Home / Fantasi / Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya / Bab 1. Teh panas dan ingatan masa depan

Share

Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya
Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya
Author: Lovely Pearly

Bab 1. Teh panas dan ingatan masa depan

Author: Lovely Pearly
last update Last Updated: 2026-01-19 11:24:51

PRANG!

Bunyi porselen mahal yang menghantam lantai marmer menggema nyaring, membelah keheningan sore. Pecahannya berhamburan, memantulkan sinar matahari layaknya serpihan berlian-indah namun berbahaya. Belum sempat gema itu hilang, jeritan melengking segera menyayat telinga.

"KYAAAAA! Panas! Panas sekali!"

Di tengah taman istana yang dipenuhi mawar bermekaran, seorang gadis muda berdiri kaku. Napasnya tercekat, sementara matanya mengerjap bingung berusaha mencerna realitas yang bergeser drastis. Namanya Kirana. Setidaknya, itulah yang ia yakini sedetik lalu. Ia ingat betul masih meringkuk di balik selimut kamar kos, ditemani hawa dingin AC suhu enam belas derajat dan keripik pedas usai menamatkan novel romance kerajaan.

Namun kini, dingin itu lenyap. Aroma lavender kamarnya berganti udara panas yang menyengat kulit, bercampur wangi mawar pekat dan aroma teh Earl Grey yang menusuk hidung.

Jantung Kirana berdegup liar saat menunduk menatap tubuhnya sendiri. Kaus oblong dan celana pendeknya telah raib, berganti gaun merah darah berbahan sutra tebal dengan renda emas yang menyapu rumput. Di pinggangnya, korset melilit begitu erat seolah memaksa tulang rusuk menyatu, membuat pasokan oksigen di paru-parunya terasa dijatah. Tangan kanannya pun tampak asing, terlalu putih, terlalu halus, dengan kuku panjang bercat merah yang masih menggenggam gagang cangkir patah.

"Apa yang ...," gumam Kirana. Suara yang keluar dari bibirnya membuatnya tertegun-lebih tinggi, dingin, dan berbalut keangkuhan yang tak pernah ia miliki.

"Valeriana! Apa kau sudah gila?!"

Bentakan itu menyambar keras. Kirana mendongak perlahan, mendapati seorang pria dengan ketampanan nyaris tak nyata berdiri beberapa langkah di hadapannya. Rambut pirang keemasannya berkilau diterpa matahari sore, kontras dengan mata biru jernih yang kini menatap Kirana penuh kebencian.

Pria itu merangkul bahu gadis mungil yang menangis tersedu-sedu. Gadis itu tampak rapuh dengan rambut cokelat madu dan wajah bak boneka porselen. Gaun putihnya ternoda cairan cokelat di bagian dada, di mana uap panas masih mengepul tipis dari kulit lehernya yang mulai memerah.

"S-sakit ... Yang Mulia, perih sekali ...," rintih gadis itu gemetar.

Otak Kirana berputar cepat bak prosesor tua yang dipaksa bekerja keras. Pria tampan itu dipanggil Yang Mulia. Gadis polos itu menjadi korban. Dan dirinya sendiri ... dipanggil Valeriana.

Darah seketika menyurut dari wajah Kirana. Tidak mungkin. Ini adalah adegan pembuka novel Cinta Sang Pangeran yang baru saja ia tamatkan! Kirana bukan lagi pegawai swasta yang gemar rebahan. Ia kini terjebak di tubuh Valeriana de Vallas. Sang Villainess. Istri durhaka yang terobsesi pada Putra Mahkota, wanita gila yang takdirnya tertulis dengan tinta darah: mati dipenggal di alun-alun kota disaksikan sorak sorai rakyat.

Lututnya melemas. Jika bukan karena rangka penyangga gaun yang kaku, ia pasti sudah ambruk.

