Share

Chapter 03.

Author: Anshuu_
last update publish date: 2026-07-16 00:42:21

Tak lama kemudian, suara derap kaki kuda terdengar dari kejauhan.

Duk... duk... duk...

Suara itu semakin lama semakin jelas, seolah sedang menuju ke arah mereka.

Tubuh Lin Yuechan sontak menegang.

"Mereka...?"

Dalam benaknya hanya ada satu kemungkinan.

Para pengawal Kediaman Lin akhirnya berhasil menemukan jejaknya.

Melihat kegelisahan itu, wanita tua tersebut mengulurkan tangan dan menepuk lembut punggung tangan Lin Yuechan.

"Tenanglah, Itu bukan orang-orang yang mengejarmu."

Lin Yuechan menoleh dengan raut bingung.

"Lalu... siapa?"

Senyum hangat menghiasi wajah wanita tua itu.

"Itu cucuku."

Tak lama kemudian, tiga ekor kuda memasuki halaman.

Di barisan paling depan, seorang pria muda menunggangi seekor kuda hitam yang tinggi dan gagah. Di belakangnya, dua pria lain mengikuti dengan jarak beberapa langkah, tampak seperti pengawal pribadinya.

Begitu tiba, pria itu menarik tali kekang.

Kuda hitamnya berhenti dengan anggun. Ia lalu turun dari punggung kudanya dengan gerakan ringan dan mantap.

Jubah hitam bersulam benang perak yang dikenakannya berkibar pelan tertiup angin.

Posturnya tinggi tegap, sementara wajahnya tampan dengan garis rahang tegas. Sorot matanya tenang, tetapi memancarkan wibawa yang membuat orang lain tanpa sadar menundukkan kepala.

Kedua pengawal di belakangnya segera ikut turun dari kuda dan berdiri beberapa langkah di belakang sang tuan.

Lin Yuechan menatap pria asing itu beberapa saat.

Ia yakin...

Ia belum pernah bertemu dengannya. Namun perlahan, ketegangan di dalam dadanya mulai menghilang.

Setidaknya, pria itu bukan salah satu pengawal dari Kediaman Lin.

Tanpa disadari, ia mengembuskan napas lega.

Sementara itu, pria muda tersebut berjalan menghampiri wanita tua itu dan memberi hormat dengan sopan.

"Salam Nenek."

"Maaf aku datang terlambat."

Wanita tua itu tersenyum lebar.

"Tidak. Justru kau datang pada saat yang paling tepat."

Setelah berkata demikian, tatapannya beralih kepada Lin Yuechan.

Senyum di wajahnya semakin dalam, seolah tak sabar melihat reaksi sang cucu.

"Xuan'er, kemarilah."

"Ada seseorang yang ingin Nenek perkenalkan kepadamu."

"Nenek?"

Tanpa memberi penjelasan, wanita tua itu kembali mengeluarkan gulungan surat yang tadi telah diberi cap ibu jari Lin Yuechan.

Kemudian ia membuka kotak kecil berisi pasta tinta merah.

Jiang Xuan mengernyit.

"Nenek, apa yang sedang Anda lakukan?"

"Diam sebentar."

Wanita tua itu meraih tangan kanan cucunya, lalu menekan ibu jarinya ke dalam tinta merah.

Setelah itu, ia menempelkan cap ibu jari Jiang Xuan tepat di samping cap ibu jari Lin Yuechan.

Cap.

Melihat kedua cap merah telah berdampingan, wanita tua itu tersenyum puas.

"Nah... sekarang sudah lengkap."

Jiang Xuan semakin bingung.

Ia menatap gulungan surat itu, lalu beralih kepada neneknya.

"Nenek... apa sebenarnya ini?"

Wanita tua itu menggulung kembali surat tersebut dengan santai.

"Surat pertunangan."

"...Apa?"

Jiang Xuan mengira dirinya salah dengar.

"Surat pertunangan?"

"Benar."

Wanita tua itu mengangguk seolah hal itu adalah sesuatu yang biasa.

"Lagipula, cap tangan kalian sudah lengkap. Mulai hari ini, pertunangan ini resmi."

Jiang Xuan terdiam beberapa saat.

"Nenek..."

"Kali ini Anda berbuat apa lagi?"

