MasukRombongan kembali melanjutkan perjalanan.
Jiang Xuan menunggang kuda di barisan paling depan dengan punggung tegap, sementara kereta yang membawa Lin Yuechan dan wanita tua itu mengikuti di belakangnya. Para pengawal mengapit rombongan dari kedua sisi, menjaga setiap langkah perjalanan dengan penuh kewaspadaan.
Di dalam kereta, Lin Yuechan akhirnya mengembuskan napas lega.
Setelah lolos dari kejaran para pengawal Kediaman Lin, beban yang sejak tadi menyesakkan dadanya perlahan menghilang.
Baru ketika tubuhnya mulai mengendur, rasa nyeri yang sedari tadi ia abaikan kembali menyerang.
Bekas cambukan di punggungnya masih terasa perih, sementara memar di kedua pergelangan tangannya belum juga memudar. Semua luka itu merupakan jejak penyiksaan yang diterimanya sebelum diracun hingga kehilangan nyawa.
Pelariannya tadi memang tidak menambah luka baru, tetapi telah menguras sisa tenaganya yang belum sepenuhnya pulih. Wajah Lin Yuechan perlahan memucat, sementara napasnya terdengar sedikit lebih berat.
Melihat itu, wanita tua yang duduk di hadapannya menghela napas pelan.
"Kau terluka."
Lin Yuechan tersenyum tipis.
"Hanya luka ringan, Nyonya."
Wanita tua itu menggeleng pelan.
"Anak bodoh."
"Keadaanmu jelas tidak baik."
Ia membuka sebuah kotak kayu kecil yang berada di sampingnya. Di dalamnya tersusun rapi beberapa botol porselen putih berukuran kecil.
Wanita tua itu mengambil salah satunya, lalu menyerahkannya kepada Lin Yuechan.
"Ini salep yang dibuat oleh tabib istana."
"Gunakan setelah membersihkan lukamu. Bekasnya akan lebih cepat pulih."
Lin Yuechan menerimanya dengan kedua tangan.
"Terima kasih, Nyonya."
Tatapannya dipenuhi rasa syukur.
Sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak merasakan perhatian seperti ini.
Sejak ibunya meninggal dunia, hidupnya hanya dipenuhi hinaan, perlakuan kasar, dan siksaan dari ibu serta adik tirinya.
Karena itulah, perhatian sederhana dari wanita tua di hadapannya membuat hatinya perlahan menghangat.
Wanita tua itu tersenyum lembut.
"Mulai sekarang, jangan lagi memanggilku 'Nyonya'."
Lin Yuechan tampak bingung.
"Lalu... hamba harus memanggil Anda apa?"
Wanita tua itu terkekeh pelan.
"Panggil saja aku Nenek."
Lin Yuechan sedikit tertegun.
"Nenek?"
"Benar."
Wanita tua itu mengangguk sambil tersenyum.
"Bukankah cap ibu jari kalian sudah tertera pada surat pertunangan?"
"Kalau begitu, cepat atau lambat kita akan menjadi keluarga."
"Wajar jika kau memanggilku Nenek."
Wajah Lin Yuechan perlahan memerah.
Semua yang terjadi hari ini terasa begitu sulit dipercaya.
Pagi tadi ia masih terbaring kaku di dalam peti mati, menunggu untuk dimakamkan.
Kini, hanya dalam hitungan jam, ia memiliki seorang nenek yang begitu menyayanginya, bahkan seorang calon suami yang sama sekali belum dikenalnya.
Melihat wajah gadis itu memerah, wanita tua tersebut tertawa geli.
Di luar kereta, tawa bahagia sang nenek terdengar hingga ke telinga Jiang Xuan.
Tanpa sadar, sudut bibirnya ikut terangkat.
Sudah lama ia tidak melihat wanita yang paling dihormatinya itu tertawa setulus ini.
Fu Cheng yang berkuda di sampingnya ikut tersenyum.
"Tuan Muda."
"Hm?"
"Hamba belum pernah melihat Nyonya Tua sebahagia hari ini."
Jiang Xuan mengangguk pelan.
"Sejak kesehatannya memburuk, beliau memang jarang tersenyum."
Fu Cheng terkekeh kecil.
"Semuanya berubah sejak Nona Lin datang."
Kemudian ia menambahkan dengan nada menggoda,
"Mungkin... kali ini Nyonya Tua benar-benar telah memilihkan jodoh yang tepat untuk Tuan Muda."
