MasukApa yang dilakukan Zack membuat kaki Kelly semakin berdenyut menyakitkan, tapi Kelly menahan rasa sakit tersebut. Kelly tidak ingin Zack meninggalkannya jika dia menghambat langkah pria itu. Ini satu-satunya kesempatan dia bertemu dengan Ethan kembali.
Zack membuka pintu mobil dan mendorong tubuh Kelly dengan kasar untuk masuk ke mobil tersebut. “Diam di sana! atau kamu tidak akan pernah bertemu dengan Ethan lagi!” ancam Zack. Kelly terdiam dengan tubuh yang gemetar, pria Collins itu sangat kasar, pantas saja kakaknya melarang Ethan tumbuh bersama keluarga Collins. Akan jadi seperti apa Ethan, jika dia tumbuh di keluarga yang suka dengan kekerasan? “Ke mana kamu ak--” “Diam!” bentak Zack, memotong perkataan Kelly. Kepala Zack sudah sangat sakit menangani Ethan, dia tidak mau dipusingkan lagi oleh wanita di sebelahnya tersebut. Kelly langsung terdiam mengerutkan tubuhnya di pojok kursi yang dia duduki. “Jika kamu bicara sedikit saja, aku akan langsung menurunkanmu dan selamanya kamu tidak akan bertemu dengan Ethan.” Zack kembali mengancam Kelly. Keadaan di dalam mobil itu seketika menjadi sunyi dan itu yang Zack inginkan sehingga ia bisa berpikir langkah selanjutnya yang bisa ia ambil. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Ada desiran aneh yang mengganggu hati Kelly, dia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Ethan. Kekhawatirannya semakin besar ketika Zack masuk ke sebuah parkiran rumah sakit. Mulut Kelly sudah terbuka ingin menanyakan pada Zack, kenapa mereka berhenti di rumah sakit? tapi langsung terkatup kembali ketika melihat tatapan dingin dan tajam dari Zack. Setelah turun dari mobil, Kelly sempat kesulitan mengikuti langkah panjang Zack. Pria itu terus berjalan tanpa mempedulikan keadaan Kelly. Tidak mau kehilangan jejak Zack, Kelly memaksa kakinya untuk berlari mengejar pria itu. Ketika mereka berada di sebuah lorong, telinga Kelly mendengar suara tangisan Ethan. Entah kekuatan dari mana, Kelly tiba-tiba bisa berlari mendekati sumber suara itu dan masuk ke sebuah kamar di mana Ethan dirawat. “Ethan!” teriak Kelly yang langsung memeluk dan menggendong anak itu. “Mama ... Mama ... Mama!” tangis Ethan sambil memeluk Kelly dengan erat, takut jika Kelly akan meninggalkannya. Lengan kecil Ethan melingkar di leher Kelly dan tidak mau terlepas. “Kamu kenapa, Sayang?” tanya Kelly sambil mendekap Ethan dan meneteskan air mata. “Selamat pagi, Nyonya. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda,” sapa dokter itu ketika melihat Kelly. “Apa yang terjadi, Dok?” tanya Kelly. “Putra Anda mengalami demam dan dehidrasi. Semua sudah teratasi dengan baik, hanya saja putra Anda tidak mau makan dan minum. Saya berharap, Anda bisa membujuknya untuk makan dan minum terutama minum agar cepat pulih,” jawab dokter tersebut. “Baik, Dok. Saya akan membuat Ethan makan dan minum,” kata Kelly dengan patuh. “Baiklah kalau begitu, saya tinggal terlebih dahulu. Jika Anda membutuhkan saya, Anda bisa memanggil saya,” ucap dokter tersebut dengan ramah. “Terima kasih, Dok, telah peduli pada Ethan.” “Sama-sama, Nyonya.” Dokter itu kemudian meninggalkan kamar Ethan. Tinggallah Kelly dan Zack di kamar tersebut menjaga Ethan. “Anakmu sangat