Wanita tua itu terkekeh kecil, lalu menunjuk ke arah Lin Yuechan yang masih berdiri dengan wajah kebingungan.

"Perkenalkan."

"Namanya Lin Yuechan."

"Mulai hari ini, dia adalah calon istrimu."

Mendengar kalimat itu, Jiang Xuan akhirnya mengalihkan pandangannya kepada gadis yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari sana.

Tatapannya menyapu sosok Lin Yuechan dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Jubah duka putih yang dikenakannya telah dipenuhi debu.

Rambutnya sedikit berantakan akibat berlari menembus hutan.

Wajahnya memang cantik, tetapi penampilannya benar-benar... sulit dijelaskan.

Alis Jiang Xuan perlahan berkerut.

"Nenek..."

"Sungguh?"

Wanita tua itu mengangguk mantap.

"Tentu saja."

Jiang Xuan kembali menatap Lin Yuechan beberapa saat.

Lalu, dengan nada datar ia berkata,

"...Nenek benar-benar menjodohkanku dengan seorang gadis berpakaian seperti baru keluar dari upacara pemakaman?"

Ucapan itu membuat Lin Yuechan langsung menunduk melihat busana duka yang masih melekat di tubuhnya.

Sudut bibirnya berkedut.

Sedangkan Alis Jiang Xuan masih berkerut.

Tatapannya kembali tertuju pada busana duka yang dikenakan Lin Yuechan.

"...Nenek benar-benar menjodohkanku dengan seorang gadis yang masih mengenakan busana pemakaman?"

Buk!

Sebuah tepukan keras mendarat di pundaknya.

"Dasar bocah!"

Wanita tua itu memelototinya dengan wajah kesal.

"Jangan berbicara sembarangan!"

Jiang Xuan mengusap pundaknya yang baru saja dipukul.

"Nenek..."

"Aku hanya mengatakan apa yang kulihat."

"Itulah masalahnya!" balas wanita tua itu sambil kembali mengangkat tangannya, membuat Jiang Xuan refleks mundur setengah langkah.

"Kalau tidak tahu apa-apa, jangan asal bicara!"

Wajah wanita tua itu berubah serius.

"Nona Lin baru saja mengalami musibah besar."

"Busana yang dikenakannya bukan karena ia aneh, melainkan karena ia baru saja lolos dari maut."

Mendengar penjelasan itu, raut wajah Jiang Xuan sedikit berubah.

Wanita tua itu mendengus pelan.

"Lagipula, Nona Lin adalah penyelamat nyawaku."

"Kalau bukan karena dia, mungkin sekarang kau sudah datang untuk menghadiri pemakaman nenekmu."

Kalimat itu membuat ekspresi Jiang Xuan seketika membeku.

"Apa?"

Tatapannya langsung beralih kepada wanita tua itu.

"Nenek... apa yang sebenarnya terjadi?"

Wanita tua itu menghela napas pelan.

"Kau datang sedikit terlambat."

"Tadi, penyakit lamaku kambuh."

"Aku sempat kehilangan kesadaran. Para pengawal dan pelayan sudah panik karena mengira aku tak dapat diselamatkan lagi."

Tatapan Jiang Xuan langsung berubah serius.

Ia menoleh ke arah Fu Cheng.

"Benarkah?"

Fu Cheng segera memberi hormat.

"Benar, Tuan Muda."

"Jika bukan karena Nona Lin, nyawa Nyonya Tua mungkin sudah tidak dapat diselamatkan."

Pelayan wanita yang sejak tadi mendampingi sang nyonya buru-buru mengangguk.

"Nona Lin melakukan suatu cara yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Meskipun awalnya kami meragukannya, Nyonya Tua benar-benar sadar kembali."

Jiang Xuan terdiam.

Tatapannya perlahan beralih kepada Lin Yuechan.

Gadis itu tampak lelah. Wajahnya masih pucat, dan busana dukanya dipenuhi debu.

Jiang Xuan melangkah mendekat.

Ia menggenggam kedua tangan di depan dada sebagai bentuk penghormatan.

"Nona Lin."

"Terima kasih karena telah menyelamatkan nenekku."

Lin Yuechan membalas hormat dengan sopan.

"Tuan Muda terlalu sungkan."

"Hamba hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan."

