Share

Mengubah Takdir Selir Antagonis
Mengubah Takdir Selir Antagonis
Author: nababy

Permulaan Takdir

Author: nababy
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-04 15:43:11

“Jadi itu tokoh utama wanitanya... Ratu Elira Aragon.”

Gadis itu menatap wanita di halaman istana dengan ekspresi rumit.

Pandangannya tertuju pada sang Ratu, tokoh utama dalam novel "Mawar Yang Kembali Merekah". Novel itu pernah ia baca saat masih hidup dulu—ketika dirinya masih seorang manusia biasa yang setiap hari bekerja, tertawa, dan mengeluh tentang hidupnya sendiri.

Tapi sekarang?

Dirinya terjebak dalam tubuh wanita lain di dunia fiksi.

“Wajar sih... dia cantik, berwibawa, dan juga pintar.”

Matanya masih mengikuti setiap gerak-gerik Ratu dari kejauhan yang terlihat begitu pandai mengatur orang-orang di depan pintu masuk istana.

Wanita itu masih duduk di kursi dekat jendela sambil menikmati beberapa biskuit dan seduhan teh hangat yang baru saja disajikan oleh para pelayan.

“Aku tidak menyangka jika hidup di istana sangat nyaman dan menyenangkan seperti ini,” ucapnya sambil meneguk teh hangat dan tubuhnya bersandar di kursi kayu.

Hidup dalam kemewahan adalah impiannya sejak kecil.

“Tapi…” ada ragu dalam suaranya, mengingat apa saja yang telah ia lalui dan berakhir seperti ini.

Beberapa hari yang lalu, wanita itu mati akibat peluru sasar saat melakukan demonstrasi dan saat sadar dirinya telah memasuki tubuh Marielle—seorang tokoh antagonis sekaligus selir pelakor yang berakhir mati di tiang gantung karena menghianati Raja.

Jujur saja, dia sangat kesal.

Dari sekian banyak tokoh dalam novel itu, kenapa justru dirinya harus masuk ke tubuh wanita antagonis perebut suami orang?

Hal ini membuat harga dirinya sebagai wanita jatuh sejatuhnya.

“Benar!" Tangannya mengepal menyadari sesuatu.

"Pokoknya aku tidak boleh mati. Apalagi merebut suami orang. Ugh! Aku harus membuat rencana hidup yang bagus.” Marielle menggigit kukunya berusaha berpikir keras bagaimana caranya selamat dan bertahan selama mungkin dalam tubuh ini.

Rasa sakit mati akibat tertembak masih membekas di kepalanya, dia tak mau lagi merasakan mati akibat digantung. Memikirkannya saja membuat nafasnya sudah sesak.

"Padahal aku belum selesai membaca novel itu, tapi udah mati duluan, hufft!" keluhnya kesal.

Mengingat masih ada seratus halaman yang belum ia baca setelah kematian Raja Cassian dalam novel.

"Bahkan aku tidak tau akhir ceritanya bagaimana. Apakah Ratu Elira dan Grand Duke berakhir bahagia?" sorot matanya penuh tanda tanya.

Di Kejauhan terlihat iring-iringan kereta kuda. Dia mengingat, jika sang Raja akan tiba di istana setelah melakukan perjalanan dinas di kerajaan sahabat untuk memperkuat kerjasama dalam bidang perdagangan maupun keamanan.

Kereta kuda itu berhenti, Ratu Elira sudah berdiri disana untuk menyambut sang Suami yang baru saja tiba. Semua rombongan turun, begitu banyak orang dan barang yang dibawa.

Halaman istana menjadi ramai oleh para pelayan yang sibuk menurunkan peti-peti besar dari kereta kuda.

“Lihat! Padahal mereka terlihat serasi." Dia mengomentari.

"Kenapa Raja malah tergoda dengan wanita seperti ini?” pikirnya tak mengerti.

“Raja Cassian dan Ratu Elira. Pasangan yang seharusnya berakhir bahagia tapi terhalang karena kehadiran manusia satu ini,” ujarnya sambil melihat tubuh yang kini ia tempati.

