Mag-log in
"Putri bungsu rasa anak pungut! Ini adalah diksi paling tepat untuk menggambarkan situasiku di Keluarga Wibisono. Orang tuaku mempunyai dua putri, tapi kami berdua diperlakukan berbeda, bagaikan langit dan bumi. Kendati aku sudah memikirkan alasannya berjuta kali, tapi aku tidak berhasil menemukan alasan masuk akal, kenapa ibuku, wanita yang melahirkanku demikian memanjakan Eliana, pada saat bersamaan dia membuangku. Jika Eliana menginginkan milikku, aku harus dengan senang hati memberikan padanya. Sebaliknya, jika dia menolak sesuatu, dia pasti akan memberikannya padaku. Aku harus menerimanya, bahkan harus menganggapnya sebagai berkah tertinggi. Aku harus berlapang dada dijadikan tumbal di keluarga ini."
(Vivian Wibisono) *** “Pokoknya El nggak mau menikah dengan cowok lumpuh itu, Pi!” pekik seorang gadis cantik yang tengah berdiri dengan wajah merah padam. Di depannya, seorang pria paruh baya dengan mata melotot ikut berteriak. “Kali ini Papi yang bikin keputusan, El. Siapapun di rumah ini harus ikuti aturan Papi!” Dada Hendrawan naik turun karena amarah yang menggelegak di dalam dada. Tangan terkepal erat menahan jengkel. Putri sulungnya ini sungguh kepala batu. Situasinya sangat darurat, tapi Eliana sama sekali tidak mau diajak kompromi. Apa susahnya sementara waktu berpura-pura menerima takdir menjadi istri Arsenio. Hanya sementara. Hanya sampai keadaan kembali stabil, setelah itu toh Eliana bisa menggugat cerai. “Enggak mau. Aku lebih baik kabur ke luar negeri kalau Papi tetap maksa.” Bukannya takut, gadis bernama Eliana itu menatap nyalang pada sang Papi–Hendrawan Wibisono. “Kamu berani mengancam Papi, El? Kamu pikir Papi nggak bisa bertindak kasar untuk mengurungmu?” uringnya. "Papi, jahaaaat." "El, dengar Papi!" titah Hendrawan pada putrinya. "Hanya El yang membuat keputusan untuk hidup El sendiri, Pi," kukuhnya tegas. Perusahaan mereka terancam gulung tikar. Selama beberapa bulan ini Hendrawan sudah melakukan berbagai cara untuk memperbaiki situasi. Bahkan sudah ada sebagian aset yang terpaksa dijual, tapi semua usahanya sia-sia. Jika seperti ini terus, entah sampai kapan mereka mampu bertahan sampai seluruh aset mereka benar-benar habis. "Kali ini, tolonglah Papi, El. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan keluarga kita,” lirihnya. Suara lantang Hendrawan sudah menguap entah kemana. Dia terlalu lelah dengan semua ini. “Aku bukan alat tukar menukar, Pi. Jelas, aku nggak bakal sudi menghancurkan masa depanku demi menjadi istri seorang pria lumpuh seperti itu." Eliana tidak bisa menerima kenyataan harus menanggung beban seberat ini. Terdengar tidak adil memang, bagaimanapun putrinya itu hanyalah seorang gadis yang baru berumur 24 tahun. "Baiklah, papi memang tidak bisa memaksamu," tukasnya lemah. "Jadi ... gimana nasib kita setelah ini, Pi?" tanya Lusi--istrinya tak kalah gusar. Mereka selama ini hidup berlimpah kekayaan. Dua putrinya sudah