Jawaban itu membuat Jiang Xuan sedikit mengangguk.

Sebelum ia sempat berkata lagi, wanita tua itu tersenyum puas.

"Nah, bukankah cucuku ini sopan?."

Jiang Xuan mengusap pelipisnya pelan.

"Nenek..."

"Sebelum membahas hal lain, bukankah sebaiknya Anda menjelaskan mengapa tiba-tiba saya memiliki seorang calon istri?"

Wanita tua itu tersenyum santai, seolah pertanyaan itu sudah diduganya sejak awal.

"Karena aku menyukainya."

"..."

Jiang Xuan terdiam.

"Itu saja?"

"Ya."

Wanita tua itu mengangguk mantap.

"Dia menyelamatkan nyawaku, berhati baik, cantik, dan yang terpenting..."

Ia melirik ke arah surat pertunangan yang telah digulung rapi.

"...cap ibu jari kalian sudah berada di surat pertunangan."

"Jadi, persoalan ini sudah selesai."

Sudut bibir Jiang Xuan berkedut pelan.

Ia benar-benar tidak tahu harus tertawa atau menghela napas menghadapi neneknya yang selalu bertindak sesuka hati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 07.

    Setelah tabib tua itu berpamitan, Paviliun Anggrek kembali diselimuti keheningan.Hanya Lin Yuechan yang tersisa di dalam ruangan, Ia duduk di dekat jendela sambil memandangi dua botol obat yang baru saja diberikan tabib.Perlahan, ia mengambil salah satunya, membuka tutupnya, lalu menghirup aroma salep itu.Ramuan ini memang dibuat dengan baik, bahan-bahan yang digunakan juga bukan sembarangan.Namun, Lin Yuechan menggeleng pelan."Salep ini hanya akan mempercepat penyembuhan luka.""Tetapi bekasnya akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memudar."Ia kembali menutup botol itu.Di kehidupan sebelumnya, ia pernah mempelajari berbagai ramuan obat dan tanaman herbal. Ia bahkan mengetahui beberapa resep salep yang mampu memudarkan bekas luka jauh lebih cepat dibandingkan ramuan biasa.Hanya saja...Bahan-bahan yang dibutuhkan tidak tersedia di paviliun ini."Aku harus meraciknya sendiri."Tatapannya beralih ke luar jendela.Di kejauhan, atap-atap rumah di Kota Qinghe tampak diterpa

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 06.

    Koridor panjang itu dipenuhi pilar-pilar kayu cendana yang dipernis mengilap.Di sisi kanan terbentang kolam teratai yang tenang, sementara rumpun bambu bergoyang perlahan tertiup angin sore. Suasana kediaman begitu damai, jauh berbeda dengan Kediaman Lin yang selalu dipenuhi pertengkaran dan tatapan sinis.Qing'er berjalan beberapa langkah di depan.Sesekali ia melirik ke arah Lin Yuechan dengan rasa ingin tahu, tetapi tetap menjaga sopan santun.Tak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah paviliun yang berdiri terpisah dari bangunan utama.Atapnya berlapis genting hijau tua, dengan halaman kecil yang ditanami anggrek bermekaran. Aroma bunganya tercium lembut, menenangkan siapa pun yang menghirupnya.Qing'er mendorong pintu kayu itu perlahan."Nona Lin, ini adalah Paviliun Anggrek.""Mulai hari ini, untuk sementara Nona akan tinggal di sini."Lin Yuechan mengedarkan pandangannya ke dalam.Ruangan itu tertata rapi.Perabotannya memang tidak berlebihan, tetapi setiap sudutnya me

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 05.

    Rombongan kembali melanjutkan perjalanan.Jiang Xuan menunggang kuda di barisan paling depan dengan punggung tegap, sementara kereta yang membawa Lin Yuechan dan wanita tua itu mengikuti di belakangnya. Para pengawal mengapit rombongan dari kedua sisi, menjaga setiap langkah perjalanan dengan penuh kewaspadaan.Di dalam kereta, Lin Yuechan akhirnya mengembuskan napas lega.Setelah lolos dari kejaran para pengawal Kediaman Lin, beban yang sejak tadi menyesakkan dadanya perlahan menghilang.Baru ketika tubuhnya mulai mengendur, rasa nyeri yang sedari tadi ia abaikan kembali menyerang.Bekas cambukan di punggungnya masih terasa perih, sementara memar di kedua pergelangan tangannya belum juga memudar. Semua luka itu merupakan jejak penyiksaan yang diterimanya sebelum diracun hingga kehilangan nyawa.Pelariannya tadi memang tidak menambah luka baru, tetapi telah menguras sisa tenaganya yang belum sepenuhnya pulih. Wajah Lin Yuechan perlahan memucat, sementara napasnya terdengar sedikit leb

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 04.

