Mag-log in
Aisha Agatha Kusuma. Seorang wanita berusia 22 tahun yang baru saja lulus S1 dua bulan yang lalu. Dia belum memiliki niat mencari pekerjaan, karena sekarang dia sedang berusaha menyembuhkan dan menata hatinya yang hancur lebur.
Aisha adalah anak tunggal, namun dia tak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua kandungnya. Ibunya meninggal tak lama setelah melahirkannya, dan ayahnya pun tak pernah menganggapnya anak. Sejak bayi merah sampai sekarang, Aisha dirawat oleh pasangan suami istri bernama Daffa dan Luna, yang merupakan om dan tantenya. Sedikit cerita tentang patah hatinya. Itu semua terjadi sejak sebulan yang lalu. Saat Aisha diputuskan secara sepihak oleh kekasihnya, dan kekasihnya yang mengaku sudah menghamili wanita lain dan harus bertanggung jawab. Aisha patah hati. Yang lebih menyakitkan adalah selingkuhan kekasihnya ternyata kakak tirinya sendiri. Anak seorang janda yang merupakan selingkuhan ayahnya dulu, namun sekarang sudah bergelar istri. Aisha sempat melabrak kakak tirinya dan tentu saja mencaci makinya. Namun hal yang lebih menyakitkan terjadi saat ayahnya tak membela dirinya sedikit pun dan lebih membela kakak tirinya. Sekarang, Aisha masih dalam masa penyembuhan sakit hati. Beruntung om dan tantenya baik terhadapnya. Memberikan figur orang tua yang sangat Aisha butuhkan. "Aku tahu pasti sakit kalau ada di posisi kamu. Tapi laki-laki bajingan kayak dia itu gak pantes ditangisi, Sha." Alexa, anak kedua Daffa dan Luna berusaha menghibur sepupunya tersebut. "Tetap saja, Lexa. Kenapa Papa tak pernah melirikku atau bahkan memikirkan perasaanku. Padahal aku adalah anak kandungnya." Aisha berucap dengan suara bergetar. Air matanya kembali turun, membasahi kedua pipinya. "Aku juga tak paham dengan jalan pikiran ayahmu, Sha. Yang jelas, pikiran ayahmu itu sudah dikuasai istrinya. Dan jelas wanita tua itu ingin anak-anaknya yang diunggulkan," ujar Alexa. Aisha menangis sesenggukan dengan wajah terbenam di bantal. Sangat menyakitkan saat mengingat dia dibentak ayahnya karena melabrak kakak tirinya. "Udah ya? Jangan nangis terus." Alexa mengusap punggung Aisha, berharap hal tersebut bisa membuat Aisha merasa sedikit tenang. "Menurutku ya Sha, kamu itu ha-" Belum juga ucapan Alexa selesai, pintu kamar Aisha terbuka dan masuklah seorang pria yang merupakan kakak kandung Alexa. Dia tidak masuk sendirian, namun ditemani oleh istrinya juga. "Kamu masih menangisi Harris?" Alex, pria itu bertanya seraya mendudukkan dirinya di sofa kamar Aisha. "Jangan begitu. Setiap wanita pasti akan begitu jika di posisi Aisha." Senna, istri Alex itu berusaha menegur suaminya, agar jangan sampai Aisha yang masih patah hati tersinggung dengan pertanyaannya barusan. "Kamu pasti bisa tanpa dia, Sha. Kamu hanya belum terbiasa saja sekarang." Senna berucap, berusaha memberikan semangat pada adik sepupu suaminya tersebut. "Itu benar. Kamu harus cepat bangkit dan jangan terus terpuruk seperti ini. Kedua kakak tirimu sudah menyusun rencana mendepakmu dari keluarga," ujar Alex. Mendengar itu, Aisha pun mengangkat kepalanya. "Itu sudah terjadi. Sejak dulu pun aku tak pernah dianggap anak," balas Aisha dengan suara pelan. "Aku tahu. Tapi kamu tak boleh menyerah. Setidaknya, kamu harus berjuang mendapatkan hakmu, Sha. Jangan sampai bisnis ayahmu dikuasai oleh mereka," ujar Alex dengan serius. "Sudah sejauh itu langkah mereka? Sangat picik," desis Alexa kesal. "Aku harus melakukan apa? Papa bahkan tak pernah menganggapku sebagai anak. Sudah jelas dia akan menyerahkan bisnisnya pada anak-anak nenek lampir itu. Padahal ibuku lah yang mendampingi dia saat merintis bisnis tersebut," ucap Aisha seraya menyeka air matanya sendiri. "Justru karena itu kamu harus berjuang, Sha. Ibumu lah yang menemani Om Theo dari orang biasa saja sampai sukses. Sudah cukup lama kesuksesan tersebut malah dinikmati oleh orang lain. Kamu adalah anak kandungnya, dan kamu yang berhak sepenuhnya menjadi pewaris." Alex menjelaskan. Aisha diam termenung mendengar itu. Secara hukum, memang dia yang berhak menjadi satu-satunya pewaris bisnis ayahnya. Namun