Share

BAB 3

Kita menikah”

Gelegar bunyi petir terdengar dari luar, tak berselang lama hujan pun turun cukup deras. Bau tanah basah menyelinap masuk melalui jendela kamar yang terbuka sedikit. Aruna bangun dan menutup rapat jendela dengan sebelah tangan, karena satu tangannya yang lain masih memegang ponsel di telinga, meski tadi ia sempat ingin melempar ponsel itu begitu Damar mengatakan kalimat yang membuatnya entah melayang entah jatuh terperosok, akal sehat Aruna masih berjalan dan mengingatkannya berapa lembar Rupiah yang harus ia keluarkan untuk mendapatkan benda ini.

Kamu mabuk.” Decak Aruna kesal.

Kamu tahu kadar toleransiku pada alkohol, aku tak mungkin mabuk.”

“Artinya kamu gila sama seperti ayahmu.”

Damar mendengus, Aruna dapat menangkap deru mesin mobil di seberang sana.

“Kamu sedang mengemudi, berhenti menghubungiku.”

“Kamu tak berubah, tetap sama seperti dulu.”

Aruna memejamkan mata dalam-dalam dan menghembuskan nafas keras-keras seolah-olah dengan begitu sesak yang ia rasakan akan ikut menghilang. Tanpa berfikir panjang dan menunggu tanggapan Damar, Aruna memutuskan sambungan. Dengan kasar Aruna menyentak tirai jendela membuat beberapa kancing di atas tirai berjatuhan. Aruna menjatuhkan tubuhnya telungkup di atas tempat tidur. Lagi-lagi ia menangis teredam bantal, membiarkan suara tangisannya tak terdengar siapapun, hal yang sama yang gadis itu lakukan lima tahun lalu.

000ooo000

“Say Cheese!” Teriak Kirei, gadis berambut coklat kemerahan itu orang yang nampak paling semangat hari ini.

Lima orang lainnya mengikuti instruksi Kirei mengatakan Keju dan berpose di depan kamera dengan gaya yang hampir sama persis, mengacungkan dua jari membentuk symbol perdamaian. Setelah kamera itu berbunyi “biip!” semua kembali seperti semula. Rangkulan di bahu Aruna pun menghilang, ia menjauh dan menjaga jarak seperti dua hari yang lalu.

Aruna bosan untuk terus berpura-pura tersenyum dan nampak baik-baik saja. Ia bukan gadis baik dan berhati lapang yang dapat menerima kenyataan ini begitu saja. Maka setelah sesi foto bersama selesai, Aruna membereskan barang-barangnya dan berjalan meninggalkan mereka.

“Runa, mau kemana? Kita pulang bersama.” Kejar Sigit, pria chubby itu menahan bahu Aruna dan memaksanya berbalik.

“Kamu…menangis, kenapa?”

Aruna menggeleng, dan berbohong karena tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya itu akan membuatnya terlihat semakin terpuruk “Aku harus segera pulang, Bibi baru saja menghubungiku.”

“Acaranya baru saja dimulai, ini kesempatan terakhir kita berkumpul sebelum kita masuk universitas.” Sigit memasang tampang memelas,” Ayolah, sekali ini saja. Biar aku yang mengantarmu pulang nanti dan minta maaf pada bibi.”

“Maaf, tapi aku harus pulang.”

“Kalau ia ingin pergi, biarkan saja!”

Sigit berbalik, “Damar,kamu diam saja kalau tak ingin membantu!”

Damar menghampiri Sigit dan Aruna, “Tak ada gunanya menahan orang yang akan pergi jika dari awal ia memang tak pernah ingin datang.”

“Apa kalian bertengkar?” Baik Kirei maupun yang lain kini sudah mengerubungi mereka dan meninggalkan barbeque yang tadi menjadi santapan yang paling ditunggu-tunggu.

“Benar, tak biasanya seperti ini. Sejak awal aku sudah curiga melihat kalian datang terpisah.” Timpal Kinanti

“Aah…jangan-jangan isu yang beredar benar, kalian memang sepasang kekasih!” Tebak Dimitri, ia tersenyum usil.

