Share

Sebuah Tekad

Author: nababy
last update Huling Na-update: 2026-01-05 13:27:04

“Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambutnya kasar.

Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama.

Ia memilah-milah rencana mana yang menurutnya paling baik untuk dikerjakan, hingga pilihannya jatuh pada Ratu.

“Baik, aku akan memanfaatkan Diana untuk bisa dekat dengan Ratu,” ucapnya semangat. Senyuman penuh percaya diri tergambar jelas di wajahnya.

Tok! Tok! Tok!

“Siapa?” tanyanya kencang, tangan sibuk menyembunyikan kertas-kertas itu ke dalam laci.

“Saya kepala pelayan Ronald Lady,” jawab Ronald dari balik pintu.

“Masuklah!” perintahnya, dia langsung pura-pura duduk duduk anggun seperti layaknya seorang Lady.

Ronald masuk dan membungkuk memberi hormat.

“Maaf mengganggu waktu anda, saya kesini ingin memberitahu Lady jika Yang Mulia Raja meminta untuk makan malam bersama Lady malam ini,” jelas Ronald.

Jantungnya langsung berdebar, dia lupa jika Raja sangat mencintai selirnya. Dia harus kembali bertemu dengan pria itu lagi.

“Baiklah, terima kasih untuk informasinya.”

“Baik, kalau begitu saya undur diri Lady,” ujarnya berjalan mundur sambil membungkuk.

“Hah… bahkan aku lupa masalah terbesarnya.” Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali setelah mengingat bagaimana cintanya Raja pada Marielle.

***

Suara denting piring dan garpu terdengar nyaring saat Raja sengaja mengajak makan malam bersama. Diana yang duduk disamping bersama pelayan lainnya masih terlihat gugup akan perkataan Marielle tadi siang.

“Apa kau suka makanan malam ini kelinci kecilku?” tanya Cassian. Suaranya amat teduh, tapi di telinga Sarah hal itu terdengar sangat menjijikkan.

Wanita itu terdiam sejenak, dia masih mengkonfirmasi ulang pada indra pendengarannya, berharap apa yang baru saja ia dengar adalah kesalahan.

“Kelinci kecil?” panggil Cassian kembali.

“Maaf Yang Mulia, tadi anda memanggil saya apa?” tanyanya pelan, untuk memastikan.

“Kelinci kecil,” jawab Cassian biasa.

Dia langsung tersedak, bergegas mengambil segelas air dan meneguknya kasar. Sang Raja langsung berdiri dari kursinya mengambil saputangan untuk mengusap area sekitar mulut yang basah. Wajahnya khawatir, perlahan ia mengusap bibir Marielle, matanya terbuka sedikit lebih lebar dengan sorot gelisah.

“Kamu tidak apa-apa?” keningnya berkerut.

“Saya tidak apa-apa Yang Mulia,” jawab Marielle berusaha membetulkan posisi duduknya.

Raja masih berdiri, dia tak ingin pergi dari sisi sang Selir yang amat ia sayangi. Tangan Cassian terangkat, memegang dahi Marielle dengan punggung tangan, merasakan panas tubuh.

“Kau tidak demam. Apa ada yang terasa sakit?” tanya Cassian, dahinya masih berkerut, khawatir.

“Saya tidak apa-apa, sepertinya saya sudah kenyang. Saya ingin istirahat kembali di ranjang saya,” ucapnya lemah lembut. Dia harus memainkan peran Marielle sebaik mungkin di depan Raja.

“Baiklah. Tolong segera bereskan sisa makan malam ini,” perintah Cassian pada beberapa pelayan yang masih menunggu di ruangan itu.

Mereka semua mengangguk, dan langsung membereskan semuanya hingga rapi dan bersih.

Cassian membawa Marielle kembali menuju tempat tidur, mendudukkannya di tepian. Dirinya ikut duduk di samping, sambil kedua tangannya meraih milik Marielle, dan menggenggamnya penuh kelembutan.

“Kau tau, aku sangat khawatir saat mendengar kabarmu kecelakaan kereta kuda saat aku tidak ada. Rasanya aku ingin segera pulang dan melihat keadaanmu. Kata Dokter kau tertidur selama beberapa hari,” ujar Cassian. Nadanya lirih, matanya penuh kelembutan.

Marielle terdiam, ia masih merasa canggung harus berdekatan dengan seorang pria, apalagi pria yang ada di sampingnya sekarang adalah suaminya.

