pria itu justru pergi sebelum memberikan jawaban yang jelas.Lunaya yang duduk di sampingnya juga tidak banyak bicara. Dia memahami bahwa Evano sedang berusaha menyusun kembali kepingan ingatan yang selama ini hilang.Namun, ada satu hal yang membuatnya penasaran."Evano.""Hm?""Kamu benar-benar tidak ingat siapa pemilik gantungan kunci itu?"Evano menggeleng pelan."Saya hanya merasa pernah melihatnya. Bahkan, ketika memegang benda itu tadi, ada sesuatu yang muncul di kepala saya.""Apa?"Evano menarik napas."Saya mendengar suara seseorang memanggil nama saya. Suaranya terdengar sangat dekat, seolah orang itu berada tepat
Evano menatap pria yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Ada sesuatu yang terasa ganjil. Suara pria itu terdengar begitu familier, seolah pernah Dia dengar berkali-kali sebelumnya. Namun, sekeras apa pun Dia mencoba mengingat, wajah pria tersebut tetap tidak bisa muncul dalam ingatannya."Siapa kamu sebenarnya?" ulang Evano dengan nada lebih tegas.Pria itu justru tersenyum tipis."Kamu benar-benar tidak mengingat saya?"Evano mengerutkan kening. "Kalau saya mengenalmu, saya tidak akan bertanya seperti itu.""Benarkah?" Pria itu melirik sekilas ke arah Lunaya. "Atau mungkin ada seseorang yang sengaja membuatmu melupakan semuanya?"Lunaya menoleh kepada Evano. Dia bisa melihat rahang pria itu mengeras. Jelas, ucapan tersebut berhasil memancing emosinya."Jangan membawa Lunaya ke dalam urusan ini," ujar Evano dingin.Pria itu terkekeh pelan. "Kamu masih sama seperti dulu. Selalu berusaha melindungi orang yang ada di dekatmu.""Apa maksudmu?""Sepertinya kamu memang belum siap men