Tubuh Marielle tersentak kaget saat tatapannya bertemu dengan Raja. Wanita itu ingin menarik tirai jendela kamar, tapi tak berani.

“Sial, bagaimana ini? Apakah dia melihatku?” Marielle merutuki dirinya sendiri. Dia refleks bersembunyi, duduk di bawah meja agar untuk melindungi tubuhnya dari pandangan Raja.

Perlahan ia mengintip dari balik tembok dan hanya memperlihatkan kepalanya. Sial memang tak bisa diprediksi, Raja masih melihat ke arahnya. Bahkan, pria itu mulai berjalan cepat. Tapi, dirinya lebih kaget saat tatapan Ratu juga tertuju padanya. Tatapan tajam menusuk, membuatnya ngeri dan merinding.

“Ya Tuhan, dia menuju kesini!” Marielle langsung panik lalu bergegas menuju tempat tidur.

Pintu tiba-tiba terbuka lebar. Seorang pria tinggi besar dan berambut hitam berlari menuju tempat tidur. Sorot mata coklat itu terlihat ketakutan. Sejenak pria itu berdiri memandangi tubuh Marielle, dengan cepat pria itu memeluknya erat.

“Marielle, kekasihku… akhirnya kau bangun juga dari tidurmu,” ucap Cassian lega. Raja, sekaligus suami Marielle.

Dirinya langsung bergidik, karena seorang laki-laki memeluk tubuhnya begitu saja. Ingin sekali dia menendangnya, tapi sebisa mungkin harus menahan diri. Perlahan tubuhnya meronta sedikit, memberi tanda untuk segera melepaskan pelukan, tapi Raja Cassian semakin memeluknya erat.

“Apa badanmu masih sakit? Aku baru saja kembali. Apakah ada yang terluka?” ucap Cassian pelan, pandangannya memeriksa tubuh Marielle mencari luka yang berbekas di tubuh sang Selir.

“Saya baik-baik saja Yang Mulia,” jawab Marielle lirih, meski dalam hati ia ingin sekali menjauh dari pria ini.

“Syukurlah,” ucapnya lega. Bahunya turun disertai hembusan nafas panjang.

Suara langkah kembali terdengar, seorang pria mendadak muncul. Rambut hitam, mata biru, dan ada pin lambang serigala di dada.

Wanita itu sangat tau siapa yang berada di depannya sekarang.

“Lady, akhirnya anda siuman juga,” ucap pria itu sambil membungkuk sedikit memberi hormat.

Mata Marielle membulat, seakan tak percaya siapa yang dia lihat.

“Kau…?”

Pria itu menegakkan tubuhnya, sorot mata dia selaras dengan sorot mata Marielle.

“Apa kabar Lady Marielle? Saya harap anda baik-baik saja,” ujarnya santun.

Pria yang membuat Marielle asli dihukum gantung.

“Kau, Duke Aldric?!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
nababy
Halo, selamat datang di karya pertama saya. semoga kalian menyukainya ya. mohon dukungan dari kalian, para pembaca tercinta.
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kembali Ke Istana

    ​”Kita akan istirahat di penginapan untuk malam ini Lady,” ucap Claude saat baru saja membuka pintu kereta kuda yang Marielle tumpangi.Marielle mengangguk. Ia langsung dibantu Diana untuk keluar. Matahari telah lama tenggelam, digantikan oleh hamparan langit malam yang pekat saat rombongan besar dari Valerante akhirnya memutuskan untuk menepi. Mengingat perjalanan menuju ibu kota memakan waktu hampir seharian penuh dan kondisi fisik Marielle belum sepenuhnya pulih, Cassian memerintahkan pasukan untuk bermalam di sebuah desa persinggahan.​Sebuah penginapan kecil yang cukup bersih telah dikosongkan seluruhnya demi kenyamanan sang Raja dan rombongan.​Di sudut halaman penginapan yang temaram, Aldric tampak berdiri menyendiri di bawah naungan pohon rindang. Pria Utara itu sengaja menjaga jarak, membiarkan para ksatria Valtore yang mengurus perimeter luar. Mata hitamnya bergerak lambat, sekadar mengamati keadaan sekitar dengan waspada, namun pandangannya sesekali tertuju pada jendela l