merepotkan. Gara-gara dia, aku kurang tidur. Pastikan dia tidak menangis karena aku ingin tidur. Awas jika dia mengganggu tidurku!” seru Zack yang kemudian menjauh dari Kelly dan membaringkan dirinya di sofa yang berada di ujung kamar. Tidak butuh waktu lama, Zack sudah terlelap. “Maafkan Mama, Sayang. Kamu pasti ketakutan,” kata Kelly sambil mengusap pipi Ethan yang memerah. Anak kecil itu masih sesenggukan di dekapan Kelly, tapi sudah tidak menangis dan berteriak lagi. “Sekarang Ethan minum susu dulu, habis itu bobok, ya,” kata Kelly lagi. Sambil menggendong Ethan, Kelly membuat susu yang berada di atas meja. Ketika Kelly memberikannya pada Ethan, Ethan langsung meminumnya dengan cepat seakan-akan sudah berhari-hari tidak minum. “Pelan-pelan, Sayang,” ucap Kelly. Ethan mulai tenang dan matanya perlahan mulai tertutup dengan dot yang masih setia di mulutnya. Kelly menggendong dan mengayunnya, merasa nyaman dan aman di dekapan Kelly, Ethan akhirnya tertidur dengan pulas. Ketika matahari sudah meninggi, Zack terbangun dan menatap Kelly dan Ethan yang tidur saling berpelukan di atas ranjang pasien. Ethan memeluk leher Kelly seakan takut wanita itu meninggalkannya, sedangkan Kelly mendekap Ethan, melindunginya agar tidak ada seorang pun bisa mengambilnya. Untuk pertama kalinya, dia merasa kasihan pada wanita dan anak yang ada di depannya tersebut. Zack sadar jika mereka tidak bisa dipisahkan. Ethan juga masih terlalu kecil untuk dipisahkan dari mamanya. Zack memikirkan kembali perkataan papanya yang menginginkan cucunya bisa dipisahkan dari mamanya. Zack tidak ingin jika kejadian kemarin terulang kembali. Nyawa Ethan hampir saja melayang hanya karena terpisah dari mamanya. “Dasar anak keras kepala, sifat Owen benar-benar menurun pada anaknya,” gumam Zack. Kelly terbangun dan terkejut ketika matanya langsung bertabrakan dengan mata tajam Zack dan ekspresi dinginnya. Ia terduduk dan menyembunyikan Ethan di belakang tubuhnya, berusaha melindungi Ethan dari jangkauan Zack. “Aku mohon Tuan Collins, jangan pisahkan aku dengan Ethan. Aku akan melakukan apa pun agar Anda tidak memisahkan kami,” pinta Kelly memohon belas kasihan dari Zack. Ia mengubah cara bicaranya dengan sopan untuk meluluhkan hati Zack. Zack masih terdiam menatap Kelly, membuat Kelly takut dan gelisah. “Kenapa Anda tega membuat anak Anda menderita? Dia masih sangat kecil dan belum mengerti apa-apa,” kata Kelly lagi. “Anakku? Aku tidak pernah menidurimu, bagaimana bisa dia menjadi anakku?” bantah Zack. “A-apa? Anda bukan Papanya? Siapa Anda sebenarnya?” Kelly mendadak bingung. Jika pria di depannya bukan Papa Ethan, kenapa dia ingin mengambil Ethan darinya? “Dasar wanita jalang, berapa pria yang kamu tiduri sehingga kamu tidak mengenal Papa dari putramu? Jangan-jangan anak itu bukan putra dari kakakku,” tuduh Zack dengan nada dan ekspresi merendahkan Kelly. Kelly hanya bisa diam, mencerna perkataan Zack. Sedikit saja dia salah bicara, dia bisa kehilangan Ethan untuk selamanya. “Tunggu di sini dan jangan berpikir untuk kabur! Nasibmu dan putramu ada di tanganku. Sedikit saja kamu berani membantahku! Aku pastikan kamu akan kehilangan putramu itu!” ancam Zack yang kemudian keluar dari kamar Ethan dirawat. Zack