LOGIN
“Jadi itu tokoh utama wanitanya... Ratu Elira Aragon.”
Gadis itu menatap wanita di halaman istana dengan ekspresi rumit. Pandangannya tertuju pada sang Ratu, tokoh utama dalam novel "Mawar Yang Kembali Merekah". Novel itu pernah ia baca saat masih hidup dulu—ketika dirinya masih seorang manusia biasa yang setiap hari bekerja, tertawa, dan mengeluh tentang hidupnya sendiri. Tapi sekarang? Dirinya terjebak dalam tubuh wanita lain di dunia fiksi. “Wajar sih... dia cantik, berwibawa, dan juga pintar.” Matanya masih mengikuti setiap gerak-gerik Ratu dari kejauhan yang terlihat begitu pandai mengatur orang-orang di depan pintu masuk istana. Wanita itu masih duduk di kursi dekat jendela sambil menikmati beberapa biskuit dan seduhan teh hangat yang baru saja disajikan oleh para pelayan. “Aku tidak menyangka jika hidup di istana sangat nyaman dan menyenangkan seperti ini,” ucapnya sambil meneguk teh hangat dan tubuhnya bersandar di kursi kayu. Hidup dalam kemewahan adalah impiannya sejak kecil. “Tapi…” ada ragu dalam suaranya, mengingat apa saja yang telah ia lalui dan berakhir seperti ini. Beberapa hari yang lalu, wanita itu mati akibat peluru sasar saat melakukan demonstrasi dan saat sadar dirinya telah memasuki tubuh Marielle—seorang tokoh antagonis sekaligus selir pelakor yang berakhir mati di tiang gantung karena menghianati Raja. Jujur saja, dia sangat kesal. Dari sekian banyak tokoh dalam novel itu, kenapa justru dirinya harus masuk ke tubuh wanita antagonis perebut suami orang? Hal ini membuat harga dirinya sebagai wanita jatuh sejatuhnya. “Benar!" Tangannya mengepal menyadari sesuatu. "Pokoknya aku tidak boleh mati. Apalagi merebut suami orang. Ugh! Aku harus membuat rencana hidup yang bagus.” Marielle menggigit kukunya berusaha berpikir keras bagaimana caranya selamat dan bertahan selama mungkin dalam tubuh ini. Rasa sakit mati akibat tertembak masih membekas di kepalanya, dia tak mau lagi merasakan mati akibat digantung. Memikirkannya saja membuat nafasnya sudah sesak. "Padahal aku belum selesai membaca novel itu, tapi udah mati duluan, hufft!" keluhnya kesal. Mengingat masih ada seratus halaman yang belum ia baca setelah kematian Raja Cassian dalam novel. "Bahkan aku tidak tau akhir ceritanya bagaimana. Apakah Ratu Elira dan Grand Duke berakhir bahagia?" sorot matanya penuh tanda tanya. Di Kejauhan terlihat iring-iringan kereta kuda. Dia mengingat, jika sang Raja akan tiba di istana setelah melakukan perjalanan dinas di kerajaan sahabat untuk memperkuat kerjasama dalam bidang perdagangan maupun keamanan. Kereta kuda itu berhenti, Ratu Elira sudah berdiri disana untuk menyambut sang Suami yang baru saja tiba. Semua rombongan turun, begitu banyak orang dan barang yang dibawa. Halaman istana menjadi ramai oleh para pelayan yang sibuk menurunkan peti-peti besar dari kereta kuda. “Lihat! Padahal mereka terlihat serasi." Dia mengomentari. "Kenapa Raja malah tergoda dengan wanita seperti ini?” pikirnya tak mengerti. “Raja Cassian dan Ratu Elira. Pasangan yang seharusnya berakhir bahagia tapi terhalang karena kehadiran manusia satu ini,” ujarnya sambil melihat tubuh yang kini ia tempati. Tubuh