INICIAR SESIÓNSuasana mendadak hening.
Jiang Xuan terdiam cukup lama, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
Pada akhirnya, ia mengembuskan napas pelan.
"Baiklah, Nona Lin."
Tatapannya beralih kepada Lin Yuechan.
"Aku akan mengantarmu kembali ke Kediaman Lin. Jika memang ada kesalah pahaman, aku akan membantumu menjelaskannya."
Lin Yuechan segera menggeleng pelan.
"Tuan Muda, hamba tidak bisa kembali."
Tatapannya meredup.
"Begitu hamba menginjakkan kaki di sana, mereka pasti akan berusaha membunuh hamba lagi."
Belum sempat Jiang Xuan menjawab, wanita tua itu lebih dulu membuka suara.
"Tentu saja dia tidak akan kembali."
Jiang Xuan menoleh.
"Nenek?"
Wanita tua itu menatap cucunya dengan wajah serius.
"Nona Lin ikut bersamamu."
"Untuk sementara waktu, dia akan tinggal di kediamanmu."
Jiang Xuan langsung mengernyit.
"Nenek..."
"Kurasa itu tidak pantas."
"Bagaimanapun juga, kami belum resmi menjadi suami istri."
Wanita tua itu mendengus pelan.
"Lalu apa sulitnya?"
"Kalau belum resmi, ya tinggal diresmikan."
Ucapannya terdengar begitu santai, seolah sedang membicarakan hal yang sangat sepele.
Jiang Xuan memijat pelipisnya.
"Nenek, pernikahan bukan urusan yang bisa diputuskan begitu saja."
"Kenapa tidak?"
Wanita tua itu mengangkat sebelah alis.
"Surat pertunangan sudah ada."
"Cap ibu jari kalian juga sudah lengkap."
"Tinggal memilih hari baik, lalu menikah."
Selesai."
Jiang Xuan hanya bisa terdiam, Ia benar-benar kalah telak jika harus berdebat dengan neneknya.
Melihat cucunya masih tidak menjawab, wanita tua itu kembali berkata dengan nada tegas,
"Pokoknya, bawa Nona Lin ke kediamanmu."
"Aku tidak ingin mendengar bantahan lagi."
"Tetapi, Nenek—"
"Tidak ada tetapi."
Wanita tua itu memotong ucapannya.
"Kalau kau membiarkan gadis ini pergi sendirian, bagaimana jika orang-orang yang mengejarnya menemukannya lagi?"
"Apakah kau tega melihat penyelamat nyawa nenekmu dibunuh di depan matamu?"
Kalimat itu membuat Jiang Xuan kembali terdiam, Ia melirik Lin Yuechan.
Gadis itu hanya berdiri dengan kepala sedikit tertunduk, seolah merasa tidak enak telah merepotkan mereka.
Sesaat kemudian, Jiang Xuan menghela napas pelan.
"Baiklah."
"Aku akan membawanya ke kediamanku."
Mendengar jawaban itu, senyum wanita tua tersebut langsung merekah.
"Nah, begitu lebih baik."
"Dari awal menurut saja denganku."
Jiang Xuan hanya bisa tersenyum masam.
Sebagai Bupati Qinghe, ucapannya dihormati oleh para pejabat dan rakyat di wilayahnya.
Namun, di hadapan neneknya sendiri, semua kewibawaan itu seolah lenyap begitu saja.
Tak lama kemudian, kereta pun mulai bergerak meninggalkan desa.
Lin Yuechan duduk dengan tenang di dalam kereta bersama wanita tua itu. Meski wajahnya tampak tenang, pikirannya justru dipenuhi berbagai pertanyaan.
Tatapannya tanpa sadar mengarah ke tirai kereta yang sesekali tersibak tertiup angin.
Di luar, Jiang Xuan tampak menunggangi kudanya di barisan paling depan, sementara beberapa pengawal mengikuti di belakang.
Lin Yuechan mengernyit pelan.
"Jiang Xuan..."
Nama itu terasa begitu akrab di telinganya.
Ia memejamkan mata, berusaha mengingat sesuatu yang selama ini terkubur di sudut ingatannya.