berjalan ke ujung lorong kamar dan mengambil ponsel di saku bajunya lalu menekan nomor papanya. “Halo, Pa. Kita harus bicara. Wanita itu benar-benar wanita jalang, bahkan dia tidak mengenali Owen dan mengira aku Papa dari putranya. Mungkin di sudah meniduri banyak pria sehingga lupa dengan wajah Owen. Siapkan saja tes DNA, jika anak itu bukan anak Owen, urusan kita selesai. Aku ingin segera mendapatkan bagianku,” ucap Zack, memastikan jika papanya mengerti dengan apa yang dia katakan. Setelah mengatakan hal tersebut, Zack memutuskan panggilannya dan kembali ke kamar Ethan. ZACK meremas kertas di tangannya dan mengumpat keras. Hasil DNA Ethan telah keluar dan terbukti jika anak itu adalah anak dari Owen Collins. Yang membuat Zack lebih marah lagi ketika pengacara keluarga Collins mengatakan jika secara hukum, Ethan sah sebagai putra dari Kelly Watson. Situasi yang dihadapi Zack menjadi semakin sulit. Dia harus memutar otak untuk mendapatkan hak asuh atas Ethan dan menguasai harta Owen. Dengan rahang yang mengeras, Zack masuk ke kamar Ethan dirawat. Mengetahui jika Ethan sedang tidur nyenyak, dia mencengkeram kuat lengan Kelly dan menyeretnya ke ujung ruangan. “Kita harus bicara,” ucap Zack dengan sikap memaksa. “Apakah tentang Ethan?” tanya Kelly dengan nada gemetar. “Ya, tentang Ethan,” jawab Zack. “Aku akan melakukan apa pun untuk Ethan, asal jangan pisahkan kami,” mohon Kelly. “Bagus, aku suka dengan perkataanmu. Kamu harus menikah denganku jika ingin terus bersama Ethan,” paksa Zack. “A-apa? Me-ni-kah?” ulang Kelly terkejut. “Jangan berpikir aku tertarik padamu. Aku bahkan jijik menyentuhmu, mengingat sudah berapa pria yang bercinta denganmu. Aku heran kamu masih sehat dan tidak tertular penyakit dengan banyaknya pria yang kamu tiduri,” hina Zack yang membuat Kelly hanya bisa menunduk dengan hati sakit yang terasa diremas. “Apa yang akan terjadi jika aku menolak menikah dengan Anda?” Kelly memberanikan diri untuk bertanya. “Papaku akan melakukan segala cara untuk memisahkanmu dari Ethan dan aku tidak akan bisa membantumu. Dia akan sangat mudah menendangmu menjauh dari keluarga Collins, bahkan sampai mati kamu tidak akan bisa melihat Ethan lagi,” jawab Zack menakuti Kelly. “Anda berbaik hati sekali ingin membantuku agar aku bisa bersama dengan Ethan, tapi aku tidak percaya dengan rencana Anda itu. Apa yang Anda inginkan sebenarnya atau lebih tepatnya, apa yang Anda dapatkan dari pernikahan ini?” tanya Kelly yang ingin tahu alasan Zack sebenarnya. Kelly menyadari, sangat mustahil jika Zack tertarik padanya, bukan hanya dia wanita miskin dan tidak menarik, tapi juga wanita murahan di mata pria tersebut. “Aku tidak menyangka wanita sepertimu punya penilaian yang sangat cermat. Baiklah, aku akan memberitahukan alasanku. Owen, kakakku meninggal karena kecelakaan. Dia membuat surat wasiat seakan dia tahu jika umurnya tidak panjang.” Zack memulai ceritanya. “Owen mewariskan kekayaannya padamu dan putramu, tapi Papa memberiku jaminan. Jika aku bisa memisahkan dirimu dengan Ethan dan menendangmu jauh dari keluarga Collins, warisan yang Owen berikan padamu akan menjadi milikku,” jelas Zack. Tubuh Kelly membeku, dia tidak menyangka jika kekasih kakaknya itu