共有

Rencana Awal

作者: nababy
last update 公開日: 2026-01-04 19:25:53

“Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat.

Jari-jari Marielle mencengkeram kain rok hingga berkerut. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada sesuatu yang mencekiknya dari dalam.

Sekelebat ingatan tentang akhir hidup Marielle di cerita asli membuatnya pucat pasi. Grand Duke Aldric adalah sosok malaikat maut bagi Marielle.

“Kau datang kesini juga?” Raja Cassian terlihat tak senang dengan kehadiran pria itu.

Tangan Cassian mengerat di pundak Marielle, seolah tanpa sadar menariknya lebih dekat ke dalam perlindungannya.

“Benar Yang Mulia. Saya langsung datang kesini sesaat mendengar kabar Lady sudah siuman,” jawab Duke Aldric tenang.

Cassian masih mendekap Marielle dengan satu tangan. Wajahnya terlihat was-was setiap kali pria itu berdekatan dengan kekasihnya, Marielle.

“Yang Mulia, para menteri sudah berkumpul di ruang rapat kerajaan, anda harus segera kesana.” Seorang ksatria sekaligus pengawal pribadi raja datang.

Dengan berat hati, Cassian harus meninggalkan Marielle. Ia melihat kembali pada sosok rapuh itu, meremas pundak Marielle pelan sebelum melepaskannya.

“Aku pergi dulu ya, aku akan menemuimu lagi nanti,” ucapnya penuh kelembutan.

“Iya Yang Mulia,” jawab Marielle lirih.

Ia membelai rambut Marielle, kemudian beranjak pergi. Sekali lagi melihat Duke Aldric yang masih berdiri disitu.

Duke Aldric melihat sang Raja telah pergi, ia mendekat pada Marielle, duduk disisi wanita itu. Tatapannya terlihat teduh memberi kesan nyaman sekaligus aman.

“Lady, bisakah kita bicara empat mata sejenak?” tanyanya hati-hati.

Marielle meneguk ludah, ia belum siap untuk menghadapi musuhnya saat ini, namun dia harus berani, karena ini menyangkut hidup dan matinya.

“Diana dan lainnya, tolong tinggalkan kami berdua, ada yang perlu aku bicarakan dengan Grand Duke,” ucapnya cukup tegas.

Orang-orang mengangguk, lalu pergi. Pintu tertutup, ruangan besar itu kembali sunyi. Sekarang hanya ada Marielle dan Grand Duke Aldric di ranjang lebar itu. Jarak keduanya tak jauh, hanya beberapa puluh senti satu sama lain.

“Aku senang Lady bisa sadar kembali, karena saya sangat khawatir saat mendengar Lady kecelakaan.” Aldric mendekat, memegang tangan Marielle dan mengusapnya.

Marielle langsung menarik tangannya, dia tak mau jika dipegang oleh pria yang hanya memanfaatkan dirinya. Tatapannya pada Aldric datar, penuh dengan kewaspadaan.

“Maaf jika saya kurang ajar Lady.” Aldric menjauh sedikit, memberi ruang padanya.

“Duke Aldric, apa yang ingin kau bicarakan padaku?” Suara Marielle terdengar datar.

Pria itu tersenyum, dia mencondongkan kepalanya ke depan, mempersempit jarak keduanya.

“Ini waktu yang tepat untuk Lady mencuri hati raja lebih dalam. Raja akan sangat senang jika Lady meminta keturunan darinya,” ucap Aldric lirih seperti bisikan.

“Apa maksudmu?” Suara Marielle terdengar bergetar, rasa takut pada sosok di depannya sangat membuatnya merasa terganggu.

“Raja akan semakin menyayangi Lady saat Lady masih dalam kondisi seperti ini. Ini waktu yang tepat untuk membuat keturunan Lady,” ujar Aldric pelan, penuh perhitungan.

Ia tersentak, jika dalam tubuh ini adalah Marielle asli, pasti dia langsung menyetujui dan melakukan sesuai usul dari Grand Duke. Tapi Sarah berbeda, dirinya tak ingin masuk dalam jebakan lelaki itu kembali.

