LOGINArkana memutuskan untuk melewatkan mata kuliahnya. Beranjak pergi menuju sebuah restoran yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Untuk menemui seorang wanita yang selama ini telah membantu Arkana.
Sesampainya di restoran kecil itu, Arkana melihat seorang perempuan menggunakan hoodie berwarna putih dan celana pendek sepaha. Dengan bagian kaki kanan dipenuhi tatto dengan segala hal yang bernuansa Jepang. Arkana berjalan menuju perempuan yang sedang mencoba menghabiskan segelas minuman alkohol itu dan duduk di sampingnya. Donna Desiree. Itulah nama dari perempuan dengan kondisi setengah mabuk itu. "Bukankah masih terlalu pagi untuk mabuk?" tanya Arkana mengambil alih gelas yang sedang dipegang oleh Donna. "Apa ini? Kenapa tiba-tiba saja datang dan menggangguku?" tanya Donna menatap kesal Arkana. "Tidak ada, aku hanya peduli pada kesehatanmu. Bukankah aku sudah memintamu untuk berhenti mabuk?" ujar Arkana menjauhkan gelas itu dari Doona. "Bukankah aku sudah mengatakan juga, kalau hanya ini hiburan yang aku miliki?" tanya Doona mencoba meraih kembali gelasnya namun dihalangi oleh Arkana. Umur Doona lima tahun lebih tua dari Arkana. Doona bukan hanya seorang pemabuk. Dibalik kebiasaan buruknya itu, Doona memiliki kemampuan untuk merentas situs-situs dan mengirimkan sebuah virus berbahaya pada perangkat orang lain. Keahlian itulah yang membuat Arkana cukup tertarik dengan Doona dan beberapa kali menyewa jasa Doona untuk kepentingan perusahaan. "Jadi? Ada apa? Katakan langsung saja, supaya cepat berakhir, aku sedang tidak mau diganggu," ujar Doona menyerah untuk mendapatkan kembali gelasnya. "Istri Tuan Vito menemuiku kemarin. Dia memintaku untuk bekerja dengannya. Dan sepertinya kamu juga sudah tau, semua orang yang dulunya bekerja untuk Tuan Vito mulai berbalik menyerangnya," ujar Arkana. "Kalau begitu, jika memang kamu menyayangi nyawamu sendiri, jangan ikut campur dan biarkan saja dia mati," balas Doona bersandar pada sofa. "Bahkan jika seandainya kamu membantunya sekarang dan berhasil, suatu saat nanti dia akan menikah dengan laki-laki lain. Bukankah itu artinya dia akan berkhianat pada Tuan Vito? Apakah menurutmu itu benar? Membantu seseorang yang akan mengkhianati Tuan Vito?" tanya Doona setelah menghela nafas. "Entahlah," jawab Arkana. Doona melirik ke arah Arkana. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia mengenal Arkana, ia melihat sikap bimbang pada diri laki-laki remaja itu. Selalunya laki-laki itu tegas dalam segala tindakannya dan tidak ada seorang pun yang bisa menggoyahkan pola pikirnya. "Tentang orang-orang yang berkhianat, bukankah seharusnya mereka dipimpin oleh satu orang? Kamu hanya perlu menghancurkan orang itu dan semuanya akan berakhir," tanya Doona. "Aku pun menginginkan itu. Tapi sepertinya mereka memiliki kekuasaan yang cukup besar. Mereka bukan orang sembarangan. Sedikit saja pergerakan yang salah akan membuatku jatuh ke jurang," balas Arkana mengetuk meja dengan pelan menggunakan jari telunjuknya. "Jadi, kamu datang untuk meminta bantuanku? Menutupi segala pergerakanmu dan memastikan dunia maya tidak menyorot ke arahmu?" tanya Doona menyilangkan tangannya di depan dada. "Tidak. Aku bahkan belum memutuskan untuk membantunya," jawab Arkana menopang dagunya. "Apakah kamu akan membantunya?" tanya Arkana menatap Doona. "Aku tidak memiliki ikatan dengan Tuan Vito. Aku mengenalnya karena saat itu kamu memberiku pekerjaan. Aku tidak memiliki alasan untuk membantu istrinya dalam kondisi sekarang," jawab Doona menggelengkan kepala. Doona tidak pernah memperlihatkan rasa kepeduliannya terhadap orang lain. Doona adalah perempuan dingin. Semua waktunya ia habiskan seorang diri. Menggunakan semua uang yang ia dapatkan untuk kesenangannya sendiri. Dan tidak pernah mau berbagi ruang dengan orang lain. Akan terus