Share

2

Author: Alfylla
last update publish date: 2026-01-26 10:50:44

Jam menunjukkan pukul delapan malam, dan Aisha kini sedang berada di balkon kamarnya. Dia duduk di atas sebuah kursi rotan dengan laptop yang terbuka di depannya. Matanya menatap fokus pada layar laptop yang menampilkan informasi tentang sesuatu yang dia cari.

Ya, Aisha sedang berusaha mencari informasi tentang ayahnya di internet, juga informasi tentang bisnis yang ayahnya geluti. Namun ternyata, Aisha tak mendapatkan apa-apa. Dia hanya bisa tertawa miris saat membaca biografi ayahnya yang ada di internet, dan dikenal orang-orang hanya memiliki dua anak. Ya, sejahat itu ayahnya terhadap dirinya. Yang dianggap anak padahal cuma sekedar anak tiri.

Saat Aisha masih berusaha mencari informasi, terdengar suara ketukan dari arah pintu kamarnya. Aisha pun berteriak, meminta orang tersebut untuk masuk saja karena pintunya tidak dikunci.

"Aish? Kamu belum tidur?" Senna, dia berjalan masuk ke dalam kamar Aisha dan menghampiri Aisha yang berada di balkon.

"Belum ngantuk, Kak." Aisha menjawab tanpa menoleh. Senna lalu duduk di hadapan Aisha, memperhatikan Aisha yang fokus pada layar laptopnya.

"Aku mau bicara sesuatu padamu." Senna berucap, berusaha menarik perhatian Aisha.

"Bicara saja, Kak." Aisha membalas tanpa mengalihkan tatapan.

"Ini penting," ucap Senna. Akhirnya Aisha mengalihkan tatapannya dari layar laptop dan menatap Senna dengan heran.

"Terdengar agak mustahil, tapi mungkin kamu bisa mencobanya. Kita tidak akan tahu hasilnya bagaimana kalau belum dicoba kan?" Senna berucap. Aisha belum paham, dan dia memilih menutup laptopnya agar bisa mendengarkan Senna dengan seksama.

"Maksudnya bagaimana?" tanya Aisha yang belum paham.

"Aku terpikirkan seseorang saat Alex berkata tentang seseorang yang memiliki kekuasaan lebih dari ayahmu." Senna menjawab. Mata Aisha melebar mendengar itu.

"Siapa?" tanya Aisha tak sabar.

"Namanya Alfan Gerald Wijaya. Dia adalah pewaris tunggal Wijaya Group. Dia adalah owner tempat perusahaan aku kerja dulu, Sha. Dia sempat menjabat sebagai Direktur Utama di perusahaan Fresh Food selama tiga tahun." Senna memberikan penjelasan dengan cukup detail. Dia tahu tentang sosok pria bernama Alfan tersebut, karena Senna pernah bekerja sebagai sekretarisnya selama satu tahun sebelum akhirnya resign.

"Saat aku masih bekerja jadi sekretaris beliau, perusahaan ayahmu pernah mengajukan kerja sama beberapa kali, namun selalu ditolak. Beliau bilang cara kerja perusahaan ayahmu, terutama setelah dipimpin oleh kakak tirimu jadi agak kacau dan berpotensi merugikan. Mungkin kamu bisa coba meminta bantuan pada beliau. Walau ya, aku juga agak ragu," ujar Senna. Aisha mengerjap beberapa kali saat mendengar itu. Dia tak bisa optimis setelah mendengar penjelasan dari Senna. Membayangkannya saja agak ngeri. Orang yang Senna ceritakan barusan bukanlah orang sembarangan.

"Aku takut, Kak. Tak mungkin juga kan aku meminta bantuan tanpa memberikan sesuatu yang menguntungkan?" tanya Aisha. Senna mengangguk.

"Jika berhasil, mungkin kamu bisa memberikan saham beberapa persen padanya sebagai tanda terima kasih." Senna menjawab. Aisha meneguk ludahnya sendiri saat mendengar itu. Dia belum paham sepenuhnya tentang cara kerja bisnis dan perusahaan-perusahaan besar. Yang jelas, dia tak rela kalau bisnis yang dirintis ayahnya bersama mendiang ibunya diserahkan pada saudara tirinya.

"Bagaiamana kalau gagal?" tanya Aisha khawatir.

"Berusaha aja dulu, Sha. Kalau semisal tak berhasil, kamu harus tempuh jalur hukum." Senna menjawab dengan tegas. Ya, menempuh jalur hukum pun tak akan mudah jika Aisha tak memiliki seseorang yang berpengaruh di pihaknya.

"Aku juga ragu dengan hasilnya. Tapi, tak ada salahnya di coba dulu kan?" ucap Senna. Aisha diam beberapa saat, kemudian mengangguk pelan. Senna tersenyum melihatnya. Dia lalu menyerahkan secarik kertas pada Aisha.