mewariskan kekayaannya pada Sara dan Ethan. Hubungan seperti apa yang mereka jalani sehingga seorang Collins rela memberikan kekayaannya? Di sisi lain, Kelly merasa terhimpit karena kekayaan itu bukanlah untuknya tapi untuk kakaknya. Jika suatu hari nanti ada yang tahu kebenarannya, jika sebenarnya dia bukanlah ibu kandung dari Ethan, bisa dipastikan jika dia akan dengan mudah ditendang menjauh dari keluarga Collins dan dia tidak akan pernah bisa bertemu dengan Ethan lagi. “Aku tidak peduli dengan warisan yang kakakmu berikan. Yang terpenting bagiku adalah Ethan. Jika benar aku mendapatkan kekayaan kakakmu, ambilah! tapi izinkan aku dan Ethan pergi jauh dari keluarga Collins dan jangan ganggu kehidupan kami,” pinta Kelly memanfaatkan keadaan yang saat ini sedang mendukungnya.Baru saja Richo akan membaringkannya ke ranjang, dia menahan tangan pria itu. “Aku ingin mandi,” ucap Grace.“Aku akan membantumu mandi kalau begitu,” balas Richo.“Apa maksudmu ...?”Pertanyaan itu dijawab Richo dengan tindakan nyata karena beberapa detik kemudian, keduanya telah berada di bawah pancuran air tanpa sehelai benang pun. Pipi Grace memanas dan merona merah menatap pria dengan dada bidang dan rambut tipis yang sangat menggoda berdiri di depannya.Kaki pria itu terlihat sangat kokoh menopang tubuhnya. Otot Richo tumbuh di tempat yang tepat. Seperti es yang meleleh, dia sangat menginginkan tubuh tersebut untuk menyentuh dan memenuhinya dengan milik Richo yang menantang.Matanya menatap nanar tubuh sempurna di depannya itu. Tangannya gatal sekali ingin menyentuhnya, tapi dia tidak berani melakukannya. Tahu apa yang membuat Grace penasaran, Richo menarik tangan wanita itu dan membawanya ke dadanya, menggerakka
Grace sendiri duduk di sofa paling pojok sambil memainkan ponsel, menanggapi Richo yang terus mengirimkan pesan, hingga tidak mendengarkan apa yang dibicarakan keluarganya.“Grace, apakah kamu tidak mendengarkan apa yang kami bicarakan?” tegur Zack.“A-apa Pa?” tanya Grace gagap karena terkejut dengan pertanyaan papanya.“Letakkan ponselmu itu, ini waktunya buat kita berkumpul bersama. Kamu malah asyik sendiri dengan ponselmu itu.” Wajah Zack langsung berubah garang menegur putrinya.“Maafkan aku,” ucap Grace yang langsung mematikan dan meletakkan ponselnya ke atas meja. Dia kemudian pura-pura mendengarkan apa yang orang tua dan kakaknya ceritakan, tapi matanya terus menatap ponselnya. Tak jarang dia ikut tertawa ketika semua orang tertawa tanpa tahu apa yang sedang dibicarakan. Tahu akan hal tersebut, Hazel yang dari tadi memperhatikan Grace, mencari cara untuk mengeluarkan gadis itu dari kebosanan.“Sayang, sepertiny
“Apakah masih sakit? Aku tidak tahu jika semalam adalah yang pertama untukmu,” tanya Richo yang membuat Grace ingin pingsan karena begitu malu.“Richo, jauhkan tanganmu dariku!” tegur Grace sambil beringsut menjauh dari jangkauan tangan pria itu.Richo tersenyum lalu menarik tangannya. “Memangnya kenapa jika aku menyentuhmu? Apakah kamu masih merasa malu padaku? Aku bahkan telah melihat dan menyentuh seluruh tubuhmu semalam,” ujar Richo yang membuat wajah Grace semakin memanas dan merona.“Itu memalukan, bahkan aku tidak menyadarinya apa yang terjadi karena aku dalam keadaan mabuk,” balas Grace sedikit berbohong karena meskipun dia mabuk, dia masih merasakan kenikmatan yang Richo berikan dan mengingat rasa itu sampai saat ini.“Benarkah kamu tidak menyadarinya? Kalau begitu kita bisa melakukannya lagi saat kamu dalam keadaan sadar,” goda Richo yang membuat Grace semakin salah tingkah.“Bisakah kamu meninggalkanku sebentar? Aku ingin membe
