LOGIN“Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambut kasar.
Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama. Ia memilah-milah rencana mana yang menurutnya paling baik untuk dikerjakan, hingga pilihannya jatuh pada Ratu. “Baik, aku akan memanfaatkan Diana untuk bisa dekat dengan Ratu,” ucapnya semangat. Senyuman penuh percaya diri tergambar jelas di wajahnya. Tok! Tok! Tok! “Siapa?” tanyanya kencang, tangan sibuk menyembunyikan kertas-kertas itu ke dalam laci. “Saya kepala pelayan Ronald Lady,” jawab Ronald dari balik pintu. “Masuklah!” perintahnya, dia langsung pura-pura duduk duduk anggun seperti layaknya seorang Lady. Ronald masuk dan membungkuk memberi hormat. “Maaf mengganggu waktu anda, saya kesini ingin memberitahu Lady jika Yang Mulia Raja meminta untuk makan malam bersama Lady malam ini,” jelas Ronald. Jantungnya langsung berdebar, dia lupa jika Raja sangat mencintai selirnya. Dia harus kembali bertemu dengan pria itu lagi. “Baiklah, terima kasih untuk informasinya.” “Baik, kalau begitu saya undur diri Lady,” ujarnya berjalan mundur sambil membungkuk. “Hah… bahkan aku lupa masalah terbesarnya.” Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali setelah mengingat bagaimana cintanya Raja pada Marielle. *** Suara denting piring dan garpu terdengar nyaring saat Raja sengaja mengajak makan malam bersama. Diana yang duduk disamping bersama pelayan lainnya masih terlihat gugup akan perkataan Marielle tadi siang. “Apa kau suka makanan malam ini kelinci kecilku?” tanya Cassian. Suaranya amat teduh, tapi di telinga Marielle hal itu terdengar sangat menjijikkan. Wanita itu terdiam sejenak, dia masih mengkonfirmasi ulang pada indra pendengarannya, berharap apa yang baru saja ia dengar adalah kesalahan. “Kelinci kecil?” panggil Cassian kembali. “Maaf Yang Mulia, tadi anda memanggil saya apa?” tanyanya pelan, untuk memastikan. “Kelinci kecil,” jawab Cassian biasa. Dia langsung tersedak, bergegas mengambil segelas air dan meneguknya kasar. Sang Raja langsung berdiri dari kursinya mengambil saputangan untuk mengusap area sekitar mulut yang basah. Wajahnya khawatir, perlahan ia mengusap bibir Marielle, matanya terbuka sedikit lebih lebar dengan sorot gelisah. “Kamu tidak apa-apa?” keningnya berkerut. “Saya tidak apa-apa Yang Mulia,” jawab Marielle berusaha membetulkan posisi duduknya. Raja masih berdiri, dia tak ingin pergi dari sisi sang Selir yang amat ia sayangi. Tangan Cassian terangkat, memegang dahi Marielle dengan punggung tangan, merasakan panas tubuh. “Kau tidak demam. Apa ada yang terasa sakit?” tanya Cassian, dahinya masih berkerut, khawatir. “Saya tidak apa-apa, sepertinya saya sudah kenyang. Saya ingin istirahat kembali di ranjang saya,” ucapnya lemah lembut. Dia harus memainkan peran Marielle sebaik mungkin di depan Raja. “Baiklah. Tolong segera bereskan sisa makan malam ini,” perintah Cassian pada beberapa pelayan yang masih menunggu di ruangan itu. Mereka semua mengangguk, dan langsung membereskan semuanya hingga rapi dan bersih. Cassian membawa Marielle kembali menuju tempat tidur, mendudukkannya di tepian. Dirinya ikut duduk di samping, sambil kedua tangannya meraih milik Marielle, dan menggenggamnya penuh kelembutan. “Kau tau, aku sangat khawatir saat mendengar kabarmu kecelakaan kereta kuda saat aku tidak ada. Rasanya aku ingin segera pulang dan melihat keadaanmu. Kata Dokter kau tertidur selama beberapa hari,” ujar Cassian. Nadanya lirih, matanya penuh kelembutan. Marielle terdiam, ia masih merasa canggung harus berdekatan dengan seorang pria, apalagi pria yang ada di sampingnya sekarang adalah suaminya. “Ternyata pria ini sangat mencintai selirnya,” batinnya. Marielle mencoba tersenyum, memberi sikap terbaik yang dapat ia lakukan. Ia membalas remasan kecil di tangannya. “Yang Mulia, anda tidak perlu khawatir. Saya sudah sehat sekarang. Anda tidak perlu cemas.” Ia tersenyum. Senyum juga terukir di wajah sang Raja, dia langsung memeluk Marielle erat, lengannya mengencang seperti tak ingin membiarkannya pergi meski hanya satu detik. Wajahnya tertunduk di bahu Marielle dengan nafas tak