Beberapa saat kemudian, matanya mendadak terbuka.
"Aku ingat..."
Di kehidupan sebelumnya, nama Jiang Xuan sangat terkenal.
Ia merupakan Bupati Qinghe yang disegani sekaligus ditakuti banyak orang.
Konon, sifatnya dingin, tegas, dan nyaris tidak pernah menunjukkan belas kasihan kepada siapa pun yang melanggar hukum.
Di bawah kepemimpinannya, wilayah Qinghe menjadi jauh lebih tertib.
Para pejabat korup tidak berani bertindak sesuka hati, sementara para penjahat lebih memilih melarikan diri daripada berurusan dengannya.
Namun karena ketegasannya itulah, banyak orang diam-diam menjulukinya sebagai bupati berhati batu.
Ia memutus perkara tanpa memandang kedudukan ataupun latar belakang.
Bahkan bangsawan sekalipun tidak akan memperoleh perlakuan istimewa jika terbukti bersalah.
Lin Yuechan menelan ludah pelan.
"Jadi... pria itu adalah Jiang Xuan."
Ia kembali melirik ke arah luar kereta.
Sosok pria yang menunggang kuda dengan punggung tegap itu tampak begitu tenang.
Siapa sangka, lelaki yang dikenal dingin dan tegas di seluruh Qinghe kini... justru menjadi calon suaminya.
Memikirkan hal itu membuat sudut bibir Lin Yuechan berkedut tipis.
"Semoga saja dia tidak benar-benar sekejam seperti yang dikatakan orang-orang."
Lin Yuechan menggeleng pelan, seolah ingin mengusir pikirannya sendiri.
"Untuk apa memikirkan hal itu sekarang..."
Baginya, yang terpenting adalah bertahan hidup.
Selama berada di bawah perlindungan Jiang Xuan, setidaknya orang-orang dari Kediaman Lin tidak akan berani bertindak gegabah.
Di saat yang sama, Jiang Xuan yang berada di depan tiba-tiba mengangkat sebelah tangan.
"Berhenti."
Perintahnya singkat, tetapi cukup membuat seluruh rombongan menghentikan langkah.
Fu Cheng segera menghampiri.
"Tuan Muda, ada apa?"
Jiang Xuan mengalihkan pandangannya ke arah jalan di depan.
Tak jauh dari sana, tampak belasan pria membawa pedang berdiri menghalangi jalan.
Tatapan mereka dipenuhi niat buruk.
Suasana yang semula tenang seketika berubah mencekam.
Lin Yuechan yang duduk di dalam kereta perlahan menyingkap sedikit tirai jendela.
Begitu melihat belasan pria yang menghadang di depan, wajahnya langsung berubah pucat.
"Itu..."
Jantungnya berdegup semakin kencang.
Ia mengenali mereka.
Mereka adalah para pengawal Kediaman Lin yang sejak tadi memburunya.
Tanpa sadar, Lin Yuechan segera menurunkan kembali tirai kereta.
Ia sedikit menundukkan tubuhnya, berusaha agar wajahnya tidak terlihat dari luar.
Kedua tangannya mengepal erat.
"Semoga mereka tidak menemukanku..."
Sementara itu, di luar kereta, belasan pengawal Kediaman Lin juga telah mengenali sosok yang berada di depan rombongan.
Begitu melihat Jiang Xuan yang duduk tegak di atas kudanya, wajah mereka seketika berubah.
"Itu... Tuan Jiang!"
"Bupati Qinghe!"
Beberapa dari mereka saling berpandangan dengan ragu.
Tak seorang pun berani bertindak gegabah.
Pemimpin pengawal segera melangkah maju, lalu memberi hormat dengan sopan.
"Hamba tidak mengetahui bahwa rombongan Bupati Qinghe akan melintas di sini."
"Kami mohon maaf telah menghalangi jalan."
Jiang Xuan menatap mereka dengan wajah datar.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
Pemimpin pengawal menundukkan kepala.
"Kami sedang mencari seseorang yang melarikan diri dari Kediaman Lin, Tuan."
Tatapan Jiang Xuan tetap tenang.
"Kalau begitu, lanjutkan pencarian kalian."
"Tetapi jangan menghalangi jalan umum."