seperti itu sampa kapanpun. Menemukan jalan buntu, membuat Arkana berdiri dari tempatnya dan berpikir untuk pergi dari restoran itu meninggalkan Doona. Mencari udara segar mungkin bisa membantunya menyelesaikan segala pertanyaan rumit yang ada di otaknya. "Nanti malam datanglah ke rumahku. Aku ingin makan masakan Jepang," ujar Doona meraih kembali gelasnya dengan penuh senyuman. "Bagaimana bisa kamu mengundang laki-laki yang sudah kamu tolak cintanya ke rumah saat malam hari? Bisa saja aku melakukan hal yang tidak diinginkan pada kesempatan itu," tanya Arkana menatap sinis Doona. "Hal yang tidak diinginkan? Memperkosaku maksudmu? Aku tidak masalah melakukannya jika memang kamu mau," jawab Doona dengan wajah polosnya. "Lalu juga, aku menolak cintamu bukan karena kamu buruk di mataku. Tapi karena aku, bagaimana sikapmu saat sudah membenci seseorang. Jujur saja, sikap baikmu belum bisa menutupi sisi psikopatmu," lanjut Doona. Hanya butuh sedikit waktu untuk Doona bisa memahami segala kepribadian Arkana. Dari segala hal yang mengagumkan yang dimiliki oleh laki-laki itu, ada satu sisi yang menurutnya harus dihilangkan segera. Sisi tanpa belas kasih saat sedang berhadapan dengan musuh-musuhnya. Di satu sisi lain, saat Serena sedang membersihkan wajahnya di depan cermin. Dari pantulan cermin Serena melihat ada beberapa perempuan juga masuk ke dalam toilet. Bukanlah hal yang aneh, mengingat toilet itu adalah toilet umum. Semua orang bisa masuk selagi mereka tidak menyalahi aturan. Namun yang membuat Serena was-was adalah saat dua perempuan itu berjalan ke arahnya. Sebelum Serena bisa merespon, salah satu dari perempuan itu sudah lebih dulu membekap mulut Serena dengan sebuah kain yang terdapat obat bius. Membuat Serena merasakan pusing dan perlahan kehilangan kesadarannya.Tidak lama setelah Serena tertidur, Arkana memutuskan untuk keluar dari apartemen. Berniat untuk berlari. Sebenarnya, di apartemen tersedia gym. Ada treadmill di sana. Namun karena, Arkana sedang ingin menghirup udara segar, Arkana memutuskan untuk keluar dari apartemen.Tidak terlalu jauh, supaya Arkana bisa kembali ke unit apartemen dengan cepat jika memang ada hal buruk terjadi. Sebelum pergi pun, dia sudah menaruh kamera tersembunyi di lorong apartemen sehingga ia bisa memantau siapa yang berlalu lalang di sana.Saat sedang menunggu lampu penyeberangan jalan berubah menjadi warna hijau, Arkana bisa melihat dari kejauhan sosok Shopia. Perempuan itu berada di seberang jalan dan juga sedang menatap ke arahnya."Ah, ini akan merepotkan," keluh Arkana dengan nafas masih memburu hebat akibat aktivitas larinya tadi.Dan benar. Saat lampu berubah menjadi warna hijau, saat semua orang menyeberang, Arkana ditahan oleh Shopia. Arkana yang seharusnya berl
Serena sedang menikmati makan malamnya. Arkana memasak beberapa ikan laut. Membuatnya menjadi berbagai hidangan. Serena harus mengakuinya, semenjak hidup bersama Arkana, Serena makan lebih banyak dan tidak pernah lagi bosan dengan hidangan yang tersedia.Setelah makanannya selesai, Serena menaruh piringnya ke wastafel. Berjalan menuju ke ruang tengah untuk mencari Arkana yang memang tidak pernah muncul lagi setelah menyelesaikan masakannya."Apa yang sedang kamu baca?" tanya Serena saat melihat Arkana sedang duduk di sofa sembari membaca beberapa kertas dokumen. "Beberapa dokumen tentang hakim," jawab Arkana setelah setelah selesai membaca halaman terakhir."Berikan padaku," ujar Serena duduk di samping Arkana.Arkana memberikan dokumen berisikan kertas tiga lembar itu pada Serena. Perempuan itu baru saja mandi, sehingga dengan posisi seperti sekarang membuat Arkana bisa mencium bau shampo dan parfum dari perempuan itu.Erique D
