Mag-log inTak lama kemudian, suara derap kaki kuda terdengar dari kejauhan.
Duk... duk... duk...
Suara itu semakin lama semakin jelas, seolah sedang menuju ke arah mereka.
Tubuh Lin Yuechan sontak menegang.
"Mereka...?"
Dalam benaknya hanya ada satu kemungkinan.
Para pengawal Kediaman Lin akhirnya berhasil menemukan jejaknya.
Melihat kegelisahan itu, wanita tua tersebut mengulurkan tangan dan menepuk lembut punggung tangan Lin Yuechan.
"Tenanglah, Itu bukan orang-orang yang mengejarmu."
Lin Yuechan menoleh dengan raut bingung.
"Lalu... siapa?"
Senyum hangat menghiasi wajah wanita tua itu.
"Itu cucuku."
Tak lama kemudian, tiga ekor kuda memasuki halaman.
Di barisan paling depan, seorang pria muda menunggangi seekor kuda hitam yang tinggi dan gagah. Di belakangnya, dua pria lain mengikuti dengan jarak beberapa langkah, tampak seperti pengawal pribadinya.
Begitu tiba, pria itu menarik tali kekang.
Kuda hitamnya berhenti dengan anggun. Ia lalu turun dari punggung kudanya dengan gerakan ringan dan mantap.
Jubah hitam bersulam benang perak yang dikenakannya berkibar pelan tertiup angin.
Posturnya tinggi tegap, sementara wajahnya tampan dengan garis rahang tegas. Sorot matanya tenang, tetapi memancarkan wibawa yang membuat orang lain tanpa sadar menundukkan kepala.
Kedua pengawal di belakangnya segera ikut turun dari kuda dan berdiri beberapa langkah di belakang sang tuan.
Lin Yuechan menatap pria asing itu beberapa saat.
Ia yakin...
Ia belum pernah bertemu dengannya. Namun perlahan, ketegangan di dalam dadanya mulai menghilang.
Setidaknya, pria itu bukan salah satu pengawal dari Kediaman Lin.
Tanpa disadari, ia mengembuskan napas lega.
Sementara itu, pria muda tersebut berjalan menghampiri wanita tua itu dan memberi hormat dengan sopan.
"Salam Nenek."
"Maaf aku datang terlambat."
Wanita tua itu tersenyum lebar.
"Tidak. Justru kau datang pada saat yang paling tepat."
Setelah berkata demikian, tatapannya beralih kepada Lin Yuechan.
Senyum di wajahnya semakin dalam, seolah tak sabar melihat reaksi sang cucu.
"Xuan'er, kemarilah."
"Ada seseorang yang ingin Nenek perkenalkan kepadamu."
"Nenek?"
Tanpa memberi penjelasan, wanita tua itu kembali mengeluarkan gulungan surat yang tadi telah diberi cap ibu jari Lin Yuechan.
Kemudian ia membuka kotak kecil berisi pasta tinta merah.
Jiang Xuan mengernyit.
"Nenek, apa yang sedang Anda lakukan?"
"Diam sebentar."
Wanita tua itu meraih tangan kanan cucunya, lalu menekan ibu jarinya ke dalam tinta merah.
Setelah itu, ia menempelkan cap ibu jari Jiang Xuan tepat di samping cap ibu jari Lin Yuechan.
Cap.
Melihat kedua cap merah telah berdampingan, wanita tua itu tersenyum puas.
"Nah... sekarang sudah lengkap."
Jiang Xuan semakin bingung.
Ia menatap gulungan surat itu, lalu beralih kepada neneknya.
"Nenek... apa sebenarnya ini?"
Wanita tua itu menggulung kembali surat tersebut dengan santai.
"Surat pertunangan."
"...Apa?"
Jiang Xuan mengira dirinya salah dengar.
"Surat pertunangan?"
"Benar."
Wanita tua itu mengangguk seolah hal itu adalah sesuatu yang biasa.
"Lagipula, cap tangan kalian sudah lengkap. Mulai hari ini, pertunangan ini resmi."
Jiang Xuan terdiam beberapa saat.
"Nenek..."
"Kali ini Anda berbuat apa lagi?"
Wanita tua itu terkekeh kecil, lalu menunjuk ke arah Lin Yuechan yang masih berdiri dengan wajah kebingungan.