“Aku masih sakit Grand Duke. Aku belum ada waktu untuk memikirkan hal seperti itu,” jawabnya elegan.

Tangannya pura-pura memijit kepala agar terlihat lebih meyakinkan.

“Bukankah anda ingin sekali merebut posisi Ratu Elira? Ini waktu yang tepat. Sebentar lagi malam intim Raja dan Ratu akan dilaksanakan. Setidaknya sebelum hal itu terjadi anda harus mengandung anak dari raja terlebih dahulu agar Raja lebih memperhatikan anda,” ujar Aldric tajam, sengaja menyerang ambisi terdalam lawan bicaranya.

"Sialan sekali laki-laki ini. Baru bertemu sudah membuatku naik darah," batinnya. Dia tak begitu menanggapi saran dari Grand Duke.

Rasanya muak, dia masih pusing karena tiba-tiba terbangun pada tubuh tokoh antagonis di novel. Ditambah oleh seorang manipulator yang membuat takdir hidupnya diambang kematian. Marielle memegangi kepalanya, dia menunduk sejenak untuk menghela nafas akibat menahan emosi yang memuncak.

“Grand Duke Aldric, bisakah kita membicarakannya lain kali? Aku baru saja siuman. Aku butuh istirahat lebih.” Dirinya bersandar pada sandaran ranjang. Wajahnya masih terlihat pucat dan tubuhnya lemah.

Raut wajah Aldric berubah, dirinya merasa bingung karena baru kali ini Marielle menolak pembicaraan mengenai Raja.

“Baik Lady, kalau begitu saya undur diri.” Aldric mengangguk memberi hormat sebelum berjalan keluar.

Nafasnya mulai tak terarur. Dadanya menjadi sesak. Bayangan masa depan yang ia ingat perlahan menghantuinya tanpa ampun. Dia mencoba mengatur nafas perlahan, memberi rasa aman pada dirinya sendiri.

“Kenapa tiba-tiba tubuh ini merasa takut? Apa karena akhir hidup yang menyeramkan itu?” gumamnya pelan.

Dia tidak bisa bersantai lagi, mengingat akhir cerita dari Marielle. Dia bergegas mengambil kertas dan tinta, menuliskan bagaimana konflik cerita yang ia ingat. Pertama ia menulis siapa tokoh-tokoh yang berpengaruh pada kematian Marielle.

Tok! Tok! Tok!

“Lady, saya Diana. Bolehkah saya masuk?” tanya Diana, pelayan pribadi Marielle yang diberikan Raja.

“Masuklah,” jawabnya kencang. Ia buru-buru memasukkan beberapa kertas yang sudah ia tulis ke dalam laci. Mencoba bersikap biasa saja.

Diana masuk, sementara dia terus melihat gelagat dari pelayan tersebut. Dia masih ingat dengan jelas dalam novel, Diana adalah mata-mata yang dikirim Ratu untuk mengawasinya.

“Diana,” panggilnya datar.

“Iya Lady?” Gadis itu membungkuk hormat, lalu tertunduk untuk menghindari kontak mata.

"Ada yang aku ingin tanya padamu. Ini tentang Ratu." suaranya mendadak berhenti.

Hening, dirinya masih ragu untuk menanyakan hubungan Diana dengan Ratu, apalagi dia tidak boleh bertindak ceroboh.

“Tidak jadi. Tolong rapikan meja minum teh milikku. Lalu keluarlah, aku ingin sendirian untuk sekarang,” ucapnya penuh kewaspadaan.

“Baik Lady,” jawab Diana masih tertunduk. Diana langsung merapikan meja di tepi jendela dengan cepat, tak butuh waktu lama semuanya sudah bersih dan rapi kembali.

Setelah tak ada orang lagi, ia kembali mengambil beberapa kertas yang sebelumnya ia taruh di laci.