menikmati previlege ini sejak lahir. Tidak terbayangkan jika tiba-tiba mereka hidup dengan kehilangan semuanya. Tak ada jawaban atas pertanyaan itu, hanya desah napas berat yang terdengar. Tak sanggup rasanya kalau harus menjabarkan semua hal yang akan mereka lalui nanti. Setelah jeda beberapa menit akhirnya Hendrawan kembali bersuara, “bersiaplah, mungkin beberapa hari ke depan kita harus pindah dari rumah ini." Pria itu bangkit dari sofa tanpa ekspresi. Bersamaan dengan itu, pintu utama terbuka. Vivian–putri kedua Hendrawan baru saja pulang dari kampus. "Aku ada ide, Pi.” Melihat kedatangan Vivian, Eliana mendadak semringah. Sudut bibirnya melengkung. Sebentuk senyuman indah tercipta. Hendrawan sontak menoleh dan menjeda langkahnya. Penasaran, ide apa yang dimiliki Eliana. “Di rumah ini, Papi mempunyai dua putri. Bagaimana kalau Vivian yang menikah dengan pria lumpuh itu, apa pendapatmu, Vi?" Vivian yang hendak menuang air dingin untuk melepas dahaga sontak kaget. Belum sempat Vivian memberi jawaban, tatapan Lusi dan Hendrawan menghujam, membuatnya makin linglung. ‘Menikah? Lelucon apa ini? Sebenarnya apa yang terjadi? Tidak ada angin tidak ada hujan, bisa-bisanya terjadi badai dalam sekejap.’ "Loh, ada apa ini?" cicitnya linglung. “Ckck, makanya jangan keluyuran terus!” Eliana mendengus kasar. “Apaan sih! Elu tahu kesibukan gue dengan jelas, El. Gue sibuk di—” “Ya, gue tahu, elu sibuk dengan klub elu yang nggak jelas itu.” Vivian menahan diri untuk tidak melempar gelas kaca di tangannya pada Eliana. Kakaknya itu memang sangat menyebalkan. Ujung-ujungnya selalu saja menghina kegiatannya. “Dengar, Vi. Selama ini elu berlatih karate dengan gigih, gue tahu elu punya mimpi untuk menjadi pahlawan, kan. Sekarang, wujudin mimpi elu itu. Jadilah pahlawan untuk keluarga kita!” Eliana mulai berdiri. Kedua tangannya bersedekap di depan dada, sedangkan Vivian hanya bisa menyipitkan mata curiga. “Nikahi Arsenio Kertanegara!” Dengan tatapan angkuh, Eliana mencecar Vivian tanpa belas kasihan. Tatapan Vivian menyapu pada sosok sang Papi yang masih berdiri membeku di tempatnya. Sementara tatapan Lusi berkilat. Vivian adalah harapan terakhir untuk menyelamatkan keluarga mereka. “Hei, gila lu! Gue baru 19 tahun, El.” “Jangan bawa-bawa umur, Vi. Keadaannya mendesak. Salah satu anak Papi harus ada yang menikahi Arsenio. Tentu saja itu bukan gue, kan. Masa depan karier gue masih panjang. Satu-satunya orang yang pantas untuk menikahi cowok lumpuh kek Arsenio itu pastinya hanya elu, Vi.” Kalimat Eliana yang panjang seperti rentetan peluru yang kesasar bersarang tepat di jantung Vivian. “Heh, gue juga kagak mau, El.” Ingin rasanya Vivian merobek mulut pedas Eliana jika tidak ingat bahwa dia adalah kakaknya. “Nggak bisa! Satu-satunya orang yang boleh nolak itu hanya gue. Elu harus menerima keputusan ini kalau elu sayang sama Papi dan Mami.” Jika boleh memilih, Vivian lebih suka tidak mempunyai kakak. Apa