Home / Romansa / Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa / 3. Kamar Ia Menghabiskan Masa Kecil

Share

3. Kamar Ia Menghabiskan Masa Kecil

Author: Maulana Hani
last update Last Updated: 2025-05-11 09:32:12

Satu minggu berlalu, dan mereka—anggota keluarga Kamandhana yang lain baru pulang sekarang. Nenek dan Paman Qasim meminta kami untuk datang ke rumah Keluarga Kamandhana.

Ketika hari pernikahanku yang amat sederhana itu, tak ada satu pun dari mereka yang hadir, kecuali Nenek dan Paman Qasim.

Pagi ini Nenek langsung menuju ke kamarnya, dibantu oleh seorang asisten rumah tangga senior di rumah ini, namanya Azizeh. Dan, aku tak bertanya mengingat Nenek pasti sangat kelelahan setelah pergi berlibur.

"Aku mau pulang!" Kami baru datang dan lelaki ini sudah mulai rewel. Aku sungguh ingin mencubit perutnya, agar ia bisa diam barang sejenak saja, dan tak terus-terusan meminta pulang. Iya, bahkan tadi saat baru sampai di depan gerbang ia sudah langsung meminta pulang.

"Kita baru datang, tak mungkin langsung pulang begitu saja," ucapku sedikit membungkuk agar dekat dengan telinganya. Tentu saja aku harus berbisik, agar anggota keluarga yang lain tak mendengarnya. Tak enak bukan jika didengar mereka?

"Kalau begitu pesankan aku taksi, aku bisa pulang sendiri," Ketusnya membuatku harus mengelus dada sabar. Mengapa aku harus bertemu dengan lelaki serewel ini? Tapi sekali lagi aku harus sabar.

Aku kembali membungkuk, berbisik padanya, "aku tak mungkin membiarkanmu pulang seorang diri."

Tapi lelaki itu memang selalu keras kepala. Ia langsung melajukan kursi roda canggihnya, meninggalkan ruang tamu. Aku tentu tak bisa membiarkannya begitu saja, segera ku kejar lelaki itu, yang rupanya berhenti di depan sebuah kamar dengan pintu dicat cokelat gelap, sangat berbeda dengan pintu kamar lain di rumah ini, yang dicat warna cokelat terang.

"Apa ada sesuatu di kamar ini?" Begitu sampai di dekatnya, aku langsung bertanya, berharap lelaki ini mau sedikit terbuka padaku. Tapi ia hanya diam saja, seolah aku tak pernah ada dan menanyakan sesuatu padanya. Lagi dan lagi aku harus bersabar.

Aku berjalan ke sisi kirinya, dan kini berjongkok, ikut mengamati pintu kamar yang seolah amat menarik di mata lelaki ini. Aku tak mengerti, sorot matanya berubah, seperti ada nyala kehidupan di sana, dan seperti menampung kesedihan yang tiada tara, lalu perlahan aku juga menyaksikan bagaimana mata dengan sorot redup itu mulai berkilau, berkaca-kaca.

Aku menundukkan kepala, mengerti kalau kebanyakan lelaki memang seperti Naqib, menahan tangisan mereka untuk diri sendiri, menahannya hanya karena merasa malu untuk mengeluarkan barang setetes air mata saja.

"Apa ini kamarmu dulu?" Kuharap kali ini ia mau bereaksi, tak apa walau hanya anggukkan kepala saja.

Ia tak mengangguk, tapi justru menoleh menatapku. "Mengapa kau menanyakannya?" Memangnya tak boleh kalau aku penasaran?

Aku tersenyum. "Aku hanya penasaran saja," sahutku masih memasang senyum, mataku juga masih menatap lelaki ini.

Helaan napas terdengar dari mulutnya yang kering, mengeripik, dan berwarna cokelat gelap itu. Ia tak lagi menatapku, tetapi aku masih menatapnya, semakin hari tiap kali aku menatapnya, semakin aku ingin menangis. Aku mulai menyadari betapa susahnya menerima dirinya sendiri, tapi kalau aku jadi ia mungkin aku juga sama—tak lagi ingin hidup.

"Kalau begitu kau simpan saja rasa penasaranmu sampai mati!" Ucapannya sungguh pedas dan menyebalkan. Tapi, kali ini aku akan membiasakan untuk membalasnya dengan senyuman, ya aku harus mulai belajar banyak tersenyum.

"Ya, baiklah. Dan, bagaimana kalau kita masuk?" Aku mengalihkan topik, berharap ia mau mengiyakan.

"Untuk apa?"

Kembali ku angkat bibirku ke atas, menciptakan senyum, yang tak ia lihat lantaran lelaki ini terus-terusan menatap pintu. "Melihat-lihat saja," balasku singkat.

