Mag-log inPagi ini, suasana meja makan kediaman Wibisono tampak lebih ceria. Awan kelabu yang semalam bergelayut di wajah Hendrawan telah tersapu angin segar. Senyuman juga terus merekah di bibir Lusi dan Eliana. Tampaknya, mereka sudah bulat mengambil keputusan untuk menumbalkan Vivian sebagai pengantin, menggantikan Eliana. Bisa dibilang, hanya Vivian, satu-satunya orang yang canggung. Di satu sisi, dia ingin melampiaskan amarah pada keluarganya. Menyuarakan ketidakadilan yang telah menimpanya sejak kecil. Tapi, rasa apatis telah mengikis kepercayaan diri yang dimilikinya.
Vivian tahu kalimat yang akan diucapkan ibunya. “Jangan manyun gitu, Vi. Harusnya kamu lebih banyak bersyukur. Kalau Eliana nggak ngalah, kamu nggak bakalan ada kesempatan punya calon suami seperti Arsenio!” Nah kan, baru saja Vivian membatin, Lusi sudah bicara persis seperti yang diperkirakannya. “Tuh, dengerin Mami, Vi. Elu harus berterimakasih sama gue. Lumpuh-lumpuh gitu, Arsenio itu kaya raya. Bahkan kekayaannya nggak akan habis elu pakai foya-foya sampai tujuh turunan. Ha-ha-ha.” Eliana tertawa keras sambil melirik Vivian meremehkan. Sekilas, Vivian bisa menangkap senyum tipis di bibir Lusi. Pemandangan biasa. Ibunya yang baik itu memang selalu pilih kasih. Eliana adalah kebanggaan keluarga ini. Sedangkan Vivian hanya anak yang tidak diharapkan. Gadis manis dengan rambut diikat ekor kuda itu secara samar masih bisa merasakan rasa sakit menikam hatinya. Meski sudah terbiasa, sampai detik ini, Vivian sama sekali tidak mengerti bagaimana bisa seorang ibu bisa bersikap sedingin itu padanya. “Yang penting, elu harus bikin dia jatuh cinta sama elu. Yaa, meski itu agak nggak masuk akal, tapi nggak ada salahnya elu coba.” Eliana menatap jijik pada penampilan adiknya. Jelas, dia sedang mengejek dan memandang sebelah mata. Meski mereka kakak beradik, tapi penampilan mereka berbeda seratus delapan puluh derajat. Eliana memiliki penampilan yang anggun, kulit seputih susu dan cantik memikat. Tatapan matanya lembut dipadukan dengan senyuman yang indah. Cukup sekali pandang, orang sulit untuk tidak jatuh cinta. Sementara Vivian, kulitnya eksotik jauh dari kata putih. Tatapan matanya tajam memancarkan kejelian dan kecerdasan. Postur tubuh tegap memancarkan aura tegas dan disiplin. Mereka mewakili dua versi kecantikan yang berbeda. “Kamu harus belajar cara berpakaian dan penampilan Eliana, Vi. Makin mirip kamu dengan Eliana, kesempatan kamu untuk membuat Arsenio jatuh cinta, makin besar!” Lusi menimpali. “Nah, benar kata Mami. Elu harus jadi peniru yang baik! Ha-ha-ha.” Vivian mendengus. Tak ingin mendengar basa-basi ibu dan anak itu lagi, dia melemparkan botol saos dan mendarat persis di kepala Eliana. Eliana mengaduh kesakitan. “Sialan! Brengsek kamu, Vivian!” Eliana bangkit bersiap untuk menyerang Vivian. “Elu butuh waktu sepuluh tahun buat ngalahin gue. Kalau elu nekat, gue jamin. Yang bakalan luka bukan cuma kepala elu aja, El.” Mendengar suara Vivian yang dingin, bibir Eliana mengerucut. Lalu memasang wajah memelas penuh kesedihan pada Lusi. “Mami, Mami harus kasih hukuman Vivian sekarang!” raung Eliana. Lusi memeriksa kepala Eliana yang terkena lemparan botol saos. Bekas merah di jidat Eliana membuat Lusi