Masuk“Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat.
Marielle menelan ludah susah payah, bibir mengering dan ia mencengkeram roknya erat. Sekelebat ingatan tentang akhir hidup Marielle di cerita asli membuatnya pucat pasi. Grand Duke Aldric adalah sosok malaikat mau bagi Marielle. “Kau datang kesini juga?” Raja Cassian terlihat tak senang dengan kehadiran pria itu, terlihat dari tangannya yang mengerat di pundak Marielle. “Benar Yang Mulia. Saya langsung datang kesini sesaat mendengar kabar Lady sudah siuman,” jawab Duke Aldric tenang. Cassian masih mendekap Marielle dengan satu tangan. Wajahnya terlihat was-was setiap kali pria itu berdekatan dengan kekasihnya, Marielle. “Yang Mulia, para menteri sudah berkumpul di ruang rapat kerajaan, anda harus segera kesana.” Seorang ksatria sekaligus pengawal pribadi raja datang. Dengan berat hati, Cassian harus meninggalkan Marielle. Ia melihat kembali pada sosok rapuh itu, meremas pundak Marielle pelan sebelum melepaskannya. “Aku pergi dulu ya, aku akan menemuimu lagi nanti,” ucapnya penuh kelembutan. “Iya Yang Mulia,” jawab Marielle lirih. Ia membelai rambut Marielle, kemudian beranjak pergi. Sekali lagi melihat Duke Aldric yang masih berdiri disitu. Duke Aldric melihat sang Raja telah pergi, ia mendekat pada Marielle, duduk disisi wanita itu. Tatapannya terlihat teduh memberi kesan nyaman sekaligus aman. “Lady, bisakah kita bicara empat mata sejenak?” tanyanya hati-hati. Marielle meneguk ludah, ia belum siap untuk menghadapi musuhnya saat ini, namun dia harus berani, karena ini menyangkut hidup dan matinya. “Diana dan lainnya, tolong tinggalkan kami berdua, ada yang perlu aku bicarakan dengan Grand Duke,” ucapnya cukup tegas. Orang-orang mengangguk, lalu pergi. Pintu tertutup, ruangan besar itu kembali sunyi. Sekarang hanya ada Marielle dan Grand Duke Aldric di ranjang lebar itu. Jarak keduanya tak jauh, hanya beberapa puluh senti satu sama lain. “Aku senang Lady bisa sadar kembali, karena saya sangat khawatir saat mendengar Lady kecelakaan.” Aldric mendekat, memegang tangan Marielle dan mengusapnya. Marielle langsung menarik tangannya, dia tak mau jika dipegang oleh pria yang hanya memanfaatkan dirinya. Tatapannya pada Aldric datar, penuh dengan kewaspadaan. “Maaf jika saya kurang ajar Lady.” Aldric menjauh sedikit, memberi ruang padanya. “Duke Aldric, apa yang ingin kau bicarakan padaku?” Suara Marielle terdengar datar. Pria itu tersenyum, dia mencondongkan kepalanya ke depan, mempersempit jarak keduanya. “Ini waktu yang tepat untuk Lady mencuri hati raja lebih dalam. Raja akan sangat senang jika Lady meminta keturunan darinya,” ucap Aldric lirih seperti bisikan. “Apa maksudmu?” Suara Marielle terdengar bergetar, rasa takut pada sosok di depannya sangat membuatnya merasa terganggu. “Raja akan semakin menyayangi Lady saat Lady masih dalam kondisi seperti ini. Ini waktu yang tepat untuk membuat keturunan Lady,” ujar Aldric pelan, penuh perhitungan. Ia tersentak, jika dalam tubuh ini adalah Marielle asli, pasti dia menyetujui dan melakukan sesuai usul dari Grand Duke. Tapi Sarah berbeda, dirinya tak ingin masuk dalam jebakan lelaki itu kembali. “Aku masih sakit. Aku belum ada waktu untuk memikirkan hal seperti itu,” jawabnya elegan. “Bukankah anda ingin sekali merebut posisi Ratu Elira? Ini waktu yang tepat. Sebentar lagi malam intim Raja dan Ratu akan dilaksanakan. Setidaknya sebelum hal itu terjadi anda harus mengandung anak dari raja terlebih dahulu agar Raja lebih memperhatikan anda,” ujar Aldric tajam, sengaja menyerang ambisi terdalam lawan bicaranya. Rasanya muak, dia masih pusing karena tiba-tiba