Aku sangat berharap ia menganggukkan kepala, karena sejujurnya aku sangat penasaran. Dan, mungkin kami bisa sedikit akrab, setelah mulai mengenal satu sama lain sedikit demi sedikit.

Tak kusangka ia sungguhan menganggukkan kepala. Ia melajukan kursi rodanya sedikit lebih dekat pada pintu, menekan beberapa angka, dan aku memilih menundukkan kepala.

"Kau boleh melihatnya, lagi pula tak ada apa-apa di dalam sana," Katanya membuatku mendongak, dan tersenyum tipis sembari menganggukkan kepala. Kuharap ini suatu kemajuan untuk hubungan aneh kami berdua.

Hubungan aneh yang tak pernah kubayangkan sebelumnya akan terjadi dalam hidupku. Naqib Kamandhana, aku tak pernah sekali pun bermimpi mengenalnya, jangankan mengenalnya menatap wajahnya saja aku tak pernah. Tapi, kali ini setiap hari, setiap malam, bahkan setiap detik napasku berembus, aku selalu menatap wajahnya, selalu berada di sekitarannya.

Tangan kiri Naqib memegang knop pintu, yang sepertinya susah untuk dibuka. Sejak tadi aku mengamati wajahnya, dan ekspresinya berubah sedikit kesal setelah pintu tak bisa ia buka.

"Sepertinya sudah diganti!" Ya, tentu yang ia maksud adalah sandi dari pintu canggih di hadapan kami ini.

"Kita bisa menanyakannya pada Azizeh bukan?" Aku menyahut, mencoba berinisiatif, karena kulihat nyala hidup di matanya kembali hilang, yang ada justru sorot mata redup, yang senantiasa kulihat sejak aku pertama kali bertemu dengannya hingga hari ini.

"Tidak perlu!" Ia langsung melajukan kursi rodanya, meninggalkan aku yang masih berdiri di depan pintu kamar itu. Dan, aku segera bangkit berdiri, masih menatap pintu yang sejak tadi Naqib tatap dengan sorot matanya yang seperti mulai muncul harapan untuk hidup.

Aku menghela napas. Ingin sekali aku membantunya, membuat sorot mata redup itu kembali menyala hidup, ingin membuat senyuman sehangat mentari pagi itu kembali menghiasi wajahnya. Kuharap aku bisa melakukannya, tetapi sangat sulit untuk meyakinkan Naqib bahwa ia bisa percaya padaku, ia bisa menceritakan hal-hal yang membuatnya kehilangan nyala hidup di matanya, yang juga menjadi penyebab mengudaranya senyuman sehangat mentari pagi itu.

"Nyonya Besar memintaku mengganti sandinya," Aku menoleh, dan menemukan Azizeh yang mengenakan kerudung hitamnya berdiri di sebelahku.

"Mengapa?" Azizeh menggelengkan kepalanya, tetapi berikutnya perempuan berusia 59 tahun itu menekan beberapa angka di dekat knop pintu, dan terbuka lah kamar yang begitu gelap.

"Aku sejak tadi melihatmu dan Tuan Muda Naqib memandangi pintu kamar ini," Ucapnya lalu meninggalkanku pergi begitu saja, seolah membiarkanku untuk masuk ke kamar ini.

Aku ragu untuk masuk, tetapi karena rasa penasaran yang lebih besar, akhirnya aku masuk, dan hanya ada kegelapan. Aku tak tahu di mana tepatnya saklar lampu.

Tiba-tiba lampu sudah menyala, menerangi kamar yang tak terlalu luas ini. Aku menoleh ke belakang dan menemukan Azizeh di sana, tengah menatapku sambil tersenyum tipis.

"Ini adalah kamar Tuan Naqib dari kecil hingga usianya 17 tahun," Ia berkata dan mulai melangkah mendekati tirai, yang menutupi jendela besar.

Aku mengikutinya, lalu perempuan berusia 59 tahun itu berhenti di depan jendela besar. Ia memegang cukup lama tirainya, dan aku berdiri di sampingnya, mengamati ekspresi yang muncul di wajahnya.

"Jadi, Naqib menghabiskan masa kecilnya di sini?" Azizeh menganggukkan kepalanya, ia lalu menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku tak tahu apa yang membuatnya demikian.

"Lalu setelah 17 tahun, Naqib ke mana? Apa kamarnya pindah?" Ia tak menjawab, justru malah memelukku. Aku terkejut mendapati tiba-tiba dipeluk olehnya, tetapi segera aku membalas pelukkannya walau ragu-ragu.

Makin lama pelukkannya makin erat, dan tiba-tiba suara tangisnya terdengar. Aku membalasnya makin erat, mengusap punggungnya, mencoba menenangkannya.