Tangan Richo melucuti satu persatu pakaian Grace. Bukannya menahan tangan pria itu, Grace malah terlihat senang dengan apa yang Richo lakukan, membuat Richo berpikir jika Grace adalah wanita yang ahli dalam bercinta. Dia tidak tahu jika saat ini sedang menyentuh wanita yang belum pernah bersentuhan dengan pria mana pun karena sikap protektif orang tuanya.Bibir Richo menjelajahi leher jenjang Grace dan menyapukan lidahnya di sepanjang permukaan leher wanita itu. Desahan pertama Grace lolos dari bibirnya, membuat Richo semakin semangat melakukan aktivitasnya.Merasa jika miliknya telah mengeras dengan gairah yang memuncak, dia segera melepas pakaian yang mengungkungnya.“Sangat mengagumkan,” gumam Grace lirih ketika melihat tubuh sempurna Richo di atas tubuhnya.Tidak membiarkan Grace menganggur lama, Richo kembali menindih wanita itu. Bibirnya kini turun dan menyapu dada Grace, melumat puncaknya yang mengeras menantangnya, semanis anggur matang ya
“Pukulanmu tepat sekali mengenai bekas luka di lenganku, sakit sekali,” canda Richo yang ditanggapi serius olah Grace.“Benarkah? Maaf jika aku menyakitimu,” ujar Grace sambil mengusap bekas pukulannya di lengan pria itu.“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Richo sambil menggenggam tangan Grace dengan nada serius.Tubuh Grace membeku karena genggaman hangat tangan pria itu, seakan ada sengatan listrik yang menjalar di seluruh tubuhnya hingga membuat tubuhnya menghangat lalu memanas dengan cepat. Dia pun segera menarik tangannya dari genggaman Richo.“Apakah kamu masih ingat waktu dirimu wisuda dan kamu mengalami kecelakaan yang menyebabkan bekas luka di lenganmu?” tanya Grace.“Ya, tentu saja aku ingat. Bekas luka ini selalu mengingatkanku akan kejadian tersebut, bahkan aku harus mendapat 15 jahitan karena kecelakaan tersebut,” jawab Richo.“Aku adalah perempuan yang kamu tolong. Terima kasih telah menyelamatkan nyawaku. Jika kamu tid
“Informasi apa yang kamu dapatkan dari New York?” tanya seorang wanita dari balik meja kerjanya.Di depannya berdiri seorang pria dengan baju berwarna hitam, menyatukan kedua tangan menunduk menunggu wanita itu selesai bicara.“Tuan Ethan sengaja mempublikasikan jati dirinya pada para direksi dan pemegang saham jika dia memang anak Sara Watson, kekasih Tuan Owen yang tidak pernah menikah dengan Papanya,” jawab pria itu membuat si wanita seketika duduk tegak seakan tidak percaya dengan apa yang Ethan lakukan.“Pria pemberani, lalu apa reaksi para direksi dan pemegang saham setelah mendengar hal tersebut? Apakah mereka akhirnya menentang anak haram itu untuk menjadi ahli waris Collins?” tanya wanita itu yang berharap hidup Ethan hancur.Sebenarnya bukan kehancuran hidup Ethan yang dia inginkan, tapi kehancuran Owen dan Zack. Jika Ethan hancur, maka kedua pria itu juga akan ikut hancur.“Tidak Nyonya. Awalnya memang