"Perkenalkan."
"Namanya Lin Yuechan."
"Mulai hari ini, dia adalah calon istrimu."
Mendengar kalimat itu, Jiang Xuan akhirnya mengalihkan pandangannya kepada gadis yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari sana.
Tatapannya menyapu sosok Lin Yuechan dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Jubah duka putih yang dikenakannya telah dipenuhi debu.
Rambutnya sedikit berantakan akibat berlari menembus hutan.
Wajahnya memang cantik, tetapi penampilannya benar-benar... sulit dijelaskan.
Alis Jiang Xuan perlahan berkerut.
"Nenek..."
"Sungguh?"
Wanita tua itu mengangguk mantap.
"Tentu saja."
Jiang Xuan kembali menatap Lin Yuechan beberapa saat.
Lalu, dengan nada datar ia berkata,
"...Nenek benar-benar menjodohkanku dengan seorang gadis berpakaian seperti baru keluar dari upacara pemakaman?"
Ucapan itu membuat Lin Yuechan langsung menunduk melihat busana duka yang masih melekat di tubuhnya.
Sudut bibirnya berkedut.
Sedangkan Alis Jiang Xuan masih berkerut.
Tatapannya kembali tertuju pada busana duka yang dikenakan Lin Yuechan.
"...Nenek benar-benar menjodohkanku dengan seorang gadis yang masih mengenakan busana pemakaman?"
Buk!
Sebuah tepukan keras mendarat di pundaknya.
"Dasar bocah!"
Wanita tua itu memelototinya dengan wajah kesal.
"Jangan berbicara sembarangan!"
Jiang Xuan mengusap pundaknya yang baru saja dipukul.
"Nenek..."
"Aku hanya mengatakan apa yang kulihat."
"Itulah masalahnya!" balas wanita tua itu sambil kembali mengangkat tangannya, membuat Jiang Xuan refleks mundur setengah langkah.
"Kalau tidak tahu apa-apa, jangan asal bicara!"
Wajah wanita tua itu berubah serius.
"Nona Lin baru saja mengalami musibah besar."
"Busana yang dikenakannya bukan karena ia aneh, melainkan karena ia baru saja lolos dari maut."
Mendengar penjelasan itu, raut wajah Jiang Xuan sedikit berubah.
Wanita tua itu mendengus pelan.
"Lagipula, Nona Lin adalah penyelamat nyawaku."
"Kalau bukan karena dia, mungkin sekarang kau sudah datang untuk menghadiri pemakaman nenekmu."
Kalimat itu membuat ekspresi Jiang Xuan seketika membeku.
"Apa?"
Tatapannya langsung beralih kepada wanita tua itu.
"Nenek... apa yang sebenarnya terjadi?"
Wanita tua itu menghela napas pelan.
"Kau datang sedikit terlambat."
"Tadi, penyakit lamaku kambuh."
"Aku sempat kehilangan kesadaran. Para pengawal dan pelayan sudah panik karena mengira aku tak dapat diselamatkan lagi."
Tatapan Jiang Xuan langsung berubah serius.
Ia menoleh ke arah Fu Cheng.
"Benarkah?"
Fu Cheng segera memberi hormat.
"Benar, Tuan Muda."
"Jika bukan karena Nona Lin, nyawa Nyonya Tua mungkin sudah tidak dapat diselamatkan."
Pelayan wanita yang sejak tadi mendampingi sang nyonya buru-buru mengangguk.
"Nona Lin melakukan suatu cara yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Meskipun awalnya kami meragukannya, Nyonya Tua benar-benar sadar kembali."
Jiang Xuan terdiam.
Tatapannya perlahan beralih kepada Lin Yuechan.
Gadis itu tampak lelah. Wajahnya masih pucat, dan busana dukanya dipenuhi debu.
Jiang Xuan melangkah mendekat.
Ia menggenggam kedua tangan di depan dada sebagai bentuk penghormatan.
"Nona Lin."
"Terima kasih karena telah menyelamatkan nenekku."
Lin Yuechan membalas hormat dengan sopan.
"Tuan Muda terlalu sungkan."
"Hamba hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan."
Jawaban itu membuat Jiang Xuan sedikit mengangguk.
Sebelum ia sempat berkata lagi, wanita tua itu tersenyum puas.
"Nah, bukankah cucuku ini sopan?."
