MasukArkana duduk di ruang persidangan. Mengikuti keberlangsungan kasus perkara yang melibatkan lima 'tikus' yang selama ini telah memakan uang perusahaan diam-diam.
Ia duduk di kursi penonton. Menyaksikan secara langsung bagaimana akting yang dilakukan oleh Dustin. Apakah laki-laki itu benar-benar bisa berpura-pura menjadi hakim yang adil dan terhormat, saat di belakang pengadilan ia sudah menerima uang suap?"Kamu benar-benar berbahaya," ujar perempuan yang duduk di samping ArSudah cukup lama, Serena tidak bertemu dan berbicara dengan Shopia. Dan kali ini, mereka bisa bertemu kembali setelah sekian lama fokus pada urusan mereka masing-masing. Pada sore menjelang malam ini, Serena dan Shopia bertemu di sebuah restoran. Arkana juga ada di sana. Namun laki-laki itu memilih untuk tidak duduk bersama mereka. Laki-laki itu memilih berdiri di depan restoran. Terlihat sibuk dengan panggilan masuk dari salah satu orang penting dari perusahaan yang mulai membahas beberapa masalah yang harus mereka selesaikan dalam waktu cepat. "Bagaimana dengan kondisinya? Aku membaca berita tentang penusukan saat itu," tanya Shopia melihat sosok Arkana dari balik tembok kaca restoran. "Masih dalam pemulihan," ujar Serena mulai memegang gelas berisikan minuman hangatnya. "Butuh lebih dari satu minggu untuk lukanya benar-benar mengering. Setidaknya sebelum bulan berganti, aku ingin dia lebih banyak menggunakan waktunya unt
Serena keluar dari kamar mandi. Dengan bagian rambutnya yang masih sangat basah dan tubuhnya terbalut oleh jubah mandi yang berwarna putih bersih, ia melihat ke arah kamarnya yang terlihat sangat sepi. Seseorang yang seharusnya ada di sana, kini pergi entah ke mana.Serena sempat memandang ke arah balkon kamarnya, namun tidak ada orang itu di sana. Membuat Serena berpikir bahwa kemungkinan besar laki-laki itu sedang berada di luar. Membuat Serena mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar tanpa mengganti pakaiannya lebih dulu.Dan baru saja keluar dari kamar, Serena dapat menemukan apa yang ia cari. Laki-laki itu sedang duduk di atas meja dengan tangan memegang sebuah gelas berisikan teh hangat sedangkan tangan kirinya memegang sebuah ponsel. Arkana terlihat sangat fokus dengan layar benda pipih itu."Apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Serena tidak beralih dari tempatnya berdiri. Masih di depan pintu kamarnya."Hanya menikmati teh hangat," ja
Serena duduk nyaman, bermalas-malasan di atas sofa. Setelah sekian lama, akhirnya ia kembali lagi ke apartemen. Jerman memang terasa menyenangkan, ada banyak makanan yang ia coba untuk pertama kalinya, ada banyak hal baru yang ia temui, namun tetap saja apartemennya adalah tempat paling ternyaman untuknya. Karena di sana, ia bisa bersantai tanpa harus memikirkan apapun.Saat Serena sedang bersantai di atas sofa, Serena tidak sengaja melihat Arkana yang sedang berjalan menuju kamar membawa koper."Hei, Arkana," tegur Serena tepat setelah Arkana membuka pintu kamarnya sendiri."Kenapa?" tanya Arkana berbalik menatap Serena."Apa yang sedang ingin kamu lakukan?" tanya Serena menunjuk Arkana."Apa yang sedang ingin aku lakukan? Bukankah sudah jelas ingin memasukkan kembali pakaianku ke dalam lemari kamarku?" tanya Arkana dengan kening mengkerut."Tidak-tidak," tolak Serena."Masukkan bajumu ke lemari kamarku. Bukankah kita s
Hari ini adalah hari terakhir Arkana di Jerman. Kondisi tubuhnya memang belum pulih sepenuhnya. Namun, jika hanya untuk berjalan atau melakukan pekerjaan ringan, maka tidak akan ada masalah serius pada luka tusuknya. Dan, Arkana mendapatkan laporan bahwa ada beberapa perusahaan yang mengalami kerugian, sehingga Arkana harus kembali untuk memastikan semuanya membaik seperti semula.Pada hari terakhirnya, Arkana menggunakan kesempatan untuk menemui dan berbicara dengan perempuan yang selama ini ia hindari. Perempuan yang sebenarnya, tidak pernah ingin temui lagi pada kesempatan apapun. Doona. Perempuan itu tidak berdandan. Tampil dengan natural. Dan penampilan itulah yang membuat Arkana jatuh hati pada perempuan dengan sikap kasar itu."Bagaimana kondisimu?" tanya Doona membuka pembicaraan."Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Arkana dengan pelan."Semuanya akan berakhir sebentar lagi," lanjut Arkana mencoba meyakinkan Doona."Aku ragu akan hal itu. Musuh utamamu adalah seorang
Mata Serena terbuka secara perlahan. Dan pandangan pertamanya tertuju pada ruangan yang cukup asing padanya. Ia tidak merubah posisi tubuhnya yang tidur terlentang pada alas yang terasa sangat empuk. Serena menggerakkan tangannya. Menempelkan pergelangan tangannya pada kening. Membuat sebagian kecil pandangannya terhalau.Kemarin ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dan kali ini, tidurnya terasa sangat pulas. Tidak ada lagi rasa ngantuk yang tersisa pada dirinya. Matanya terasa sangat ringan. Masalah utama mengapa ia tidak bisa tidur dengan nyenyak sebelumnya karena ia harus menjaga Arkana yang sedang di rawat.[Arkana sedang di rawat] Saat kalimat itu terlintas pada pikirannya, sontak tubuhnya bangun. Seperkian detik, ia langsung berada dalam posisi duduk di atas kasur. Dan menyadari bahwa yang ia gunakan tidur saat ini adalah kasur pasien, kasur milik Arkana."Di mana dia?" tanya Serena dalam hati saat melihat pintu tertutup rapat.Saat Serena ingin menurunkan kakinya dari atas kas
Doona berjalan keluar dari rumah sakit. Sebenarnya, Doona ingin bertahan lebih lama di sana, namun menyadari betapa buruknya penampilannya saat ini, Doona khawatir akan ada kesalahan pahaman yang membuat Serena menjadi lebih repot.Sehingga akhirnya Doona memilih untuk pulang. Beristirahat dan baru kembali lagi besok pagi menggunakan pakaian yang bisa menutupi segala tatto yang ada di tubuhnya.Saat baru saja keluar dari gedung rumah sakit, Doona merasakan ada sebuah batu kecil yang terlempar mengenai kepalanya. Sontak, Doona memegang bagian belakang kepalanya yang terkena lemparan batu itu dan berbalik badan. Mencari seseorang yang mencoba melukainya itu."Apa yang kamu lakukan sialan?" tanya Doona kesal melihat keberadaan Noah."Aku hanya melakukan apapun yang aku mau," jawab Noah berjalan mendekat ke arah Doona."Lalu, kamu sendiri? Apa yang kamu lakukan?" tanya Noah menghentikan langkahnya saat sudah berada tepat di depan Doona."Apakah matamu buta? Apakah kamu tidak bisa membaca