Jiang Xuan meliriknya dengan tatapan datar.
"Fu Cheng."
Mendengar nada suara tuannya, Fu Cheng langsung menegakkan punggung.
"Hamba hanya bergurau."
Jiang Xuan kembali mengalihkan pandangannya ke jalan di depan.
Ketika matahari mulai condong ke ufuk barat, siluet sebuah kota perlahan tampak di kejauhan.
Tembok kota yang menjulang tinggi berdiri kokoh mengelilingi wilayah Qinghe. Bendera pemerintahan berkibar pelan di atas gerbang utama, sementara para prajurit berjaga dengan tombak di tangan.
Begitu melihat rombongan yang dipimpin Jiang Xuan, para penjaga segera memberi hormat.
"Salam kepada Bupati!"
Jiang Xuan hanya menganggukkan kepala sekilas.
Gerbang kota pun dibuka lebar.
Rombongan memasuki jalan utama yang ramai oleh para pedagang dan penduduk.
Suara tawar-menawar memenuhi udara.
Deretan kedai teh, toko kain, dan penjual makanan berjejer rapi di kedua sisi jalan.
Namun, keramaian itu perlahan berubah menjadi sunyi saat orang-orang menyadari siapa yang baru saja melintas.
"Itu Bupati Jiang."
"Beliau baru kembali."
"Benar... jangan terlalu berisik."
Dalam sekejap, para pedagang dan penduduk menyingkir ke tepi jalan, tak ada seorang pun yang berani menghalangi rombongannya.
Sebagian besar hanya menundukkan kepala sebagai bentuk hormat.
Di balik tirai kereta, Lin Yuechan memperhatikan semua itu dengan saksama.
Ternyata apa yang pernah ia dengar memang benar.
Jiang Xuan memiliki wibawa yang begitu besar di Qinghe.
Bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kehadirannya sudah cukup membuat seluruh jalanan menjadi tertib.
Tak lama kemudian, kereta meninggalkan jalan utama dan memasuki sebuah kawasan yang jauh lebih tenang.
Rumah-rumah besar milik para pejabat berdiri berjajar dengan halaman yang luas.
Di ujung jalan, sebuah gerbang megah perlahan terlihat.
Di atasnya tergantung sebuah papan kayu hitam bertuliskan tiga huruf berwarna emas.
Kediaman Bupati.
Kereta berhenti perlahan di depan gerbang.
Puluhan pelayan dan prajurit yang berjaga segera berbaris rapi.
Mereka membungkukkan badan serempak.
"Salam kepada Bupati!"
Wanita tua itu tersenyum puas.
"Sudah sampai."
Ia lebih dulu turun dari kereta, lalu mengulurkan tangannya kepada Lin Yuechan.
"Ayo, ikut denganku."
Lin Yuechan menerima uluran tangan itu dan turun perlahan.
Begitu kedua kakinya menginjak tanah, pandangan para pelayan langsung tertuju kepadanya.
Mereka saling bertukar pandang.
Belum pernah sekalipun Bupati membawa seorang gadis pulang ke kediaman.
Terlebih lagi, gadis itu begitu cantik meski mengenakan pakaian sederhana dengan wajah yang masih tampak pucat.
Tatapan penasaran mulai bermunculan. Namun, tak seorang pun berani mengucapkan sepatah kata pun.
Wanita tua itu tentu menyadari tatapan penasaran para pelayan.
Ia tersenyum tipis, lalu berdeham pelan.
Seketika, seluruh pelayan dan prajurit menegakkan sikap.
"Dengarkan baik-baik."
Suaranya lembut, tetapi penuh wibawa.
"Mulai hari ini, Nona Lin adalah tamuku."
"Perlakukan dia dengan hormat sebagaimana kalian memperlakukanku."
"Tak seorang pun boleh bersikap lancang kepadanya."
Para pelayan segera membungkukkan badan lebih dalam.
"Hamba mengerti, Nyonya Tua."
Wanita tua itu mengangguk puas.
Kemudian ia menoleh kepada seorang pelayan wanita berusia sekitar tiga puluh tahun.
"Qing'er."
Pelayan itu segera melangkah maju.
"Hamba di sini, Nyonya Tua."
"Bawalah Nona Lin ke Paviliun Anggrek."