"Jawab aku, Valeriana!" Pangeran Arthur melangkah maju, memancarkan aura intimidasi yang kuat. "Tega-teganya kau menyiram Elena dengan teh panas di pesta ulang tahunku sendiri! Di mana kau simpan otak dan hati nuranimu, hah?!"

Taman istana mendadak sunyi. Musik orkestra terhenti. Puluhan pasang mata kini tertuju pada Kirana, diiringi bisik-bisik tajam para bangsawan di balik kipas bulu mereka.

"Lihat itu, Duchess Vallas kumat lagi."

"Benar-benar tak tahu malu. Sudah bersuami masih mengejar Pangeran."

"Kasihan Nona Elena. Tak heran Duke Kael tak pernah membawa istrinya ke perbatasan."

Cemoohan itu menusuk bagai jarum halus. Tatapan mereka bukan kekaguman, melainkan jijik-seolah Valeriana adalah serangga kotor di pesta mewah. Tubuh Valeriana gemetar hebat. Nyeri di kaki akibat sepatu hak tinggi, cekikan korset, dan sorot membunuh Pangeran Arthur terasa terlalu nyata untuk sekadar mimpi.

Dalam novel, Valeriana asli takkan gentar. Ia akan mendongak angkuh dan berteriak bahwa gadis kampung itu pantas disiram air mendidih. Teriakan yang menjadi paku pertama di peti matinya. Namun, Kirana hanyalah gadis biasa yang ingin hidup tenang.

"A-aku ...." Lidahnya kelu. Tenggorokannya kering kerontang.

Elena yang masih dalam pelukan Arthur perlahan mendongak. Air mata sebening kristal mengalir sempurna di pipi meronanya. Akting kelas Oscar.

"Yang Mulia," isak Elena lembut, namun cukup keras untuk memuaskan telinga yang haus drama. "Sudahlah. Tolong jangan marahi Duchess Valeriana. Mungkin ... mungkin beliau sedang banyak pikiran karena Duke Kael jarang pulang. Saya mengerti perasaan beliau."

Sialan. Kalimat itu terdengar seperti pembelaan malaikat, padahal isinya racun murni. Tanpa menuduh langsung, Elena menanamkan stigma bahwa Valeriana adalah istri frustrasi yang melampiaskan amarah rumah tangganya pada orang tak bersalah.

Rahang Arthur mengeras begitu nama Kael disebut. "Jangan berani-berani membawa nama Duke Kael yang terhormat untuk menutupi kelakuan busukmu," geramnya seraya menunjuk wajah Valeriana.

"Duke Kael adalah pahlawan perang! Pria malang yang bernasib sial karena terikat pernikahan politik dengan wanita sepertimu! Dia pasti malu setengah mati memiliki istri seperti dirimu!"

Kata-kata itu menghantam ulu hati. Bukan karena harga diri, melainkan karena Valeriana tahu itu benar.

Duke Kael de Vallas. Ingatan tentang karakter favoritnya itu seketika membanjiri benak Valeriana. Suami sah dari tubuh ini. Pria dingin yang kerap dihina Valeriana asli sebagai "Monster Bau Darah", padahal sesungguhnya ia mencintai istrinya sepenuh hati. Kael adalah perisai yang selalu membereskan kekacauan Valeriana dalam diam.

Dan akhirnya? Ia mati tragis. Dituduh memberontak demi melindungi istrinya yang bodoh, disiksa, hingga akhirnya bunuh diri saat mendengar Valeriana dieksekusi.

'Aku tidak mau mati,’ jerit batin Valeriana panik. Aku juga tidak mau Kael mati! Kenapa aku harus masuk di momen seburuk ini?!'

"Minta maaf!" Suara dingin Arthur memutus lamunannya. "Sekarang juga. Berlutut dan minta maaf pada Elena di depan semua orang."

Mata Valeriana membelalak. Berlutut?