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Alasan Kembali

    "Bagaimana jika aku katakan..." bisik Cassian dengan suara parau yang sarat akan keputusasaan sekaligus penekanan. "Jika kau ikut bersamaku ke ibukota, aku akan membuka kembali kasus lama itu. Aku akan memimpin penyelidikan ulang dan membersihkan nama Enzo secara resmi, mengembalikan kehormatannya sebagai ksatria sejati, bukan sebagai seorang pengkhianat beracun."​Deg!​Mata perak Marielle seketika membelalak sempurna. Tubuhnya menegang, dan nafasnya seolah terhenti di tenggorokan. Ia langsung menoleh tajam, menatap lurus ke dalam mata Cassian yang dipenuhi ambisi untuk membawanya pulang.​Nama Enzo. Cassian benar-benar menggunakan satu-satunya kelemahan terbesar di hatinya untuk meruntuhkan tembok pertahanannya.​“Apa?!”​“Kau bisa memegang kata-kataku. Aku akan membersihkan nama Enzo untukmu.”​Marielle terdiam, dadanya naik turun menahan gemuruh emosi yang mencuat. Ia menatap Cassian dengan tatapan yang sulit diartikan. Perpaduan antara rasa sakit yang mendalam dan keputusasaan.

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Benang Merah Sang Ksatria

    “Bagaimana, Yang Mulia? Apakah ide saya bisa Anda terima?” Claude melihat pada sang Raja.​Cassian terdiam sejenak. Matanya berkilat saat memikirkan kembali kata-kata Claude. Sebuah senyuman tipis yang dingin terukir di sudut bibirnya. Itu dia. Sebuah alasan mutlak yang tidak akan bisa ditolak oleh siapapun, bahkan oleh Marielle sekalipun.​"Usulan yang bagus, Claude," ujar Cassian memecah keheningan, suaranya kembali dipenuhi otoritas mutlak. "Kita akan membawa para pengkhianat dari Kepala Keluarga Valerante yang membelot ke ibukota untuk dieksekusi di hadapan publik. Dan mengenai Lady Marielle... sebagai Raja, aku secara resmi akan menganugerahkannya gelar Pahlawan Kerajaan atas jasanya menyelamatkan nyawaku dan kontribusinya atas perang ini.”​Aldric memicingkan mata hitamnya, langsung menangkap niat terselubung dibalik keputusan mendadak Cassian. Rahangnya mengeras. Pria itu tahu Cassian sedang menggunakan kekuasaannya untuk menyeret Marielle kembali ke sisinya.​"Jika Anda memutu

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Meja Perundingan Yang Dingin

    “Lebih baik kau istirahat dahulu. Aku tahu kamu masih marah soal kematian Enzo.​” Cassian melangkah pergi. Langkahnya pelan.“Aku akan rapat dengan yang lainnya. Aku akan menghampirimu setelah selesai,” lanjut Cassian sebelum benar-benar keluar tenda.Namun Marielle hanya diam, bahkan wanita itu tak menatap Raja sedikitpun. Akhirnya, dengan hati yang berat Cassian pergi.Di dalam tenda komando utama yang megah, sebuah meja kayu jati besar membentang, dipenuhi oleh peta wilayah, laporan kerusakan, serta estimasi logistik.​Di kedua ujung meja, duduk dua pria paling berpengaruh di kekaisaran Minerva. Cassian, sang Raja, duduk dengan punggung tegak dan dagu terangkat, mengenakan jubah kebesarannya yang masih menyisakan aura dingin. Di ujung lainnya, Aldric, sang Grand Duke, bersandar dengan ekspresi kaku, matanya sedalam jurang es menatap lembaran kertas di hadapannya. Claude, Jackson, beberapa jenderal, dan para menteri ikut mengelilingi meja rapat.​"Kita mulai rapat ini," Cassian mem