ikut meradang. Wanita paruh baya itu berjalan ke arah Vivian dan menampar pipi anak bungsunya. Plaakk Tatapan Lusi berkilat penuh kebencian. “Jika ada lain kali, Mami nggak akan segan untuk ngusir kamu dari rumah ini, Vi!” Kalimat itu terdengar begitu dingin. Tak ada kehangatan kasih sayang seorang ibu. Di saat yang sama, kilatan kebencian terpancar di mata Lusi. Vivian terkejut. Ini adalah pertama kalinya dia melihatnya. Tatapan yang begitu jauh dan asing. “Mami mau ngusir aku? Serius?!” Bibir Lusi terbuka. Bersiap menumpahkan sumpah serapah untuk Vivian. Namun, tiba-tiba dia teringat dengan kegunaan Vivian. Hanya jika Vivian menikah dengan Arsenio, nasib mereka bisa terselamatkan. Dia terpaksa menelan rasa kesal dan kemarahan yang sudah siap meledak. **** “Cukup! Berhenti bikin ulah, Vi!” Suara Hendrawan mencairkan ketegangan yang memuncak. “Papi juga ikutan nyalahin Vi?” Vivian memekik tak percaya. Meski dia tidak berharap ayahnya bersikap adil, biasanya Hendrawan tidak pernah ikut campur dengan memihak salah satu dari mereka, jika dua putrinya bertengkar. “Papi nggak bermaksud gitu. Tapi, bisakah kalian berhenti bertengkar? Papi sakit kepala!” Hendrawan memijat pelipisnya yang berdenyut. “Baik, aku nggak akan bicara.” Vivian bangkit dari tempat duduknya dengan kekecewaan yang bertumpuk. Satu tamparan dari ibu dan bentakan ayah cukup membuat paginya suram. Langkah kakinya terayun meninggalkan rumah yang tak pernah memberinya rasa nyaman. Rasa sesak yang menggunung harus ditumpahkan. Begitu gadis manis itu duduk di belakang kemudi, detik berikutnya sudah melesat meninggalkan kediaman Wibisono. Otaknya sudah berkelana memikirkan segala kemungkinan yang bisa dilakukannya dalam situasi ini. Jika harus terjebak dalam pernikahan ini, Vivian harus menjadikan pernikahan ini dalam kendalinya. Bukan sebagai pihak lemah yang tak punya daya tawar. Bahkan harus meniru penampilan Eliana. Dia tidak sudi. “Baiklah, karena kalian berniat menjual gue, jangan salahin gue kalau hubungan darah ini harus selesai sampai di sini,” geramnya. Jemarinya mencengkeram kemudi. Bohong kalau Vivian tidak sedih. Diperlakukan buruk oleh orang tua kandung, rasa sakitnya menghujam di ulu hati. Kristal bening tumpah dari sudut mata. Ponselnya berdenting. Ada notifikasi dari aplikasi hijau. Vivian mengurangi laju mobilnya. Itu adalah chat dari Kania, sahabatnya. [Vi, lihat deh, ada berita tentang kakak elu!] Dahi Vivian berkerut, jarinya tidak sabar meng-klik tautan yang dikirim Kania. [Benarkah Model Cantik Eliana Wibisono akan menerima Cinta Presdir Kertanegara Corp] [Emang benar kakak elu nolak pernikahan itu, Vi?] [Trus gimana keputusan keluarga elu?] Hanya jeda beberapa menit, Kania sudah memberondong Vivian dengan berbagai pertanyaan. [Angkat telpon gue, Key] Terlalu malas untuk membalas chat Kania, lebih nyaman bicara langsung. Tidak sampai satu menit, suara Kania yang berisik penuh rasa penasaran sudah memenuhi gendang telinga. “Gue yang disuruh gantikan El nikah sama Arsenio, Key.” “What? Kok bisa? Emang Arsenio mau? Bukannya dia cinta banget sama El?” Siapa yang tidak tahu bagaimana Arsenio memanjakan Eliana selama ini. Pria kaya itu sering mengirim hadiah-hadiah mahal setiap kali Eliana tampil