ayahnya yang bodoh dan buta akan kenyataan jelas akan dengan mudah menyerahkan semua bagian pada anak-anak tirinya, tanpa akan memikirkan bagian Aisha. Aisha jelas tak rela karena dia sudah mengalah selama lebih dari 20 tahun. Dia mengalah, hingga dia tak mendapatkan kasih sayang seorang ayah seperti yang seharusnya. Dia bahkan terpaksa mengalah, membiarkan kekasihnya menikahi kakak tirinya. Apakah kali ini dia juga harus mengalah lagi, membiarkan bisnis yang dirintis oleh orang tuanya jatuh pada orang yang tak seharusnya? "Bagaimana caranya? Papa jelas tak akan menganggapku," lirih Aisha. "Itu bukan hal yang mudah, Kak. Apa harus menempuh jalur hukum?" Alexa bertanya pada kakaknya sendiri. "Mungkin. Kamu bisa menggugat ayahmu yang melalaikan kewajibannya sebagai seorang ayah, Sha." Alex memberikan sebuah saran. "Papa memiliki cukup uang untuk bisa memenangkan sidang, Kak. Aku tak memiliki kekuasaan apa-apa untuk mengalahkannya di meja hijau," ujar Aisha. Semua yang ada di sana menghela nafas pelan mendengar itu. Ada benarnya juga sih yang Aisha katakan barusan. Aisha diam termenung dengan tatapan kosong terarah pada selimut putih miliknya. Kekuasaan. Itulah intinya. Jika dia ingin ayahnya kalah dan berubah pikiran, Aisha harus memiliki kekuasaan di atas ayahnya. Sekarang, jelas dia tak memiliki kekuasaan apa-apa. Omnya maupun Alex tak akan bisa banyak membantunya juga. "Kira-kira, siapa orang yang bisa menundukkan Papa?" Aisha bertanya pada Alex. Alex diam sesaat, berusaha berpikir. "Keluarga kita tak akan ada yang berani. Yang jelas sih, orang tersebut harus lebih berkuasa dari ayahmu. Pengaruhnya harus lebih besar dari ayahmu," ucap Alex. Aisha terdiam mendengar itu. Jadi, dia harus mencari orang yang disegani oleh ayahnya agar ayahnya tidak bertindak semena-mena. Tapi siapa? Dan lagi jika Aisha menemukan orang tersebut, apa yang bisa dia jadikan jaminan? Karena jelas orang asing tak akan mau memberikan bantuan secara suka rela tanpa ada bayaran atau keuntungan. Senna yang melihat Aisha merenung terlihat ingin bicara, namun segan karena ada suaminya di sana. Bukan maksud menjerumuskan, namun ada satu harapan dari seseorang yang Senna kenal.Sesuai janji, pagi ini Theo sudah berada di sebuah restoran untuk bertemu dengan Alfan. Dia datang lebih awal ternyata, dan Alfan belum datang. Hal tersebut membuat Theo sedikit cemas kalau-kalau saja Alfan berbohong. Sepuluh menit menunggu, akhirnya Alfan datang dan Theo pun merasa lega. Dia menyapa Alfan dengan ramah, berusaha mencairkan suasana agar tidak kaku dan canggung. Ini pertama kalinya Theo bertemu secara pribadi dengan Alfan. "Bagaimana kabar Anda, Pak Theo?" Alfan bertanya seraya mendudukkan diri di hadapan Theo. "Baik, Pak Alfan." "Baguslah. Maaf mengganggu waktu Anda pagi-pagi seperti ini," ujar Alfan. Theo tertawa pelan mendengar itu. "Tak masalah, Pak. Saya malah senang karena diundang untuk bertemu," balas Theo. Alfan tersenyum tipis mendengar itu. Sebelum memulai pembahasan, mereka berdua memesan dulu makanan. "Apakah Pak Bara sudah memberitahukan Anda tentang perkataan saya?" Alfan bertanya. Theo pun menganggukkan kepala. "Iya. Bara sudah mengatakannya pada
Datanglah pukul 10 pagi besok.Itu adalah balasan dari Alfan semalam saat Aisha bertanya apakah mereka bisa bertemu lagi atau tidak. Aisha merasa lega dengan jawaban Alfan, karena pria itu tidak mengulur waktu hingga Aisha tidak kehabisan banyak waktu untuk mempersiapkan segalanya.Sekarang, Aisha sudah berada di rumah Alfan, di jam yang Alfan sebutkan. Dia duduk di ruang tamu, dan Alfan juga sudah menyambutnya. "Jadi, apa keputusan yang kamu buat?" Alfan bertanya. Secara sengaja, dia berbicara non-formal pada Aisha. Dan Aisha agak heran, namun tak mau mempermasalahkan."Saya tak bisa menyerah begitu saja untuk memperjuangkan hak saya. Tapi imbalan yang Anda minta tidak sesuai dengan prinsip hidup saya." Aisha menjawab dengan tenang. Dia lalu menyimpan map yang dia bawa di atas meja, dan menyodorkannya pada Alfan."Apa ini?" tanya Alfan heran."Anda bisa lihat dulu isinya apa, Pak Alfan," jawab Aisha. Alfan mengangguk kecil dan meraih map tersebut."Ngomong-ngomong, jangan terlalu ka
