Share

Bab 47

Penulis: Ummu Nadin
last update Tanggal publikasi: 2026-11-02 08:42:22

Dada Rahardian berdentam kencang, saat mobil Porsche 911 hitam milik Arsenio berhenti tepat di sebelah mobilnya di lampu merah. Akhir-akhir ini, Rahardian merasa menjadi manusia hidup yang memiliki jantung. Tepatnya, ketika dia mulai tertarik dengan Vivian.

Puluhan tahun dia hidup seperti manusia es yang beku, tak pernah merasakan irama degup jantungnya sendiri. Semua terasa beku dan dingin. Kepalan tangannya mengerat pada stir mobil, menahan degup.

"Yan, itu bukannya mobil putra mahkota Kertan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 56

    Empat jam berlalu, pria bertubuh tegap tanpa senyum itu masih setia duduk di bangku coffee shop. Mengambil tempat di pojokan yang jauh dari jangkauan pengunjung lain. Aura dingin dan penyendiri. Bahkan seekor nyamuk pun merasa enggan untuk mendekat. Rahardian menyesap secangkir espresso double shot kesukaannya.Tumpukan buku tebal menambah aura tak ingin diganggu yang tertulis di dahinya. Kurang lebih dua pekan berlalu Rahardian menghabiskan waktu seperti ini. Sepulang dari kampus, dia akan membaca buku di tempat ini sampai kedai tutup. "Cangkir keempat, Yan?" Enrico tersenyum cerah saat mengantar secangkir espresso double shot untuk yang keempat kalinya.Enrico adalah pemilik kedai kopi merangkap tugas sebagai baristanya. Mereka berteman sejak sekolah menengah, dulu."Mau dibuatkan nasi goreng, Yan?" tanyanya lagi.Rahardian menggeleng."Nggak lapar? Dari tadi elo cuman makan waffle loh." Rahardian tak menjawab. Bahkan tidak menoleh. Matanya masih sibuk menelusuri barisan huruf di

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 55

    Sore itu, Pantai Perissa tampak semakin memesona. Matahari mulai condong ke barat, memantulkan warna keemasan di atas permukaan Laut Aegea. Angin Mediterania bertiup lembut, memainkan helai rambut Vivian yang tergerai di balik topi pantainya.Vivian duduk di kursi santai sambil memeriksa ponselnya. Hari ini akan menjadi hari terakhir di Santorini. Arsenio bersedia mengembalikan ponsel. Begitu Vivian menyalakannya, ada begitu banyak pesan telah mengantre masuk. Sudah lima hari sejak hari itu. Sesekali bibirnya melengkung membaca pesan yang masuk.Arsenio yang duduk di sebelahnya sejak tadi memperhatikan gerak-gerik perempuan itu."Siapa yang bisa bikin elu senyum kek gitu?"Vivian tidak mengangkat wajah. "Teman.""Teman yang mana?"Vivian akhirnya menoleh. "Memangnya gue juga harus melaporkan semua orang yang chat gue?” "Nggak juga. Gue cuma nanya.""Kalau hanya bertanya, kenapa nadanya seperti sedang menginterogasi tersangka?"Arsenio mendengus pelan. Ia menyandarkan punggungnya, ber

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 54

    "Sialan.” Natasya menggertakkan gigi. Langkahnya gontai menyusuri lorong menuju ruang HRD. Harusnya dia bersikap lebih hormat pada leluhur wanita itu. Tapi mana dia tahu, kalau Penelope adalah orang penting di perusahaan ini.Sebanyak apapun penyesalan, hari ini dia telah kehilangan pekerjaan yang telah susah payah didapatkan.“Nyalinya cukup besar sampai berani mengusir Nyonya Penelope, ckck.” Berita itu cepat menyebar di antara karyawan. “Padahal Presdir Arsenio sendiri rela ditindas Nyonya Penelope. Dia hanya seorang sekretaris begitu tidak tahu diri.”Di bawah tatapan karyawan yang ada di kanan kiri lorong yang dipenuhi kubikel. Beberapa bulan ini, Natasya selalu bersikap tinggi hati di depan karyawan lain. Memandang rendah, seakan dialah bos di kantor ini."Ngapain lihat-lihat?" bentak Natasya dengan mata mendelik. “Dih, udah dipecat masih belagu!” “Dikira bisa jadi Nyonya Kertanegara jalur ranjang. Padahal dia nggak tahu sekejam apa keluarga Kertanegara pada wanita kek elu.”