"Itu adalah alamat rumahnya. Sekarang Pak Alfan tak menjabat di perusahaan mana pun, dan hanya mengontrol saja. Satu lagi, rumah sakit tempat Harris bekerja juga milik Pak Alfan."

Mata Aisha melebar kaget mendengar itu. Wah, Senna benar-benar memberikan rekomendasi yang mengerikan.

***

Aisha duduk di dalam sebuah taksi dengan tangan memegang ponsel. Layarnya menyala, memperlihatkan sebuah undangan online yang dikirimkan kakak tirinya padanya.

Harris Armadana & Dinara Purnama

Aisha tersenyum miris membaca dua nama calon pengantin dalam undangan pernikahan online tersebut. Harusnya, nama dia lah yang bersanding dengan nama Harris. Harris berjanji akan melamarnya setelah dia wisuda. Nyatanya, pria itu malah melamar kakak tirinya.

Sampai sekarang, Aisha masih merasakan sakit. Hatinya terasa sangat perih saat membayangkan orang yang dia cintai akan segera menikah dengan orang lain. Padahal dia lah yang menemani Harris selama tiga tahun lamanya. Semakin terasa sakit saat Aisha kembali mengingat perkataan ayahnya yang menyayat hati.

"Dinara sedang mengandung anak Harris, Aisha. Kamu jangan egois dan memikirkan diri sendiri! Harris juga setuju untuk menikah dengan Dinara. Dinara lah yang Harris pilih untuk dijadikan istri. Bukan kamu. Sadar diri."

Bagaimana bisa seorang ayah mengatakan hal menyakitkan begitu demi membela anak tirinya? Kadang, Aisha berharap dia tak pernah tahu kalau pria tua bernama Theo itu adalah ayahnya. Mungkin akan lebih baik jika dia tahu kalau ayahnya sudah mati.

Aisha menghela nafas dan menyeka sudut matanya yang basah. Dia tak boleh menangis agar penampilannya tidak kacau. Siang ini dia ada rencana untuk menemui Alfan, yang Senna ceritakan. Karena yang akan dia temui bukanlah orang sembarangan, maka Aisha berusaha tampil sebaik mungkin agar tidak dianggap sebagai pengemis nantinya.

Taksi yang Aisha tumpangi berhenti di alamat yang Aisha sebutkan. Sebelum keluar, Aisha melihat sebuah pagar tinggi dan kelihatan sangat mewah. Dia jadi grogi sekarang.

Aisha berterima kasih pada supir dan keluar dari sana. Matanya menatap ke arah pagar tersebut, kemudian kakinya melangkah mendekati gerbang. Ada dua satpam yang berjaga di sana, dan mereka berdua langsung sigap berdiri saat Aisha mendekat.

"Apa benar ini rumahnya Pak Alfan Gerald Wijaya?" Aisha bertanya.

"Iya benar. Ada perlu apa, Dek?" Salah satu satpam yang sudah agak tua bertanya.

"Saya ingin bertemu dengan beliau, Pak. Ada urusan penting," jawab Aisha dengan senyuman gugup.

"Sudah ada janji?"

Aisha menggelengkan kepala dengan pelan sebagai jawaban.

"Maaf ya, Dek. Pak Alfan tak bisa bertemu dengan orang sembarangan kalau tidak ada janji temu terlebih dahulu." Satpam tersebut menjawab dengan sopan. Aisha menekuk bibirnya mendengar itu, merasa kecewa.

"Benar-benar nggak bisa ya, Pak? Walau cuma sebentar?" tanya Aisha, berusaha membujuk. Satpam tersebut pun menggelengkan kepala dengan tegas.

"Baiklah. Terima kasih banyak, Pak. Saya pamit dulu," ucap Aisha. Dia berbalik hendak pergi dari sana. Namun baru juga empat langkah, satpam tadi berteriak memanggilnya.

"Iya, Pak?"

"Boleh minta kartu identitas? Pak Alfan yang meminta." Satpam yang satunya lagi bertanya pada Aisha. Aisha mengerjap pelan, namun langsung merogoh tasnya dan memberikan kartu identitas miliknya.

"Tunggu sebentar ya." Satpam yang usianya terlihat masih muda tersebut membuka gerbang dan berlari kecil masuk ke dalam rumah. Aisha pun melihat sekitar, dan dia menemukan beberapa kamera CCTV di dekat gerbang.

Tak lama, satpam tadi kembali dan mengembalikan kartu identitas milik Aisha.

"Silakan masuk, Dek. Pak Alfan sudah menunggu," ucap satpam tersebut. Aisha terlihat kaget mendengarnya. Semudah ini dia bisa bertemu dengan pria bernama Alfan tersebut? Hanya dengan modal kartu identitas saja?

