Mag-log in"Rumah itu sudah ku jual! Jadi, kalian harus tinggal di Rumah Besar Kamandhana mulai sekarang!" Panggilan itu seketika diputuskan secara sepihak. Dan, aku sungguh terkejut mendapati sikap Nenek yang sangat berbeda. Rupanya segala hal tentang Naqib, dan Keluarga Kamandhana memang menyimpan banyak keanehan juga rahasia. Aku segera memasukkan kembali ponsel ke saku.
Aku menghela napas, menatap Naqib yang duduk dengan tenang di kursi roda canggihnya. Kami berdua pulang ke rumah, dan sayangnya ketika mencoba mengetuk pagar, seseorang keluar dari sana, menjelaskan bahwa ia adalah pemilik baru rumah kami. Aku berjongkok di samping lelaki ini, mengamati rumah yang cukup besar yang beberapa minggu telah kami tempati. Rumahnya nyaman, asri, dan menyenangkan tinggal di sini. Sayangnya Nenek malah menjualnya, maka mau tak mau seperti yang Nenek katakan di panggilan tadi, kami harus tinggal di kediaman Kamandhana, lebih tepatnya rumah besar. "Aku tidak mau kembali ke sana!" Ucapan Naqib sungguh membuatku bingung. Aku jadi menolehkan kepala, menatap lelaki ini. "Lalu ke mana? Kau punya tempat lain?" Ya, siapa tahu lelaki kaya raya ini punya tempat yang bisa kami gunakan untuk tinggal. Apartemen mungkin? Biasanya orang kaya memiliknya bukan? Lelaki ini diam saja. Sepertinya ia tak punya. Lalu bagaimana? Haruskah kami berdua menghabiskan hari di depan pagar, sembari menunggui koper, dan barang-barang kami yang ditinggalkan di sini? Aku tak mengerti jalan pikirannya. Sungguh. "Ke rumahmu!" Ide yang sangat buruk. Rumahku? Ia mungkin tak akan bisa tidur nyenyak kalau di sana, bukan, bukan karena rumahku reyot atau apa lah itu. Tapi, lingkungan tempatku tinggal sangat berisik, kadang meski sudah pukul 11 malam, seorang tetangga ada saja yang berkaraoke, menganggu tetangga lain yang ujung-ujungnya hanya diselesaikan secara kekeluargaan, setelah salah satunya mengancam akan melaporkan ke polisi. Dan, orang itu akan mengulanginya lagi. Sampai kami sebagai tetangga sudah muak, membiarkan saja orang itu bertingkah sesuka hatinya. Kali ini aku tak lagi menatap lelaki ini, memilih menatap lurus ke arah gerbang, yang sejak kecil selalu kuimpikan. Ya, aku selalu bermimpi memiliki rumah dengan gerbang kayu yang dipernis, dan mengkilap. Persis seperti gerbang di rumah ini, rumah yang kini tak lagi bisa kami berdua tinggali. Oh, rumah kami yang malang. Ah, tidak justru kami yang malang sekarang. "Kau sangat menyukai rumah ini?" Tidak bisa kah ia tak mengganggu khayalanku? Aku sedang malas berbicara padanya. Dan beginilah, tiap aku malas berbicara ia akan mengajakku berbicara, lalu sebaliknya, saat aku mengajaknya berbicara, ia akan mengabaikanku atau bahkan marah-marah, dan ketus padaku. Dasar menyebalkan. "Aku bicara padamu!" Ketusnya membuatku menghela napas, aku menolehkan kepala, membuat kami jadi bertatapan. Jujur saja, aku selalu senang menatap matanya. Iris mata cokelatnya itu sangat indah, dan menenangkan untuk ditatap, diselami. Dahinya mengerut dalam, sudah jelas ia pasti akan marah-marah lagi. "Iya, iya aku mendengarmu," balasku setengah kesal, sebelum ia marah-marah tentunya. "Lalu kenapa tak menjawab?" Aku tersenyum padanya, agak geram tapi aku harus sabar. "Aku hanya senang tinggal di sini, gerbang rumahnya bagus," Ungkapku jujur. Terserah ia percaya atau tidak. Lelaki ini justru berdecih. Sudah ku bilang, lelaki ini memang menyebalkan, sangat menyebalkan. "Pesan taksi sekarang!" Seenak jidat ia memerintahku. Andai saja, andai saja ia bukan suamiku, mungkin sudah sejak tadi ku pukul wajahnya menggunakan tanganku. Baru saja hendak mengambil ponsel, suara deru mesin mobil terhenti. Dan, aku bangkit, menoleh ke belakang. Menemukan mobil berwarna merah menyala, yang ternyata milik Bibi Zulaina. Aku ingat saat hari Naqib melamarku, mobil merah itu datang ke rumahku, dan paling mencolok di antara deretan mobil lainnya yang berwarna hitam. Dan Bibi Zulaina keluar dari sana diikuti oleh Jon, sopir pribadinya. Naqib tak peduli, lelaki itu masih saja menghadap ke arah rumah ... maksudku mantan rumah kami. Oh, rumah kami yang nyaman. Aku akan