Marielle tersentak kaget saat tatapannya bertemu dengan Raja. Wanita itu ingin menarik tirai jendela kamar, tapi tak berani. “Sial, bagaimana ini? Apakah dia melihatku?” Marielle merutuki dirinya sendiri. Dia refleks bersembunyi, duduk di bawah meja agar untuk melindungi tubuhnya dari pandangan Raja. Perlahan ia mengintip dari balik tembok dan hanya memperlihatkan kepalanya. Sial memang tak bisa diprediksi, Raja masih melihat ke arahnya. Bahkan, pria itu mulai berjalan cepat. Tapi, dirinya lebih kaget saat tatapan Ratu juga tertuju padanya. Tatapan tajam menusuk, membuatnya ngeri dan merinding. “Ya Tuhan, dia menuju kesini!” Marielle langsung panik lalu bergegas menuju tempat tidur. Pintu tiba-tiba terbuka lebar. Seorang pria tinggi besar dan berambut hitam berlari menuju tempat tidur. Sorot mata coklat itu terlihat ketakutan. Sejenak pria itu berdiri memandangi tubuh Marielle, dengan cepat pria itu memeluknya erat. “Marielle, kekasihku… akhirnya kau bangun juga dari tidurmu,” ucap Cassian lega. Raja, sekaligus suami Marielle. Dirinya langsung bergidik, karena seorang laki-laki memeluk tubuhnya begitu saja. Ingin sekali dia menendangnya, tapi sebisa mungkin harus menahan diri. Perlahan tubuhnya meronta sedikit, memberi tanda untuk segera melepaskan pelukan, tapi Raja Cassian semakin memeluknya erat. “Apa badanmu masih sakit? Aku baru saja kembali. Apakah ada yang terluka?” ucap Cassian pelan, pandangannya memeriksa tubuh Marielle mencari luka yang berbekas di tubuh sang Selir. “Saya baik-baik saja Yang Mulia,” jawab Marielle lirih, meski dalam hati ia ingin sekali menjauh dari pria ini. “Syukurlah,” ucapnya lega. Bahunya turun disertai hembusan nafas panjang. Suara langkah kembali terdengar, seorang pria mendadak muncul. Rambut hitam, mata biru, dan ada pin lambang serigala di dada. Wanita itu sangat tau siapa yang berada di depannya sekarang. “Lady, akhirnya anda siuman juga,” ucap pria itu sambil membungkuk sedikit memberi hormat. Mata Marielle membulat, seakan tak percaya siapa yang dia lihat. “Kau…?” Pria itu menegakkan tubuhnya, sorot mata dia selaras dengan sorot mata Marielle. “Apa kabar Lady Marielle? Saya harap anda baik-baik saja,” ujarnya santun. Pria yang membuat Marielle asli dihukum gantung. “Kau, Duke Aldric?!”“Ayo Lady, sekali lagi.” Enzo terus menyemangati Marielle agar terus berusaha mengenai badannya dengan pedang kayu meski sedikit saja.Tapi gerakan Marielle masih terlalu lambat untuk mengenai bagian-bagian tubuh Enzo yang sudah memiliki pengalaman yang mumpuni.Marielle terus bergerak maju, mengayunkan pedang kayu itu ke tubuh Enzo meski gagal berkali-kali. Selain gerakannya yang lambat, Marielle juga tidak memiliki tenaga yang cukup hingga membuat serangannya mudah ditangkis oleh Enzo.“Kerahkan seluruh tenaga Anda.”Marielle berteriak frustasi sambil terus menyerang membabi buta.“Ya, tambah lagi.” Enzo terus memberi instruksi.“HYYAAH!” Marielle berteriak membuat memusatkan seluruh tenaga tersisa pada satu serangan terakhir.Serangan itu membuat pedang kayu Enzo terhempas akibat benturan keras dari keduanya. Dengan nafas terengah, Marielle tersenyum puas saat berhasil membuat Enzo dalam kondisi terjepit.“Bagaimana?” Marielle berkacak pinggang, masih membawa pedang kayu di tangann