Karena sudah dipersilakan, Aisha pun masuk ke area rumah megah tersebut. Sebelum mencapai rumah, Aisha melewati halaman depan dulu yang menurutnya sangat luas. Dan melihat keadaan rumah tersebut membuat Aisha semakin gugup.

Semoga saja semuanya berjalan lancar sesuai dengan harapan dan rencananya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
berdoa aja semoga usahanya berhasil ya aisha
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menikahi Duda   39. End

    Beberapa bulan kemudian. Hari demi hari terus berlalu, tak terasa kini pernikahan Alfan dan Aisha sudah berusia satu tahun. Mereka melewati waktu ke waktu dengan perasaan bahagia, hingga tak terasa mereka sudah menghabiskan waktu bersama dalam waktu yang lumayan lama. Hari ini cuaca mendung dan turun hujan rintik-rintik. Mungkin seharusnya Aisha dan Alfan diam saja di rumah saat cuaca kurang bagus seperti hari ini. Namun ada hal yang memaksa mereka harus keluar dari rumah dan menghadiri sebuah acara. Bukan acara pesta, tapi acara pemakaman. Alfan dan Aisha berpakaian serba hitam, sama seperti orang lain yang ikut mendatangi pemakaman tersebut. Setelah selesai di pemakaman, Alfan dan Aisha pun segera pergi dari TPU. Tidak langsung pulang ke rumah, namun Aisha memilih untuk berkunjung sebentar ke kantor polisi. Dan sekarang, di sinilah Aisha berada. Duduk berhadapan dengan seorang pria tua yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri. Penampilan ayah kandungnya jauh dari kata baik d

  • Menikahi Duda   38

    Benar dugaan Alfan, keluarganya masih akan terus mengganggu karena mereka belum mendapatkan sanksi yang cukup atas semua sikap mereka yang mengganggu. Hari ini, Alfan dan Aisha berniat pergi ke gym bersama. Namun sebelum berhasil keluar dari rumah, keluarga besar Alfan yang berjumlah lima orang sudah datang dan menunggu di depan gerbang. Mereka memaksa masuk dan terus saja mengucapkan sumpah serapah pada satpam yang tak mau membukakan gerbang untuk mereka. Alfan malas bertemu langsung dengan mereka. Akhirnya Alfan menghubungi polisi dan meminta polisi datang ke rumahnya untuk menertibkan keluarganya yang terus saja mengganggu dan membuat kericuhan di depan gerbang rumahnya. Respon mereka? Jelas marah besar. Perkataan mereka semakin tak terkontrol saat tahu Alfan memanggil polisi untuk menangkap mereka semua. Polisi menahan mereka atas aduan Alfan karena merasa terganggu. Tentu mereka tidak akan berakhir di penjara. Namun dengan melibatkan polisi, membuat keluarga Alfan ketar-ketir

  • Menikahi Duda   37

    Ancaman yang Alfan katakan memang bukan sekedar ancaman saja. Alfan memang sengaja membongkar semua rahasia Dimitri dan adiknya pada orang-orang yang bersangkutan. Dan tentu saja hal tersebut berdampak besar pada kehidupan mereka berdua. Berita tentang adik Dimitri yang menjadi selingkuhan menjadi berita panas di universitas tempatnya kuliah. Keluarga istri dosen tersebut berhasil menemui adik Dimitri dan tentu saja melabraknya. Nama adik Dimitri yang merupakan salah satu mahasiswi populer langsung tercoreng. Dan Alfan cukup puas dengan hal itu. Lalu Dimitri, jelas masalahnya membuat jabatannya di perusahaan tempat dia bekerja terancam. Setelah perselingkuhan Dimitri dengan istri temannya terbongkar, akhirnya masalah lain ikut terbongkar. Salah satunya adalah rekan kerja Dimitri yang mengaku dekat dengan Dimitri selama beberapa bulan ke belakang, dan mengaku sedang hamil anak Dimitri. Hal tersebut menandakan kalau Dimitri menghamili dua wanita sekaligus. Ibu kandung Dimitri syok be

  • Menikahi Duda   36

    Harapan Alfan adalah Dimitri kapok dan tak akan mengganggu dia juga Aisha. Namun sepertinya sepupunya itu tidak kapok ataupun takut dengan ancaman yang diberikan oleh Alfan. Entah apa saja yang dia ceritakan pada seluruh anggota keluarga besar, yang jelas Alfan semakin di benci oleh keluarga besar ayahnya. Tiga hari setelah memperingati dan mengancam Dimitri, Alfan kedatangan tamu tak diundang ke rumahnya. Alfan enggan menghadapi mereka, namun berusaha untuk tetap sopan dengan menerima kedatangan mereka. Dan ya, sepasang suami-istri yang datang itu adalah orang tua Dimitri, di mana ibu Dimitri merupakan adik kandung ayah Alfan. Tujuan kedatangan mereka pun sudah bisa ditebak oleh Alfan. "Jangan mentang-mentang kamu ini kaya raya kamu bisa seenaknya merendahkan anakku, Alfan." Wanita tua yang merupakan ibu kandung Dimitri itu bersuara dengan nada tinggi dan marah pada Alfan. "Jika Tante tak senang aku melakukan sesuatu pada Dimitri, sebaiknya Tante peringati dia untuk tidak mengga