"Kuharap Tuan Muda Naqib akan bahagia bersamamu, aku sangat berharap," Azizeh melepas pelukkannya, dan mengatakan hal barusan padaku.

Aku tak tahu harus mengatakan apa, tapi sebisa mungkin aku mengiyakannya, menganggukkan kepala dan menampilkan senyum. Aku bahkan tak yakin bisa mengembalikan senyuman Naqib, apalagi membuatnya bahagia. Kuharap aku bisa, dan kuharap aku mampu melakukannya.

Setelahnya aku berjalan mendekati meja di samping single bad milik Naqib, beberapa buku tertata rapi di sana. Salah satunya buku berjudul "Laila Majnun" karya Nizami Ginjavi. Aku mengambilnya dan mengusap sampulnya yang kupikir akan berdebu karena tak lagi dibaca oleh si pemilik, tapi rupanya tidak. Sampulnya masih halus, tak ada debu yang menempel satu pun.

"Aku selalu membersihkan kamar ini, siapa tahu Nyonya besar dan Nyonya Zulaina mengizinkan Tuan Muda Naqib untuk kembali ke sini," Ucap Azizeh membuatku menatapnya.

"Jadi mereka melarang Naqib untuk—"

"Ah, tidak-tidak. Aku hanya, aku hanya salah bicara. Baiklah, kau sudah selesai melihat-lihatnya 'kan? Ayo kita keluar, sebelum Nyonya besar dan Nyonya Zulaina mengetahuinya," Perempuan paruh baya itu langsung memotong ucapanku, dan aku hanya bisa pasrah ketika ia menarikku keluar dari kamar ini.

Pintu itu kembali tertutup, dan sebuah buku masih ada di tanganku. Sejak tertutupnya pintu itu, aku semakin merasa bahwa segala hal tentang Naqib memang lah penuh rahasia, dan misterius.

Ku harap aku tahu sedikit rahasiamu, Naqib Kamandhana.

Bersambung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   56. Tuan Muda yang Buruk Rupa [POV3]

    Dua hari berlalu dan pagi ini Naqib bangun lebih awal, sebelum turun dari ranjang, ia sempat menatap Laiba, yang masih terlelap di sisi kanan ranjang. Setelahnya lelaki itu perlahan turun dari ranjang, dan menaiki kursi rodanya, yang memang selalu diletakkan di dekat sisi kiri ranjang, di mana ia terbaring.Naqib membersihkan diri, lalu mengganti pakaiannya dengan kaos putih polos yang cukup longgar berlengan pendek, yang dibalut jaket hoodie tipis berwarna biru tua, sementara celananya berwarna hitam berbahan corduroy.Ketika ia hendak mengenakan kaos kaki, tiba-tiba seseorang mengambil benda itu darinya, membuat Naqib mendongakkan kepala, dan matanya bertemu dengan mata ber-iris cokelat gelap milik Laiba."Aku akan melakukannya untukmu," ucap perempuan itu dengan seulas senyum, seraya kepalanya mulai menunduk dan fokus untuk memasang kaos kaki.Naqib terdiam lama sekali, tatapannya tak teralih sedikit pun dari Laiba, yang kini bahkan sudah bangkit dan berkata bahwa ia akan mengambil

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   55. Naqib dan Kenangan-kenangan [POV3]

    Sekitar beberapa menit, Naqib kembali lagi ke kamar, membawa makan malam untuk Laiba. Dan melihat Laiba yang tengah berjongkok di sudut kamar, dekat meja belajar, Naqib segera tahu apa yang tengah dilakukan oleh perempuan itu, pasti tengah melihat kaset pita milik Naqib, tetapi lelaki itu diam saja. Ia merasa tak perlu khawatir, karena 10 kaset pita berisi suara sang Ayah, telah ia simpan di sebuah celah di bawah kotak. Bagaimana pun ia tak akan membiarkan Laiba mencoba mendengarkan isi kaset pitu itu, kaset pita yang amat berharga, bahkan lebih dari hidupnya sendiri.Lelaki itu masih tak mengatakan apa-apa, ketika Laiba bangkit dan menoleh padanya dengan ekspresi wajah terkejut. Ia hanya meletakkan makan malam Laiba di meja nakas, lalu melajukam kursi roda canggihnya menuju lemari, mengambil sebuah piyama berwarna hijau tua, dengan motif kotak-kotak yang garisnya merah dan hitam."Kau tak mau ku bantu, Naqib?" Laiba bertanya dengan nada kikuk, dan Naqib dengan cepat menggelengkan kep

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   54. Hanya Simpati [POV3]