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 53

    Suasana hati Natasya sangat buruk. Dua pekan berlalu Arsenio absen dari kantor, Natasya merasa bosan. Baginya, wajah tampan Arsenio telah menjadi semacam penyemangat. Asalkan bisa melihat Arsenio tiap hari meski hanya dari jauh, dia rela.“Kapan bulan madu sialan itu usai?!” sungutnya pelan, melirik berkas yang menumpuk di meja, antri menunggu tanda tangan Arsenio. Segala sesuatunya terasa membosankan.Natasya menatap layar ponselnya dengan sorot mata penuh kebencian. Arsenio baru saja mengunggah foto profil WhatsApp. Dalam foto itu, Arsenio terlihat berdiri di samping Vivian dengan latar belakang laut biru Santorini. Pria yang selama ini bersikap dingin padanya itu tampak begitu bahagia. Bahkan, satu tangannya melingkar di pinggang sang istri.Natasya memperbesar foto tersebut. Dadanya makin sesak.Wajah pria itu makin tampan saat tersenyum lebar. Senyuman yang begitu sulit didapatkannya, kini justru diberikan kepada perempuan lain."Dasar perempuan jalang tidak tahu diri!" desisnya

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 52

    Pagi itu, suasana meja sarapan terasa sedikit berbeda. Vivian duduk di ujung meja dengan wajah yang berusaha terlihat senormal mungkin. Tangannya sibuk mengaduk teh, meskipun sejak tadi sendok itu hanya berputar-putar tanpa tujuan. Setelah apa yang terjadi, dia tidak mungkin sepenuhnya menganggap bahwa tidak ada yang terjadi. Tiap tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan pemilik iris obsidian itu, Vivian hanya bisa menundukkan kepala.Masih ada sisa suasana hati yang buruk, meski rasa canggung terasa lebih mendominasi. Arsenio menyesap espresso double shot. Biasanya pria itu akan duduk santai sambil membaca berita di tabletnya. Namun pagi ini, tablet tersebut bahkan belum dinyalakan. Arion melirik keduanya bergantian. Pria bule itu bisa mencium aroma tak biasa. Tak ada perdebatan. Tak ada tatapan kesal. Hanya diam yang canggung."Something wrong?" tanyanya dengan mata menyipit. Vivian pura-pura tuli. Sementara Arsenio menyalakan tablet, pura-pura sibuk.Arion berjalan mendekat, lalu

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 51

    Ketika semuanya usai, kamar itu mendadak terasa terlalu sunyi. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar, sementara Vivian berbaring membelakangi Arsenio. Wajahnya masih terasa panas. Entah karena malu, gugup, atau karena ia sendiri belum benar-benar memahami apa yang baru saja terjadi di antara mereka.Arsenio pun tidak jauh berbeda. Linglung.Lelaki itu menatap langit-langit kamar dalam diam. Untuk pertama kalinya, pria smart dengan prestasi menggemparkan dunia bisnis itu tampak seperti orang bodoh.Tangannya bergerak pelan, kemudian berhenti di udara sebelum akhirnya menarik selimut untuk menutupi bahu Vivian.“Vivian…”Beberapa detik berikutnya, tetap sunyi. Tidak ada jawaban. Arsenio menarik tubuh Vivian mendekat. Dia tidak tahan diabaikan.“Arsen!” Vivian meronta. Sial, tenaganya telah terkuras. Tak bisa melepaskan diri dari cengkeraman pria yang memeluknya erat dari belakang. Yang tidak dipahaminya, bagaimana bisa Arsenio masih mempunyai tenaga sebesar itu setelah apa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status