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Bayang-bayang Masa Lalu

    “Yang Mulia…” Suara Marielle mendadak lirih.Cassian memegang tangan Marielle, menggenggamnya erat seperti harta karun miliknya yang sangat berharga.“Aku berjanji akan memperlakukanmu lebih baik. Tidak akan aku biarkan siapapun menghinamu, termasuk Ratu.” Cassian menatap mantan selirnya penuh harap.Namun Marielle langsung menarik kembali tangannya. Ia melihat wajah Raja dengan tatapan tidak percaya.“Maaf… tapi saya sudah tidak berminat untuk menjadi selir Anda lagi,” ucap Marielle mutlak.​Mendengar penolakan yang begitu dingin dan mutlak dari bibir Marielle, Cassian merasa seolah-olah seluruh dunianya runtuh seketika. Genggaman tangannya yang kosong di udara perlahan turun, gemetar kecil akibat syok yang luar biasa.​"Kenapa...?" tanya Cassian, suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya menatap Marielle dengan tatapan terluka yang mendalam. "Bukankah kau... masih mencintaiku, Marielle? Semua hal yang kau lakukan selama ini, pengorbananmu terkena panah beracun saat perang... bukank

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Jadilah Selirku Kembali

    ​Suasana di dalam tenda yang semula panas oleh adu mulut antara Marielle dan Aldric, seketika membeku begitu otoritas tertinggi Minerva melangkah masuk. Cassian berjalan dengan anggun namun pasti, zirah emasnya memantulkan cahaya senja yang temaram, menciptakan kesan agung sekaligus mengintimidasi.​Aldric membalikkan tubuhnya perlahan, menghadapi sang Raja dengan rahang yang kembali mengeras. Rasa bersalah yang baru saja menghantam dadanya akibat ucapan Marielle seketika tersamarkan oleh topeng keangkuhannya yang dingin.​"Yang Mulia Raja," ujar Aldric, membungkuk formal dengan nada yang sama sekali tidak terdengar ramah. "Fasilitas darurat ini berada di bawah pengawasan wilayah saya. Wajar jika saya memastikan langsung bahwa... rakyat saya tidak kehilangan nyawanya karena kelalaian dokter."​"Dia terluka karena melindungiku, Grand Duke. Itu menjadikannya tanggung jawab mutlak kerajaan, bukan sekadar urusan domestik Valerante," balas Cassian dingin. Mata elangnya beralih dari Aldri

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Perasaan Yang Tiba-tiba Muncul

    Sore itu, halaman latihan kembali dipenuhi suara benturan pedang. Marielle berdiri dengan nafas memburu, rambutnya diikat seadanya, tangan kanan menggenggam pedang kayu yang mulai licin oleh keringat. Luka kecil di hatinya akibat serangan malam itu belum sembuh, tapi tubuhnya memaksa untuk terus be

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Rencana Kedua

    Cahaya pagi masuk perlahan melalui tirai tipis yang bergerak lembut tertiup angin laut. Suasana kamar masih hangat oleh sisa semalam. Begitu tenang. Berbeda jauh dari ketegangan yang sempat mengisi hubungan mereka sebelumnya.Elira terbangun lebih dulu. Matanya terbuka perlahan, menyesua

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kedua Hati Yang Terpatri

    “Yang Mulia Ratu, ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.” Salah satu dayang menghampiri Elira.Dayang itu mulai berbisik di telinganya, dan membuat mimik wajah Elira berubah seketika.“Jadi itu sebabnya dia langsung mengurung diri di ruang kerjanya,” ucapnya pelan sambil merem

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kekhawatiran Sang Ksatria

    “Enzo, bagaimana perkembangan latihan Lady Marielle denganmu?” tanya salah satu rekan Enzo.“Lumayan bagus,” jawabnya singkatEnzo yang masih mengelap pedang, hanya tersenyum samar, mengingat bagaimana perkembangan dari Marielle beberapa hari terakhir ini.Baru selesai menjawab, mereka dikejutkan o

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status