Jiang Xuan mengusap pelipisnya pelan.
"Nenek..."
"Sebelum membahas hal lain, bukankah sebaiknya Anda menjelaskan mengapa tiba-tiba saya memiliki seorang calon istri?"
Wanita tua itu tersenyum santai, seolah pertanyaan itu sudah diduganya sejak awal.
"Karena aku menyukainya."
"..."
Jiang Xuan terdiam.
"Itu saja?"
"Ya."
Wanita tua itu mengangguk mantap.
"Dia menyelamatkan nyawaku, berhati baik, cantik, dan yang terpenting..."
Ia melirik ke arah surat pertunangan yang telah digulung rapi.
"...cap ibu jari kalian sudah berada di surat pertunangan."
"Jadi, persoalan ini sudah selesai."
Sudut bibir Jiang Xuan berkedut pelan.
Ia benar-benar tidak tahu harus tertawa atau menghela napas menghadapi neneknya yang selalu bertindak sesuka hati.
Jiang Xuan menatap pemuda itu tajam."Kenapa?"Pemuda tersebut menarik napas dengan susah payah."Karena... dia bukan orang yang paling berbahaya."Lin Yuechan langsung berdiri."Apa maksudmu?"Pria berjubah hitam tersenyum tipis.Tawa kecilnya justru membuat suasana semakin mencekam."Kalian masih belum mengerti."Jiang Xuan mengarahkan pedangnya kembali ke lehernya."Kalau begitu bicara.""Orang yang mengirim pasukan kerajaan ke sini..."Pria itu berhenti sejenak."...bukan Jenderal Zhao."Mata Lin Yuechan melebar."Jenderal Zhao tidak tahu?""Dia hanya menerima perintah."Jiang Xuan menoleh ke arah lorong."Fu Cheng.""Hamba di sini.""Segel semua pintu keluar.""Baik!"Fu Cheng segera membawa beberapa pengawal berlari pergi.Jenderal Zhao yang masih berada di halaman mendengar percakapan itu dan wajahnya berubah serius."Jiang Xuan!""Aku juga ingin tahu siapa yang mengeluarkan perintah palsu itu."Jiang Xuan menatapnya dingin."Kalau begitu jangan menghalangiku."Jenderal Zhao me
Lin Yuechan spontan mundur satu langkah."Itu... mata manusia?"Jiang Xuan tidak menjawab.Tatapannya terkunci pada celah pintu batu.Sepasang mata merah itu tidak bergerak.Hanya menatap mereka.Para pengawal mulai gelisah."Tuan Muda...""Jangan bergerak."Suara Jiang Xuan terdengar tegas.Ia mengangkat pedangnya dan perlahan mendekati pintu.Lin Yuechan buru-buru menarik lengan bajunya."Jiang Xuan, tunggu.""Ada sesuatu di balik pintu.""Aku tahu.""Kalau begitu jangan masuk sendirian."Jiang Xuan menoleh."Takut?"Lin Yuechan mendengus."Takut, tentu saja."Ia menunjuk kegelapan di balik pintu."Siapa yang tidak takut melihat mata merah seperti itu?"Jiang Xuan hampir tersenyum.Namun senyumnya menghilang ketika terdengar suara rantai bergesekan dari balik pintu.Klang!Klang!Klang!Sesuatu bergerak.Jiang Xuan langsung menghunus pedangnya sepenuhnya."Semua mundur."Para pengawal segera menurut.Lin Yuechan juga mundur, tetapi matanya tetap memperhatikan pintu.Tiba-tiba cahaya
kini Pria itu berjalan maju. "Sudah lama, Pewaris." Tubuh Jiang Xuan menegang. Lin Yuechan langsung menyadari sesuatu. Pria itu bukan sekadar mengenal Jiang Xuan. Dia mengetahui identitasnya. Jenderal Zhao menoleh. "Pewaris apa?" Pria berjubah hitam tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. "Jiang Xuan, kau benar-benar tidak mengingat masa lalumu." Jiang Xuan menggenggam pedangnya. "Siapa kau?" "Orang yang dulu melihat keluargamu jatuh." Tatapan pria itu berubah dingin. "Dan orang yang akan memastikan kau membuka pintu yang selama ini tersegel." Lin Yuechan menggenggam liontin di balik pakaiannya. Tiba-tiba liontin itu kembali terasa panas. Cahaya tipis muncul dari balik kain. Pria berjubah hitam langsung menoleh ke arah tempat Lin Yuechan berdiri. Tatapannya berubah tajam. "Jadi liontin itu ada padamu." Lin Yuechan mundur selangkah. Jiang Xuan langsung berdiri di antara mereka. "Jangan lihat dia." Pria itu tertawa. "Sudah terlambat." "S
