Share

Trauma

Author: Arrana
last update Petsa ng paglalathala: 2025-09-13 15:20:25

Kanaya terbangun di tengah malam. Jam di dinding menunjukkan pukul 01.17.

Rumah kontrakan itu senyap, hanya suara detak jam yang terdengar begitu jelas.

Angin malam menyusup dari celah jendela, membuat gorden tipis bergoyang perlahan.

Ia mengusap wajahnya, mencoba menenangkan dada yang terasa sesak.

Tidak ada mimpi buruk malam ini, tapi entah mengapa perasaan gelisah menghantam tanpa peringatan. Seperti ada sesuatu yang menunggu di luar sana.

Tangannya meraih segelas air di meja samping tempat
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menikahi Pria Culun Konglomerat   Epilog

    Tidak ada yang benar-benar kembali seperti semula. Dan memang tidak ada hal yang harus diulang untuk memastikan sesuatu sudah berubah.Beberapa tahun setelah semuanya berakhir, Kanaya sudah tidak lagi menghitung hari dengan luka sebagai penanda waktu. Hidupnya berjalan dengan ritme yang tenang, tidak selalu mudah, tapi tenang.Ia tinggal di kota kecil yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya, cukup jauh dari pusat kekuasaan, cukup dekat dengan laut dan manusia-manusia yang tidak menuntutnya menjadi apa pun selain dirinya sendiri.Pusat pemulihan trauma yang ia kelola kini berdiri mandiri. Tidak besar apalagi mewah. Tapi isinya sangat hidup.Ada ruang kelas, ruang bermain, dan satu ruangan sunyi yang selalu ia sebut “ruang bernapas”, tempat anak-anak, orang dewasa, siapa pun, boleh duduk tanpa harus bicara dan tidak ada kewajiban untuk pulih dengan cepat. Tidak ada target, hanya ruang untuk merasa ada.Kanaya sudah berhenti menjelaskan masa lalunya kepada orang-orang baru. Bukan kare

  • Menikahi Pria Culun Konglomerat   Jawaban Yang Tak Perlu Dicari

    Hujan turun sejak subuh, bukan deras, tapi cukup lama untuk membuat tanah di sekitar tenda-tenda pengungsian menjadi lembek dan semakin becek.Kanaya bangun lebih awal dari biasanya dengan tubuh yang lelah namun pikirannya justru terasa ringan. Ada hari-hari ketika lelah terasa seperti hukuman tapi di lain lelah kadang terasa seperti bukti bahwa ia masih hidup dan berguna. Dan hari ini Kanaya ada dalam keduanya.Ia berjalan melewati lorong-lorong tenda dengan payung kecil di tangan, menyapa beberapa relawan lain yang mulai sibuk membagi logistik. Bau udara basah bercampur kopi instan dan solar dari generator menjadi aroma khas pagi itu. Aneh, tapi entah kenapa menenangkan.Di tenda trauma anak-anak, beberapa bocah sudah duduk di tikar warna-warni. Sebagian masih memeluk boneka yang sudah kusam, sebagian lain menatap kosong ke depan. Kanaya tersenyum kecil, lalu berjongkok agar sejajar dengan mata mereka.“Selamat pagi,” ucapnya lembut. “Hari ini kita gambar matahari, ya.”Seorang anak

  • Menikahi Pria Culun Konglomerat   Hidup Yang Baru

    Beberapa bulan kemudian, hidup Kanaya berjalan dengan ritme baru. Ia tidak kembali ke kehidupan lamanya. Ia membangun yang lain.Pagi-paginya kini diisi dengan ruang kelas kecil berwarna cerah. Dindingnya penuh gambar matahari, rumah, dan wajah-wajah dengan senyum lebar yang digambar tangan-tangan kecil.Kanaya duduk bersila di lantai, sejajar dengan anak-anak.“Kalau kamu merasa takut,” katanya lembut, “kamu boleh bilang. Takut itu nggak papa, kok.”Seorang anak perempuan mengangkat tangan, ragu-ragu. “Kalau takutnya lama?”Kanaya tersenyum, senyum yang tidak dibuat-buat. “Kalau lama, berarti takutnya butuh ditemani lebih lama juga.”Ia menjadi relawan trauma, bukan karena ingin menjadi pahlawan, tapi karena ia tahu rasanya tidak ditemani.Ia tidak berharap bisa menghapus luka anak-anak korban bencan. Ia hanya mengajarkan mereka cara hidup berdampingan dengan luka-luka itu tanpa perlu merasa tersakiti lagi, sampai suatu hari luka itu seperti tak terlihat lagi.Di luar jam relawan, Ka