gunanya mempunyai kakak yang super duper toxic. Bahkan dia berani menggunakan kalimat ‘kalau elu sayang sama Papi dan Mami’. Lalu, dia sendiri … apa yang dia lakukan. Kalau dia masih sayang Papi dan Mami, kenapa berani menolak. Sial. Dasar manusia TOXIC. Hendrawan menghampiri Vivian dan mulai bercerita. Putri bungsunya itu memang tidak tahu apa-apa tentang masalah perusahaan. Vivian beberapa kali membuang napas gusar. Ada rasa sesal dalam dirinya. Kemana saja dia selama ini. Bisa-bisanya dia melewatkan berita besar yang mengguncang keluarganya. "Papi juga nggak mengharapkan semua terjadi, Vi.” Hendrawan menjeda ucapannya, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan. “Sudah sejauh ini, hanya keluarga Kertanegara yang bisa membantu kita. Asalkan Eliana bersedia menikah dengan Arsenio, semua akan baik-baik saja.” Vivian menoleh pada sosok Eliana yang masih berdiri dengan angkuh tak jauh darinya. “Jangan natap gue kek gitu, Vi. Elu jelas tahu apa keputusan gue!” bentaknya sengit. “Jelas Arsenio maunya elu, El. Jangan libatin gue!” Vivian membuang muka. Jangan lupa bahwa Eliana mungkin saja salah satu orang tidak tahu diri yang masih bisa bernapas dengan bebas di dunia ini tanpa ada rasa bersalah sama sekali. “Persetan dengan Arsenio. Lebih baik gue lajang seumur hidup daripada punya suami lumpuh! Cuih….” “Sudah-sudah, jangan bertengkar lagi. Papi sudah ambil keputusan nggak akan libatin kalian berdua. Besok kita pindah!” Hendrawan sudah terlalu lelah untuk mendengar perdebatan dua putrinya. “Jangan ambil keputusan bodoh, Pi. Vivian bersedia menikah dengan Arsenio! Benar kan, Vi?” teriak Eliana. Lusi dan Hendrawan kembali menatap penuh harap pada Vivian yang wajahnya berubah pucat. Semua kejadian ini menimpa otaknya bersamaan. Dia masih perlu mencerna, masih perlu menimbang. Akan tetapi Eliana sama sekali tidak memberinya waktu. “Mami setuju. Masa depan Eliana masih panjang. Sayang kalau kariernya yang sedang ada di puncak harus hancur gara-gara harus menikah dengan Arsenio.” Lusi ikut-ikutan mendesak Vivian. Padahal dia berharap, ibunya akan membela. Alih-alih malah ikut mendesaknya menjadi pengantin pengganti. “A-aku … tidak tahu, Mi,” cicitnya. Ada rasa muak bergejolak di dadanya. Selalu saja, orang tuanya tidak pernah bersikap adil. Sejak kecil, mereka selalu mengistimewakan Eliana dibanding dirinya. Dada Vivian terasa sesak saat menatap sosok cantik Eliana. “Itu artinya, Vivian nggak keberatan, Pi, Mi. Seorang gadis kalau diam saja saat dipinang, itu artinya dia setuju. Betul, kan, Vi?” Eliana kembali berceloteh. “Heh, elu bukan jubir gue, El!” sentak Vivian jengkel. Bukannya minta maaf, Eliana malah menghela napas lega. “Akhirnya, masalah ini selesai juga. Kita bisa tidur tenang malam ini.” Eliana menggeloyor pergi acuh tak acuh, seakan dia yakin Vivian telah menerima keputusan. Sama seperti Eliana, Lusi dan Hendrawan juga menghela napas lega. Akan tetapi sudah terlambat bagi Vivian untuk menjelaskan bahwa dia masih akan mempertimbangkan keputusannya. “Baiklah, kalau begitu, Papi akan membicarakannya dengan Tuan Kertanegara.” ‘Jadi, apakah keputusan sudah diambil? Hei, bisakah kalian tidak bersikap semena-mena.’ Ketika benak Vivian masih berisik dengan berbagai ketidakpuasan itu, Papi dan Mami sudah meninggalkannya sendirian di sana. Sudah terlambat untuk menganulir keputusan. “Aarggh!” Vivian mengayunkan tinju ke udara. Dia kesal, tapi pada siapa? Jiwa karateka-nya meronta-ronta. Dia ingin menghajar seseorang untuk melampiaskan kemarahan. Apakah dia harus mencari pria bernama Arsenio? Benar, pria itu yang bertanggung jawab atas kemelut yang melanda hidupnya hari ini. Jika dia tidak lumpuh, Eliana pasti tidak melemparkan tanggung jawab ini padanya. Di keluarga ini, Vivian selalu menjadi tempat sampah Eliana. Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang setara sebagaimana sang Kakak. _Tbc_TingPithecanthropus Erectus mengirim pesan.[Dandan yang cantik!]Vivian mengetik sebagai balasan.[Dih, ribet.] Centang biru. Pithecanthropus Erectus sedang mengetik…Ting[Buat mamiku terkesan!]Vivian mendengus membaca balasan dari Arsenio. “Emang gue pikirin. Mau terkesan apa kagak, toh pernikahan ini hanya pura-pura.”[Ogah.] Centang biru. Pithecanthropus Erectus mengetik…Ting[Kalo gue kecewa sama penampilan elu. Gue pastikan elo dapat hukuman setimpal.]"Eleh, bisanya ngancam," sungut Vivian kesal. Bibirnya cemberut.Setelah itu dia mengabaikan ponselnya. Terlalu malas harus berdebat dengan spesies manusia purba zaman neozoikum itu.Tanpa disuruh oleh Arsenio-pun, pastinya Vivian sudah didandani maximal. Tidak mungkin dia menemui calon mertua dengan penampilan tomboy-nya, kan. Saking seriusnya menyiapkan penampilan Vivian supaya segala sesuatunya berjalan sesuai keinginan, Lusi sampai harus mengundang MUA secara khusus untuk mendandaninya. Vivian adalah penyelamat mereka. S
Berita tentang pernikahan antara Arsenio Kertanegara dengan Vivian Wibisono telah menjadi pembicaraan dimana-mana. Bukan hanya di kampus tempat Vivian kuliah, bahkan di lingkungan kerja Eliana. Biasanya profesi mereka yang selalu dekat menjadi sasaran gosip infotainment. Sialnya, kali ini Eliana bukan lagi bintang utama, melainkan Vivian. Sosok yang sebelumnya tidak pernah terdengar namanya."Hei, bukannya gosip sebelumnya bilang kalau Arsenio akan menikah dengan elu, El?” “Eh, iya bener. Jadi, wartawan salah ngutip nama apa gimana?”“Gue kira hadiah barang-barang mewah itu akan berakhir dengan pernikahan. Ternyata hanya pendekatan dan perhatian dari seorang calon adik ipar.”Salah satu yang mendongkrak popularitas Eliana adalah keterkaitannya dengan Arsenio. Media selalu menganggap adanya hubungan spesial antara dirinya dengan Presdir muda itu, hingga nama Eliana menjadi makin dikenal. Berita yang beredar belakangan ini adalah sebuah anti klimaks yang mengubah pandangan semua orang.