Jiang Xuan mengepalkan tangannya lebih erat."Siapa yang menghapus ingatanku?"Mei Lan menundukkan kepala."Aku tidak tahu."Tatapan Jiang Xuan menjadi semakin dingin."Jangan berbohong.""Hamba benar-benar tidak tahu, Tuan."Mei Lan menarik napas panjang."Aku hanya tahu bahwa ketika kau masih kecil, seseorang membawamu keluar dari ibu kota.""Setelah itu, semua catatan mengenai keberadaanmu dihapus."Lin Yuechan mengerutkan kening."Lalu bagaimana kau bisa tahu?"Mei Lan menatapnya."Karena ibumu yang memintaku membantu."Lin Yuechan langsung terdiam."Ibuku?""Ya."Mei Lan mengangguk."Ibumu mengetahui bahwa keluarga Jiang sedang diburu. Ia tidak bisa menyelamatkan semuanya, jadi ia hanya bisa menyelamatkan satu orang.""Jiang Xuan."Jiang Xuan menatap wanita tua itu tanpa berkedip."Kenapa?""Karena kau adalah satu-satunya pewaris yang masih memiliki darah asli keluarga Jiang."Lin Yuechan perlahan memahami."Jadi ibuku menyelamatkan Jiang Xuan?""Benar.""Dan setelah itu?"Mei La
Wanita itu menatapnya. "Baru beberapa tahun terakhir inti racun mulai bangun." Lin Yuechan merasa dadanya sesak. "Jadi selama ini..." "Benar." Wanita itu menatap Jiang Xuan dengan tatapan iba. "Racun itu bukan dibuat untuk membunuhmu." Jiang Xuan mengerutkan kening. "Lalu untuk apa?" Wanita itu menjawab perlahan. "Untuk menjaga sesuatu tetap tersegel di dalam darahmu." Ruangan kembali sunyi. Lin Yuechan menatap Jiang Xuan. "Tersegel?" Wanita itu mengangguk. "Dan jika segel itu rusak..." Ia berhenti. "Apa yang terjadi?" tanya Lin Yuechan. Wanita tua itu menatap liontin di tangan Lin Yuechan. "Mereka akan mendapatkan apa yang selama ini mereka cari." Jiang Xuan mengambil liontin tersebut dari tangan Lin Yuechan. Tatapannya berubah semakin serius. "Kalau begitu, kita harus menemukan ruang rahasia itu lebih dahulu." Wanita tua tersebut mengangguk. "Tempatnya berada di bawah istana lama." "Namun pintunya hanya bisa dibuka dengan dua benda." Lin Yuechan langsung be
Jiang Xuan mengambil seluruh surat dari dalam kotak. "Namun yang lebih penting sekarang adalah ini." Lin Yuechan menatap kotak tersebut. Di bagian dasar ternyata terdapat ukiran yang sama seperti cincin milik kelompok berjubah hitam. Burung hitam. Lin Yuechan perlahan mengepalkan tangan. "Ternyata ibuku memang terlibat dalam semua ini." Jiang Xuan menatapnya. "Belum tentu." "Jangan menyimpulkan sebelum kita mengetahui kebenarannya." Lin Yuechan mengangguk. Namun dalam hatinya, ia tahu satu hal. Kematian ibunya ternyata jauh lebih rumit daripada yang selama ini ia bayangkan. Dan sekarang, masa lalu itu mulai menyeret Jiang Xuan ke dalamnya. Lin Yuechan masih menatap ukiran burung hitam di dasar kotak. Semakin lama ia melihatnya, semakin sesak dadanya. "Ibuku pasti mengetahui sesuatu," gumamnya. Jiang Xuan mengangguk. "Benar." Ia membalik kotak tersebut dan memeriksa setiap sisinya. "Ada sesuatu yang disembunyikan di sini." Lin Yuechan mendekat. "Di mana?" Jiang X







