LOGIN“Tidak akan, di nadinya mengalir darah Collins dan aku akan membawanya pulang ke rumah yang layak untuk putramu,” ujar Zack.
“Rumahku sangat layak untuknya, dia baik-baik saja bersamaku. Lagi pula kalian tidak menyayangi Ethan, untuk apa kalian mengambilnya? Aku sangat menyayanginya,” seru Kelly. “Tentu saja untuk menjauhkan anak ini darimu. Wanita jalang sepertimu tidak pantas membesarkan seorang anak dengan darah Collins yang mengalir di nadinya,” jawab Zack, lalu pergi menuju mobilnya. “Berhenti! Jangan bawa Ethan! Kamu tidak boleh membawanya. Aku akan mati tanpanya!” teriak Kelly sambil mengejar langkah Zack dengan kaki terpincang. “Kalau bgitu, matilah sekarang juga! Aku akan dengan senang hati melihatmu mati,” ucap Zack yang kemudian masuk ke mobil mewahnya. Kelly mencoba menahan mobil itu dengan memukul-mukulkan tangannya ke kaca mobil Zack, tetapi Zack tidak peduli. Dia menutup rapat pintu mobilnya dan meletakkan Ethan di bangku di sebelahnya. Zack segera menyalakan mobilnya dan bergerak menjauh dari halaman rumah Kelly. Kelly mencoba mengejar mobil Zack dengan lari terpincang, tetapi apa yang dilakukannya hanya sia-sia. Bukannya terkejar, Kelly malah terjatuh dengan sangat keras di jalan hingga membuat lututnya terluka dan berdarah. Kelly yang tidak bisa melakukan apa pun hanya bisa menangis tersungkur di jalanan. Di dalam mobil, tangis Ethan bukannya berhenti, tetapi malah semakin keras dan memekakkan telinga. “Diam!” bentak Zack yang mulai kesal dengan tangis Ethan. Bukannya diam, Ethan semakin ketakutan dan menangis semakin keras. "Ma-ma ... Ma-ma ...!" tangis dan teriak Ethan tersengguk. Pupus sudah harapan dan tujuan hidup Kelly. Selain rasa bersalah terhadap Sara karena pria Collins itu telah berhasil membawa Ethan pergi, Kelly seakan tidak mempunyai tujuan hidup lagi tanpa Ethan bersamanya. Dia merasa gagal melindungi Ethan dan tidak mampu memangku amanat Kakaknya. “Maafkan aku, Kak. Aku tidak mampu menahan kepergian Ethan bersama pria Collins itu,” isak Kelly, masih dengan keadaan tersungkur di jalan di tempatnya terjatuh. Perlahan Kelly terbangun, dengan tertatih dia masuk ke rumah dan duduk di kursi yang berada di ruang depan rumah tersebut. Kelly menutup muka dengan kedua tangan dan kembali menangis terisak di sana. “Ke mana aku harus mencari Ethan? Bagaimana caranya aku merebut Ethan kembali?” batin Kelly. Otaknya mulai berpikir untuk merebut Ethan kembali. Pemikiran tersebut mengembalikan semangat Kelly. Kali ini dia tidak akan menyerah sebelum mendapatkan Ethan kembali ke pangkuannya. Tanpa peduli dengan luka di lutut dan rasa nyeri di kakinya yang terkilir, Kelly mengambil ponsel dan mencari informasi tentang keluarga Collins. Tubuhnya membeku ketika tahu siapa yang dia hadapi. Bahkan Collins masuk ke dalam lima puluh besar orang terkaya di negaranya. Kelly mencari alamat Collins dan kembali terbelalak ketika menemukan foto sebuah rumah besar seperti istana. Rumah yang tidak pernah terbayang dalam impiannya sekalipun. Tangan Kelly seketika gemetar hebat, bisakah dia merebut Ethan dengan posisinya saat ini? “Apa yang harus aku lakukan, Kak?” gumam Kelly berharap ada jalan keluar yang bisa ia dapatkan. Kepala Zack berdenyut mendengar tangisan Ethan yang begitu keras. Dia tidak mungkin membawa bayi itu dalam perjalan jauh ke New York. Sekencang apa pun dia membawa mobil, butuh lebih dari lima jam untuk sampai ke rumah. Zack tidak mungkin membiarkan Ethan menangis selama lima jam, apalagi