  • Menikahi Pria Culun Konglomerat   Putusan Sidang

    Ruang sidang terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena AC, tapi karena semua yang hadir tahu kalau hari ini sebuah putusan akan dikumandangkan. Keputusan yang akan mengubah masa depan dan kehidupan seseorang.Kanaya duduk tegak di kursi penggugat. Setelan krem sederhana membingkai tubuhnya yang kini tampak jauh lebih tenang dibanding sidang pertama dan mediasi. Tidak ada lagi tangan gemetar dan napas yang terasa sesak.Di sisi seberang, Leon tampak kurus. Wajahnya nampak sedikit kusam. Setelan mahal yang dikenakannya tak mampu menyembunyikan kehancuran yang menggerogotinya dari dalam.Sidang dibuka. Hakim memandang berkas di depannya, lalu menatap kedua pihak.“Kita lanjutkan dengan pemeriksaan saksi dan bukti tambahan.”Pengacara Kanaya berdiri. “Kami menghadirkan saksi pertama yaitu saudari Miranti Suryani.”Seorang perempuan melangkah masuk. Wajahnya tegang, tapi matanya jujur. Ia mengucap sumpah, lalu duduk.“Saudari saksi,” ucap hakim, “Jelaskan hubungan Anda dengan kedua be

  • Menikahi Pria Culun Konglomerat   Kelas Sketsa

    Hujan turun tipis sore itu, seolah air langit ragu saat ingin benar-benar jatuh.Kanaya duduk di sudut kafe yang sudah tutup. Beberapa lampunya sudah dimatikan, sehingga suasana terlihat redup, hanya di dekat satu meja yang ditempatinya yang masih menyala.Di depannya, tersaji secangkir teh yang sudah dingin dan ponsel yang sejak tadi tak ia sentuh lagi.Nama Miranti kembali tertera di layar. Kanaya menarik napas, lalu menekan tombol panggil.“Halo, Naya,” suara di seberang terdengar pelan dan hati-hati. “Maaf aku baru berani menghubungi sekarang.”“Tidak apa-apa,” jawab Kanaya. “Kamu bilang ada sesuatu tentang Arya.”Hening sebentar.“Aku nggak tahu harus mulai dari mana,” kata Miranti akhirnya. “Aku takut kamu mengira aku membela dia. Tapi tidak. Aku berani menghubungimu karena seseorang menceritakan masalah kalian.”Kanaya menegakkan punggung. “Baiklah. Aku akan mendengarkannya.”Miranti menghela napas panjang. “Hari pengakuan itu aku ada di ruang siaran.”Jantung Kanaya berdetak l

  • Menikahi Pria Culun Konglomerat   Chat Orang Lama

    Ruang mediasi itu lebih kecil dari ruang sidang, tapi tekanannya justru terasa lebih besar. Sebuah meja, tiga kursi di satu sisi dan tiga di sisi lain.Tidak ada palu hakim juga peserta sidang lainnya. Hanya keheningan yang terasa membuat napas menjadi sesak.Kanaya datang tepat waktu.Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana kain hitam, dan sepatu datar. Penampilannya rapi dan sopan, tidak terlihat masa bodo.Di depannya terlampir map cokelat tipis berisi dokumen yang tidak terlalu tebal.Leon datang lima menit kemudian bersama sang pengacara yang kemudian duduk di sebelah kiri. Di sisi kanan, sang Bunda hadir.Bunda Leon tidak menatap Kanaya dengan permusuhan. Justru ada kelelahan di sana. Kelelahan seorang ibu yang akhirnya menyadari bahwa ada kesalahan yang tak bisa ia rapikan dengan uang atau pengaruh.Mediator lantas membuka pertemuan dengan bahasa formal. Tentang niat baik dan juga kesempatan damai. Tentang kemungkinan rujuk untuk keduanya.Kanaya mendengarkan dan meng

  • Menikahi Pria Culun Konglomerat   Langkah Pertama

    Pagi itu udara Jakarta terasa lebih ramah. Matahari menembus sela dedaunan, memantul di dinding-dinding rumah komplek yang seragam tapi hangat.Kanaya berdiri di halaman kecil kontrakan, menggenggam selang dan menyiram tanaman seadanya yang ditinggalkan pemilik lama.Daun-daun basah berkilau terken

  • Menikahi Pria Culun Konglomerat   Pindah Rumah

    Udara sore terasa begitu berat, seakan ikut menyerap setiap helaan napas Kanaya yang masih terasa terputus-putus.Hari ini, langkah kakinya resmi berpindah dari rumah keluarga Leon menuju rumah baru yang dipilihnya sendiri.Luka yang sempat menjerat tubuh dan hatinya memang masih berdenyut tapi ada

  • Menikahi Pria Culun Konglomerat   Usaha Leon

    Suara ketukan pintu pelan terdengar di ruang perawatan Kanaya. Perempuan itu baru saja selesai menyantap makan siang sederhana yang diantar perawat.Ia masih menaruh sendok di atas piring ketika pintu terbuka perlahan dan sosok yang sudah sangat lama tak dilihatnya berdiri di sana.“Kanaya?”Kanaya

  • Menikahi Pria Culun Konglomerat   Iblis Plastik

    Leon menutup pintu kamar hotelnya dengan gerakan tergesa. Seolah dunia di luar kamar itu hanya berisi suara-suara bising yang ingin ia singkirkan.Ia langsung menyeret tubuhnya menuju kamar mandi setelahnya.Butuh waktu beberapa menit sampai akhirnya ia membenamkan diri ke dalam bathup berisi air ha

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status