terbangun pada tubuh tokoh antagonis di novel. Ditambah oleh seorang manipulator yang membuat takdir hidupnya diambang kematian. Marielle memegangi kepalanya, dia menunduk sejenak untuk menghela nafas akibat menahan emosi yang memuncak. “Duke Aldric, bisakah kita membicarakannya lain kali? Aku baru saja siuman. Aku butuh istirahat lebih.” Dirinya bersandar pada sandaran ranjang. Wajahnya masih terlihat pucat dan tubuhnya lemah. Raut wajah Aldric berubah, dirinya merasa bingung karena baru kali ini Marielle menolak pembicaraan mengenai Raja. “Baik Lady, kalau begitu saya undur diri.” Aldric mengangguk memberi hormat sebelum berjalan keluar. Nafasnya kembali tersengal, rasanya sesak, dia tak tau mengapa tiba-tiba dadanya jadi sakit. Dia mencoba mengatur nafas perlahan, memberi rasa aman pada dirinya sendiri. “Kenapa aku tiba-tiba merasa takut?” gumamnya pelan. Dia tidak bisa bersantai lagi, mengingat akhir cerita dari Marielle. Dia bergegas mengambil kertas dan tinta, menuliskan bagaimana konflik cerita yang ia ingat. Pertama ia menulis siapa tokoh-tokoh yang berpengaruh pada kematian Marielle. Tok! Tok! Tok! “Lady, saya Diana. Bolehkah saya masuk?” tanya Diana, pelayan pribadi Marielle yang diberikan Raja. “Masuklah,” jawabnya kencang. Ia buru-buru memasukkan beberapa kertas yang sudah ia tulis ke dalam laci. Mencoba bersikap biasa saja. Diana masuk, sementara dia terus melihat gelagat dari pelayan tersebut. Dia masih ingat dengan jelas dalam novel, Diana adalah mata-mata yang dikirim Ratu untuk mengawasinya. “Diana,” panggilnya datar. “Iya Lady?” Gadis itu membungkuk hormat, lalu tertunduk untuk menghindari kontak mata. Hening, dirinya masih ragu untuk menanyakan hubungan Diana dengan Ratu, apalagi dia tidak boleh bertindak ceroboh. “Tidak. Tolong rapikan meja minum teh milikku. Lalu keluarlah, aku ingin sendirian untuk sekarang,” ucapnya penuh kewaspadaan. “Baik Lady,” jawab Diana masih tertunduk. Diana langsung merapikan meja di tepi jendela dengan cepat, tak butuh waktu lama semuanya sudah bersih dan rapi kembali. Setelah tak ada orang lagi, ia kembali mengambil beberapa kertas yang sebelumnya ia taruh di laci. “Duke Aldric… orang yang paling bertanggung jawab atas kematian Marielle. Aku harus membuatnya dia berada di pihakku. Haruskah aku menggodanya?”“Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar.Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan.“Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk lebih berani.Samar-samar, ia mendengar beberapa suara percakapan orang-orang. Ia kenal dengan suara itu. Dia berbalik dan melihat bola cahaya mengambang menampilkan beberapa kejadian yang dialami Marielle asli.“Ayah… aku mohon jangan pergi…” Sosok Marielle kecil terjatuh di tanah saat melihat ayah yang selalu ia sayangi pergi setelah menjualnya sebagai budak.Dia tertegun sesaat, matanya tertuju pada bola cahaya besar itu. Rekaman demi rekaman terus berganti. Kenangan penting Marielle terus terlihat seperti kaset yang tengah diputar.“Apa ini ingatan Marielle?” Dia mencoba memegang bola cahaya itu. Namun secara tiba-tiba terlihat glitch beberapa saat dan membuat bola cahayanya menampakan sesu
“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat dengan raut wajah penuh harap. “Yang Mulia, saya sudah lama tidak makan bersama kakak, bisakah anda mengabulkan permintaan saya satu ini?” Suara Marielle terdengar lirih. Pipinya sedikit menggembung, bibirnya dimajukan seolah merajuk. Cassian benar-benar lemah dengan ekspresi seperti ini, dia berpikir sejenak, menghembuskan nafas berat. “Hah… baiklah, aku akan mengaturnya,” jawab Cassian penuh paksaan. Melihat wajah istrinya yang begitu menggemaskan, membuat dirinya tak berdaya untuk menolak. Senyumnya merekah, akhirnya ia mendapatkan kesempatan sekali lagi bertemu dengan Ratu. “Terima kasih Yang Mulia,” ucapnya sambil menggelayuti lengan Cassian manja. Cassian tersenyum, tangannya
“Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtore, Grand Duke Aldric. “Aku harus bertemu dengan ratu secepat mungkin, aku harus mendekatinya,” ucap Marielle dalam hati. Dia berdiri tegak melihat dari jendela terbuka.“Aku harus melakukannya.” Marielle melenggang pergi tanpa memperhatikan Diana yang sudah kalang kabut berusaha menghentikannya.“Lady, tunggu!” teriaknya kencang. Mau tidak mau, dia harus mengikuti Marielle.Marielle berjalan mantap melewati lorong, menuruni tangga menuju taman depan yang biasa Ratu kunjungi. Sorot matanya memperlihatkan tekad untuk mengakhiri penderitaan Marielle asli dalam novel yang tengah ia jalani sekarang.Dua orang yang tengah berbincang di paviliun terbuka tengah taman melihatnya datang, seketika hat
Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan.“Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia berpura-pura tak tau, karena baginya, bersama Marielle adalah hal yang membuatnya nyaman. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana wanita itu tersenyum dan memanggilnya Yang Mulia dengan nada menggemaskan, memeluk tubuhnya saat merasa ketakutan. Tapi semalam, ucapan Marielle bagaikan petir yang menghantamnya keras. “Kenapa kau ingin menyudahi semuanya?” ucap Cassian lirih. Ia menarik tubuh kecil itu kedalam dekapannya, takut jika ucapan semalam benar-benar akan terjadi. “Mmhhh…” Marielle bergerak pelan. Ia mundur sedikit, agar bisa melihat wajah cantik selirnya yang masih terlelap. Senyum samar terlukis di bibirnya, tangannya membelai rambut halus itu dan menyelipkannya di telinga. Mata
“Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambutnya kasar.Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama.Ia memilah-milah rencana mana yang menurutnya paling baik untuk dikerjakan, hingga pilihannya jatuh pada Ratu.“Baik, aku akan memanfaatkan Diana untuk bisa dekat dengan Ratu,” ucapnya semangat. Senyuman penuh percaya diri tergambar jelas di wajahnya.Tok! Tok! Tok!“Siapa?” tanyanya kencang, tangan sibuk menyembunyikan kertas-kertas itu ke dalam laci.“Saya kepala pelayan Ronald Lady,” jawab Ronald dari balik pintu.“Masuklah!” perintahnya, dia langsung pura-pura duduk duduk anggun seperti layaknya seorang Lady.Ronald masuk dan membungkuk memberi hormat.“Maaf mengganggu waktu anda, saya kesini ingin memberitahu Lady jika Yang Mulia Raja meminta untuk makan malam bersama Lady malam ini,” jelas Ronald.
“Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat. Marielle menelan ludah susah payah, bibir mengering dan ia mencengkeram roknya erat. Sekelebat ingatan tentang akhir hidup Marielle di cerita asli membuatnya pucat pasi. Grand Duke Aldric adalah sosok malaikat mau bagi Marielle. “Kau datang kesini juga?” Raja Cassian terlihat tak senang dengan kehadiran pria itu, terlihat dari tangannya yang mengerat di pundak Marielle. “Benar Yang Mulia. Saya langsung datang kesini sesaat mendengar kabar Lady sudah siuman,” jawab Duke Aldric tenang. Cassian masih mendekap Marielle dengan satu tangan. Wajahnya terlihat was-was setiap kali pria itu berdekatan dengan kekasihnya, Marielle. “Yang Mulia, para menteri sudah berkumpul di ruang rapat kerajaan, anda harus segera kesana.” Seorang ksatria sekaligus pengawal pribadi raja datang. Dengan berat hati, Cassian harus meninggalkan Marielle. Ia melihat kembali pa







