Share

Part : 6.

Mama banyak bercerita tentang masa kecil Arkan. Seperti tebakanku dia memang nakal saat kecil. Sepupunya yang kebetulan berkunjung juga, membenarkan hal itu. 

"Tiap hari selalu ada aja tinggallah Arkan," kata mama yang duduk di sampingku. 

Rara, sepupu perempuan Arkan juga bercerita dengan sangat bersemangat. Bagaimana cara Arkan mengganggu mereka semua dan membuat mereka menangis. Tidak ada yang bisa mengalahkan Arkan untuk masalah bandel. Dialah nomor satunya. Tidak ada yang berani dekat-dekat dengan waktu kecil.

"Setiap sepupunya selalu saja di buat nangis," kata Rara mengadu. 

"Sampai gak ada yang mau dekat-dekat sama mas Arkan, takut dijailin." Sambungnya lagi. 

"Rara itu yang selalu jadi langganan menangis, kalau sudah datang ke rumah. Arkan paling suka mengganggu Rara diantara sepupu yang lainnya" kata mama melihat Rara. 

"Rambut, Rara selalu ditarik. Jangan bilang sama mas Arkan ya! Kalau dia suka banget sama rambut perempuan," kata Rara berbisik di telingaku. 

"Ghibah aja terus," kata Arkan.

Arkan datang sambil duduk di sampingku, menggeser paksa Rara, yang sebelumnya duduk di sampingku. 

"Ih ... Mas kok gitu," protes Rara, yang tidak di hiraukan oleh Arkan. 

"Mau dekat-dekat sama istri gue, lo cari suami sana biar gak iri," ledek Arkan pada sepupunya. Rara langsung cemberut mendengar ucapan Arkan. Seperti biasa Arkan tidak peduli dan malah memelukku. Aku yang dipeluk di depan Rara dan mama Arkan langsung merona malu.

Sampai sekarang kesan jail Arkan tidak pernah hilang. Dia ceria dan selalu dirindukan oleh semua saudaranya. Terlebih lagi Arkan ini sering berpergian, memanjat gunung. Apalagi saat libur, dia sibuk menjelajahi alam Indonesia. 

Dia tidak sering menghabiskan waktunya di rumah. Arkan lebih senang menjelajahi penjuru Indonesia. Setelah pulang dia akan membawakan oleh-oleh yang banyak untuk semua sepupunya.

Aku cukup heran pada Arkan. Kulitnya putih sekali, walaupun sering memanjat gunung. Sangat berbeda sekali denganku. Kulitku langsung gosong jika terkena matahari langsung.

Arkan tetap saja putih walaupun sering terbakar sinar matahari. Mungkin karena sudah gennya yang memang berkulit putih cerah.

"Mau lihat kamar gue di sini," kata Arkan lalu menggandeng tanganku. 

Kami meninggalkan mama dan Rara di ruang tamu. setelah meminta izin tentunya, dan menuju kamar Arkan. 

Sama seperti kamarnya di apartemen, disini juga perabotannya berwarna coklat dan terdapat banyak action figure. 

Arkan membuka lemari dan mengeluarkan album foto dan memberikan padaku. Aku duduk di ranjang besarnya, kamar Arkan sangat bersih. Kamar ini pasti dibersihkan tiap hari, walaupun tidak ditepati. 

"Foto kecil gue," kata Arkan menyerahkan satu album foto yang sangat tebal. 

Aku membuka lembaran demi lembaran. Banyak sekali poto Arkan kecil didalam sini. Arkan kecil yang gemuk, Arkan kecil yang membuat sepupunya menangis, dan banyak lagi. 

"Jendela rumah ini, semuanya kayaknya pernah di ganti, karena gue pecahin kacanya."

"Tiap marah atau merajuk mecahin kaca jendela?" 

"Gak. Ada yang pecah karena gak sengaja kelempar bola kasti, bola kaki, bola basket kayaknya," kata Arkan sambil nyengir. 

Aku bisa membayangkan, bagaimana aktifnya Arkan saat kecil. Pasti dia berlarian kesana kemari, dan memecahnya banyak bunga milik mama. 

Mama suka sekali menanam bunga di halaman. Sama seperti rumahku. Rumah Arkan juga halamannya sangat luas. Arkan tubuh besar disini. 

"Mama sama papa pasti pusing," kataku menertawakan Arkan. 