Permintaan itu membuat kerumunan menahan napas. Memaksa seorang Duchess berlutut pada putri Baron rendahan adalah penghinaan luar biasa yang akan menyeret martabat keluarga Vallas ke dalam lumpur. Jika ia menolak, Arthur makin murka. Jika ia menurut, ia menghancurkan nama baik suaminya. Maju salah, mundur pun celaka.

"Kau tuli, Valeriana?" desak Arthur, melangkah seolah hendak memaksanya tunduk secara fisik.

Valeriana mundur selangkah, jantungnya serasa hendak meledak. Ia sendirian di dunia asing, dikelilingi musuh. 'Tuhan ... tolong aku. Siapa saja ....'

Saat tangan Arthur terulur hendak mencengkeram bahunya, suara derap langkah kaki berat tiba-tiba menggema.

Bukan langkah biasa. Itu bunyi sepatu bot militer yang menghantam jalan setapak batu-keras, teratur, dan mengintimidasi. Irama asing di tengah pesta yang dipenuhi sepatu dansa. Kerumunan bangsawan yang tadinya sibuk bergosip seketika terbelah dengan wajah pucat penuh segan.

Valeriana menoleh, mengikuti arah pandang semua orang. Napasnya tercekat.

Di ujung jalan setapak, berdiri sosok tinggi menjulang dalam seragam militer hitam berornamen perak. Jubah hitamnya berkibar pelan, membawa hawa dingin yang kontras dengan terik matahari. Wajahnya datar tanpa emosi bak pahatan pualam, namun sepasang mata abu-abu setajam badai itu menyapu area sebelum berhenti tepat pada Valeriana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 5. Selamat datang di neraka dingin

    Roda kereta kuda berlogo serigala perak itu akhirnya berhenti di atas jalanan berkerikil. Sir Lucas dengan cekatan membuka pintu dari luar, membiarkan cahaya senja menyelinap masuk ke dalam kabin yang temaram. Kael turun lebih dulu. Gerakannya tangkas dan efisien khas militer. Begitu sepatu botnya menapak tanah, ia berbalik. Tangan besarnya yang kini terbalut sapu tangan sutra robek dengan simpul berantakan—terulur ke arah dalam.Di dalam kereta, Valeriana tertegun menatap tangan itu. Desiran hangat yang asing merambat di dadanya. Dalam novel aslinya, Kael tak pernah melakukan gestur semanis ini. Biasanya, Valeriana asli akan menepis kasar tangan suaminya atau berteriak memanggil pelayan untuk dijadikan pijakan kaki. Namun, sejarah kali ini memilih jalur berbeda.Valeriana meletakkan tangan halusnya di atas telapak tangan Kael yang kasar namun hangat. “Terima kasih,” ucapnya lembut seraya turun.Kael tidak menjawab, hanya memberi anggukan kaku dengan wajah datar bak tembok benteng.Na

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 4. Keheningan di kereta kuda

    Valeriana duduk gelisah. Korset terkutuk ini benar-benar menyiksa. Setiap kali kereta berguncang melewati jalanan berbatu, kawat penyangganya menusuk rusuk tanpa ampun. Rasanya ia ingin sekali bersandar, merosot malas, atau mengangkat kaki ke kursi seperti kebiasaannya dulu saat naik angkot atau taksi online. Namun, itu mustahil. Tanpa smartphone untuk menggulir TikTok demi mengusir canggung, Valeriana akhirnya melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan: mengamati suaminya.Diam-diam, dari balik bulu mata lentik hasil perawatan mahal, ia mencuri pandang. "Gila", batinnya, nyaris menelan ludah. "Ganteng banget."Dari jarak sedekat ini, hanya terpisah ruang kaki sempit. Ketampanan Kael terasa tidak manusiawi. Rahangnya tegas seolah dipahat seniman perfeksionis, hidungnya mancung sempurna, dan kulit eksotisnya yang terpapar matahari medan perang sangat kontras dengan para bangsawan ibu kota yang pucat. Valeriana benar-benar tidak habis pikir, bagaimana mungkin pemilik tubuh aslinya