“Ternyata pria ini sangat mencintai selirnya,” batinnya.

Marielle mencoba tersenyum, memberi sikap terbaik yang dapat ia lakukan. Ia membalas remasan kecil di tangannya.

“Yang Mulia, anda tidak perlu khawatir. Saya sudah sehat sekarang. Anda tidak perlu cemas.” Ia tersenyum.

Senyum juga terukir di wajah sang Raja, dia langsung memeluk Marielle erat, lengannya mengencang seperti tak ingin membiarkannya pergi meski hanya satu detik. Wajahnya tertunduk di bahu Marielle dengan nafas tak beraturan. Cassian diam lebih lama, terlihat rapuh tak berdaya.

“Jangan lakukan hal yang membuatku takut lagi. Aku tidak bisa jika harus kehilangan dirimu,” bisik kecil itu membuat dirinya menjadi merinding, akibat nafas yang begitu dekat di lehernya.

Dia tak suka jika dipeluk mendadak seperti ini. Jiwanya meronta meminta dilepaskan, tapi berbeda dengan tubuh Marielle—tubuh itu meminta lebih kasih sayang dan sentuhan-sentuhan hangat dari Cassian.

“Yang Mulia. Anda jangan khawatir, saya akan selalu disisi Yang Mulia.” Jiwanya kalah, dia mengikuti kemauan tubuh itu untuk tetap berada dalam dekapan hangat dan menenangkan.

Cassian memundurkan tubuhnya, agar bisa melihat wajah cantik Marielle. Tatapannya masih melunak. Sambil manyun Cassian berkata, “Janji?”

Marielle langsung mengangguk. “Janji jari kelingking.” Dia mengangkat jari kelingking mungil itu dan menautkan pada kelingking Raja. Keduanya tersenyum, Raja yang semula sedih kini bisa sedikit bernafas lega karena kekasihnya telah kembali.

Malam makin larut, suasana kamar Marielle sangat sepi. Hanya terdengar suara serangga malam diluar dan hembusan nafas Cassian yang sudah terlelap di samping.

Mata wanita itu masih terbuka lebar. Ia berbaring dan melihat atas, ke arah langit-langit yang memiliki pola arsitektur kuno. Perlahan pandangannya pindah, melihat ke samping sebentar dan menatap wajah Raja begitu pulas. Satu tangan Cassian masih memeluk pinggangnya erat.

Perlahan, ia mengangkat tangan pria itu untuk melepaskan diri, tapi satu gerakan kecil membuat tangan Raja makin menarik tubuhnya lebih dekat.

“Jangan pergi….” gerutu Cassian dalam tidurnya.

Helaan nafas terdengar samar, dia menyerah, membiarkan tubuhnya dipeluk oleh seorang pria yang baru ia jumpai, meski status sudah menjadi suami.

“Kenapa kau sangat menyukai wanita ini? Apa kau tau, kalian berdua akan mati hampir bersamaan jika kau tetap membiarkan wanita ini tinggal di istana?” Suaranya pelan, seperti bisikan.

Tanpa sadar tangannya membelai lembut pipi Cassian. Jantungnya terus berdegup kencang, seperti ada rasa haru, takut, dan juga kasihan mengingat akhir yang akan terjadi antara mereka berdua.

“Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap bisa hidup.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Ingatan Masa Lalu

    “Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar.Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan.“Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk lebih berani.Samar-samar, ia mendengar beberapa suara percakapan orang-orang. Ia kenal dengan suara itu. Dia berbalik dan melihat bola cahaya mengambang menampilkan beberapa kejadian yang dialami Marielle asli.“Ayah… aku mohon jangan pergi…” Sosok Marielle kecil terjatuh di tanah saat melihat ayah yang selalu ia sayangi pergi setelah menjualnya sebagai budak.Dia tertegun sesaat, matanya tertuju pada bola cahaya besar itu. Rekaman demi rekaman terus berganti. Kenangan penting Marielle terus terlihat seperti kaset yang tengah diputar.“Apa ini ingatan Marielle?” Dia mencoba memegang bola cahaya itu. Namun secara tiba-tiba terlihat glitch beberapa saat dan membuat bola cahayanya menampakan sesu