di panggung. “Sorry, sorry, gue nggak bilang elu jelek, Vi. Tapi, jadi pengganti Eliana. Arsenio nggak mungkin mau?” “Lebih baik mana, nikah sama gue untuk nyelamatin reputasi dia atau nolak gue dan harga dirinya hancur karena ditolak Eliana?” Vivian akhirnya menemukan jalan keluar untuk dirinya sendiri. Bibir gadis itu terangkat naik membentuk sudut. “Maksud elu?” “Keknya, ini kesempatan gue untuk deketin Arsenio.” Sebuah rencana sudah tersusun di kepala Vivian. Alih-alih menjadi pengganti, gadis manis itu akan menawarkan kerjasama saling menguntungkan. Tergesa, dia membulatkan tekad untuk bertemu dengan Arsenio hari ini. “Tunggu, tunggu! Jangan bilang elu mau bikin kontrak nikah dengan Arsenio?!” “Ya, Key. Tebakan elu tepat banget.” Entah kenapa ada rasa bahagia membuncah di dadanya. “Hah? Trus gimana kalau dia nolak?” “Nggak akan!” Vivian sudah mempunyai keyakinan hampir sembilan puluh persen. Meski dia belum pernah bertemu dengan Arsenio, harusnya bicara dengan pria itu tidak terlalu sulit, kan? Kania mendesah. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Satu sisi, tidak tega mematahkan kepercayaan diri Vivian. Sisi lain, dia takut pertimbangan sahabatnya itu salah. Jadi, Kania hanya bisa menghela napas berulang kali.TingPithecanthropus Erectus mengirim pesan.[Dandan yang cantik!]Vivian mengetik sebagai balasan.[Dih, ribet.] Centang biru. Pithecanthropus Erectus sedang mengetik…Ting[Buat mamiku terkesan!]Vivian mendengus membaca balasan dari Arsenio. “Emang gue pikirin. Mau terkesan apa kagak, toh pernikahan ini hanya pura-pura.”[Ogah.] Centang biru. Pithecanthropus Erectus mengetik…Ting[Kalo gue kecewa sama penampilan elu. Gue pastikan elo dapat hukuman setimpal.]"Eleh, bisanya ngancam," sungut Vivian kesal. Bibirnya cemberut.Setelah itu dia mengabaikan ponselnya. Terlalu malas harus berdebat dengan spesies manusia purba zaman neozoikum itu.Tanpa disuruh oleh Arsenio-pun, pastinya Vivian sudah didandani maximal. Tidak mungkin dia menemui calon mertua dengan penampilan tomboy-nya, kan. Saking seriusnya menyiapkan penampilan Vivian supaya segala sesuatunya berjalan sesuai keinginan, Lusi sampai harus mengundang MUA secara khusus untuk mendandaninya. Vivian adalah penyelamat mereka. S
Berita tentang pernikahan antara Arsenio Kertanegara dengan Vivian Wibisono telah menjadi pembicaraan dimana-mana. Bukan hanya di kampus tempat Vivian kuliah, bahkan di lingkungan kerja Eliana. Biasanya profesi mereka yang selalu dekat menjadi sasaran gosip infotainment. Sialnya, kali ini Eliana bukan lagi bintang utama, melainkan Vivian. Sosok yang sebelumnya tidak pernah terdengar namanya."Hei, bukannya gosip sebelumnya bilang kalau Arsenio akan menikah dengan elu, El?” “Eh, iya bener. Jadi, wartawan salah ngutip nama apa gimana?”“Gue kira hadiah barang-barang mewah itu akan berakhir dengan pernikahan. Ternyata hanya pendekatan dan perhatian dari seorang calon adik ipar.”Salah satu yang mendongkrak popularitas Eliana adalah keterkaitannya dengan Arsenio. Media selalu menganggap adanya hubungan spesial antara dirinya dengan Presdir muda itu, hingga nama Eliana menjadi makin dikenal. Berita yang beredar belakangan ini adalah sebuah anti klimaks yang mengubah pandangan semua orang.
