Share

Chapter 04.

Author: Anshuu_
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-16 01:28:18

Suasana mendadak hening.

Jiang Xuan terdiam cukup lama, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

Pada akhirnya, ia mengembuskan napas pelan.

"Baiklah, Nona Lin."

Tatapannya beralih kepada Lin Yuechan.

"Aku akan mengantarmu kembali ke Kediaman Lin. Jika memang ada kesalah pahaman, aku akan membantumu menjelaskannya."

Lin Yuechan segera menggeleng pelan.

"Tuan Muda, hamba tidak bisa kembali."

Tatapannya meredup.

"Begitu hamba menginjakkan kaki di sana, mereka pasti akan berusaha membunuh hamba lagi."

Belum sempat Jiang Xuan menjawab, wanita tua itu lebih dulu membuka suara.

"Tentu saja dia tidak akan kembali."

Jiang Xuan menoleh.

"Nenek?"

Wanita tua itu menatap cucunya dengan wajah serius.

"Nona Lin ikut bersamamu."

"Untuk sementara waktu, dia akan tinggal di kediamanmu."

Jiang Xuan langsung mengernyit.

"Nenek..."

"Kurasa itu tidak pantas."

"Bagaimanapun juga, kami belum resmi menjadi suami istri."

Wanita tua itu mendengus pelan.

"Lalu apa sulitnya?"

"Kalau belum resmi, ya tinggal diresmikan."

Ucapannya terdengar begitu santai, seolah sedang membicarakan hal yang sangat sepele.

Jiang Xuan memijat pelipisnya.

"Nenek, pernikahan bukan urusan yang bisa diputuskan begitu saja."

"Kenapa tidak?"

Wanita tua itu mengangkat sebelah alis.

"Surat pertunangan sudah ada."

"Cap ibu jari kalian juga sudah lengkap."

"Tinggal memilih hari baik, lalu menikah."

Selesai."

Jiang Xuan hanya bisa terdiam, Ia benar-benar kalah telak jika harus berdebat dengan neneknya.

Melihat cucunya masih tidak menjawab, wanita tua itu kembali berkata dengan nada tegas,

"Pokoknya, bawa Nona Lin ke kediamanmu."

"Aku tidak ingin mendengar bantahan lagi."

"Tetapi, Nenek—"

"Tidak ada tetapi."

Wanita tua itu memotong ucapannya.

"Kalau kau membiarkan gadis ini pergi sendirian, bagaimana jika orang-orang yang mengejarnya menemukannya lagi?"

"Apakah kau tega melihat penyelamat nyawa nenekmu dibunuh di depan matamu?"

Kalimat itu membuat Jiang Xuan kembali terdiam, Ia melirik Lin Yuechan.

Gadis itu hanya berdiri dengan kepala sedikit tertunduk, seolah merasa tidak enak telah merepotkan mereka.

Sesaat kemudian, Jiang Xuan menghela napas pelan.

"Baiklah."

"Aku akan membawanya ke kediamanku."

Mendengar jawaban itu, senyum wanita tua tersebut langsung merekah.

"Nah, begitu lebih baik."

"Dari awal menurut saja denganku."

Jiang Xuan hanya bisa tersenyum masam.

Sebagai Bupati Qinghe, ucapannya dihormati oleh para pejabat dan rakyat di wilayahnya.

Namun, di hadapan neneknya sendiri, semua kewibawaan itu seolah lenyap begitu saja.

Tak lama kemudian, kereta pun mulai bergerak meninggalkan desa.

Lin Yuechan duduk dengan tenang di dalam kereta bersama wanita tua itu. Meski wajahnya tampak tenang, pikirannya justru dipenuhi berbagai pertanyaan.

Tatapannya tanpa sadar mengarah ke tirai kereta yang sesekali tersibak tertiup angin.

Di luar, Jiang Xuan tampak menunggangi kudanya di barisan paling depan, sementara beberapa pengawal mengikuti di belakang.

Lin Yuechan mengernyit pelan.

"Jiang Xuan..."

Nama itu terasa begitu akrab di telinganya.

Ia memejamkan mata, berusaha mengingat sesuatu yang selama ini terkubur di sudut ingatannya.

Beberapa saat kemudian, matanya mendadak terbuka.

"Aku ingat..."