hari sudah mulai gelap. Sepertinya dia harus membuat rencana cadangan dengan kondisinya saat ini. “Apakah kamu tidak bisa diam? Suaramu membuatku tidak bisa berkonsentrasi mengendarai mobil ini!” seru Zack yang tentu saja tidak dimengerti oleh Ethan. Awalnya Zack berpikir jika bayi yang dia bawa itu akan diam dengan sendirinya. Tidak mungkin terus menangis jika sudah terlalu lelah, tetapi kenyataannya semakin lama tangisannya malah semakin kencang dan melengking. Bahkan wajah Ethan berubah menjadi merah akibat dari tangisannya yang begitu keras. “Shit! Aku benar-benar ingin membuangmu jika saja kamu bukan ahli waris Owen. Diamlah! atau aku akan menyumpal mulutmu itu dengan kain!” bentak Zack yang malah membuat Ethan semakin ketakutan. Zack memukul setir mobilnya dengan kuat ketika tidak mampu lagi menahan emosi. Beruntung beberapa meter di depannya, Zack melihat sebuah hotel. Dia memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu dan menenangkan Ethan di hotel tersebut. Karyawan hotel menatap Zack dengan curiga ketika pria itu masuk menggendong seorang anak yang terus menangis. “Dia anakku dan aku baru saja mengambilnya dari mamanya, pernikahan kami kurang baik,” ucap Zack asal bicara agar orang di depannya tersebut tidak mencurigainya sebagai penculik. Karyawan itu tersenyum ramah ketika mendengar penjelasan Zack. “Selamat malam, Tuan. Apakah Anda memerlukan sebuah kamar?” tanya karyawan tersebut dengan ramah. “Ya, kamar dengan ranjang besar, penghangat ruangan, tanpa area rokok dan menghadap ke jalan,” jawab Zack. “Apakah dengan sarapan juga?” “Ya.” Zack segera menuju ke kamar ketika sudah mendapatkan kuncinya. Dia meletakkan Ethan ke atas ranjang dan berdiri di depan ranjang tersebut, menatap Ethan dengan kesal karena tidak berhenti menangis. “Apa yang kamu mau? Apakah kamu mau susu?” tanya Zack yang kemudian menelepon karyawan hotel untuk menyediakan susu untuk bayi seumuran Ethan. “Ma-ma ... Ma-ma ...!” tangis Ethan yang terus berulang. “Mamamu sudah mati, kamu akan tinggal di rumah yang lebih bagus dari rumah mamamu,” seru Zack. Bukannya diam, tangis Ethan malah semakin menjadi. Zack tampak kebingungan ketika Ethan tidak mau meminum susu yang dibawakan pelayan hotel. Zack menutup telinga dan membiarkan Ethan menangis begitu saja. Lelah menangis, Ethan akhirnya diam dengan sisa senggukan yang terdengar. Matanya sedikit demi sedikit terpejam, dia tertidur dengan memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut. Saat itulah Zack bisa bernapas lega. Dia menyusul Ethan naik ke atas ranjang, lalu melepas bajunya dan tidur berbaring di samping anak kecil tersebut. Entah berapa lama Zack tertidur ketika dia merasa ada sesuatu yang menyengat punggungnya. Zack langsung terbangun dan membalikkan tubuhnya. Dia terkejut ketika sadar jika yang menyengat di punggungnya adalah kening Ethan dengan suhu yang sangat tinggi. “Hei! Bangun!” seru Zack sambil menepuk-nepuk pipi Ethan, namun tidak ada respon dari Ethan. Wajah Ethan memerah dan tubuhnya lemas. Zack terduduk dan memeriksa tubuh Ethan dan seketika mengumpat keras merasakan panas tinggi tubuh Ethan di permukaan tangannya. Dengan buru-buru Zack memakai pakaian, bahkan sampai belum sempat mengancingkan seluruh kancing kemejanya, langsung menggendong Ethan untuk membawanya ke rumah sakit. Sambil berlari, Zack membawa Ethan ke mobil dan membaringkan Ethan di bangku depan mobilnya. “Jangan mati dan merepotkanku! Papa akan membunuhku jika kamu