Share

Chapter 05.

Penulis: Anshuu_
last update Tanggal publikasi: 2026-07-23 18:04:36

Rombongan kembali melanjutkan perjalanan.

Jiang Xuan menunggang kuda di barisan paling depan dengan punggung tegap, sementara kereta yang membawa Lin Yuechan dan wanita tua itu mengikuti di belakangnya. Para pengawal mengapit rombongan dari kedua sisi, menjaga setiap langkah perjalanan dengan penuh kewaspadaan.

Di dalam kereta, Lin Yuechan akhirnya mengembuskan napas lega.

Setelah lolos dari kejaran para pengawal Kediaman Lin, beban yang sejak tadi menyesakkan dadanya perlahan menghilang.

Baru ketika tubuhnya mulai mengendur, rasa nyeri yang sedari tadi ia abaikan kembali menyerang.

Bekas cambukan di punggungnya masih terasa perih, sementara memar di kedua pergelangan tangannya belum juga memudar. Semua luka itu merupakan jejak penyiksaan yang diterimanya sebelum diracun hingga kehilangan nyawa.

Pelariannya tadi memang tidak menambah luka baru, tetapi telah menguras sisa tenaganya yang belum sepenuhnya pulih. Wajah Lin Yuechan perlahan memucat, sementara napasnya terdengar sedikit lebih berat.

Melihat itu, wanita tua yang duduk di hadapannya menghela napas pelan.

"Kau terluka."

Lin Yuechan tersenyum tipis.

"Hanya luka ringan, Nyonya."

Wanita tua itu menggeleng pelan.

"Anak bodoh."

"Keadaanmu jelas tidak baik."

Ia membuka sebuah kotak kayu kecil yang berada di sampingnya. Di dalamnya tersusun rapi beberapa botol porselen putih berukuran kecil.

Wanita tua itu mengambil salah satunya, lalu menyerahkannya kepada Lin Yuechan.

"Ini salep yang dibuat oleh tabib istana."

"Gunakan setelah membersihkan lukamu. Bekasnya akan lebih cepat pulih."

Lin Yuechan menerimanya dengan kedua tangan.

"Terima kasih, Nyonya."

Tatapannya dipenuhi rasa syukur.

Sudah bertahun-tahun lamanya ia tidak merasakan perhatian seperti ini.

Sejak ibunya meninggal dunia, hidupnya hanya dipenuhi hinaan, perlakuan kasar, dan siksaan dari ibu serta adik tirinya.

Karena itulah, perhatian sederhana dari wanita tua di hadapannya membuat hatinya perlahan menghangat.

Wanita tua itu tersenyum lembut.

"Mulai sekarang, jangan lagi memanggilku 'Nyonya'."

Lin Yuechan tampak bingung.

"Lalu... hamba harus memanggil Anda apa?"

Wanita tua itu terkekeh pelan.

"Panggil saja aku Nenek."

Lin Yuechan sedikit tertegun.

"Nenek?"

"Benar."

Wanita tua itu mengangguk sambil tersenyum.

"Bukankah cap ibu jari kalian sudah tertera pada surat pertunangan?"

"Kalau begitu, cepat atau lambat kita akan menjadi keluarga."

"Wajar jika kau memanggilku Nenek."

Wajah Lin Yuechan perlahan memerah.

Semua yang terjadi hari ini terasa begitu sulit dipercaya.

Pagi tadi ia masih terbaring kaku di dalam peti mati, menunggu untuk dimakamkan.

Kini, hanya dalam hitungan jam, ia memiliki seorang nenek yang begitu menyayanginya, bahkan seorang calon suami yang sama sekali belum dikenalnya.

Melihat wajah gadis itu memerah, wanita tua tersebut tertawa geli.

Di luar kereta, tawa bahagia sang nenek terdengar hingga ke telinga Jiang Xuan.

Tanpa sadar, sudut bibirnya ikut terangkat.

Sudah lama ia tidak melihat wanita yang paling dihormatinya itu tertawa setulus ini.

Fu Cheng yang berkuda di sampingnya ikut tersenyum.

"Tuan Muda."

"Hm?"

"Hamba belum pernah melihat Nyonya Tua sebahagia hari ini."

Jiang Xuan mengangguk pelan.

"Sejak kesehatannya memburuk, beliau memang jarang tersenyum."

Fu Cheng terkekeh kecil.