    Suasana mendadak hening.Jiang Xuan terdiam cukup lama, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.Pada akhirnya, ia mengembuskan napas pelan."Baiklah, Nona Lin."Tatapannya beralih kepada Lin Yuechan."Aku akan mengantarmu kembali ke Kediaman Lin. Jika memang ada kesalah pahaman, aku akan membantumu menjelaskannya."Lin Yuechan segera menggeleng pelan."Tuan Muda, hamba tidak bisa kembali."Tatapannya meredup."Begitu hamba menginjakkan kaki di sana, mereka pasti akan berusaha membunuh hamba lagi."Belum sempat Jiang Xuan menjawab, wanita tua itu lebih dulu membuka suara."Tentu saja dia tidak akan kembali."Jiang Xuan menoleh."Nenek?"Wanita tua itu menatap cucunya dengan wajah serius."Nona Lin ikut bersamamu.""Untuk sementara waktu, dia akan tinggal di kediamanmu."Jiang Xuan langsung mengernyit."Nenek...""Kurasa itu tidak pantas.""Bagaimanapun juga, kami belum resmi menjadi suami istri."Wanita tua itu mendengus pelan."Lalu apa sulitnya?""Kalau belum resmi, ya tinggal diresm

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 03.

    Tak lama kemudian, suara derap kaki kuda terdengar dari kejauhan.Duk... duk... duk...Suara itu semakin lama semakin jelas, seolah sedang menuju ke arah mereka.Tubuh Lin Yuechan sontak menegang."Mereka...?"Dalam benaknya hanya ada satu kemungkinan.Para pengawal Kediaman Lin akhirnya berhasil menemukan jejaknya.Melihat kegelisahan itu, wanita tua tersebut mengulurkan tangan dan menepuk lembut punggung tangan Lin Yuechan."Tenanglah, Itu bukan orang-orang yang mengejarmu."Lin Yuechan menoleh dengan raut bingung."Lalu... siapa?"Senyum hangat menghiasi wajah wanita tua itu."Itu cucuku."Tak lama kemudian, tiga ekor kuda memasuki halaman.Di barisan paling depan, seorang pria muda menunggangi seekor kuda hitam yang tinggi dan gagah. Di belakangnya, dua pria lain mengikuti dengan jarak beberapa langkah, tampak seperti pengawal pribadinya.Begitu tiba, pria itu menarik tali kekang.Kuda hitamnya berhenti dengan anggun. Ia lalu turun dari punggung kudanya dengan gerakan ringan dan m

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 02.

    Penekanan demi penekanan terus ia lakukan tanpa henti, irama kedua tangannya tetap stabil, meski lengannya mulai terasa pegal.Beberapa pelayan tak sanggup lagi melihat pemandangan itu."Sudah cukup...."Salah seorang di antara mereka tersedu."Nyonya Tua pasti sudah tiada.""Tidak."Suara Lin Yuechan terdengar tegas."Beliau masih bisa diselamatkan."Ia kembali memeriksa denyut nadi di leher wanita tua itu.Masih sangat lemah.Lin Yuechan mengembuskan napas, lalu kembali memberikan penekanan dada.Waktu seolah berjalan begitu lambat.Tak seorang pun berani bersuara.Semua mata tertuju kepada gadis muda yang sejak tadi berusaha merebut kembali nyawa seseorang dari ambang kematian.Kepala pengawal mengepalkan tangannya erat. Meski tidak memahami apa yang dilakukan Lin Yuechan, ia memilih menunggu.Untuk saat ini, hanya gadis itu yang membawa secercah harapan.Beberapa saat kemudian, tubuh wanita tua itu mendadak bergetar pelan.Jari-jarinya bergerak.Lin Yuechan segera menghentikan pen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status