“Kamu lihat Runa, sampai kapan kamu akan bertingkah seperti anak kecil?” Tanya Damar

Aruna mengangguk, “Kamu benar Tuan muda , aku memang seperti anak kecil. Aku kekanak-kanakan, bahkan aku terlalu bodoh mengartikan semua yang kamu lakukan sebagai hal yang lain. “

000ooo000

Malam telah tiba, Aruna tak menyadari berapa lama waktu yang ia habiskan untuk kembali menangisi pria itu. Setiap kali teringat tentang betapa bodohnya ia saat tujuh belas tahun dulu, Aruna tak dapat menghentikan tangisnya. Seharusnya sejak mengenal pria itu, Aruna tak perlu menaruh harapan berlebihan, bagaimanapun Damar memang terlahir sebagai cassanova.

Setelah mengganti bath robe dengan piyama, gadis itu keluar kamar berniat mendiskusikan kepindahan mereka esok dengan Juna.

“Paman, besok kita berangkat jam berapa? Aku harus ke kantor sebentar mengajukan surat pengunduran diri.” Kata Aruna seraya menuangkan segelas air membelakangi meja makan yang penuh dikelilingi keluarganya.

“Kamu tak perlu pergi ke kantor lagi, sore ini masa magangmu resmi dihentikan.”

Sontak Aruna berbalik, dan ia tak dapat mencegah gelas dalam genggamannya meluncur ke bawah begitu saja.

“Sedang apa kamu disini?”

“Runa, tidak sopan bertanya seperti itu pada calon suami mu. Duduklah dulu, biar pecahan gelas itu aku yang bersihkan.” Kata Sara sambil mendorong Aruna duduk.

“Kamu, untuk apa ke sini?” Ulang Aruna, ia memandang Sara dari ujung matanya.

Kenapa Sara bersikap manis pada Damar, seharusnya Sara membenci Damar sebagaimana Aruna membenci Damar sekarang. Sara menjadi salah satu orang yang tahu persis bagaimana kisah diantara mereka. Dan apa tadi? Sara mengatakan Damar calon suaminya? Damar pasti telah mengatakan hal yang tidak-tidak pada Sara.

“Merundingkan hal yang belum selesai.”

“Kurasa tak ada yang harus di selesaikan karena tak pernah ada yang dimulai, bukankah itu –“

“Damar, tambah ikannya?” Tanya Nenek dan sebelum sempat Damar menjawab, nenek sudah menaruh potongan ikan tanpa duri di atas nasi Damar.

“Terima kasih, Nek.”

Baik Aruna, Juna maupun Sara membeku melihat Nenek memanggil Damar dengan nama, Nenek masih mengingat Damar. Hal yang aneh, padahal pada anak, menantu serta cucunya sendiri Nenek sama sekali tak ingat.

“Kamu bertambah gemuk dari terakhir kali datang ke sini, senang melihatmu sehat.”

“Ibu…”Panggil Sara lirih, ia membiarkan sapu tergeletak begitu saja.

Nenek menoleh pada Sara, “ Bibi, berhati-hatilah pecahan gelas itu tajam. Kamu harus membersihkannya segera, aku takut Nona tak sengaja menginjaknya nanti.”

“Kenapa Nenek mengingatnya sementara sama sekali tak mengingat kami?” Tanpa sadar Aruna memekik pada Nenek, membuat Nenek mengerjap ketakutan. Sara segera memeluk Nenek yang gemetar, berusaha menenangkan Nenek.

“Aruna, kendalikan dirimu!” Juna membentak Aruna, hal yang tak pernah ia lakukan pada Aruna sebelumnya, “Aku tak pernah membesarkanmu untuk bersikap kasar.”

“Paman, mewakili Aruna aku meminta maaf untuk sikapnya. Ia sedang kesal padaku, hingga tak dapat mengendalikan emosinya.” Kata Damar menengahi suasana yang hampir memanas.

Aruna mendesis, sedang berusaha mengambil hati Paman? Lihat saja bagaimana Paman akan memukulmu hingga masuk ICU jika tahu apa yang kau lakukan pada keponakannnya.

“Aku juga ingin meminta ijin membawa Aruna keluar sebentar, kurasa kami perlu berbicara berdua, menyelesaikan masalah kami.”

Juna melirik bergantian Damar dan Aruna, “Pergilah, dan jangan pulang larut. Bagaimanapun kalian belum menikah.”

Aruna membelalakan mata tak percaya, pamannya yang terkenal protektif kenapa berubah lunak?

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status