    Sejak sarapan Naqib telah melakukan segalanya sendiri, lagipula kini ia menyadari bahwa manusia tak bisa bergantung pada manusia lain, sedekat apapun hubungan mereka, bahwa ia harus kembali melakukan segalanya sendiri. Ia tak perlu lagi meminta bantuan Laiba, yang memang pada awalnya perempuan itu menawarkan bantuan sendiri, tetapi kini Naqib telah sadar, ia tak bisa bergantung pada siapa pun lagi, ia akan melakukan segalanya sendiri meski perlu waktu yang lama.Siang ini Naqib termenung di atas kursi rodanya, ia berada di taman belakang, atau lebih tepatnya di depan lahan yang telah ditanami bunga matahari, meskipun baru muncul kecambahnya. Lelaki itu membawa serta buku sketsa miliknya, dan sebuah bolpoin bertinta biru.Kepala lelaki itu mendongak, wajahnya tanpa ekspresi, meski melihat langit di atas sana yang begitu cerah dengan sedikit awan berserabut. Ini langit kegemarannya, langit yang membiru cerah dengan awan serabut-serabut halus serupa gula kapas, langit yang juga digemari

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   53. Video yang Mengancam[POV3]

    "Apa? Kau meminta libur lagi?" Aleisha berteriak kesal pada seseorang, yang terhubung dengannya melalui sambungan telepon. Tatapan matanya jelas menunjukkan kemarahan.Perempuan muda itu mencengkeram rambut panjangnya, dan kembali berteriak kuat-kuat. "Kau tidak bisa seenaknya begitu, Yazan!"Ketika Aleisha hendak kembali berteriak, tiba-tiba seseorang merebut ponselnya, membuat perempuan muda itu meradang. Tangannya terangkat, menampar seseorang yang tak ia ketahui siapa. Dan perempuan itu semakin meradang kala tahu siapa yang merebut ponselnya, tangan kanannya kembali terangkat, hendak menampar seseorang di hadapannya, tetapi seseorang itu dengan mudah menahan tangannya, seorang lelaki yang ternyata adalah Jon itu menyeringai."Selamat pagi, Aleisha!" sapa lelaki itu ramah, dan masih menyekal pergelangan tangan Aleisha."Lepaskan!" seru Aleisha sembari mencoba berontak dengan menarik tangannya, yang ternyata sangat sulit karena Jon menyekalnya sangat erat, tetapi Jon segera melepask

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   52. Sebuah Walkman[POV3]

    "Kau harus makan malam, Laiba," ucap Naqib, yang entah sudah ke berapa kalinya. Dan Laiba sama sekali tak menanggapi lelaki itu, ia masih saja berada di atas ranjang, berbaring telungkup dan membenamkan wajahnya ke bantal. Setelahnya Naqib menghela napas, ia tak bisa membiarkan Laiba terus murung dan menolak untuk makan malam begitu. Lelaki yang sebelumnya duduk di atas kursi roda canggihnya menghadap rak buku, kini berpindah, ia melajukan kursi roda canggihnya mendekati sang istri."Laiba!" Naqib memanggilnya tetapi sama seperti tadi sore, perempuan itu mengabaikannya. Dan kali ini, Naqib sungguh tak tahan untuk menghadapi kemurungan sang istri, bahkan mungkin mendadak ia merindukan istrinya yang cerewet, dan selalu menanyakan banyak hal. Tetapi tentu saja ia terus menyangkalnya, merasa bahwa ia hanya bersimpati pada perempuan itu. Ia bersimpati atas meninggalnya kedua mertuanya itu."Laiba," panggil Naqib lagi, yang kali ini membuat Laiba memiringkan kepalanya, menatap Naqib dengan

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   51. Tragedi [POV3]

    Yazan pada akhirnya kembali mengajukan libur pada Aleisha, karena Ibunya memintanya untuk tetap di rumah hari ini. Pemuda itu sungguh tak tahu apa yang sebenarnya sang ibu inginkan, tetapi ia berujung menurut, tak menanyakan apapun.Malam ini Yazan diminta untuk ikut kedua orangtuanya, Yazid juga Zulaikha untuk pergi ke suatu tempat menemui seseorang. Pemuda itu mengenakan kemeja biru gelap dan celana kain warna senada, rambutnya yang cepak tertata rapi, sepatunya hitam mengkilat. Berulang kali lelaki itu menghela napas, menatap jam dinding di ruang tamu, yang telah menunjukkan pukul 8 malam, dan ibunya mengatakan, mereka harus pergi ke tempat itu tepat pukul 8, tapi sekarang? Ya, Yazan hanya bisa bersabar, menunggu sang Ibu merias diri, yang tentu memerlukan waktu yang menurut Yazan sangat lama."Ibumu belum selesai, Nak?" Yazid yang baru masuk ke rumah, entah dari mana, bertanya pada putranya itu.Yazan langsung bangkit dari sofa, menatap sang Ayah, seraya menggelengkan kepala, ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status