Setelah lulus wisuda, Alexa langsung gencar mencari pekerjaan karena tak mau lama bergelar sebagai pengangguran. Sedangkan Aisha masih gitu-gitu saja, tak ada kemajuan. Dia jadi malu pada om dan tantenya karena terus menjadi beban bagi mereka berdua. Walau begitu, Daffa dan Luna tak masalah. Mereka malah berkata kalau untuk sekarang Aisha fokus saja berusaha mendapatkan haknya. Hari ini, lebih tepatnya saat jam makan siang, Aisha sudah berada di sebuah restoran ternama. Dia tidak makan siang sendirian, tapi berdua dengan seorang pria tua di depannya yang tak lain dan tak bukan adalah ayah kandungnya, Theo."Harusnya kamu legowo sejak awal untuk melepaskan Harris. Jadi tak perlu ada drama membosankan." Theo berucap pada Aisha yang masih menyantap makanannya."Seorang pelacur melahirkan seorang jalang murahan. Lalu jalang murahan itu akan melahirkan seorang apa selanjutnya?" Aisha melemparkan pertanyaan pedas seraya menyimpan garpunya dengan gerakan kasar di atas meja. Dengan berani di
Aisha kini duduk di dalam sebuah ruang tamu yang sangat luas. Matanya memperhatikan sekitar, merasa kagum dan takjub dengan interior yang klasik dan megah. Aisha tak menyangka dia akan bisa masuk ke dalam sebuah rumah yang lebih mewah dan megah dari rumah ayah kandungnya.Aisha duduk di sofa sendirian, karena ART yang menyambut kedatangannya izin ke dapur barusan. Aisha tak tahu di mana keberadaan pria bernama Alfan yang merupakan pemilik rumah tersebut. Namun tentu Aisha akan menunggu di sana sampai pria itu muncul.Saat sedang memperhatikan sekitar, Aisha merasakan ponselnya yang berada di dalam tas bergetar. Dengan sedikit cepat Aisha merogoh ponselnya dan melihat notifikasi pesan yang masuk barusan. Ternyata, pesan tersebut dari Alexa, yang menanyakan keberadaannya sekarang. Alexa sangat khawatir mengingat Aisha masih dalam tahap penyembuhan sakit hati. Alexa khawatir kalau saja Aisha berpikiran pendek dan berniat melakukan hal aneh, seperti mencelakakan diri misalnya."Aku ada ur
Jam menunjukkan pukul delapan malam, dan Aisha kini sedang berada di balkon kamarnya. Dia duduk di atas sebuah kursi rotan dengan laptop yang terbuka di depannya. Matanya menatap fokus pada layar laptop yang menampilkan informasi tentang sesuatu yang dia cari.Ya, Aisha sedang berusaha mencari informasi tentang ayahnya di internet, juga informasi tentang bisnis yang ayahnya geluti. Namun ternyata, Aisha tak mendapatkan apa-apa. Dia hanya bisa tertawa miris saat membaca biografi ayahnya yang ada di internet, dan dikenal orang-orang hanya memiliki dua anak. Ya, sejahat itu ayahnya terhadap dirinya. Yang dianggap anak padahal cuma sekedar anak tiri.Saat Aisha masih berusaha mencari informasi, terdengar suara ketukan dari arah pintu kamarnya. Aisha pun berteriak, meminta orang tersebut untuk masuk saja karena pintunya tidak dikunci."Aish? Kamu belum tidur?" Senna, dia berjalan masuk ke dalam kamar Aisha dan menghampiri Aisha yang berada di balkon."Belum ngantuk, Kak." Aisha menjawab ta
Aisha Agatha Kusuma. Seorang wanita berusia 22 tahun yang baru saja lulus S1 dua bulan yang lalu. Dia belum memiliki niat mencari pekerjaan, karena sekarang dia sedang berusaha menyembuhkan dan menata hatinya yang hancur lebur.Aisha adalah anak tunggal, namun dia tak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua kandungnya. Ibunya meninggal tak lama setelah melahirkannya, dan ayahnya pun tak pernah menganggapnya anak. Sejak bayi merah sampai sekarang, Aisha dirawat oleh pasangan suami istri bernama Daffa dan Luna, yang merupakan om dan tantenya. Sedikit cerita tentang patah hatinya. Itu semua terjadi sejak sebulan yang lalu. Saat Aisha diputuskan secara sepihak oleh kekasihnya, dan kekasihnya yang mengaku sudah menghamili wanita lain dan harus bertanggung jawab. Aisha patah hati. Yang lebih menyakitkan adalah selingkuhan kekasihnya ternyata kakak tirinya sendiri. Anak seorang janda yang merupakan selingkuhan ayahnya dulu, namun sekarang sudah bergelar istri.Aisha sempat melabrak kak







