MasukHalo, teman-teman!! Sejauh ini gimana ceritanya menurut kalian?? Jika kalian suka, jangan lupa komen dan berikan GEM, biar aku semangat update hehe
“Beliau hanya menitipkan surat balasan ini melalui kurir, Yang Mulia,” ucap pelayan itu lirih, sambil menyodorkan sebuah nampan, tangannya gemetar tak tersembunyi.Arthur meraih surat itu dengan kasar. Amplopnya tampak biasa—putih polos, tipis, dan dilem seadanya. Tidak ada aroma parfum mawar yang biasanya menyengat. Tidak ada stiker berbentuk hati atau bekas lipstik di sudut amplop, hal-hal norak yang selalu Valeriana sertakan tanpa malu.Dengan gerakan tak sabar, Arthur merobek amplop itu. Ia menarik keluar selembar kertas dan mulai membaca.Elena, yang duduk di sampingnya, ikut melirik penuh rasa ingin tahu. Ia penasaran alasan apa yang akan dipakai Valeriana kali ini. Surat cinta panjang penuh rayuan? Atau puisi cengeng yang memohon belas kasihan?Namun, seiring Arthur membaca baris demi baris, wajahnya perlahan memerah. Urat-urat di lehernya menegang dan menonjol jelas. Napasnya menjadi berat dan kasar, seperti banteng yang tersulut amarah saat melihat kain merah.“Berani-beranin
"Yang Mulia Putra Mahkota,Surat Anda telah saya terima, meskipun kini sudah tidak lagi berwujud. Surat tersebut telah saya bakar.Perihal undangan atas nama “permintaan maaf” itu, dengan segala penyesalan saya terpaksa menolaknya.Kondisi kesehatan saya saat ini menurun drastis akibat syok atas kejadian kemarin. Tabib secara tegas menyarankan saya untuk menjalani istirahat total. Dalam keadaan seperti ini, mustahil bagi saya untuk memenuhi undangan apa pun.Selain itu, sebagai seorang istri yang berbakti, prioritas utama saya sekarang adalah mendampingi dan melayani suami saya, Duke Kael, yang baru saja kembali dari tugas negara. Saya tidak dapat meninggalkan beliau hanya demi urusan yang tidak mendesak.Sampaikan salam saya kepada Nona Elena. Sebagai bentuk perhatian, kelak akan saya kirimkan sebuah gaun baru, sedikit lebih mewah, untuk menggantikan gaun kemarin yang terkena tumpahan teh."— Hormat saya,Duchess Valeriana de VallasValeriana meletakkan pena dengan senyum puas. Ia me
Siang itu, suasana di Kediaman Duchy Vallas terasa jauh lebih damai dari biasanya. Setelah “Inspeksi Maut” dan pemecatan massal yang dilakukan Valeriana pagi tadi, para pelayan yang tersisa bekerja dengan efisiensi yang mengagumkan. Tak ada lagi bisik-bisik mencurigakan, tak terlihat pula wajah-wajah malas yang bekerja setengah hati. Udara terasa lebih segar, seolah beban negatif yang selama ini menyelimuti kediaman itu ikut terangkat bersama terusirnya Hans dan para anteknya.Valeriana duduk santai di solarium—ruang berdinding kaca yang menghadap langsung ke taman belakang. Di hadapannya tersaji secangkir teh chamomile hangat dan sepiring scone yang masih mengepulkan uap.“Hm, enak,” gumamnya sambil menggigit kue itu. “Ternyata kalau anggaran dapur tidak dikorupsi, rasa kuenya langsung naik kelas.”Ia menyandarkan punggung ke kursi rotan empuk dan meluruskan kakinya di atas bangku kecil. Sensasi nyaman itu membuatnya merasa seperti pensiunan kaya raya yang tengah menikmati masa tua d
TRANG!Benturan logam yang nyaring memecah udara, bergema ke seluruh penjuru ruang latihan indoor kediaman Duchy Vallas. Percikan api kecil sempat menyala sesaat ketika dua bilah pedang saling menghantam dengan kekuatan penuh.“Whoa! Santai, Tuan! Santai!”Lucas terhuyung ke belakang beberapa langkah, napasnya tersengal. Kacamata berbingkai perak melorot hingga ke ujung hidung, sementara keringat mengucur deras dari pelipisnya. Tangan kirinya terangkat memberi isyarat menyerah, sedangkan tangan kanannya yang masih menggenggam pedang latih bergetar hebat, menahan sisa getaran benturan barusan.Di hadapannya, Kael de Vallas berdiri tegak tanpa sedikit pun goyah. Sang Duke sama sekali tidak tampak lelah. Napasnya tetap teratur, kuda-kudanya kokoh seperti pilar, dan mata abu-abunya menatap tajam—setajam ujung pedang yang baru saja diayunkannya. Keringat yang mengalir di leher dan dadanya—terekspos oleh kemeja latihan dengan kancing atas terbuka—alih-alih mengurangi wibawa, justru membuat
Melawan rasa takut yang menyesakkan dadanya, Valeriana segera menghampiri Sarah yang masih mengejang hebat. Busa putih keluar dari sudut mulut wanita itu, pemandangan yang membuat siapa pun bergidik. Dengan jelas Valeriana menyadari—Sarah sengaja dibunuh untuk membungkamnya selamanya.Pandangan Valeriana tertuju pada sebuah jarum yang tergeletak di dekat telinga Sarah. Ia refleks hendak mengambilnya, tetapi Anna dengan cepat mencegahnya.“Jangan, Nyonya! Itu beracun! Anda bisa ikut terkena!” teriak Anna panik.Gadis itu segera menarik Valeriana menjauh dari tubuh Sarah yang kini telah berhenti mengejang. Namun busa dari mulutnya masih terus keluar, sementara kedua matanya melotot lebar—seolah ia mati dalam penolakan, tak rela menerima akhir hidupnya.Valeriana terdiam. Benar juga, barusan ia terlalu gegabah.Ia menatap Anna yang tampak sangat khawatir. Gadis itu begitu perhatian, padahal dulu Valeriana asli sering memperlakukannya dengan kasar.“Tolong ambilkan sarung tangan,” perinta
Valeriana menatap Hans dengan sorot mata tajam. “Ada selisih hampir tujuh puluh persen dari total anggaran yang masuk ke pos biaya lain-lain, ditambah penggelembungan harga bahan makanan,” ucapnya dingin. “Uang itu menguap begitu saja… entah jatuh ke tangan siapa.”Valeriana sangat yakin. Hans tidak mungkin berani melakukan korupsi sebesar itu sendirian. Pasti ada sosok kuat yang berdiri di belakangnya. Kecurigaannya mengarah pada satu nama: Marquis Gosh. Jika benar Hans menggerogoti keuangan kediaman Duke Kael untuk disetorkan pada pria tua bangka itu, maka kelicikannya sungguh luar biasa.Wajah Hans seketika pucat pasi. Lututnya gemetar. Ia ingin membantah, tetapi deretan angka di hadapannya tak memberi celah untuk berbohong.Ia telah meremehkan Valeriana. Menganggap sang Duchess hanya boneka cantik tanpa otak. Ia pikir Valeriana tak akan pernah mau mengurusi rumah tangga bersama Duke Kael, karena gadis itu mencintai Pangeran Arthur dan membenci Kael sepenuh hati. Namun sekarang? Va