Aldric mengumpulkan semua pelayan di aula utama. Semuanya diperintahkan untuk duduk bersimpuh dan berjejer rapi.Terlihat wajah-wajah yang mulai tegang dan bertanya-tanya mengapa orang-orang dikumpulkan di tempat yang sama. Mereka saling berbisik bertanya satu sama lain sambil menunggu Grand Duke datang.Di luar, Aldric tengah menginterogasi para pengawal dan penjaga yang bertugas selama dirinya tak ada. Namun semua bawahannya menjawab hal yang sama, yaitu tak ada satupun orang datang ataupun hal aneh seperti penyusup.“Dasar keparat!” Aldric menggeram rendah. Kepalan tangannya makin erat.Tak banyak bicara, ia langsung meninggalkan para penjaga dan pengawal di halaman istana.“Kalian boleh bubar sekarang,” ujar Jackson.Semuanya langsung bergerak sesuai perintah Jackson. Ekspresi mereka semua sama, yaitu bingung.Jackson menghela nafas, dirinya juga belum mengerti ada masalah apa. Tapi melihat wajah Grand Duke yang begitu tegang pasti ada satu hal yang amat penting telah terjadi di k
“Grand Duke masih belum mau makan?” tanya Jackson pada pelayan yang terus mengetuk pintu kamar Grand Duke dengan membawa sarapan.“Dari pagi Grand Duke terus meminta alkohol untuk diantar ke kamarnya, tuan,” jawab pelayan itu cemas.Jackson menghela nafas. Dirinya sudah tak terkejut lagi jika tuannya melakukan hal seperti ini setiap kali pulang dari ibukota.“Grand Duke, apakah Anda masih lelah karena perjalanan kemarin?” tanya Jackson pelan.Ia memasuki kamar Aldric perlahan. Ia melihat Grand Duke masih berbaring di atas ranjangnya yang besar. Wajahnya tertutupi oleh lengan, dan satu tangannya masih memegang botol yang sudah kosong. Membuat Jackson tidak tahu apakah Grand Duke masih tertidur atau sudah bangun.Pria itu menaruh beberapa dokumen yang dibawanya ke atas meja besar tengah ruangan. Ia berjalan ke sisi ranjang. Langkahnya hati-hati.“Grand Duke?” panggilnya lagi, kali ini lebih pelan“Kenapa...” gumamnya pelan, suaranya serak. “Kenapa harus dia...” Suaranya rendah, sedikit
Sikap Elira berubah seketika. Wanita itu memusatkan perhatian sepenuhnya pada Marielle.“Membunuh? Jangan menipuku, Marielle!” Elira tak percaya.Wajah Marielle tersenyum sejenak. Dada yang semula berdebar kencang kini perlahan mereda. Ia menghela nafas lalu menghembuskannya. Sikapnya masih tenang.“Maaf jika membuat Ratu bingung. Tapi semua yang saya katakan adalah kebenaran. Saya tidak meminta Anda langsung percaya. Yang terpenting saya sudah bicara jujur pada Anda.” Suara Marielle pelan.Sosok itu terlihat teguh. Tak ada satu ekspresi atau tanda-tanda untuk berbohong. Justru sebaliknya, sikap Marielle sekarang begitu pasrah.“Apa kau juga bicara ini pada Raja?”“Tidak, Yang Mulia.”Keraguan masih bergelut di hati Elira. Antara rasa percaya dan ingkar terus saling mendorong untuk memenangkan hatinya.Wanita itu duduk, mengambil secangkir teh yang tersedia, dan meminumnya perlahan.“Aku tidak tahu tujuanmu yang sebenarnya dengan mengatakan ini,” ujarnya. Matanya tak melihat Marielle