"Siapkan air hangat untuk mandi, pakaian baru, serta makanan yang mudah dicerna."
"Tabib juga harus segera dipanggil untuk memeriksa luka-lukanya."
Qing'er sedikit terkejut.
Paviliun Anggrek adalah paviliun terbaik kedua di kediaman itu. Biasanya tempat tersebut hanya digunakan untuk menerima tamu-tamu terhormat.
"Baik, Nyonya."
Wanita tua itu lalu menggenggam lembut tangan Lin Yuechan.
"Kau sudah cukup menderita hari ini."
"Pergilah beristirahat."
"Di kediaman ini, tidak akan ada seorang pun yang berani menyakitimu."
Mendengar kalimat itu, hati Lin Yuechan kembali menghangat.
"Terima kasih... Nenek."
Mendengar panggilan itu, senyum wanita tua langsung merekah, Ia menepuk pelan punggung tangan Lin Yuechan.
"Pergilah."
Lin Yuechan mengangguk hormat, lalu mengikuti Qing'er memasuki halaman dalam.
Jiang Xuan menatap pemuda itu tajam."Kenapa?"Pemuda tersebut menarik napas dengan susah payah."Karena... dia bukan orang yang paling berbahaya."Lin Yuechan langsung berdiri."Apa maksudmu?"Pria berjubah hitam tersenyum tipis.Tawa kecilnya justru membuat suasana semakin mencekam."Kalian masih belum mengerti."Jiang Xuan mengarahkan pedangnya kembali ke lehernya."Kalau begitu bicara.""Orang yang mengirim pasukan kerajaan ke sini..."Pria itu berhenti sejenak."...bukan Jenderal Zhao."Mata Lin Yuechan melebar."Jenderal Zhao tidak tahu?""Dia hanya menerima perintah."Jiang Xuan menoleh ke arah lorong."Fu Cheng.""Hamba di sini.""Segel semua pintu keluar.""Baik!"Fu Cheng segera membawa beberapa pengawal berlari pergi.Jenderal Zhao yang masih berada di halaman mendengar percakapan itu dan wajahnya berubah serius."Jiang Xuan!""Aku juga ingin tahu siapa yang mengeluarkan perintah palsu itu."Jiang Xuan menatapnya dingin."Kalau begitu jangan menghalangiku."Jenderal Zhao me
Lin Yuechan spontan mundur satu langkah."Itu... mata manusia?"Jiang Xuan tidak menjawab.Tatapannya terkunci pada celah pintu batu.Sepasang mata merah itu tidak bergerak.Hanya menatap mereka.Para pengawal mulai gelisah."Tuan Muda...""Jangan bergerak."Suara Jiang Xuan terdengar tegas.Ia mengangkat pedangnya dan perlahan mendekati pintu.Lin Yuechan buru-buru menarik lengan bajunya."Jiang Xuan, tunggu.""Ada sesuatu di balik pintu.""Aku tahu.""Kalau begitu jangan masuk sendirian."Jiang Xuan menoleh."Takut?"Lin Yuechan mendengus."Takut, tentu saja."Ia menunjuk kegelapan di balik pintu."Siapa yang tidak takut melihat mata merah seperti itu?"Jiang Xuan hampir tersenyum.Namun senyumnya menghilang ketika terdengar suara rantai bergesekan dari balik pintu.Klang!Klang!Klang!Sesuatu bergerak.Jiang Xuan langsung menghunus pedangnya sepenuhnya."Semua mundur."Para pengawal segera menurut.Lin Yuechan juga mundur, tetapi matanya tetap memperhatikan pintu.Tiba-tiba cahaya
kini Pria itu berjalan maju. "Sudah lama, Pewaris." Tubuh Jiang Xuan menegang. Lin Yuechan langsung menyadari sesuatu. Pria itu bukan sekadar mengenal Jiang Xuan. Dia mengetahui identitasnya. Jenderal Zhao menoleh. "Pewaris apa?" Pria berjubah hitam tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. "Jiang Xuan, kau benar-benar tidak mengingat masa lalumu." Jiang Xuan menggenggam pedangnya. "Siapa kau?" "Orang yang dulu melihat keluargamu jatuh." Tatapan pria itu berubah dingin. "Dan orang yang akan memastikan kau membuka pintu yang selama ini tersegel." Lin Yuechan menggenggam liontin di balik pakaiannya. Tiba-tiba liontin itu kembali terasa panas. Cahaya tipis muncul dari balik kain. Pria berjubah hitam langsung menoleh ke arah tempat Lin Yuechan berdiri. Tatapannya berubah tajam. "Jadi liontin itu ada padamu." Lin Yuechan mundur selangkah. Jiang Xuan langsung berdiri di antara mereka. "Jangan lihat dia." Pria itu tertawa. "Sudah terlambat." "S