Di kehidupan sebelumnya, nama Jiang Xuan sangat terkenal.

Ia merupakan Bupati Qinghe yang disegani sekaligus ditakuti banyak orang.

Konon, sifatnya dingin, tegas, dan nyaris tidak pernah menunjukkan belas kasihan kepada siapa pun yang melanggar hukum.

Di bawah kepemimpinannya, wilayah Qinghe menjadi jauh lebih tertib.

Para pejabat korup tidak berani bertindak sesuka hati, sementara para penjahat lebih memilih melarikan diri daripada berurusan dengannya.

Namun karena ketegasannya itulah, banyak orang diam-diam menjulukinya sebagai bupati berhati batu.

Ia memutus perkara tanpa memandang kedudukan ataupun latar belakang.

Bahkan bangsawan sekalipun tidak akan memperoleh perlakuan istimewa jika terbukti bersalah.

Lin Yuechan menelan ludah pelan.

"Jadi... pria itu adalah Jiang Xuan."

Ia kembali melirik ke arah luar kereta.

Sosok pria yang menunggang kuda dengan punggung tegap itu tampak begitu tenang.

Siapa sangka, lelaki yang dikenal dingin dan tegas di seluruh Qinghe kini... justru menjadi calon suaminya.

Memikirkan hal itu membuat sudut bibir Lin Yuechan berkedut tipis.

"Semoga saja dia tidak benar-benar sekejam seperti yang dikatakan orang-orang."

Lin Yuechan menggeleng pelan, seolah ingin mengusir pikirannya sendiri.

"Untuk apa memikirkan hal itu sekarang..."

Baginya, yang terpenting adalah bertahan hidup.

Selama berada di bawah perlindungan Jiang Xuan, setidaknya orang-orang dari Kediaman Lin tidak akan berani bertindak gegabah.

Di saat yang sama, Jiang Xuan yang berada di depan tiba-tiba mengangkat sebelah tangan.

"Berhenti."

Perintahnya singkat, tetapi cukup membuat seluruh rombongan menghentikan langkah.

Fu Cheng segera menghampiri.

"Tuan Muda, ada apa?"

Jiang Xuan mengalihkan pandangannya ke arah jalan di depan.

Tak jauh dari sana, tampak belasan pria membawa pedang berdiri menghalangi jalan.

Tatapan mereka dipenuhi niat buruk.

Suasana yang semula tenang seketika berubah mencekam.

Lin Yuechan yang duduk di dalam kereta perlahan menyingkap sedikit tirai jendela.

Begitu melihat belasan pria yang menghadang di depan, wajahnya langsung berubah pucat.

"Itu..."

Jantungnya berdegup semakin kencang.

Ia mengenali mereka.

Mereka adalah para pengawal Kediaman Lin yang sejak tadi memburunya.

Tanpa sadar, Lin Yuechan segera menurunkan kembali tirai kereta.

Ia sedikit menundukkan tubuhnya, berusaha agar wajahnya tidak terlihat dari luar.

Kedua tangannya mengepal erat.

"Semoga mereka tidak menemukanku..."

Sementara itu, di luar kereta, belasan pengawal Kediaman Lin juga telah mengenali sosok yang berada di depan rombongan.

Begitu melihat Jiang Xuan yang duduk tegak di atas kudanya, wajah mereka seketika berubah.

"Itu... Tuan Jiang!"

"Bupati Qinghe!"

Beberapa dari mereka saling berpandangan dengan ragu.

Tak seorang pun berani bertindak gegabah.

Pemimpin pengawal segera melangkah maju, lalu memberi hormat dengan sopan.

"Hamba tidak mengetahui bahwa rombongan Bupati Qinghe akan melintas di sini."

"Kami mohon maaf telah menghalangi jalan."

Jiang Xuan menatap mereka dengan wajah datar.

"Apa yang kalian lakukan di sini?"

Pemimpin pengawal menundukkan kepala.

"Kami sedang mencari seseorang yang melarikan diri dari Kediaman Lin, Tuan."

Tatapan Jiang Xuan tetap tenang.

"Kalau begitu, lanjutkan pencarian kalian."

"Tetapi jangan menghalangi jalan umum."

Suara Jiang Xuan tidak keras.

Namun wibawa dalam setiap katanya membuat para pengawal itu langsung menundukkan kepala lebih dalam.