mati!” kata Zack sambil menyentuh leher dan kening Ethan, yang merasakan suhu tubuh Ethan semakin panas. Dengan kecepatan tinggi, Zack berhasil sampai rumah sakit dengan waktu singkat. Dia membawa Ethan ke ruang gawat darurat dan langsung mendapat perawatan. Seorang dokter memeriksa Ethan dan menyuntikkannya obat-obatan untuk mempercepat penurunan suhu tubuh Ethan. Dokter menghindari agar Ethan tidak mengalami kejang. Beberapa jam setelahnya, Ethan dapat tertangani dengan baik. Suhu tubuhnya mulai turun dan mendekati normal. Hanya saja anak itu masih menutup mata dan tubuhnya masih sangat lemas. “Putra Anda mengalami demam dan dehidrasi, berapa jam dia belum minum susu?” tanya dokter. “Aku tidak ingat kapan terakhir dia minum susu,” jawab Zack. Ketika Zack masih berbicara dengan dokter tentang keadaan Ethan, anak itu tiba-tiba terbangun dan kembali menangis memanggil Kelly. “Ma-ma ... Ma-ma ...,” tangis Ethan sampai suaranya serak. Dokter mencoba membujuknya dan memberinya air minum, tetapi Ethan menolaknya. Dia terus menangis dan memanggil Kelly. “Dari sore, dia bersikap seperti itu terus. Aku sampai bingung harus bagaimana?” kata Zack. “Apakah Anda bisa membawa mamanya ke sini agar bisa menenangkan putra Anda. Putra Anda harus bisa makan dan minum. Infus saja tidak akan membuatnya cepat pulih,” saran dokter tersebut. “Tetapi tidak ada yang akan menjaganya jika aku meninggalkannya sendiri.” Zack mencari alasan agar tidak perlu menjemput wanita yang bernama Watson itu ke rumah sakit, membuatnya bertemu lagi dengan putranya. Zack tidak ingin memberi kesempatan pada Watson untuk masuk ke kediaman Collins. “Saya yang akan bertanggung jawab langsung terhadap putra Anda. Anda bisa membawa kartu identitas saya jika Anda tidak mempercayai saya,” jawab dokter tersebut yang tampak sangat perhatian terhadap Ethan. “Shit!” umpat Zack dalam hati. Sepertinya dia tidak bisa mengelak dari apa yang dokter itu sarankan. Apalagi Ethan sangat keras kepala, dia betah sekali menangis dan pintar mengambil hati orang. “Baiklah, aku akan menjemput mamanya. Jaga putraku, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan padanya!” ucap Zack. “Tentu saja, Tuan. Saya akan langsung menghubungi Anda jika terjadi sesuatu,” jawab dokter tersebut dengan ramah. Kelly baru bisa memejamkan mata beberapa menit yang lalu, pikirannya masih penuh dengan Ethan dan keadaan anak itu. Selama ini, Ethan dan dirinya tidak pernah terpisahkan, Kelly khawatir jika Ethan akan terus menangis dan rewel menginginkan dirinya. Kesadaran Kelly yang sempat terhilang, kembali ke tubuhnya ketika mendengar seseorang menggedor pintu rumahnya dengan sangat keras. Dia langsung terduduk kaget dengan jantung yang berdetak kencang. Buru-buru ia turun dari ranjang, lupa jika kakinya sedang sakit. “Aw!” teriak Kelly sambil meringis kesakitan. Denyutan menyakitkan, menyengat di kakinya yang terkilir siang tadi. Dengan tertatih dan terpincang, Kelly berjalan ke bagian depan rumahnya, membukakan pintu untuk tamu yang tidak tahu sopan santun tersebut. Bahkan ini sudah dini hari, siapa yang bertamu di waktu yang tidak tepat? Wanita itu terkejut ketika membuka pintu dan tahu siapa yang berdiri di depannya. “Di mana Ethan? Ke mana kamu membawanya?” cecar Kelly. “Ikut aku!” perintah Zack. “Ke mana?” tanya Kelly heran. “Bertemu dengan putramu,” jawab Zack singkat. “Di mana Ethan sekarang? Kenapa kamu tidak bersamanya sekarang?” tangis Kelly kembali terdengar. “Dasar cerewet dan cengeng!” bentak Zack yang langsung mencengkeram lengan Kelly, menarik dan menyeret wanita itu ke mobilnya.