Jiang Xuan mengepalkan tangannya lebih erat."Siapa yang menghapus ingatanku?"Mei Lan menundukkan kepala."Aku tidak tahu."Tatapan Jiang Xuan menjadi semakin dingin."Jangan berbohong.""Hamba benar-benar tidak tahu, Tuan."Mei Lan menarik napas panjang."Aku hanya tahu bahwa ketika kau masih kecil, seseorang membawamu keluar dari ibu kota.""Setelah itu, semua catatan mengenai keberadaanmu dihapus."Lin Yuechan mengerutkan kening."Lalu bagaimana kau bisa tahu?"Mei Lan menatapnya."Karena ibumu yang memintaku membantu."Lin Yuechan langsung terdiam."Ibuku?""Ya."Mei Lan mengangguk."Ibumu mengetahui bahwa keluarga Jiang sedang diburu. Ia tidak bisa menyelamatkan semuanya, jadi ia hanya bisa menyelamatkan satu orang.""Jiang Xuan."Jiang Xuan menatap wanita tua itu tanpa berkedip."Kenapa?""Karena kau adalah satu-satunya pewaris yang masih memiliki darah asli keluarga Jiang."Lin Yuechan perlahan memahami."Jadi ibuku menyelamatkan Jiang Xuan?""Benar.""Dan setelah itu?"Mei La
Wanita itu menatapnya. "Baru beberapa tahun terakhir inti racun mulai bangun." Lin Yuechan merasa dadanya sesak. "Jadi selama ini..." "Benar." Wanita itu menatap Jiang Xuan dengan tatapan iba. "Racun itu bukan dibuat untuk membunuhmu." Jiang Xuan mengerutkan kening. "Lalu untuk apa?" Wanita itu menjawab perlahan. "Untuk menjaga sesuatu tetap tersegel di dalam darahmu." Ruangan kembali sunyi. Lin Yuechan menatap Jiang Xuan. "Tersegel?" Wanita itu mengangguk. "Dan jika segel itu rusak..." Ia berhenti. "Apa yang terjadi?" tanya Lin Yuechan. Wanita tua itu menatap liontin di tangan Lin Yuechan. "Mereka akan mendapatkan apa yang selama ini mereka cari." Jiang Xuan mengambil liontin tersebut dari tangan Lin Yuechan. Tatapannya berubah semakin serius. "Kalau begitu, kita harus menemukan ruang rahasia itu lebih dahulu." Wanita tua tersebut mengangguk. "Tempatnya berada di bawah istana lama." "Namun pintunya hanya bisa dibuka dengan dua benda." Lin Yuechan langsung be
Jiang Xuan mengambil seluruh surat dari dalam kotak. "Namun yang lebih penting sekarang adalah ini." Lin Yuechan menatap kotak tersebut. Di bagian dasar ternyata terdapat ukiran yang sama seperti cincin milik kelompok berjubah hitam. Burung hitam. Lin Yuechan perlahan mengepalkan tangan. "Ternyata ibuku memang terlibat dalam semua ini." Jiang Xuan menatapnya. "Belum tentu." "Jangan menyimpulkan sebelum kita mengetahui kebenarannya." Lin Yuechan mengangguk. Namun dalam hatinya, ia tahu satu hal. Kematian ibunya ternyata jauh lebih rumit daripada yang selama ini ia bayangkan. Dan sekarang, masa lalu itu mulai menyeret Jiang Xuan ke dalamnya. Lin Yuechan masih menatap ukiran burung hitam di dasar kotak. Semakin lama ia melihatnya, semakin sesak dadanya. "Ibuku pasti mengetahui sesuatu," gumamnya. Jiang Xuan mengangguk. "Benar." Ia membalik kotak tersebut dan memeriksa setiap sisinya. "Ada sesuatu yang disembunyikan di sini." Lin Yuechan mendekat. "Di mana?" Jiang X