beraturan. Cassian diam lebih lama, terlihat rapuh tak berdaya. “Jangan lakukan hal yang membuatku takut lagi. Aku tidak bisa jika harus kehilangan dirimu,” bisik kecil itu membuat dirinya menjadi merinding, akibat nafas yang begitu dekat di lehernya. Dia tak suka jika dipeluk mendadak seperti ini. Jiwanya meronta meminta dilepaskan, tapi berbeda dengan tubuh Marielle—tubuh itu meminta lebih kasih sayang dan sentuhan-sentuhan hangat dari Cassian. “Yang Mulia. Anda jangan khawatir, saya akan selalu disisi Yang Mulia.” Jiwanya kalah, dia mengikuti kemauan tubuh itu untuk tetap berada dalam dekapan hangat dan menenangkan. Cassian memundurkan tubuhnya, agar bisa melihat wajah cantik Marielle. Tatapannya masih melunak. Sambil manyun Cassian berkata, “Janji?” Marielle langsung mengangguk. “Janji jari kelingking.” Dia mengangkat jari kelingking mungil itu dan menautkan pada kelingking Raja. Keduanya tersenyum, Raja yang semula sedih kini bisa sedikit bernafas lega karena kekasihnya telah kembali. Malam makin larut, suasana kamar Marielle sangat sepi. Hanya terdengar suara serangga malam diluar dan hembusan nafas Cassian yang sudah terlelap di samping. Mata wanita itu masih terbuka lebar. Ia berbaring dan melihat atas, ke arah langit-langit yang memiliki pola arsitektur kuno. Perlahan pandangannya pindah, melihat ke samping sebentar dan menatap wajah Raja begitu pulas. Satu tangan Cassian masih memeluk pinggangnya erat. Perlahan, ia mengangkat tangan pria itu untuk melepaskan diri, tapi satu gerakan kecil membuat tangan Raja makin menarik tubuhnya lebih dekat. “Jangan pergi….” gerutu Cassian dalam tidurnya. Helaan nafas terdengar samar, dia menyerah, membiarkan tubuhnya dipeluk oleh seorang pria yang baru ia jumpai, meski status sudah menjadi suami. “Kenapa kau sangat menyukai wanita ini? Apa kau tau, kalian berdua akan mati hampir bersamaan jika kau tetap membiarkan wanita ini tinggal di istana?” Suaranya pelan, seperti bisikan. Tanpa sadar tangannya membelai lembut pipi Cassian. Jantungnya terus berdegup kencang, seperti ada rasa haru, takut, dan juga kasihan mengingat akhir yang akan terjadi antara mereka berdua. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap bisa hidup.”“Lady Marielle! Ada kereta datang lagi!” Suara Diana terdengar panik dari depan rumah.Marielle yang sedang menyusun bunga di meja dapur langsung menoleh cepat.“Apa?” Marielle langsung mengangkat gaunnya agar langkahnya lebih cepat.Sementara Diana buru-buru membuka pintu lebih lebar.“Keretanya besar… dan…” Kalimatnya terputus saat suara langkah kaki terdengar dari luar.Marielle segera berjalan menuju teras. Begitu sampai di depan, matanya langsung membesar. Di halaman rumah kecil itu telah berdiri dua pria yang sama-sama familiar.Aldric, sang Grand Duke Valerante dan di sampingnya, Jackson, pria yang selalu mengikuti Grand Duke kemanapun.Angin sore berhembus pelan melewati halaman. Suasana langsung berubah tegang.Dari arah samping rumah, Claude refleks memegang gagang pedangnya. Tatapannya penuh kewaspadaan.“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Claude dingin.Aldric hanya melirik sekilas. “Aku datang bukan untuk bertarung,” jawabnya malas.“Sulit dipercaya dari orang yang berk
“Hari ini Yang Mulia Raja dan Ratu akan kembali ke ibu kota!” Suara seorang laki-laki menggelegar ke seluruh jalanan yang akan dilewati iringan keluarga istana hari ini. Kabar itu langsung menyebar cepat sejak pagi di seluruh wilayah Valerante.Sedangkan di kediaman Count Virel, para pelayan sibuk mondar-mandir menyiapkan keberangkatan kerajaan. Para ksatria mulai berjajar di halaman kediaman keluarga Virel. Dan kereta kerajaan sudah berdiri megah di depan mansion utama sejak matahari baru naik.Di dalam aula besar kediaman Gerald Virel, suasana terasa jauh lebih formal dibanding hari-hari sebelumnya. Cassian berdiri dengan jubah hitam kerajaan sambil mengenakan sarung tangan kulitnya perlahan.Di sampingnya, Elira terlihat anggun dalam gaun biru gelap dengan wajah tenang seperti biasa. Gerald tersenyum tipis sambil membungkuk hormat.“Saya merasa terhormat karena Yang Mulia bersedia tinggal beberapa hari di kediaman kami.”Cassian mengangguk kecil.“Kami juga berterima kasih atas sam