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Di Luar Rencana

    “Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat dengan raut wajah penuh harap. “Yang Mulia, saya sudah lama tidak makan bersama kakak, bisakah anda mengabulkan permintaan saya satu ini?” Suara Marielle terdengar lirih. Pipinya sedikit menggembung, bibirnya dimajukan seolah merajuk. Cassian benar-benar lemah dengan ekspresi seperti ini, dia berpikir sejenak, menghembuskan nafas berat. “Hah… baiklah, aku akan mengaturnya,” jawab Cassian penuh paksaan. Melihat wajah istrinya yang begitu menggemaskan, membuat dirinya tak berdaya untuk menolak. Senyumnya merekah, akhirnya ia mendapatkan kesempatan sekali lagi bertemu dengan Ratu. “Terima kasih Yang Mulia,” ucapnya sambil menggelayuti lengan Cassian manja. Cassian tersenyum, tangannya

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Tolong Dengarkan Aku

    “Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtore, Grand Duke Aldric. “Aku harus bertemu dengan ratu secepat mungkin, aku harus mendekatinya,” ucap Marielle dalam hati. Dia berdiri tegak melihat dari jendela terbuka.“Aku harus melakukannya.” Marielle melenggang pergi tanpa memperhatikan Diana yang sudah kalang kabut berusaha menghentikannya.“Lady, tunggu!” teriaknya kencang. Mau tidak mau, dia harus mengikuti Marielle.Marielle berjalan mantap melewati lorong, menuruni tangga menuju taman depan yang biasa Ratu kunjungi. Sorot matanya memperlihatkan tekad untuk mengakhiri penderitaan Marielle asli dalam novel yang tengah ia jalani sekarang.Dua orang yang tengah berbincang di paviliun terbuka tengah taman melihatnya datang, seketika hat

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Perubahan Yang Yerlihat

    Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan.“Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia berpura-pura tak tau, karena baginya, bersama Marielle adalah hal yang membuatnya nyaman. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana wanita itu tersenyum dan memanggilnya Yang Mulia dengan nada menggemaskan, memeluk tubuhnya saat merasa ketakutan. Tapi semalam, ucapan Marielle bagaikan petir yang menghantamnya keras. “Kenapa kau ingin menyudahi semuanya?” ucap Cassian lirih. Ia menarik tubuh kecil itu kedalam dekapannya, takut jika ucapan semalam benar-benar akan terjadi. “Mmhhh…” Marielle bergerak pelan. Ia mundur sedikit, agar bisa melihat wajah cantik selirnya yang masih terlelap. Senyum samar terlukis di bibirnya, tangannya membelai rambut halus itu dan menyelipkannya di telinga. Mata

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Sebuah Tekad

    “Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambutnya kasar.Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama.Ia memilah-milah rencana mana yang menurutnya paling baik untuk dikerjakan, hingga pilihannya jatuh pada Ratu.“Baik, aku akan memanfaatkan Diana untuk bisa dekat dengan Ratu,” ucapnya semangat. Senyuman penuh percaya diri tergambar jelas di wajahnya.Tok! Tok! Tok!“Siapa?” tanyanya kencang, tangan sibuk menyembunyikan kertas-kertas itu ke dalam laci.“Saya kepala pelayan Ronald Lady,” jawab Ronald dari balik pintu.“Masuklah!” perintahnya, dia langsung pura-pura duduk duduk anggun seperti layaknya seorang Lady.Ronald masuk dan membungkuk memberi hormat.“Maaf mengganggu waktu anda, saya kesini ingin memberitahu Lady jika Yang Mulia Raja meminta untuk makan malam bersama Lady malam ini,” jelas Ronald.

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Rencana Awal

    “Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat. Marielle menelan ludah susah payah, bibir mengering dan ia mencengkeram roknya erat. Sekelebat ingatan tentang akhir hidup Marielle di cerita asli membuatnya pucat pasi. Grand Duke Aldric adalah sosok malaikat mau bagi Marielle. “Kau datang kesini juga?” Raja Cassian terlihat tak senang dengan kehadiran pria itu, terlihat dari tangannya yang mengerat di pundak Marielle. “Benar Yang Mulia. Saya langsung datang kesini sesaat mendengar kabar Lady sudah siuman,” jawab Duke Aldric tenang. Cassian masih mendekap Marielle dengan satu tangan. Wajahnya terlihat was-was setiap kali pria itu berdekatan dengan kekasihnya, Marielle. “Yang Mulia, para menteri sudah berkumpul di ruang rapat kerajaan, anda harus segera kesana.” Seorang ksatria sekaligus pengawal pribadi raja datang. Dengan berat hati, Cassian harus meninggalkan Marielle. Ia melihat kembali pa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status