Suara Jiang Xuan tidak keras.
Namun wibawa dalam setiap katanya membuat para pengawal itu langsung menundukkan kepala lebih dalam.
"Hamba mengerti."
Tanpa berani berkata lebih banyak, mereka segera menyingkir ke tepi jalan, memberi ruang bagi rombongan untuk melintas.
Kereta kembali bergerak perlahan.
Di dalam kereta, Lin Yuechan baru berani mengembuskan napas lega setelah rombongan itu benar-benar melewati para pengawal.
Baru sekarang ia benar-benar menyadari...
Keputusan mengikuti Jiang Xuan adalah pilihan yang tepat.
Andaikan ia masih sendirian, besar kemungkinan ia sudah kembali tertangkap oleh orang-orang dari Kediaman Lin.
Setidaknya, selama berada di bawah perlindungan Bupati Qinghe, mereka tidak memiliki keberanian untuk bertindak sembarangan.
Pagi itu, Lin Yuechan masih berada di tempat tidur ketika Jiang Xuan selesai mengenakan jubah luarnya. Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai, jatuh tepat di wajah Yuechan yang berusaha bersembunyi di balik selimut. “Yuechan, sudah waktunya bangun.” “Tidak.” Jiang Xuan menoleh. “Bahkan kau belum tahu aku akan mengajakmu melakukan apa.” “Kalau bukan mengajakku makan, aku tidak tertarik.” Jiang Xuan terkekeh pelan. “Aku hanya ingin memberitahumu bahwa Fu Cheng akan kembali membawa kabar pagi ini.” Mendengar nama Fu Cheng, Yuechan membuka sedikit selimutnya. “Apakah dia menemukan Zhou An?” “Belum tentu. Dia juga membawa dokumen yang baru dikirim dari Kediaman Lin.” Yuechan akhirnya duduk, rambutnya sedikit berantakan. “Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal?” “Aku baru saja mengatakannya.” “Tapi kau mengatakannya setelah membangunkanku.” Jiang Xuan menatap istrinya dengan geli. “Baiklah. Lain kali aku akan membiarkanmu tidur sampai tengah hari, lalu memberitah
Setelah memastikan kondisinya tidak menunjukkan tanda kegawatan saat itu, ia meminta pelayan mengambilkan obat yang telah diresepkan tabib. “Kau harus makan terlebih dahulu, lalu minum obat dan beristirahat.” Jiang Xuan memandang istrinya. “Bagaimana dengan penyelidikan?” “Akan tetap berjalan meskipun kau tidur selama satu jam.” “Kalau ada laporan penting?” “Aku akan menyuruh Fu Cheng membacanya keras-keras di samping tempat tidurmu.” Jiang Xuan tertawa kecil, lalu segera berhenti ketika rasa tidak nyaman kembali terasa di dadanya. Senyum Yuechan menghilang. “Jangan memaksakan diri hanya karena ingin menenangkanku.” Tatapan Jiang Xuan melembut. “Baik. Aku akan beristirahat.” Yuechan baru terlihat lega setelah mendengar jawaban itu. Sambil membantu suaminya meninggalkan ruang kerja, ia kembali memikirkan nama Zhou An. Penyelidikan tentang ibunya perlahan menemukan arah baru, tetapi ia tidak ingin kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga dalam usahanya mencari kebenaran
Pagi berikutnya, Lin Yuechan sudah duduk di ruang kerja Jiang Xuan sebelum matahari benar-benar meninggi. Di atas meja terbentang beberapa surat lama milik mendiang ibunya. Ada surat yang ditujukan kepada Lin Weichen, catatan mengenai kebutuhan rumah tangga, serta beberapa lembar kertas berisi tulisan pribadi yang belum pernah dibaca Yuechan sebelumnya. Di samping semuanya, terletak secarik kertas kecil dengan kalimat yang terus mengusik pikirannya. Jika obat berikutnya kembali diganti, jangan meminumnya sebelum diperiksa. Yuechan menopang dagu dengan satu tangan. “Menurutmu, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membandingkan tulisan tangan?” Jiang Xuan, yang sedang membaca laporan di seberangnya, mengangkat pandangan. “Tergantung jumlah dokumen dan kejelasan tulisannya.” “Kalau begitu, kita mungkin harus duduk di sini sampai siang.” “Bukankah kau biasanya mengeluh jika harus duduk terlalu lama?” “Itu berbeda.” “Apa bedanya?” Yuechan menunjuk surat-surat di atas meja.