“Duke Aldric… Jika aku tidak bisa menghancurkannya, maka aku harus membuatnya berdiri di sisiku. Apa pun caranya.”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Bertemu Keluarga Enzo

    “Tunggu aku disini. Aku akan segera keluar,” perintah Aldric pada bawahannya yang baru saja sampai di depan rumah Marielle.​Beberapa jam sebelum tiba kembali di rumah sederhana ini, Aldric sebenarnya sempat memacu kudanya pulang ke Kediaman Valerante. Tanpa memperdulikan tatapan heran dari Jackson dan para prajuritnya, pria itu langsung mengumpulkan para pengawal untuk menyiapkan sebuah kereta kuda paling nyaman yang dimiliki kastil, lengkap dengan tirai tebal dan empat ekor kuda terbaik.Begitu kereta siap dan diperintahkan menyusul ke pinggir desa, Aldric memacu kudanya lebih dulu demi menuntaskan niatnya.​Setibanya di rumah kayu, Aldric langsung mencari keberadaan wanita itu. “Dimana Marielle? Aku ada urusan dengannya.” Aldric berjalan menuju belakang dimana ada Diana yang tengah membersihkan ruangan.Namun Diana yang berada di dapur hanya bisa berbisik cemas, "Lady Marielle ada di dalam kamarnya, Grand Duke. Beliau berpesan tidak ingin diganggu oleh siapapun..."​Tentu saja Aldr

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Rasa Bersalah Yang Menusuk

    ​”Grand Duke?!”Aldric tersentak pelan. Pria itu menyegarkan raut wajahnya, mengikis kedukaan di matanya, lalu berbalik perlahan. Suara beratnya kembali dingin dan tegas, khas seorang penguasa Valerante.​"Siapa kau?" tanya Aldric, menatap tajam gadis muda yang berdiri beberapa langkah di depannya. Gadis itu mengenakan gaun dari kain kasar berhias tambalan di beberapa bagian, dengan mantel tipis yang tak mampu menghalau dinginnya angin pegunungan.​Gadis itu berdiri tegap, tidak membungkuk sama sekali. Pandangan matanya yang tajam menatap Aldric tanpa rasa takut, meski tangannya memeluk erat sebuah keranjang kayu berisi bunga-bunga liar.​"Nama saya Talia Lucien," jawab gadis itu dengan suara tinggi yang sarat akan kepahitan. "Adik kandung dari Enzo Lucien, ksatria yang mati konyol demi wanita pembawa sial itu."​Dada Aldric berdesir kencang. Adik Enzo.​Mata hitam Aldric meredup. Ia memperhatikan penampilan Talia yang tampak lusuh dan letih. Garis wajah gadis muda itu menyimpan pend

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Makam Enzo

    “Diana, aku akan pergi ke makam Enzo dulu. Jika Grand Duke bangun, biarkan dia makan daging dan suruh dia pulang ke rumahnya,” ucap Marielle pada Diana pagi itu sebelum dirinya pergi menuju makam Enzo.“Tapi Lady, saya tidak mungkin mengusir Grand Duke dari sini.” Diana langsung memasang wajah bingung.Marielle hanya menghela nafas panjang. Ia tahu, seharusnya dia tidak mengatakan hal itu. Bagaimanapun dia tahu, jika pria yang sedang menginap di rumahnya sekarang adalah penguasa Valerante.“Kalau begitu biarkan dia menikmati sarapannya dengan tenang. Aku tidak bisa melihat wajahnya untuk sekarang.” Marielle perlahan berlalu, menuju depan dan keluar dari rumah.Hatinya sejak semalam memang tidak enak. Mengingat bagaimana Grand Duke sudah membuatnya terluka dan sengsara sejauh ini. Pagi ini ia sengaja pergi, menciptakan jarak agar keduanya tak saling bertatap muka ataupun bertegur sapa.Embusan angin pagi pegunungan yang menusuk hingga ke tulang tak sedikit pun dihiraukan oleh Marielle.