"Hamba mengerti."

Tanpa berani berkata lebih banyak, mereka segera menyingkir ke tepi jalan, memberi ruang bagi rombongan untuk melintas.

Kereta kembali bergerak perlahan.

Di dalam kereta, Lin Yuechan baru berani mengembuskan napas lega setelah rombongan itu benar-benar melewati para pengawal.

Baru sekarang ia benar-benar menyadari...

Keputusan mengikuti Jiang Xuan adalah pilihan yang tepat.

Andaikan ia masih sendirian, besar kemungkinan ia sudah kembali tertangkap oleh orang-orang dari Kediaman Lin.

Setidaknya, selama berada di bawah perlindungan Bupati Qinghe, mereka tidak memiliki keberanian untuk bertindak sembarangan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 81.

    Jiang Xuan menatap pemuda itu tajam."Kenapa?"Pemuda tersebut menarik napas dengan susah payah."Karena... dia bukan orang yang paling berbahaya."Lin Yuechan langsung berdiri."Apa maksudmu?"Pria berjubah hitam tersenyum tipis.Tawa kecilnya justru membuat suasana semakin mencekam."Kalian masih belum mengerti."Jiang Xuan mengarahkan pedangnya kembali ke lehernya."Kalau begitu bicara.""Orang yang mengirim pasukan kerajaan ke sini..."Pria itu berhenti sejenak."...bukan Jenderal Zhao."Mata Lin Yuechan melebar."Jenderal Zhao tidak tahu?""Dia hanya menerima perintah."Jiang Xuan menoleh ke arah lorong."Fu Cheng.""Hamba di sini.""Segel semua pintu keluar.""Baik!"Fu Cheng segera membawa beberapa pengawal berlari pergi.Jenderal Zhao yang masih berada di halaman mendengar percakapan itu dan wajahnya berubah serius."Jiang Xuan!""Aku juga ingin tahu siapa yang mengeluarkan perintah palsu itu."Jiang Xuan menatapnya dingin."Kalau begitu jangan menghalangiku."Jenderal Zhao me

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 80.

    Lin Yuechan spontan mundur satu langkah."Itu... mata manusia?"Jiang Xuan tidak menjawab.Tatapannya terkunci pada celah pintu batu.Sepasang mata merah itu tidak bergerak.Hanya menatap mereka.Para pengawal mulai gelisah."Tuan Muda...""Jangan bergerak."Suara Jiang Xuan terdengar tegas.Ia mengangkat pedangnya dan perlahan mendekati pintu.Lin Yuechan buru-buru menarik lengan bajunya."Jiang Xuan, tunggu.""Ada sesuatu di balik pintu.""Aku tahu.""Kalau begitu jangan masuk sendirian."Jiang Xuan menoleh."Takut?"Lin Yuechan mendengus."Takut, tentu saja."Ia menunjuk kegelapan di balik pintu."Siapa yang tidak takut melihat mata merah seperti itu?"Jiang Xuan hampir tersenyum.Namun senyumnya menghilang ketika terdengar suara rantai bergesekan dari balik pintu.Klang!Klang!Klang!Sesuatu bergerak.Jiang Xuan langsung menghunus pedangnya sepenuhnya."Semua mundur."Para pengawal segera menurut.Lin Yuechan juga mundur, tetapi matanya tetap memperhatikan pintu.Tiba-tiba cahaya

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 79.

    kini Pria itu berjalan maju. "Sudah lama, Pewaris." Tubuh Jiang Xuan menegang. Lin Yuechan langsung menyadari sesuatu. Pria itu bukan sekadar mengenal Jiang Xuan. Dia mengetahui identitasnya. Jenderal Zhao menoleh. "Pewaris apa?" Pria berjubah hitam tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. "Jiang Xuan, kau benar-benar tidak mengingat masa lalumu." Jiang Xuan menggenggam pedangnya. "Siapa kau?" "Orang yang dulu melihat keluargamu jatuh." Tatapan pria itu berubah dingin. "Dan orang yang akan memastikan kau membuka pintu yang selama ini tersegel." Lin Yuechan menggenggam liontin di balik pakaiannya. Tiba-tiba liontin itu kembali terasa panas. Cahaya tipis muncul dari balik kain. Pria berjubah hitam langsung menoleh ke arah tempat Lin Yuechan berdiri. Tatapannya berubah tajam. "Jadi liontin itu ada padamu." Lin Yuechan mundur selangkah. Jiang Xuan langsung berdiri di antara mereka. "Jangan lihat dia." Pria itu tertawa. "Sudah terlambat." "S

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 78.

