FAZER LOGINAisha sangat tak sabar menunggu hari sidang tiba. Dan dia tersenyum lebar saat harinya tiba. Dia semakin terlihat bahagia melihat wajah masam ayahnya di pengadilan. Sidang pertama berjalan dengan lancar, walau ya sedikit menjengkelkan karena Theo tidak berbicara dengan jujur. Dia berbohong tentang gugatan yang Aisha layangkan ke pengadilan. Dia mengaku kalau sejak bayi sampai dewasa sekarang dia selalu menafkahi Aisha. Jelas hal tersebut membuat Aisha geram dan kesal. Sidang belum selesai dan akan dilanjutkan minggu depan dengan memanggil para saksi. Luna dan Daffa lah yang akan bersaksi di pengadilan nanti. Mereka sanggup bersaksi, karena mereka ingin membantu Aisha mendapatkan haknya. Sebenarnya, Theo dan keluarganya panik saat di pengadilan. Mereka takut, karena potensi kekalahan pada mereka sangat besar. Pengacara Aisha sudah memegang banyak bukti tentang Theo yang menelantarkan Aisha selama ini. Sedangkan Theo tak memiliki bukti apa-apa untuk menyangkal. Hari ini, Aisha jal
Makan siang dulu dengan suami yang sangat mencintai istrinya dan menyayangi calon anaknya.Aisha hampir saja tertawa saat membaca pesan masuk dari Dinara. Akhirnya dia hanya terkekeh geli saja dengan kelakuan kakak tirinya tersebut. Kelihatan sekali berusaha sangat keras untuk membuat Aisha panas atau iri sepertinya. Padahal Aisha sudah gak peduli."Mas, bangun. Aku mau ambil foto." Aisha menggoyangkan lengan Alfan, memaksa suaminya tersebut untuk duduk."Ambil foto apa?" tanya Alfan heran. Aisha tak menjawab namun langsung menarik tangan Alfan agar pria itu memeluknya. Kemudian Aisha mengarahkan kamera ponselnya ke arah cermin, memotret bayangan dia dan Alfan yang sedang berpelukan di cermin.Setelah berhasil, Aisha langsung mengirimkan foto itu pada Dinara. Tentu saja untuk membalas perbuatan wanita itu. Siang-siang gini enaknya bobo bareng sama suami tersayang. Kasihan sih kamu yang suaminya sibuk kerja di siang hari wkwkwkBtw, uang yang suami kamu pakai sekarang pasti uang bayar
Cuaca hari ini cukup dingin, kurang mendukung untuk bepergian keluar rumah. Namun Aisha dan Alfan tetap nekat keluar dari rumah dan pergi menemui Lia di panti jompo. Sebenarnya Lia sudah melarang mereka datang terlalu sering. Tahu kalau selama ini Alfan hidup sendirian dan kesepian, Lia ingin Alfan memanfaatkan waktunya untuk berduaan dengan Aisha saja. Apalagi mereka juga masih tergolong pengantin baru. Tapi, Aisha dan Alfan tetap saja datang ke sana untuk menemui Lia. "Aku ingin Ibu mendoakan kami agar bisa menang sidang nanti." Aisha berucap. Dia sudah menceritakan kisah dia dan ayahnya yang jauh dari kata baik dan harmonis. Lia bahkan sangat kaget saat mendengar cerita Aisha. "Jika memang hal tersebut yang bisa membuatmu merasa tenang, lakukanlah. Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian di sini," balas Lia. Tangan keriputnya bergerak meraih tangan Aisha dan menggenggamnya dengan erat. "Kamu anak yang hebat dan penyabar. Pesan dari Ibu hanya satu. Jangan sampai kamu
Aisha duduk di pinggir ranjang dengan tubuh hanya terbalut sebuah handuk berwarna putih. Dia kini sedang memegang ponsel dengan senyuman licik yang terukir di bibirnya. "Sha, cepat pakai baju. Jangan sampai masuk angin nanti," ujar Alfan yang sudah selesai memakai piyama. Aisha tak merespon, dan hal tersebut membuat Alfan keheranan. Akhirnya dia berjalan mendekati Aisha dan melihat apa yang sedang dilakukan istrinya tersebut. "Kamu mengirimkan foto kita pada siapa?" Alfan bertanya heran. Lalu dia melihat nama kontak yang tertera. Jika Alfan tidak lupa atau salah, nomor Dinara lah yang Aisha namai 'Anak Setan'. "Yah, si paling merasa dicintai. Dia pikir cuma dia yang bisa apa?" gerutu Aisha. Alfan tak paham apa maksudnya, namun dia bingung saat Aisha mengirimkan foto mereka di kamar mandi tadi pada Dinara. "Tunggu. Ini tujuan kamu mengambil foto tadi?" Alfan bertanya. Aisha tersenyum saat mendengar itu. Dia langsung menaruh ponselnya di atas laci dan memeluk tubuh Alfan dengan erat
Hari sudah gelap dan Aisha sekarang sedang menunggu kepulangan Alfan. Dia berdiri di teras dengan tangan memegang ponsel. Sesekali dia mengecek ponselnya, melihat jam. Alfan menghubunginya 20 menit yang lalu dan bilang akan segera sampai. Karena itulah Aisha merasa sangat tak sabar. Saat Aisha hendak mematikan layar ponselnya, terdengar ada notifikasi masuk ke ponselnya. Aisha membukanya dengan cepat karena berpikir mungkin itu dari Alfan. Namun akhirnya dia mencibir pelan saat nama kontak 'Anak Setan' lah yang mengirim pesan padanya. Lihatlah. Harris sangat mencintaiku. Kasihan deh yang nikahnya karena terpaksa. Hahaha. Dinara, mengirimkan pesan teks juga sebuah foto dirinya dan Harris yang sedang berbaring di atas ranjang. Aisha mendengus pelan melihat foto tersebut. Kemudian dia menggelengkan kepala, merasa kasihan pada Dinara yang tak bisa menikmati kehidupan pernikahannya dan terus saja berusaha memanasinya. Padahal sekarang Aisha sudah tidak peduli lagi tentang Harris. Aisha
Aisha sudah mulai menikmati hidupnya sebagai Nyonya Wijaya. Dia bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan. Dia bisa melakukan apapun yang dia mau, yang mungkin tak bisa dia dapatkan saat masih berstatus gadis. Daffa dan Luna bukanlah orang kaya raya. Namun Aisha sudah beruntung karena dua sosok tersebut sudah banting tulang mencari uang agar dia bisa kuliah di kampus yang sama dengan Alexa. Hari ini, Aisha pergi lagi ke rumah Luna diantar oleh Pak Marwan. Kedatangan Aisha ke sana untuk menjemput Alexa dan mengajak sepupunya itu untuk jalan-jalan. Kebetulan Alexa belum memiliki pekerjaan, jadi dia masih banyak waktu luang karena masih berstatus pengangguran. "Alexa masih bersiap, Sha." Luna muncul setelah memberitahu Alexa tentang kedatangan Aisha ke sana. "Dia baru bangun?" tanya Aisha seraya duduk di sofa ruang tamu. Luna tertawa pelan mendengar itu. "Enggak. Setelah sarapan dia langsung masuk kamar lagi. Dia belum punya kesibukan apapun," jawab Luna. Aisha manggut-manggut mende