Cassian menurunkan Marielle perlahan dan mendudukkannya di tepi ranjang. Wajah wanita itu penuh luka kecil yang mengganggu penglihatannya. Ia duduk, mengelus pipi Marielle yang terdapat luka goresan akibat latihan hari ini.“Kamu terluka,” suara Cassian lirih. Matanya terus menelusuri garis wajah Marielle.“Saya tidak apa-apa, Yang Mulia.”“Lihat wajahmu, banyak goresan.” Cassian masih meniti bagian wajah Marielle yang mengalami luka.Tangan kecil Marielle menarik tangan Cassian pelan, ia menangkup tangan yang lebih besar itu.“Yang Mulia, saya tidak apa-apa. Saya ingin menjadi kuat Yang Mulia. Saya ingin menjadi wanita yang pantas untuk Anda. Bisakah Anda mempercayai saya?”Satu tangan Marielle mengelus lembut punggung tangan Cassian. Sentuhan itu membuat Raja tak berdaya. Dengan berat hati, ia gagal menjauhkan Marielle dengan Enzo lagi.“Baiklah jika itu maumu.”Marielle tersenyum. “Bagaimana keadaan Yang Mulia Ratu?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.“Dia masih sakit. Sepertinya un
Perlahan kereta kuda itu keluar melewati gerbang istana yang megah, dengan membawa luka yang tak terbantah.“Karena kita sudah dalam perjalanan pulang, mulai besok lusa kita akan fokus pada wilayah Valtore, Grand Duke,” ujar Jackson yang sudah mulai membalik-balik dokumen dari tas kerjanya.“Terserah kau saja,” jawab Aldric tidak minat.“Grand Duke, bagaimana saat kita di Valtore nanti kita adakan sebuah pesta. Untuk mencari gadis cantik sebagai calon pasangan Anda.” Jackson memajukan tubuhnya sedikit, berharap ide darinya diterima.“Berhenti membuat omong kosong.” Aldric sama sekali tak tertarik. Ia hanya menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan mata.“Ayolah Grand Duke, Anda sudah memasuki usia untuk menikah,” rayu Jackson sekali lagi.“Hanya ada satu wanita yang ada di hatiku. Dan kau tau siapa itu.” Aldric menatap Jackson jengah.“Tapi Grand Duke, wanita itu sudah bersuami. Apakah Anda benar-benar ingin merebut Yang Mulia Ratu dari Raja Cassian?”“Diam, atau aku lempar dirimu keluar!
Marielle mundur beberapa langkah melihat wajah Cassian yang menunjukkan raut menyeramkan.“Maaf Yang Mulia… perut saya merasa sakit, jadi saya meminta Enzo mengantar saya ke kamar untuk istirahat.” Suaranya lirih, wajahnya penuh pinta belas kasih.Cassian terdiam.Sorot matanya yang semula tajam pe
Musik mulai mengalun, lembut dan teratur.Satu per satu pasangan melangkah ke lantai dansa, mengikuti irama yang mengisi seluruh aula.Orang-orang sibuk memandangi para pasangan yang tengah menari di lantai dansa, tak terkecuali Marielle.Ia tersenyum senang melihat Raja dan Ratu begitu serasi dala
Jari Marielle mengepal pelan di sisi gaunnya. Namun wajahnya tetap tenang, seolah tak ada apa pun yang sanggup mengguncang hatinya sekarang. “Apa Anda pikir ancaman seperti itu masih bisa membuat saya takut?” ucapnya pelan, suaranya nyaris datar. Aldric tersenyum tipis, matanya menyipit penuh mi
Denting gelas kristal saling bersahutan, bercampur tawa para bangsawan yang memenuhi aula istana. Cahaya lilin memantul di dinding marmer, menciptakan kilau hangat di tengah malam akhir tahun.Malam pembukaan pesta tahun baru akhirnya dimulai.Pesta tahun baru biasanya berlangsung selama tiga hari