"Semuanya berubah sejak Nona Lin datang."

Kemudian ia menambahkan dengan nada menggoda,

"Mungkin... kali ini Nyonya Tua benar-benar telah memilihkan jodoh yang tepat untuk Tuan Muda."

Jiang Xuan meliriknya dengan tatapan datar.

"Fu Cheng."

Mendengar nada suara tuannya, Fu Cheng langsung menegakkan punggung.

"Hamba hanya bergurau."

Jiang Xuan kembali mengalihkan pandangannya ke jalan di depan.

Ketika matahari mulai condong ke ufuk barat, siluet sebuah kota perlahan tampak di kejauhan.

Tembok kota yang menjulang tinggi berdiri kokoh mengelilingi wilayah Qinghe. Bendera pemerintahan berkibar pelan di atas gerbang utama, sementara para prajurit berjaga dengan tombak di tangan.

Begitu melihat rombongan yang dipimpin Jiang Xuan, para penjaga segera memberi hormat.

"Salam kepada Bupati!"

Jiang Xuan hanya menganggukkan kepala sekilas.

Gerbang kota pun dibuka lebar.

Rombongan memasuki jalan utama yang ramai oleh para pedagang dan penduduk.

Suara tawar-menawar memenuhi udara.

Deretan kedai teh, toko kain, dan penjual makanan berjejer rapi di kedua sisi jalan.

Namun, keramaian itu perlahan berubah menjadi sunyi saat orang-orang menyadari siapa yang baru saja melintas.

"Itu Bupati Jiang."

"Beliau baru kembali."

"Benar... jangan terlalu berisik."

Dalam sekejap, para pedagang dan penduduk menyingkir ke tepi jalan, tak ada seorang pun yang berani menghalangi rombongannya.

Sebagian besar hanya menundukkan kepala sebagai bentuk hormat.

Di balik tirai kereta, Lin Yuechan memperhatikan semua itu dengan saksama.

Ternyata apa yang pernah ia dengar memang benar.

Jiang Xuan memiliki wibawa yang begitu besar di Qinghe.

Bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kehadirannya sudah cukup membuat seluruh jalanan menjadi tertib.

Tak lama kemudian, kereta meninggalkan jalan utama dan memasuki sebuah kawasan yang jauh lebih tenang.

Rumah-rumah besar milik para pejabat berdiri berjajar dengan halaman yang luas.

Di ujung jalan, sebuah gerbang megah perlahan terlihat.

Di atasnya tergantung sebuah papan kayu hitam bertuliskan tiga huruf berwarna emas.

Kediaman Bupati.

Kereta berhenti perlahan di depan gerbang.

Puluhan pelayan dan prajurit yang berjaga segera berbaris rapi.

Mereka membungkukkan badan serempak.

"Salam kepada Bupati!"

Wanita tua itu tersenyum puas.

"Sudah sampai."

Ia lebih dulu turun dari kereta, lalu mengulurkan tangannya kepada Lin Yuechan.

"Ayo, ikut denganku."

Lin Yuechan menerima uluran tangan itu dan turun perlahan.

Begitu kedua kakinya menginjak tanah, pandangan para pelayan langsung tertuju kepadanya.

Mereka saling bertukar pandang.

Belum pernah sekalipun Bupati membawa seorang gadis pulang ke kediaman.

Terlebih lagi, gadis itu begitu cantik meski mengenakan pakaian sederhana dengan wajah yang masih tampak pucat.

Tatapan penasaran mulai bermunculan. Namun, tak seorang pun berani mengucapkan sepatah kata pun.

Wanita tua itu tentu menyadari tatapan penasaran para pelayan.

Ia tersenyum tipis, lalu berdeham pelan.

Seketika, seluruh pelayan dan prajurit menegakkan sikap.

"Dengarkan baik-baik."

Suaranya lembut, tetapi penuh wibawa.

"Mulai hari ini, Nona Lin adalah tamuku."

"Perlakukan dia dengan hormat sebagaimana kalian memperlakukanku."

"Tak seorang pun boleh bersikap lancang kepadanya."

Para pelayan segera membungkukkan badan lebih dalam.

"Hamba mengerti, Nyonya Tua."

Wanita tua itu mengangguk puas.

Kemudian ia menoleh kepada seorang pelayan wanita berusia sekitar tiga puluh tahun.

"Qing'er."