“Lady Marielle datang untuk membicarakan sesuatu yang penting dengan Anda. Dia berada di aula depan sekarang.”Tanpa menunggu lebih lama, Aldric langsung melangkah cepat keluar dari ruang kerjanya.Bahkan Jackson sampai sedikit terkejut melihat tuannya bergerak secepat itu.Lorong kediaman Valtore terasa sunyi saat langkah Aldric menggema di lantai marmer.Dan sesampainya di aula depan ia langsung melihat sosok wanita berambut perak itu berdiri di dekat jendela besar. Disampingnya berdiri Claude dengan wajah waspada.Begitu melihat Aldric datang, Claude refleks menegang. Sedangkan Marielle perlahan membalikkan tubuhnya.“Ada apa sampai kau datang sendiri kemari?” tanya Aldric dingin.Marielle tidak langsung menjawab. Ia membungkuk sejenak untuk memberi hormat.“Maaf telah mengganggu hari Anda Grand Duke,” ucapnya pelan.Wanita itu kembali tegak. Tatapannya sempat melirik Jackson dan Claude bergantian sebelum akhirnya kembali pada Aldric.“Aku ingin bicara empat mata denganmu,” ujarnya
“Grand Duke, beberapa kepala keluarga yang mendukung kita terus mendesak agar kita segera melakukan kudeta,” ucap Jackson saat hari dimana Aldric terus memikirkan cara untuk menjaga koalisi mereka tetap utuh.Ini sudah hampir seminggu Raja dan Ratu tinggal di Valerante. Dan besok lusa mereka akan kembali menuju ibu kota.“Mereka terus memaksa kita untuk melakukan penyerangan saat Raja masih dalam wilayah kekuasaan Anda. Apa yang akan Anda lakukan, Grand Duke?”“Aku tahu.” Aldric menjawab pendek sambil tetap menatap tumpukan dokumen di meja kerjanya.Namun dari caranya mencengkram pena, terlihat jelas pikirannya sedang kacau. Di hadapannya, Jackson berdiri dengan wajah serius.“Tekanan mereka setiap hari semakin besar, Grand Duke. Apalagi ditambah saat kabar Raja akan segera kembali ke ibu kota.” Ucapan Jackson makin membuat kepala Aldric penuh.Dirinya saja belum bisa mengambil hati Elira. Jika dia melakukan penyerangan dalam waktu dekat pasti Marielle langsung mengetahui siapa dalang
“Grand Duke sudah kehilangan akalnya karena seorang wanita.” Kalimat itu keluar pelan dari bibir Leopold Archeon saat kereta kudanya melewati gerbang perbatasan Kerajaan Minerva menuju Kekaisaran Eldora.Angin dingin malam menerpa jubah tebal pria tua itu. Wajahnya tampak muram sejak meninggalkan kediaman Aldric beberapa jam lalu. Di dalam pikirannya hanya ada satu hal yaitu rencana pemberontakan mereka yang mulai hancur.Dan penyebabnya adalah seorang wanita bernama Marielle. Perjalanan menuju Eldora memakan waktu hingga pagi datang.Sesampainya di ibu kota kekaisaran, Leopold langsung disambut hangat oleh kepala pelayan istana.“Selamat datang di Istana kebesaran Eldora.” Kepala pelayan itu menunduk hormat.Sedangkan Leopold berdiri tegak seolah menunjukkan kedudukan dan kewibawaannya.“Pangeran Heinry sudah menunggu Anda. Mari saya antar menuju tempatnya.” Kepala pelayan itu langsung membawa Leopold menuju ruang tamu istana Eldora tanpa banyak pemeriksaan. Karena namanya sudah dike
“Apa urusannya denganku? Seharusnya kau bisa mendidik anakmu supaya selalu menuruti omonganmu!” Seorang kepala keluarga menolak mentah-mentah.Penolakan itu langsung diikuti beberapa lainnya hingga pertemuan malam hari itu sedikit rusuh dan berakhir buruk.Beberapa kepala keluarga keluar dari ruang kerja Grand Duke dengan wajah marah.“Aku tidak akan menunggu lebih lama lagi! Jika Grand Duke takut berperang, kami bisa bergerak sendiri!” Ucapan itu membuat para ksatria Valtore yang berada di ruangan itu langsung menegang.Satu persatu kepala keluarga keluar hingga menyisakan Gerald dan Leonard saja. Aldric menghela nafas panjang, dia langsung berjalan menuju jendela.Aldric hanya berdiri diam di depan jendela besar cukup lama. Pandangannya tertuju pada kereta kuda yang mulai berjalan pergi.Damien mendekat perlahan. Dia adalah panglima tertinggi dari pasukan yang Aldric miliki.“Mereka mulai tidak percaya pada Anda.”“Aku tahu.”Damien menghela nafas panjang.“Saya takut koalisi yang A