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Hati Tersakiti

    Deg!Dada Aldric terasa dipukul sangat keras. Pria itu kini tak bisa lagi berkata-kata. Ia hanya bisa diam sambil melihat bagaimana wajah wanita di depannya menatapnya penuh luka.“Sebaiknya Anda istirahat sekarang. Saya akan pergi ke sekarang.” Marielle berbalik, menuju pintu kamar.“Marielle…” Suara Aldric tidak dapat meraih keberadaan Marielle.Hingga pintu kamar itu tertutup, Aldric masih terdiam. Mengingat bagaimana sosok rapuh itu pergi meninggalkannya sendiri.“Sial! Bukan ini yang aku inginkan.” Aldric memberantaki rambutnya sendiri.Malam itu wajah sang Grand Duke terlihat sedikit berbeda. Yang biasanya selalu melihat Marielle penuh kebencian, kini kedua bola mata itu sedikit melunak.Aldric kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang keras. Ia mencoba menghela nafas dan memejamkan mata. Setidaknya esok hari ia akan bicara lebih jujur sekaligus berani pada Marielle.Aldric memegangi kepalanya yang terasa pening. Pria itu merebahkan tubuhnya di ranjang kayu milik Claude,

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Aku Minta Maaf

    ​"Cepat ambilkan air hangat, Diana!" seru Marielle panik seraya beranjak dari kursinya.​Diana yang tak kalah syok buru-buru berlari ke dapur, sementara Marielle mengikis jarak dan berdiri di samping Aldric. Tanpa berpikir panjang, jemari halus Marielle menepuk-nepuk punggung lebar dan besar sang Grand Duke seraya mengurut tengkuknya pelan untuk meredakan sumbatan di tenggorokannya.​"Minum ini dulu, Grand Duke!" Diana kembali dengan memegang cangkir tanah liat berisi air hangat.​Marielle langsung menyambar cangkir itu dan menyodorkannya ke bibir Aldric. Pria itu dengan cepat meraih cangkir tersebut dengan tangan gemetar, meneguk air hangat di dalamnya dalam beberapa tegukan besar hingga nafasnya perlahan-lahan kembali teratur.​Wajah tampan Aldric yang memerah padam kini tertunduk dalam. Pria itu menyandarkan kedua sikunya di atas meja kayu, menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan seraya dengan nafas yang terengah-engah.​Gengsinya yang setinggi langit rasanya runtuh tak ber

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Makan Malam Bersama

    ​"Aku hanya kebetulan lewat," sahut Aldric cepat tanpa berpikir panjang.​Begitu kalimat itu lolos dari bibirnya, mata hitam Aldric membelalak tipis. Pria itu merutuki kebodohannya sendiri dalam hati. “Jawaban konyol macam apa itu?” batinnya frustasi. Jalur ini adalah jalan buntu yang hanya mengarah ke rumah Marielle dan area hutan. Tidak ada alasan logis bagi seorang Grand Duke untuk kebetulan lewat menjelang malam di jalan pinggir desa begini.​Marielle hanya menatap pria di hadapannya selama beberapa detik tanpa ekspresi.​"Oh... begitu," respon Marielle datar.​Tanpa membuang waktu atau bertanya lebih jauh, Marielle memegang tepi pintu dan langsung mendorongnya untuk ditutup.​​"Tunggu!"​Dengan refleks secepat kilat, Aldric menahan daun pintu kayu itu menggunakan telapak tangannya yang besar. Tenaganya yang kuat membuat gerakan pintu seketika terhenti kaku.​Marielle menghentikan dorongannya. Alis peraknya bertaut tajam saat menatap jari-jari tegap Aldric yang mencengkeram tep

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Ingatan Masa Lalu

    “Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Di Luar Rencana

    “Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat de

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kedua Hati Yang Terpatri

    “Yang Mulia Ratu, ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.” Salah satu dayang menghampiri Elira.Dayang itu mulai berbisik di telinganya, dan membuat mimik wajah Elira berubah seketika.“Jadi itu sebabnya dia langsung mengurung diri di ruang kerjanya,” ucapnya pelan sambil merem

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Hasrat Terpendam

    “Selamat pagi Yang Mulia,” sapa Diana sambil membungkuk saat baru saja masuk ke dalam kamar Marielle.Cassian sudah duduk bersandar pada sandaran kasur, jemarinya sibuk membelai rambut Marielle yang masih terlelap.“Kau. Buatkan makanan kesukaan Marielle. Aku rasa dia membutuhkannya sekarang,” ujar

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status