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 3. Permintaan maaf yang aneh

    Pangeran Arthur, yang semula sudah siap melontarkan kalimat sinis berikutnya, mendadak terdiam. Matanya membelalak. Kael, yang menangkap perubahan itu dari sudut matanya, seketika menegang. Apa yang akan Valeriana lakukan? Pikirnya panik. Apakah ia akan melempar sepatu ke Arthur? Atau meludahi Elena?Namun, dugaan Kael meleset jauh. Valeriana menggenggam sisi rok gaun merahnya yang mengembang dengan kedua tangan. Kaki kanannya mundur selangkah, anggun. Lalu, dengan gerakan luwes, meski sedikit terhambat korset sialan yang mencekik pinggang-ia menekuk lutut dan menundukkan kepala dalam-dalam.Ia melakukan curtsey. Sebuah penghormatan khas wanita bangsawan dan sangat dalam, jauh melampaui batas etika biasa. Kepalanya tertunduk hingga dagunya nyaris menyentuh dada."S-saya ... ." Suara Valeriana terdengar, sedikit bergetar, namun jelas. Tidak ada nada tinggi khas Valeriana yang asli. "Saya juga meminta maaf. Saya telah merusak suasana pesta yang indah ini."Suasana mendadak hening. Seand

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 2. Kedatangan sang suami

    Pria itu berhenti tepat di batas antara kerumunan bangsawan dan "zona konflik" tempat Valeriana berdiri. Dia adalah Kael de Vallas, suami Valeriana.Jika ilustrasi novel menggambarkan Kael sebagai pria tampan, melihatnya secara langsung terasa seperti serangan jantung visual. Tubuhnya menjulang nyaris seratus sembilan puluh sentimeter dengan bahu lebar yang tegap, terbungkus rapi seragam militer hitam beraksen perak. Namun, detail kecil yang luput dari perhatian orang lain justru membuat Valeriana terpaku. Dada bidang itu naik turun tak beraturan, keringat tipis mengalir di pelipis tegasnya, dan rambut hitamnya sedikit berantakan tertiup angin. Sang "Monster Perang" yang selalu tenang itu baru saja berlari.Valeriana tahu betul, dalam plot aslinya, Kael seharusnya berada di barak militer pinggiran ibu kota. Fakta bahwa ia tiba secepat ini hanya berarti satu hal: ia memacu kudanya seperti orang kesetanan begitu mendengar kabar istrinya kembali membuat masalah.“Yang Mulia Putra Mahkota

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 1. Teh panas dan ingatan masa depan

    PRANG! Bunyi porselen mahal yang menghantam lantai marmer menggema nyaring, membelah keheningan sore. Pecahannya berhamburan, memantulkan sinar matahari layaknya serpihan berlian-indah namun berbahaya. Belum sempat gema itu hilang, jeritan melengking segera menyayat telinga. "KYAAAAA! Panas! Panas sekali!" Di tengah taman istana yang dipenuhi mawar bermekaran, seorang gadis muda berdiri kaku. Napasnya tercekat, sementara matanya mengerjap bingung berusaha mencerna realitas yang bergeser drastis. Namanya Kirana. Setidaknya, itulah yang ia yakini sedetik lalu. Ia ingat betul masih meringkuk di balik selimut kamar kos, ditemani hawa dingin AC suhu enam belas derajat dan keripik pedas usai menamatkan novel romance kerajaan. Namun kini, dingin itu lenyap. Aroma lavender kamarnya berganti udara panas yang menyengat kulit, bercampur wangi mawar pekat dan aroma teh Earl Grey yang menusuk hidung.Jantung Kirana berdegup liar saat menunduk menatap tubuhnya sendiri. Kaus oblong dan celana pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status