Setelah kepergian Violet, maka Arkana sudah dipastikan akan menjadi satu-satunya sekertaris pribadi Serena. Pergi ke mana pun Serena pergi, akan ada Arkana di belakangnya. Mengawasi setiap langkahnya dan memastikan perempuan itu tidak pernah memilih jalan yang salah.Terasa hampa. Kehidupan Serena selalu teras hambar. Sebelumnya yang ia lakukan hanyalah membakar uang sebanyak mungkin untuk mendapatkan barang-barang mahal yang limited edition. Tidak ada seorang pun yang berani menegur dan mengatakan bahwa Serena telah menapaki jalan yang salah.Tapi sekarang tidak lagi. Sekarang, ada seseorang yang mengajari Serena segala hal tentang kehidupan. Seseorang yang selalu berada di sekelilingnya untuk memastikan ia tidak keluar dari jalur seharusnya dan sedia setiap saat mengulurkan tangannya saat Serena mengalami kesusahan."Serena!" teriak seorang perempuan dengan suara lembut dari arah kanannya."Shopia!" seru Serena saat melihat sahabat lamanya muncu
Arkana kembali ke apartemen dengan sebuah kantong plastik berisikan cemilan dan minuman kaleng. Setelah ia membuka pintu, ia mendapati Serena yang sedang asyik menonton televisi. Malam ini, perempuan itu terlihat sangat cantik menggunakan sebuah piyama berwarna pink. Arkana tidak mengerti, malam ini perempuan itu lebih cantik dari sebelum-sebelumnya. Dari penampilan dan perawakan Serena itu, semua orang pasti akan berpikir bahwa perempuan itu masih gadis. Belum pernah menikah ataupun tersentuh oleh orang lain."Violet mengirimkan surat pengunduran diri, apakah kamu tau sesuatu tentang ini?" tanya Serena melirik ke arah Arkana yang sedang berusaha melepas sepatu."Ya, tentu saja," jawab Arkana masih sibuk dengan tali sepatunya."Dia dalang utama dari kematian suamimu. Dia juga yang bekerja sama dengan berbagai pihak untuk merekayasa kematian Vito. Dia tau kalau aku sudah datang, jadi dia tidak mungkin bisa bertahan lebih lama di posisinya sekarang," lanjut Arkana setelah kedua sepatu
Matahari sudah mulai tenggelam. Beberapa karyawan sudah mulai meninggalkan kantor dari beberapa menit yang lalu. Arkana pun juga ingin melakukan hal yang sama. Namun ia tidak dapat melakukannya karena harus bertahan lebih lama untuk membaca setiap laporan keuangan perusahaan yang ada. Arkana harus menemukan setidaknya satu bukti penggelapan dana untuk bisa melancarkan serangan lanjutannya.Saat Arkana sudah berada di ujung tanduk, Arkana memutuskan untuk meninggalkan meja kerja. Berjalan menuju vending machine untuk membeli kopi hangat.Saat ingin berjalan menuju ke arah mesin yang berada di ujung koridor, langkah Arkana terhenti. Ada seorang perempuan dengan pakaian kantoran sedang berdiri tepat di tengah-tengah jalan. Memperlihatkan tujuannya dengan jelas. Menghentikan langkah Arkana."Bukankah ini terlalu cepat, Violet? Kita tidak seharusnya bertemu sekarang," tanya Arkana menatap perempuan yang saat ini menduduki posisi sebagai sekertaris Serena."Ini cukup mengejutkan. Aku selalu
Serena baru saja selesai membuat teh hangat. Ya, pada kehidupan sebelumnya saat ia masih bersama, Serena selalu mendapatkan apa yang ia inginkan hanya dengan menyuruh pelayan. Namun kali ini tidak. Semenjak bersama dengan Arkana, Serena melakukan segala hal sendiri. Tentang keuangan, mereka memiliki banyak uang. Dengan semua uang yang mereka miliki, mereka bisa saja membeli semua barang mewah yang ada tanpa harus melihat harga. Dan mereka bisa saja membayar seratus orang untuk melayani kebutuhan mereka sehari-hari. Namun mereka tidak melakukan itu. Arkana ingin hidup sederhana. Lalu, Serena menghargai itu.Saat sedang ingin berjalan menuju kamar. Ponsel yang ada di tangan kanan Serena bergetar. Panggilan telepon masuk. Kening Serena mengkerut saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Tanpa pikir panjang, Serena menjawab panggilan telepon dari Doona. "Ya, kenapa?" tanya Serena menaruh gelas teh hangatnya ke atas meja di ruang tengah lalu berjalan menuju ke arah balkon."Tid