“Dadamu kini terasa penuh dan kencang di bawah telapak tanganku, kehamilanmu memberi perubahan di tubuhmu dan itu sangat menyenangkanku. Apakah kamu tahu? Milikmu saat ini terasa lebih hangat dari biasanya,” bisik Jackie dengan nada menggoda. Serena mengerang mendengar semua bisikan menggoda itu. Tubuhnya bergerak mengikuti irama gerakan Jackie. Dengan lembut, ibu jari Jackie membelai puncak dada Serena berulang-ulang. Serena mengerang dengan bibir setengah terbuka. Punggungnya melengkung hingga bukit miliknya mengisi penuh telapak tangan Jackie. Tak puas dengan belaiannya, dia meremas puncak dada Serena di antara jari-jarinya, menariknya lembut hingga puncak itu bertambah keras. Serena merintih dengan memejamkan mata, pria itu berhasil mengobrak-abrik gairahnya dengan keahlian tangan dan inti miliknya. Jackie terpesona melihat respon Serena yang menggeliat indah membuat penyatuan mereka semakin sempurna. Jackie yang belum
Bukannya menjawab, Jackie mendorong daun pintu yang Serena pegang dan melangkah masuk ke apartemen begitu saja tanpa permisi, membuat Serena melangkah mundur untuk menghindari jangkauan pria itu. Bukan hanya rasa takut yang dia rasakan, tapi gairah yang menghentak menguasai dirinya.Dalam hati, dia terus merapal secara berulang seperti mantra agar dia bisa menguasai dirinya. “Tenanglah Serena! Kendalikan dirimu! Bukan waktu yang tepat untuk bergairah pada pria di depanmu.”Serena terlonjak kaget ketika Jackie tiba-tiba menendang daun pintu di belakangnya dengan keras untuk menutupnya. Tangan pria itu seketika meraih pinggangnya, membuatnya masuk ke dalam dekapan.“Jackie, lepaskan aku!” berontak Serena dengan suara gemetar dan gugup. Aroma pria itu menguasai inderanya dan dia takut akan kehilangan kendali.Ingin rasanya mengumpat pada dirinya sendiri. Kenapa dia tidak bisa menghindar dari pesona pria Collins tersebut? Dia memejamkan mata ketika ja
“Aku tidak ingin kehilangan dirimu dan akan melakukan apa pun untuk tetap mempertahankanmu,” tegas Jackie.“Kamu sungguh egois Jackie,” geram Serena.“Aku tidak peduli apa pendapatmu. Aku akan melakukan segala cara agar kamu tetap tinggal termasuk menagih kontrak yang belum kamu selesaikan,” ancam Jackie yang mulai menggila.Serena langsung berjalan menjauh dari pria tersebut, rasa takut menjalar ke tubuhnya. Dia merasa Jackie benar-benar sudah tidak waras. “Pergi dari kamar ini! Aku tidak ingin berhubungan denganmu lagi,” usir Serena.“Kita belum selesai Serena,” tegas Jackie.Ketakutan Serena membuat tubuhnya gemetar, dia berniat ingin berlari keluar dari kamar tersebut. Matanya beberapa kali melirik ke arah pintu dan Jackie tahu apa yang Serena pikirkan. Baru saja Jackie ingin menutup jalan Serena, tiba-tiba pintu kamar terbuka.Ariana yang berada di ambang pintu seketika terkejut melihat Jackie ada di kamar bersama Serena, se
Tidak ingin kehilangan sikap hangat tersebut, Serena semakin mantap menyembunyikan hubungannya dengan Jackie dan kehamilannya. Itu artinya dia tidak akan bisa bersatu dengan Jackie dan siap kehilangan pria itu.Kehangatan yang Serena rasakan seketika berubah menjadi dingin ketika Jane mendekatinya bersama dengan Jackie. “Aku ikut prihatin dengan apa yang menimpamu, tapi aku berharap kamu tidak menggunakan kisah sedihmu ini untuk menjerat tunanganku dan mengambil hati keluarga ini,” ujar Jane dengan nada tak bersahabat karena masih merasa kesal dengan sikap Jackie yang tiba-tiba sangat peduli dengan Serena.“Aku tidak akan menggunakan kisah sedihku untuk menjerat siapapun, terima kasih untuk simpatimu, Nona Jane,” sindir Serena sambil menegakkan kepala tak ingin terlihat menyedihkan.“Jane, hentikan! Perkataanmu sangat tidak sopan,” tegur Jackie yang berada di belakang Jane.Jane melirik ke arah Jackie dengan tatapan kesal kemudian berlalu begitu s