Pagi-pagi, Vivian sudah sampai di parkiran fakultas. Kuliah pagi. Gadis itu berjalan menyusuri koridor kampus yang sudah ramai dengan mahasiswa. Seperti biasa, gadis ini melangkah dengan gagah berani menuju kelasnya. Suasana kampus agak sedikit ganjil. Dia bisa mendengar kasak-kusuk dari gerombolan mahasiswa yang dilewatinya. Mereka sedang bergosip, itu bukan hal istimewa. Yang yang membuatnya curiga adalah tatapan mata yang dihujamkan padanya, diantara kasak-kusuk tersebut.Sikap mereka yang ganjil itu mengundang rasa penasaran Vivian. ‘Hei, apa ada yang aneh dengan penampilan gue?’Langkah demi langkah terus dilaluinya, meski dengan rasa tidak nyaman.“Ish, natapnya gitu banget. Apa jangan-jangan, mereka sudah tahu kalau gue adik dari Eliana Wibisono?” tebaknya. Vivian yakin dengan tebakannya. Mereka semua pasti sedang membandingkan dirinya dengan Eliana yang putih, tinggi, cantik paripurna. Diam-diam, Vivian mendengus."Emang kalau gue sama Eliana beda, kenapa?” keluhnya. Vivian l
Vivian berkali-kali memukul stir mobilnya dengan geram. Suasana hatinya sangat buruk sejak semalam. Arsenio telah berhasil melemparkan granat yang membakar habis seluruh kesabaran dalam dirinya. Saat ini, dia sedang dalam perjalanan menuju ke klub karate, tempat dia menghabiskan waktu selain dari kampus."Dasar cowok sok kecakepan, ga sadar diri. Seenaknya nentuin hari untuk ketemuan," gerutunya di dalam mobilnya.Hari ini, Vivian butuh pelampiasan. Satu-satunya tempat yang memenuhi syarat untuk menstabilkan emosinya adalah tempat latihan. Dia ingin segera mendapatkan samsak untuk dipukul habis-habisan supaya hatinya lega.“Liat aja ntar siang, elu bakal gue bikin babak belur,” sungutnya. Kulit wajahnya yang eksotis terlihat lebih gelap karena amarah.Begitu sampai, Vivian memarkirkan mobilnya serampangan. Hari masih pagi, tidak banyak yang datang sepagi ini biasanya. Hanya ada kendaraan Bang Doni dan Kania di parkiran."Kok bete gitu kenapa, Vi?" tanya Doni yang kebetulan berpapasan
"Semua informasi tentang Nona Vivian Wibisono ada di sini, Presdir.” Rega menyerahkan berkas hasil penyelidikannya. Arsenio membaca cepat beberapa hal yang menurutnya dibutuhkan. Arsenio meregangkan jemarinya. Dengan posisi dua tangan membuat segitiga di depan dada, memindai detail wajah Rega yang berekspresi siap menerima tugas baru.“Kamu tidak melewatkan sedikitpun, bahkan ketika seekor semut menggigit gadis ingusan itu kan?” Arsenio menekankan hal ini, menunjukkan betapa pentingnya masalah ini. Kendati dia sudah hafal dengan hasil kerja Rega selama ini. Tak ada salahnya memberi peringatan.“Semua informasi tidak ada yang terlewat, Presdir.” Rega percaya diri.Di detik berikutnya, Arsenio sudah membuka tumpukan berkas di tangannya, “good job, Rega.” Rega tersenyum senang melihat wajah puas majikannya. Gegas, dia keluar ruangan. Tak ingin mengganggu Arsenio yang mulai sibuk membaca semua informasi yang dia inginkan tentang Vivian."Ah, benar saja dugaanku. Usianya masih bocil, 19
Arsenio melemparkan pandangan ke luar jendela. Bahunya lunglai di sandaran kursi roda. Kendati tampak dingin tak tersentuh, sejujurnya kedatangan Vivian itu cukup memberi pukulan keras untuknya. Keluarga Wibisono jelas sedang mempermainkan dirinya. Sebelumnya, Hendrawan datang memohon bantuannya. Sebagai kompensasi, pria tua itu menjanjikan pernikahan dengan Eliana. Tapi apa? Sekarang, mereka akan mengubah pengantin wanita sesuka hati. Entah darimana keluarga Wibisono mendapatkan keberanian itu.Jemari pemuda yang duduk di kursi roda itu mengepal. Jejak amarah tercetak jelas di wajahnya. Pertama, Hendrawan Wibisono sengaja mempermainkan perasaannya. Mereka jelas tahu ketertarikan Arsenio pada Eliana. Lalu, dengan modal kepercayaan diri itu, menawarkan pernikahan, tapi baru selang sehari mereka malah berniat mengganti pengantin. Ini adalah penghinaan yang belum pernah dirasakannya.Dalam hidupnya, kecuali kecelakaan yang telah menjadikannya lumpuh, Arsenio adalah pria yang cemerlang.