  • Menikahi Duda   35

    Aisha duduk di dalam toko, memperhatikan Alexa yang sedang melayani pelanggan. Hari ini pelanggan sangat ramai hingga semuanya sibuk. Aisha berusaha untuk membantu, namun Daffa melarang dan menyuruhnya untuk diam saja. "Kamu ke sini sendirian saja, Sha? Gak sama Alfan?" Luna bertanya seraya duduk di samping Aisha. Dia menyerahkan sebotol minuman dingin pada keponakannya tersebut. "Mas Alfan ada urusan, Tante. Jadi aku ke sini sendirian. Aku lagi gak mau ikut Mas Alfan," jawab Aisha. Luna manggut-manggut mendengar itu. "Kenapa? Lagi ada masalah?" tanya Luna dengan santai. Aisha pun langsung menggelengkan kepala. "Enggak kok. Aku dan Mas Alfan baik-baik saja. Hanya saja, orang yang Mas Alfan temui itu menyebalkan. Aku tak mau bertemu lagi dengan orang itu," jawab Aisha diakhiri dengan helaan nafas pelan. Luna tersenyum kecil mendengar itu. Dia tak bertanya lagi lalu menepuk pelan pundak Aisha. "Ibu mertuamu sudah cerita tentang kelakuan keluarga besar Alfan. Kamu yang sabar ya. Dal

  • Menikahi Duda   34

    Alfan marah. Jelas dia marah setelah membaca isi surat dari Dimitri yang menurutnya melecehkan dan merendahkan Aisha. Begitu juga dengan Aisha yang marah namun takut dalam waktu yang bersamaan. Well, dia pikir Dimitri sudah puas mengganggu dan membuatnya risih di hari resepsi kemarin. Tapi ternyata, pria itu masih saja mengganggu. Karena surat tersebut, hampir saja rencana mereka untuk jogging pagi bersama batal. Namun Aisha berusaha terus menenangkan Alfan dan tetap mengajak suaminya itu untuk pergi agar bisa sedikit meredakan amarah. Alfan dan Aisha melakukan jogging dari rumah sampai ke taman kota. Jaraknya tidak terlalu jauh dan tak menghabiskan waktu yang lama juga. Setelah merasa cukup, Alfan dan Aisha pun beristirahat di kursi taman seraya meneguk air mineral. "Apa dulu saat Mba Rini masih hidup Dimitri juga selalu mengganggu?" Aisha bertanya setelah suasana hati mereka cukup tenang. "Ya. Dia bekerja sama dengan pacar Rini untuk menjatuhkanku. Dia beranggapan kalau aku menc

  • Menikahi Duda   33

    Aisha berjalan pelan mendekati Alfan yang sedang duduk di meja kerja. Pria itu sedang menghadap ke arah laptop, mengerjakan sesuatu. Aisha pun tak bisa menahan senyumnya sendiri saat melihat punggung tegap Alfan yang tercetak jelas di balik kaos yang dipakai. "Lagi ngerjain apa, Mas?" Aisha bertan

  • Menikahi Duda   7

    "Kamu tak perlu khawatir. Ayahmu akan aku urus." Itulah yang Alfan katakan padanya saat Aisha bertanya, kira-kira jebakan macam apa yang harus dilakukan. Satu hal yang penting adalah jangan sampai ayahnya merasa curiga, apalagi kemarinnya Aisha berkata akan menggugat Theo ke pengadilan. Mendengar

  • Menikahi Duda   6

    Sesuai janji, pagi ini Theo sudah berada di sebuah restoran untuk bertemu dengan Alfan. Dia datang lebih awal ternyata, dan Alfan belum datang. Hal tersebut membuat Theo sedikit cemas kalau-kalau saja Alfan berbohong. Sepuluh menit menunggu, akhirnya Alfan datang dan Theo pun merasa lega. Dia meny

  • Menikahi Duda   5

    Datanglah pukul 10 pagi besok.Itu adalah balasan dari Alfan semalam saat Aisha bertanya apakah mereka bisa bertemu lagi atau tidak. Aisha merasa lega dengan jawaban Alfan, karena pria itu tidak mengulur waktu hingga Aisha tidak kehabisan banyak waktu untuk mempersiapkan segalanya.Sekarang, Aisha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status