    Jiang Xuan mengepalkan tangannya lebih erat."Siapa yang menghapus ingatanku?"Mei Lan menundukkan kepala."Aku tidak tahu."Tatapan Jiang Xuan menjadi semakin dingin."Jangan berbohong.""Hamba benar-benar tidak tahu, Tuan."Mei Lan menarik napas panjang."Aku hanya tahu bahwa ketika kau masih kecil, seseorang membawamu keluar dari ibu kota.""Setelah itu, semua catatan mengenai keberadaanmu dihapus."Lin Yuechan mengerutkan kening."Lalu bagaimana kau bisa tahu?"Mei Lan menatapnya."Karena ibumu yang memintaku membantu."Lin Yuechan langsung terdiam."Ibuku?""Ya."Mei Lan mengangguk."Ibumu mengetahui bahwa keluarga Jiang sedang diburu. Ia tidak bisa menyelamatkan semuanya, jadi ia hanya bisa menyelamatkan satu orang.""Jiang Xuan."Jiang Xuan menatap wanita tua itu tanpa berkedip."Kenapa?""Karena kau adalah satu-satunya pewaris yang masih memiliki darah asli keluarga Jiang."Lin Yuechan perlahan memahami."Jadi ibuku menyelamatkan Jiang Xuan?""Benar.""Dan setelah itu?"Mei La

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 77.

    Wanita itu menatapnya. "Baru beberapa tahun terakhir inti racun mulai bangun." Lin Yuechan merasa dadanya sesak. "Jadi selama ini..." "Benar." Wanita itu menatap Jiang Xuan dengan tatapan iba. "Racun itu bukan dibuat untuk membunuhmu." Jiang Xuan mengerutkan kening. "Lalu untuk apa?" Wanita itu menjawab perlahan. "Untuk menjaga sesuatu tetap tersegel di dalam darahmu." Ruangan kembali sunyi. Lin Yuechan menatap Jiang Xuan. "Tersegel?" Wanita itu mengangguk. "Dan jika segel itu rusak..." Ia berhenti. "Apa yang terjadi?" tanya Lin Yuechan. Wanita tua itu menatap liontin di tangan Lin Yuechan. "Mereka akan mendapatkan apa yang selama ini mereka cari." Jiang Xuan mengambil liontin tersebut dari tangan Lin Yuechan. Tatapannya berubah semakin serius. "Kalau begitu, kita harus menemukan ruang rahasia itu lebih dahulu." Wanita tua tersebut mengangguk. "Tempatnya berada di bawah istana lama." "Namun pintunya hanya bisa dibuka dengan dua benda." Lin Yuechan langsung be

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 76.

    Jiang Xuan mengambil seluruh surat dari dalam kotak. "Namun yang lebih penting sekarang adalah ini." Lin Yuechan menatap kotak tersebut. Di bagian dasar ternyata terdapat ukiran yang sama seperti cincin milik kelompok berjubah hitam. Burung hitam. Lin Yuechan perlahan mengepalkan tangan. "Ternyata ibuku memang terlibat dalam semua ini." Jiang Xuan menatapnya. "Belum tentu." "Jangan menyimpulkan sebelum kita mengetahui kebenarannya." Lin Yuechan mengangguk. Namun dalam hatinya, ia tahu satu hal. Kematian ibunya ternyata jauh lebih rumit daripada yang selama ini ia bayangkan. Dan sekarang, masa lalu itu mulai menyeret Jiang Xuan ke dalamnya. Lin Yuechan masih menatap ukiran burung hitam di dasar kotak. Semakin lama ia melihatnya, semakin sesak dadanya. "Ibuku pasti mengetahui sesuatu," gumamnya. Jiang Xuan mengangguk. "Benar." Ia membalik kotak tersebut dan memeriksa setiap sisinya. "Ada sesuatu yang disembunyikan di sini." Lin Yuechan mendekat. "Di mana?" Jiang X

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status