Masuk“Kau boleh membenciku, tapi jangan pernah berharap bisa pergi dariku.”Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin dari sebelumnya.Celina tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia merasa sangat lelah. Ia lelah menjadi pusat dari konflik yang tak pernah Celina inginkan.Celina menunduk, menarik napas panjang yang terasa berat.“Aku lelah,” suaranya pelan, nyaris seperti bisikan yang bisa hilang bersama udara. “Aku benar-benar lelah, Dave.”Tanpa menunggu jawaban, Celina berbalik. Melangkah pelan meninggalkan David yang masih berdiri di tempatnya. Dua orang maid yang sejak tadi menunggu di kejauhan segera menghampiri dengan sigap.“Nyonya … mari kami bantu,” ujar salah satu dari mereka lembut.Celina mengangguk samar tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Ia pergi meninggalkan David sendirian.Sepeninggal Celina, David berdiri di dekat jendela besar. Menatap jauh ke depan. Di tangannya, segelas martini sudah hampir habis. Es di dalamnya pun mulai mencair, menciptakan bunyi kecil setiap kali gel
“Aku lelah menghadapi kalian. Ceraikan aku … David Alexander Knight.”Mendengar kalimat itu hati David memanas. Lagi-lagi Celina mengatakan hal yang dibencinya. “Kau bertemu dengan Daniel? Kapan, dimana? Apa karena itu kau ingin bercerai denganku?!” David mulai kehilangan kendali.Celina membuka mulutnya tanpa bisa berkata-kata, ia berdecak kesal.“Aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu.”David melangkah lebih dekat lagi. “Jawab pertanyaanku, Celina.”“Ini bukan tentang Daniel, Dave. Ini tentang kita.” ucap Celina menahan air matanya. “Aku … benar-benar lelah menghadapi kalian berdua.”David mendongak ke atas, kedua tangannya bertumpu di pinggang lalu menghela nafas frustasi. “Celina … kita bicarakan ini nanti.”Tanpa banyak berkata, David menggenggam pergelangan tangan Celina, menariknya pergi dari perhelatan bergengsi itu.“Dave, apa yang kau lakukan?”“Pergi dari tempat ini.”“Lepaskan, aku bisa jalan sendiri.” Protes Celina karena David terlalu cepat melangkah.“Tidak.”“Aku
“Kau mengancamku?” David menatap Daniel lama, lalu perlahan tersenyum. “Lepaskan.”Daniel melepas cengkramannya, tapi tidak mundur selangkah pun. Di bawah tatapan para tamu undangan David merapikan manset jasnya seolah tak terjadi apa-apa. Steve buru-buru mengambil alih situasi. Ia mengambil mikrofon.“Hadirin sekalian,” ujarnya tenang, “maaf atas gangguan kecil malam ini.”“Foto-foto tadi harusnya dikeluarkan sebagai bagian dari memoar pertunangan Tuan Muda kami. Terjadi kesalahan teknis yang menyebabkan kesalah pahaman ini.”Para tamu kembali berbisik seolah tak percaya dengan penjelasan Steve. Sikap ketiganya terlalu nyata untuk diabaikan dan Irene … terlalu menyedihkan untuk ditinggalkan sendiri di atas podium.“Istriku sedang kelelahan. Beberapa hari terakhir kesehatannya menurun.” David dengan lantang menambahkan penjelasan.Kalimat itu tidak serta merta membungkam banyak gosip. Celina menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap suaminya. Ia tahu David sedang berbohong—tapi s
Podium megah di tengah ballroom menjadi pusat perhatian. Sorot lampu jatuh pada empat sosok yang berdiri di sana. David terlihat elegan penuh wibawa, Celina yang tersenyum anggun disisinya, Daniel yang terpaksa memasang wajah bahagia meski sejatinya ingin menerkam David dan Irene yang menggamit lengan Daniel penuh kemenangan.Tepuk tangan tamu bergema. David kembali bersuara.“Hadirin sekalian, ini adalah malam yang sangat membahagiakan dua keluarga selain untuk merayakan keberhasilan yayasan.”Daniel menegang, menatap David tajam seolah ingin berkata ‘Apa yang kau lakukan?!’Sementara David terus berpidato tanpa ragu, Celina menoleh pelan. Firasat buruk merambat di dadanya.“Adikku, Daniel Alexander Knight, akan segera bertunangan dengan wanita yang selama ini setia berada di sisinya … Nona Irene Vescari Walsh.”Riuh tepuk tangan meledak.Kilatan kamera menyambar tanpa henti.Irene tersenyum lebar dan semakin merapat ke sisi Daniel, seolah kemenangan itu sudah sah menjadi miliknya.T