Arkan diam saja, dan tiba-tiba mendorongku hingga terlentang. Aku sudah deg-degan, takut dan penasaran apa yang akan dilakukannya. 

Tidak seperti yang kupikirkan, dia malah menggelitikiku. Aku yang tidak tahan, menggeliat kesana-kemari. Tawaku tidak berhenti, sementara Arkan terus menggelitikiku. 

Sprei sudah kusut, bahkan lepas dari kasur. Wajahku sudah sangat merah dan bajuku berantakan. Arkan juga sama bajunya berantakan dan rambutnya juga kacau. 

Aku menjambak Arkan agar dia mau berhenti menggelitik tubuhku.

"Udah ampun, gue gak sanggup lagi," pintaku padanya. 

Akhirnya Arkan berhenti, dan ikut merebahkan dirinya disampingku. Lalu kami sama-sama tertawa dengan nafas yang ngos-ngosan. 

Ternyata capek juga digelitiki. Aku lalu menjambak rambut arkan karena kesal. Aku menduduki perutnya, dia mencoba menahan tanganku dan melepaskan jambakanku. 

"Bilang ampun dulu, baru gue lepas," kataku.

"Gak bakal. Lo yang  bakal minta ampun," balas Arkan. 

Dengan mudah Arkan membalikan posisi, dia berada di atas tubuhku. Dengan beban tubuhnya ditumpukan pada lututnya.

"Nah sekarang siapa yang mau minta ampun," katanya sambil menyeringai. 

Aku jadi takut kalau begini, bukan apa? Arkan pasti akan menggelitikiku lagi. Entah kenapa, saat ini aku berharap ada yang masuk ke dalam kamar. 

Walaupun posisi ini, pasti akan membuat orang lain salah paham tidak mengapa. Asalkan aku selamat. 

"Ada yang takut." Ledek Arkan padaku. 

Aku hanya cemberut, tidak berani. Salah langkah, aku bisa digelitik lagi. 

"Duh takut banget sih," kata Arkan sambil mengusap kepalaku yang ku pakaikan jilbab. 

"Aku gak suka digelitiki," kataku pelan.

"Aku suka setiap apa yang kamu lakukan." 

Wajahku memerah malu, dia tau bagaimana membuat penyakit jantungku kambuh lagi. Sepertinya aku butuh dokter sekarang. 

"Ayo kita beri cucu untuk papa dan mama," katanya dengan nada suara yang jail. 

Aku langsung mendorongnya dan lari ke bawah. Mencari mama untuk berlindung dari jailnya Arkan. Arkan ini selalu membuat jantungku mau copot saja. Awas saja, aku akan membalasnya nanti. 

Aku juga akan membuat jantungnya berdetak kencang, tapi bagaimana caranya? Aku tidak tahu. Aku tidak punya pengalaman lebih bersama laki-laki. 

Ingin balas dendam padanya saja. Aku sama sekali tidak tau caranya. Jangankan untuk membalas dendam. Dekat dengan Arkan saja sudah buat perasaanku tidak karuan. 

"Bisanya kabur mulu. Sini dong," kata Arkan mengejek. Aku langsung cemberut dibuatnya. Arkan malah semakin senang saja.

"Lo godain gue mulu," kataku kesal. 

"Kalau godain istri sendiri gak dosa. Kalau godain istri tetangga baru gak boleh."

"Jadi lo punya niat buat godain istri tetangga?"

"Enggaklah. Istri gue paling cantik sedunia. Mana mungkin gue berpaling pada istri tetangga yang gak ada apa-apanya," kata Arkan sungguh-sungguh.

 Aku hanya bisa menahan tawa melihat Arkan yang juga tersenyum manis. Dia kemudian mendekat padaku dan memeluk. Dia juga mencium keningku berulang kali. 

"Bagi gue. Lo itu perempuan tercantik di dunia ini. Gak ada yang bisa ngalahin. Gak bakal ada yang bisa bikin gue berpaling dari lo," kata Arkan sungguh-sungguh. 

Selain jail Arkan punya mulut yang sangatlah manis. Sehingga mampu membuatku meleleh seketika. Aku yang awalnya kesal karena di goda terus padanya sekarang jadi senyum-senyum. 

"Istriku yang paling cantik," katanya lagi. Aku hanya bisa menikmati hangatnya pelukannya tanpa mampu berkata-kata. Skill gombalnya tingakt dewa ini.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status