Keesokan paginya, Lin Yuechan terbangun karena suara Qing'er yang sibuk membuka tirai. “Nona, ada kabar dari ruang depan.” Yuechan masih berbaring dengan mata setengah tertutup. “Kalau kabarnya tidak berkaitan dengan sarapan, sampaikan setelah aku makan.” Qing'er menahan tawa. “Sayangnya, kali ini kabarnya cukup penting.” Yuechan akhirnya membuka mata. “Apa yang terjadi?” “Fu Cheng datang membawa laporan untuk Tuan Muda. Katanya, seseorang telah menemukan informasi mengenai tabib yang dahulu merawat mendiang Nyonya Pertama.” Mendengar itu, Yuechan langsung bangkit. “Siapkan pakaianku.” Qing'er memandangnya heran. “Bukankah Nona baru saja mengatakan ingin sarapan terlebih dahulu?” “Sekarang urusannya berbeda.” Qing'er menggeleng geli. Ternyata, hanya ada dua hal yang mampu membuat Lin Yuechan bangun dengan cepat pada pagi hari: makanan lezat dan persoalan yang menyangkut ibunya. --- Di ruang kerja, Jiang Xuan sedang membaca laporan yang diserahkan Fu Cheng. Ketika Yue
Lin Yuechan dan Jiang Xuan tiba di aula utama ketika Nyonya Tua sedang berbincang dengan Jiang Wei. Di atas meja terdapat sebuah peta wilayah Qinghe, beberapa lembar catatan perjalanan, dan daftar tempat penginapan yang biasa dikunjungi keluarga Jiang. Begitu melihat keduanya datang, Nyonya Tua langsung melambaikan tangan. “Cepat kemari! Nenek sudah menemukan beberapa tempat yang bagus untuk kalian kunjungi.” Lin Yuechan duduk di sampingnya dengan penuh minat. “Tempat seperti apa, Nenek?” “Lihatlah ini.” Nyonya Tua menunjuk sebuah kawasan pegunungan di sebelah barat Qinghe. “Udara di sana sejuk, pemandangannya indah, dan terdapat sebuah vila milik keluarga Jiang di dekat danau.” Yuechan memperhatikan peta tersebut. “Apakah ada pasar di dekat sana?” Nyonya Tua berkedip. “Pasar?” “Benar. Aku ingin membeli makanan khas daerah setempat.” Jiang Wei yang sedang minum teh langsung tertawa. “Kakak ipar, aku pikir kau akan memilih tempat dengan pemandangan romantis. Ternyata yang
Lin Yuechan menghentikan langkahnya ketika Fu Cheng menyerahkan sepucuk surat bersampul putih. “Surat ini dikirim dari Kediaman Lin, Nyonya Muda,” ujar Fu Cheng. “Pelayan yang mengantarkannya mengatakan bahwa Tuan Lin meminta surat ini segera disampaikan kepada Anda.” Yuechan menerima surat itu dengan wajah tenang. “Terima kasih, Fu Cheng.” Fu Cheng membungkuk, lalu mundur beberapa langkah. Jiang Xuan memperhatikan perubahan ekspresi istrinya. “Apakah kau ingin membacanya sekarang?” Yuechan mengangguk. “Sekalian saja. Aku penasaran apa yang ingin disampaikan Ayah kali ini.” Ia membuka sampul surat dan mulai membaca tulisan tangan Lin Weichen. Semakin jauh matanya menyusuri baris demi baris, semakin serius wajahnya. Jiang Xuan tidak mendesaknya. Ia hanya berdiri di samping Yuechan, menunggu sampai istrinya selesai membaca. Beberapa saat kemudian, Yuechan melipat surat tersebut. “Ayah meminta aku datang ke Kediaman Lin setelah beberapa hari,” katanya. “Katanya, ia ingin men