Pelayan itu segera melangkah maju.

"Hamba di sini, Nyonya Tua."

"Bawalah Nona Lin ke Paviliun Anggrek."

"Siapkan air hangat untuk mandi, pakaian baru, serta makanan yang mudah dicerna."

"Tabib juga harus segera dipanggil untuk memeriksa luka-lukanya."

Qing'er sedikit terkejut.

Paviliun Anggrek adalah paviliun terbaik kedua di kediaman itu. Biasanya tempat tersebut hanya digunakan untuk menerima tamu-tamu terhormat.

"Baik, Nyonya."

Wanita tua itu lalu menggenggam lembut tangan Lin Yuechan.

"Kau sudah cukup menderita hari ini."

"Pergilah beristirahat."

"Di kediaman ini, tidak akan ada seorang pun yang berani menyakitimu."

Mendengar kalimat itu, hati Lin Yuechan kembali menghangat.

"Terima kasih... Nenek."

Mendengar panggilan itu, senyum wanita tua langsung merekah, Ia menepuk pelan punggung tangan Lin Yuechan.

"Pergilah."

Lin Yuechan mengangguk hormat, lalu mengikuti Qing'er memasuki halaman dalam.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 142.

    Pagi itu, Lin Yuechan masih berada di tempat tidur ketika Jiang Xuan selesai mengenakan jubah luarnya. Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai, jatuh tepat di wajah Yuechan yang berusaha bersembunyi di balik selimut. “Yuechan, sudah waktunya bangun.” “Tidak.” Jiang Xuan menoleh. “Bahkan kau belum tahu aku akan mengajakmu melakukan apa.” “Kalau bukan mengajakku makan, aku tidak tertarik.” Jiang Xuan terkekeh pelan. “Aku hanya ingin memberitahumu bahwa Fu Cheng akan kembali membawa kabar pagi ini.” Mendengar nama Fu Cheng, Yuechan membuka sedikit selimutnya. “Apakah dia menemukan Zhou An?” “Belum tentu. Dia juga membawa dokumen yang baru dikirim dari Kediaman Lin.” Yuechan akhirnya duduk, rambutnya sedikit berantakan. “Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal?” “Aku baru saja mengatakannya.” “Tapi kau mengatakannya setelah membangunkanku.” Jiang Xuan menatap istrinya dengan geli. “Baiklah. Lain kali aku akan membiarkanmu tidur sampai tengah hari, lalu memberitah

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 141.

    Setelah memastikan kondisinya tidak menunjukkan tanda kegawatan saat itu, ia meminta pelayan mengambilkan obat yang telah diresepkan tabib. “Kau harus makan terlebih dahulu, lalu minum obat dan beristirahat.” Jiang Xuan memandang istrinya. “Bagaimana dengan penyelidikan?” “Akan tetap berjalan meskipun kau tidur selama satu jam.” “Kalau ada laporan penting?” “Aku akan menyuruh Fu Cheng membacanya keras-keras di samping tempat tidurmu.” Jiang Xuan tertawa kecil, lalu segera berhenti ketika rasa tidak nyaman kembali terasa di dadanya. Senyum Yuechan menghilang. “Jangan memaksakan diri hanya karena ingin menenangkanku.” Tatapan Jiang Xuan melembut. “Baik. Aku akan beristirahat.” Yuechan baru terlihat lega setelah mendengar jawaban itu. Sambil membantu suaminya meninggalkan ruang kerja, ia kembali memikirkan nama Zhou An. Penyelidikan tentang ibunya perlahan menemukan arah baru, tetapi ia tidak ingin kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga dalam usahanya mencari kebenaran

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 140.

    Pagi berikutnya, Lin Yuechan sudah duduk di ruang kerja Jiang Xuan sebelum matahari benar-benar meninggi. Di atas meja terbentang beberapa surat lama milik mendiang ibunya. Ada surat yang ditujukan kepada Lin Weichen, catatan mengenai kebutuhan rumah tangga, serta beberapa lembar kertas berisi tulisan pribadi yang belum pernah dibaca Yuechan sebelumnya. Di samping semuanya, terletak secarik kertas kecil dengan kalimat yang terus mengusik pikirannya. Jika obat berikutnya kembali diganti, jangan meminumnya sebelum diperiksa. Yuechan menopang dagu dengan satu tangan. “Menurutmu, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membandingkan tulisan tangan?” Jiang Xuan, yang sedang membaca laporan di seberangnya, mengangkat pandangan. “Tergantung jumlah dokumen dan kejelasan tulisannya.” “Kalau begitu, kita mungkin harus duduk di sini sampai siang.” “Bukankah kau biasanya mengeluh jika harus duduk terlalu lama?” “Itu berbeda.” “Apa bedanya?” Yuechan menunjuk surat-surat di atas meja.