Pagi-pagi, Vivian sudah sampai di parkiran fakultas. Kuliah pagi. Gadis itu berjalan menyusuri koridor kampus yang sudah ramai dengan mahasiswa. Seperti biasa, gadis ini melangkah dengan gagah berani menuju kelasnya. Suasana kampus agak sedikit ganjil. Dia bisa mendengar kasak-kusuk dari gerombolan mahasiswa yang dilewatinya. Mereka sedang bergosip, itu bukan hal istimewa. Yang yang membuatnya curiga adalah tatapan mata yang dihujamkan padanya, diantara kasak-kusuk tersebut.Sikap mereka yang ganjil itu mengundang rasa penasaran Vivian. ‘Hei, apa ada yang aneh dengan penampilan gue?’Langkah demi langkah terus dilaluinya, meski dengan rasa tidak nyaman.“Ish, natapnya gitu banget. Apa jangan-jangan, mereka sudah tahu kalau gue adik dari Eliana Wibisono?” tebaknya. Vivian yakin dengan tebakannya. Mereka semua pasti sedang membandingkan dirinya dengan Eliana yang putih, tinggi, cantik paripurna. Diam-diam, Vivian mendengus."Emang kalau gue sama Eliana beda, kenapa?” keluhnya. Vivian l
Vivian berkali-kali memukul stir mobilnya dengan geram. Suasana hatinya sangat buruk sejak semalam. Arsenio telah berhasil melemparkan granat yang membakar habis seluruh kesabaran dalam dirinya. Saat ini, dia sedang dalam perjalanan menuju ke klub karate, tempat dia menghabiskan waktu selain dari kampus."Dasar cowok sok kecakepan, ga sadar diri. Seenaknya nentuin hari untuk ketemuan," gerutunya di dalam mobilnya.Hari ini, Vivian butuh pelampiasan. Satu-satunya tempat yang memenuhi syarat untuk menstabilkan emosinya adalah tempat latihan. Dia ingin segera mendapatkan samsak untuk dipukul habis-habisan supaya hatinya lega.“Liat aja ntar siang, elu bakal gue bikin babak belur,” sungutnya. Kulit wajahnya yang eksotis terlihat lebih gelap karena amarah.Begitu sampai, Vivian memarkirkan mobilnya serampangan. Hari masih pagi, tidak banyak yang datang sepagi ini biasanya. Hanya ada kendaraan Bang Doni dan Kania di parkiran."Kok bete gitu kenapa, Vi?" tanya Doni yang kebetulan berpapasan
"Semua informasi tentang Nona Vivian Wibisono ada di sini, Presdir.” Rega menyerahkan berkas hasil penyelidikannya. Arsenio membaca cepat beberapa hal yang menurutnya dibutuhkan. Arsenio meregangkan jemarinya. Dengan posisi dua tangan membuat segitiga di depan dada, memindai detail wajah Rega yang berekspresi siap menerima tugas baru.“Kamu tidak melewatkan sedikitpun, bahkan ketika seekor semut menggigit gadis ingusan itu kan?” Arsenio menekankan hal ini, menunjukkan betapa pentingnya masalah ini. Kendati dia sudah hafal dengan hasil kerja Rega selama ini. Tak ada salahnya memberi peringatan.“Semua informasi tidak ada yang terlewat, Presdir.” Rega percaya diri.Di detik berikutnya, Arsenio sudah membuka tumpukan berkas di tangannya, “good job, Rega.” Rega tersenyum senang melihat wajah puas majikannya. Gegas, dia keluar ruangan. Tak ingin mengganggu Arsenio yang mulai sibuk membaca semua informasi yang dia inginkan tentang Vivian."Ah, benar saja dugaanku. Usianya masih bocil, 19
Arsenio melemparkan pandangan ke luar jendela. Bahunya lunglai di sandaran kursi roda. Kendati tampak dingin tak tersentuh, sejujurnya kedatangan Vivian itu cukup memberi pukulan keras untuknya. Keluarga Wibisono jelas sedang mempermainkan dirinya. Sebelumnya, Hendrawan datang memohon bantuannya. Sebagai kompensasi, pria tua itu menjanjikan pernikahan dengan Eliana. Tapi apa? Sekarang, mereka akan mengubah pengantin wanita sesuka hati. Entah darimana keluarga Wibisono mendapatkan keberanian itu.Jemari pemuda yang duduk di kursi roda itu mengepal. Jejak amarah tercetak jelas di wajahnya. Pertama, Hendrawan Wibisono sengaja mempermainkan perasaannya. Mereka jelas tahu ketertarikan Arsenio pada Eliana. Lalu, dengan modal kepercayaan diri itu, menawarkan pernikahan, tapi baru selang sehari mereka malah berniat mengganti pengantin. Ini adalah penghinaan yang belum pernah dirasakannya.Dalam hidupnya, kecuali kecelakaan yang telah menjadikannya lumpuh, Arsenio adalah pria yang cemerlang.