Ballroom utama The Harrington Grand Hotel malam itu berubah menjadi lautan cahaya. Kristal-kristal chandelier menggantung megah di langit-langit tinggi, memantulkan kilau keemasan ke setiap sudut ruangan. Para tamu dari kalangan bangsawan, pebisnis ternama, hingga tokoh berpengaruh memenuhi aula dengan gaun mewah dan setelan jas sempurna. Denting gelas sampanye berpadu dengan alunan musik orkestra lembut, menciptakan suasana elegan yang nyaris sempurna.Di sisi ruangan, meja-meja lelang dipajang dengan lukisan langka, perhiasan antik, dan berbagai koleksi bernilai fantastis. Pesta malam ini diadakan bukan sekedar pesta tapi unjuk kekuasaan terselubung di balik senyum sopan dan jabatan tangan penuh kepura-puraan.Di tangga utama, David Harrington berdiri sebagai tuan rumah, wajahnya tenang tapi matanya terus mengawasi pintu masuk. Celina berdiri di sampingnya, terlihat memukau dalam balutan gaun malam pilihan David. Senyum tipis menghiasi bibirnya, meski jarinya terasa dingin.“Kau t
“Kau berani menantangku demi dia?”David menatap Celina lama. Otot rahangnya bergerak keras, seolah setiap detik adalah pertarungan antara harga diri dan keinginan mempertahankan sesuatu yang mulai lepas dari tangannya.Lalu ia berpaling pada Ethan.“Jika sikapku barusan berlebihan,” katanya datar, nyaris terdengar seperti dipaksa keluar, “anggap itu permintaan maaf.”Ethan memahami jelas bahwa itu adalah bentuk terjauh David mampu merendahkan ego. Ia mengangguk singkat.“Baiklah, aku rasa itu cukup.”Ia menoleh pada Celina, sorot matanya melembut. “Jaga dirimu.”Celina mengangguk pelan. “Terima kasih sudah mengantarku.”Ethan mendekat setengah langkah, cukup dekat agar hanya Celina yang mendengar.“Jika kau butuh bantuanku, jangan sungkan untuk menghubungiku.”Kalimat sederhana itu membuat nafas Celina tercekat sesaat dan David cukup jelas mendengarnya. Tatapannya langsung berubah dingin seperti baja.Ethan masuk ke mobilnya dan pergi tanpa menoleh lagi. Lampu kendaraan itu menjauh m
“Kau tampan sekali … Tuan David.”Celina mulai meracau, jarinya menelusuri rahang David lalu bergerak turun ke leher. David menangkap tangan Celina agar tidak bergerak turun.“Steve, cepatlah!” Ia berseru pada Steve untuk menambah laju kecepatan. Jalanan yang ramai membuat Steve kesulitan dan hila
"Mulai hari ini, kau adalah calon istri Sir Arthur David Lawrence Knight.”“A-apa?!” mata Celina melebar, “kau bilang apa tadi Tuan Knight?”David memberi kode pada yang lain untuk segera keluar ruangan. Saat pintu tertutup rapat, ia menatap datar Celina.“Gala charity adalah acara yang akan dihadi
Langkah kaki David terdengar menggema di koridor sepi. Matanya menatap lurus ke depan mengunci sosok yang duduk tak berdaya di kursi besi.“T-tuan ..,” Lelaki dengan wajah penuh luka itu mendongak saat menyadari David berdiri dihadapannya.David mengamati lelaki itu lalu menghela nafas berat. “Kat
Celina berkali-kali menengok keluar jendela, menanti kedatangan David yang memintanya untuk makan malam bersama. Meski Lauren mengingatkan untuk jangan terlalu banyak bergerak, tapi Celina tetap saja melakukannya. “Nona, tenanglah. Tuan pasti menepati janjinya.” “Ini sudah lewat sepuluh menit La