“Tidak, dia tidak pernah mencintaiku. Dia hanya terobsesi padaku dan menginginkan tubuhku, tapi hatinya tidak untukku,” ujar Serena dengan hati yang sangat terluka.Kini ganti Ariana yang menangis terisak, dia menggenggam tangan Serena dan meminta maaf pada saudaranya tersebut. “Maafkan aku Serena, semua ini salahku. Seandainya saja aku tidak memilih salah satu pria dari keluarga Collins, hal ini tidak mungkin terjadi. Jackie adalah pria yang menolongku saat aku terpuruk, tanpa dia, aku dan anakku pasti akan mati. Seharusnya aku memiliki hati untuknya, tapi kenyataannya tidak. Aku mencintai pria yang menyakitiku, aku mencintai David dan memilihnya, aku mengabaikan perasaan Jackie.”“Aku tahu cerita itu, bahkan saat Jackie sakit dia terus menyebut namamu. Dia mencintaimu dan dia menggunakan tubuhku hanya untuk memuaskan fantasinya. Mungkin dia berpikir saat bercinta denganku, dia membayangkan sedang bercinta denganmu,” ujar Serena.“Itu sungguh menjijikkan.
“Ariana, hentikan!” gumam Jackie ketika melihat David yang masuk dalam ruangan tersebut. Bukannya berhenti, pukulan Ariana malah semakin kuat.“Ada apa ini? Apa yang terjadi?” geram David, penasaran dengan apa yang terjadi.Mendengar suara suaminya, Ariana menghentikan pukulannya di dada Jackie, tubuhnya merosot dan berjongkok di depan pria itu. Dia menangis terisak sambil menundukkan kepala menopangnya dengan tangan yang terlipat di atas lutut.David yang melihat istrinya menangis terisak, heran dan terkejut. Dia mendatangi Ariana dan menarik tubuh istrinya, membuatnya berdiri. Dia kemudian mendekap tubuh istrinya dan mengusap punggungnya untuk menenangkannya.“Ada apa?” tanya David pada Ariana, tapi tidak ada jawaban yang keluar dari mulut wanita itu, hanya isak tangis yang terus terdengar.Mata David melirik ke arah Jackie dengan tatapan penuh tanya. Jackie hanya diam seribu bahasa karena dia masih syok dengan kenyataan jika Serena ham
Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Zack tampak serius dengan kemudinya. Tatapan matanya terus lurus ke depan, berkonsentrasi dengan jalan yang mobil yang dilalui. Sedangkan Kelly menatap keluar jendela, asyik dengan pikirannya sendiri.Bayangan tentang d
“Bagaimana dengan Nona Kelly? Karena tampaknya Anda masih sangat muda,” usul Maria. “Itu jauh lebih baik dibanding Nyonya,” kata Kelly. “Nona, bolehkah aku menggendong Tuan Muda Ethan? Agar Anda bisa makan dengan nyaman,” seorang pelayan yang du
“Bukan bagitu caranya. Aku menginginkan bagianmu sekaligus bagian Ethan. Kamu sebagai wali dari Ethan harus memastikan jika harta Ethan menjadi milikku setelah itu aku akan melepaskanmu dan kamu bisa pergi jauh dari kehidupanku. Bahkan aku tidak ingin melihatmu dengan Ethan lagi,” papar Zack.Kelly
Salah satu pintu dari sebuah ruangan terbuka dengan kasar. Elbert Collins masuk ke ruang kerja putranya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Zack Collins yang terkejut, sontak mendorong wanita yang sedang memuaskan gairahnya, hingga wanita itu terjatuh terjengkang ke lantai. “Pergi! Aku tidak me







