LOGINJam menunjukkan pukul empat sore, dan Aisha bersama Alfan kini berada di panti jompo tempat di mana ibu tiri Alfan tinggal. Mereka baru saja pulang dari butik dan menyempatkan diri untuk mampir. Sekaligus membawakan hadiah berupa pakaian untuk Lia. Dikunjungi oleh anak dan menantunya jelas membuat Lia bahagia. Walau Alfan hanya sebatas anak tiri, namun Lia sangat menyayanginya layaknya anak kandungnya. Untuk hari ini, Lia mengajak Aisha ke halaman belakang untuk mengobrol di sana. Sementara Alfan menemui pengurus panti tersebut untuk membahas masalah biaya juga keseharian ibunya. Dia harus mendapatkan laporan apapun tentang ibu tirinya tersebut. "Kenapa Ibu tetap ingin tinggal di sini?" Aisha bertanya pada Lia yang duduk di sampingnya. "Ibu betah di sini. Di sini Ibu memiliki banyak kegiatan. Banyak teman mengobrol juga. Ibu tidak kesepian," jawab Lia dengan senyuman lembutnya. Kerutan-kerutan di wajahnya memberitahukan bahwa usianya sudah tidak muda lagi. "Ibu tinggal di sini bu
Aisha masih merasa ragu dengan ungkapan perasaan Alfan, dan sepertinya Alfan tahu tentang hal tersebut. Dia tak masalah jika Aisha masih meragukan perasaannya. Namun, Alfan memperlakukan Aisha dengan sangat baik. Agar suatu hari nanti Aisha tahu kalau Alfan tidak berbohong tentang perasaannya. Perlakuan Alfan yang lembut dan manis pun akhirnya membuat Aisha baper sendiri. Dia sering tersipu malu atau salah tingkah saat bersama dengan Alfan. Dan pada akhirnya, momen berduaan dengan Alfan menjadi salah satu momen yang Aisha sukai. Seperti sekarang, Alfan sedang duduk di meja kerjanya, menghadap ke arah laptop. Dia sedang memeriksa laporan yang masuk ke email-nya. Sedangkan Aisha duduk di atas pangkuannya, dan hal tersebut tak membuat Alfan merasa terganggu. Bahkan sebelah tangannya setia memeluk pinggang Aisha. "Jadi tugasmu begini, Mas? Memantau seluruh perusahaan?" Aisha bertanya. Alfan pun mengangguk pelan. "Ya. Aku harus memastikan para petinggi di perusahaan menjalankan tugas m
Aisha berbaring di atas ranjang dengan posisi menyamping, menghadap ke arah Alfan yang sudah terlelap. Tubuhnya dan Alfan hanya terlapisi selimut saja tanpa ada kain lagi yang menghalangi kulit mereka untuk bersentuhan. Aisha sejak tadi terus memperhatikan Alfan yang sudah terlelap. Entah kenapa, kantuk tak kunjung datang hingga membuatnya terus terjaga sejak tadi. Alasannya? Sepertinya karena dia kepikiran tentang pengakuan Alfan tadi.Semua CCTV yang ada di rumah ini terhubung langsung ke ponselku, hingga aku bisa tahu siapa saja yang datang dan ingin bertemu denganku. Termasuk saat kamu datang. Aku meminta KTP untuk memastikan apakah kamu memang sosok yang aku sukai sejak lima tahun yang lalu atau bukan. Dan ternyata, kamu memang orangnya. Itulah alasan kenapa aku tidak mempersulit kamu untuk masuk ke rumah ini.Alfan menjelaskan hal itu tadi pada Aisha, setelah mereka selesai dengan permainan malam mereka yang panas. Dan jujur saja, semua pengakuan dari Alfan membuat pikiran Aish
Aisha kini berada di kamar dan duduk di atas ranjang dengan punggung menyandar pada kepala ranjang. Tangannya sedang memegang ponsel, berbalas pesan dengan Alexa. Baru dua hari Aisha pindah, Alexa sudah merasa rindu. Karena biasanya mereka selalu bersama-sama. Saat sedang berbalas pesan dengan Alexa, Aisha mendapatkan pesan lagi dari orang lain. 'Nenek Sihir', itulah nama kontak yang mengirim pesan pada Aisha barusan. Karena penasaran, Aisha pun membuka pesan dari nomor tersebut. Aisha, kamu tega melihat ayahmu sendiri kesulitan sekarang? Kenapa kamu dan suamimu sangat tega sekali pada ayahmu yang sudah tua? Harusnya sekarang ayahmu sudah istirahat dan menikmati jerih payahnya. Aisha tersenyum sinis membaca itu. Duh, wanita tua itu memiliki otak atau nggak sih sebenarnya? Kok gak bisa gitu ya sadar diri sedikit saja. Karena anak-anaknya lah Theo banyak mengalami kesulitan sekarang. Aisha mengetik sesuatu untuk membalas pesan dari Sarah, namun setelah beberapa kata, Aisha menghapus
Jam menunjukkan jam sembilan pagi lebih beberapa menit. Alfan kini berada di perusahaan Theo, sesuai janji temu yang sudah disepakati. "Pernikahan Dinara akan dilaksanakan dua minggu lagi. Ada sedikit kendala biaya, dan saya sangat berterima kasih karena Pak Alfan mau membantu." Theo berucap dengan senyuman bahagianya. Alfan tersenyum tipis mendengar itu. "Tentang hal itu, saya akan meluruskan sesuatu," ujar Alfan. Theo menatap Alfan dengan bingung. "Sepertinya saya tidak jadi memberikan bantuan modal untuk Anda, Pak Theo." Alfan berucap dengan nada yang datar dan sangat tenang. Theo jelas terkejut bukan main saat mendengar itu. "Tapi kita sudah melakukan perjanjian, Pak Alfan. Saya sudah bersedia menikahkan putri saya dengan Anda. Anda tak bisa seenaknya begini," ucap Theo. Alfan lagi-lagi tersenyum tipis. "Perjanjian apa? Apa Anda memiliki bukti kalau saya menyetujui perjanjian tersebut?" tanya Alfan. Theo terdiam seketika dengan jantung mencelos. Kedua tangannya terkepal deng
Matahari terbit dan menggantikan bulan untuk menyinari bumi. Cahayanya masuk ke dalam kamar lewat sela-sela gorden, namun hal tersebut tidak mengganggu pasangan suami istri yang masih bergelung di bawah selimut. Alfan sudah terbangun sejak beberapa menit yang lalu, begitu juga dengan Aisha. Dan mereka belum memiliki niat untuk segera turun dari ranjang atau mandi. Semalam mereka sama-sama langsung terlelap tanpa berbincang lebih dulu. Jadi, Aisha merasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk bicara pada Alfan. Lagi pula, tak ada hal mendesak yang membuat mereka harus segera bersiap. "Masih sakit?" Alfan bertanya pada Aisha yang berada dalam pelukannya. Posisinya Aisha berbaring memunggungi Alfan, hingga punggungnya bersentuhan langsung dengan tubuh bagian depan milik Alfan. "Sedikit perih." Aisha menjawab dengan suara pelan. Rona merah kembali menghiasi kedua pipinya, merasa malu. Padahal dia ingin bicara pada Alfan, namun dia bingung harus mulai dari mana. "Jam sembilan nanti a