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 139.

    Keesokan paginya, Lin Yuechan terbangun karena suara Qing'er yang sibuk membuka tirai. “Nona, ada kabar dari ruang depan.” Yuechan masih berbaring dengan mata setengah tertutup. “Kalau kabarnya tidak berkaitan dengan sarapan, sampaikan setelah aku makan.” Qing'er menahan tawa. “Sayangnya, kali ini kabarnya cukup penting.” Yuechan akhirnya membuka mata. “Apa yang terjadi?” “Fu Cheng datang membawa laporan untuk Tuan Muda. Katanya, seseorang telah menemukan informasi mengenai tabib yang dahulu merawat mendiang Nyonya Pertama.” Mendengar itu, Yuechan langsung bangkit. “Siapkan pakaianku.” Qing'er memandangnya heran. “Bukankah Nona baru saja mengatakan ingin sarapan terlebih dahulu?” “Sekarang urusannya berbeda.” Qing'er menggeleng geli. Ternyata, hanya ada dua hal yang mampu membuat Lin Yuechan bangun dengan cepat pada pagi hari: makanan lezat dan persoalan yang menyangkut ibunya. --- Di ruang kerja, Jiang Xuan sedang membaca laporan yang diserahkan Fu Cheng. Ketika Yue

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 138.

    Lin Yuechan dan Jiang Xuan tiba di aula utama ketika Nyonya Tua sedang berbincang dengan Jiang Wei. Di atas meja terdapat sebuah peta wilayah Qinghe, beberapa lembar catatan perjalanan, dan daftar tempat penginapan yang biasa dikunjungi keluarga Jiang. Begitu melihat keduanya datang, Nyonya Tua langsung melambaikan tangan. “Cepat kemari! Nenek sudah menemukan beberapa tempat yang bagus untuk kalian kunjungi.” Lin Yuechan duduk di sampingnya dengan penuh minat. “Tempat seperti apa, Nenek?” “Lihatlah ini.” Nyonya Tua menunjuk sebuah kawasan pegunungan di sebelah barat Qinghe. “Udara di sana sejuk, pemandangannya indah, dan terdapat sebuah vila milik keluarga Jiang di dekat danau.” Yuechan memperhatikan peta tersebut. “Apakah ada pasar di dekat sana?” Nyonya Tua berkedip. “Pasar?” “Benar. Aku ingin membeli makanan khas daerah setempat.” Jiang Wei yang sedang minum teh langsung tertawa. “Kakak ipar, aku pikir kau akan memilih tempat dengan pemandangan romantis. Ternyata yang

  • Menikah Dengan Bupati Kejam   Chapter 137.

    Lin Yuechan menghentikan langkahnya ketika Fu Cheng menyerahkan sepucuk surat bersampul putih. “Surat ini dikirim dari Kediaman Lin, Nyonya Muda,” ujar Fu Cheng. “Pelayan yang mengantarkannya mengatakan bahwa Tuan Lin meminta surat ini segera disampaikan kepada Anda.” Yuechan menerima surat itu dengan wajah tenang. “Terima kasih, Fu Cheng.” Fu Cheng membungkuk, lalu mundur beberapa langkah. Jiang Xuan memperhatikan perubahan ekspresi istrinya. “Apakah kau ingin membacanya sekarang?” Yuechan mengangguk. “Sekalian saja. Aku penasaran apa yang ingin disampaikan Ayah kali ini.” Ia membuka sampul surat dan mulai membaca tulisan tangan Lin Weichen. Semakin jauh matanya menyusuri baris demi baris, semakin serius wajahnya. Jiang Xuan tidak mendesaknya. Ia hanya berdiri di samping Yuechan, menunggu sampai istrinya selesai membaca. Beberapa saat kemudian, Yuechan melipat surat tersebut. “Ayah meminta aku datang ke Kediaman Lin setelah beberapa hari,” katanya. “Katanya, ia ingin men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status