merindukanmu, rumah. "Pesan taksi saja! Cepat!" Apa ia tak melihat atau mendengar deru mesin mobil? Haruskah aku menarik kursi rodanya, dan menunjukkan pada lelaki ini kalau di hadapan kami sudah ada mobil? Tapi, ya, aku harus bersabar. Sabar, sabar, dan sabar. Jika, sabar itu berbentuk uang, aku mungkin sudah punya triliunan di rekening bank milikku sekarang. Dasar lelaki menyebalkan. Seorang lelaki dengan setelan jas formal keluar dari mobil, dan setelahnya menyapaku, mengingat Naqib masih saja tak mau menoleh, masih menghadap ke arah rumah. "Nona Muda! Saya disuruh menjemput anda dan Tuan Muda oleh Nyonya Besar," Jon menyapa dengan ramah, lalu aku menganggukkan kepala. "Sebentar, aku akan berbicara pada Naqib dulu," Ucapku yang segera diangguki oleh Jon. Aku membalikkan badan, kini berjongkok di hadapan Naqib yang duduk di kursi rodanya tanpa ekspresi. "Ayo kita pulang," ucapku berusaha selembut mungkin, mencoba membujuknya dan ku harap ini berhasil. Lelaki ini diam saja, mengabaikanku, seolah aku makhluk tak kasat mata. Aku menghela napas, kali ini menyentuh tangannya, dan matanya langsung menatapku. "Kau harus segera istirahat, kalau memesan taksi, mungkin datangnya akan lama. Jadi, tak apa ya kita naik mobil bersama Jon?" Aku membujuknya lagi, ku harap kali ini ia mau mengatakan sesuatu, atau minimal menganggukkan kepalanya. "Aku bisa memesan taksi sendiri! Kau bisa pergi dengannya!" Kali ini kemarahannya tak seperti biasa, di matanya yang ber-iris cokelat itu ada amarah yang membara, kebencian, dan rasa sakit. Aku sungguh tak mengerti. Ada apa sebenarnya? Ini juga mengingatkanku pada kejadian di depan pintu gudang waktu lalu, ketika Jon meninggalkan Naqib yang termangu menatap pintu gudang, dan setelahnya lelaki ini mengalami kejang. Lalu, hari ketika kami pertama kali tiba di rumah ini, tatapan Naqib pada Jon, ku sadari seperti penuh amarah membara, kebencian, dan rasa sakit. Tatapan ini juga yang ku dapati sekarang, meski ia tak melihat ke arah Jon secara langsung. Kali ini aku mengangguk mengerti. Aku akan menuruti keinginan lelaki ini, karena aku perlu tahu siapa sebenarnya Jon, dan mengapa tatapan Naqib padanya selalu dipenuhi kebencian juga amarah membara. Dan untuk mengetahui hal itu tentu saja perlu waktu. "Maaf, Jon. Aku lupa kalau kami berdua sudah memesan taksi, aku minta maaf, tapi kami akan naik taksi saja," Aku bangkit dan segera menghadap Jon, mengucapkan permintaan maaf. Ku lihat ekspresi Jon sedikit berubah, dari yang sebelumnya agak berseri-seri, menjadi sedikit kesal. Ini aneh, tapi segera ekspresi di wajahnya kembali normal. Ia sepertinya cukup ahli mengendalikan ekspresi di wajahnya. Ada rahasia apa di antara Jon dan Naqib? Apa lelaki ini pernah menyakiti Naqib? Atau apa? Semua pertanyaan itu memenuhi kepalaku, membuatku melamun agak lama, tak sadar Jon memanggilku. "Ah, iya. Maaf, aku malah melamun." Jon mengangguk, lalu tanpa lama lelaki itu segera berpamitan padaku, dan terakhir pada Naqib. "Saya pergi dulu ... Tuan Muda Naqib!" Ada jeda di ucapannya. Dan aku mengamati ekspresi di wajahnya, ujung bibirnya seperti terangkat sedikit. Apa ia barusan menyeringai? Ah, sepertinya tidak, aku hanya salah melihat saja. Mobil dengan warna merah menyala itu melaju meninggalkan kami berdua. Dan setelahnya Naqib baru mau menatap jalanan, ia tak lagi menatap gerbang rumah. "Kau sudah pesan taksinya?" "Sabar sebentar, Tuan Muda!" Sahutku dengan senyuman. Dengusan terdengar dari mulut Naqib. "Jangan memanggilku begitu!" Sepertinya ia memang tak suka dipanggil begitu, tapi aku hanya meledeknya saja, semoga ia tak sungguhan marah, karena jika ia marah ini akan menyulitkanku. Ketika marah, lelaki ini sering kali menolak berbicara, makan, dan bahkan mandi. Ia hanya akan duduk di kursi roda canggihnya seharian, berdiam diri tanpa mau melakukan apa-apa. "Sudah! Kita tinggal menunggunya saja!" Ucapku usai memesan taksi. Ku lihat ekspresi lelaki ini tampak sedikit lega. Aku tak tahu apa yang sebenarnya pernah terjadi di rumah itu, sehingga lelaki ini menolak untuk kembali tinggal di sana. Atau apa yang terjadi antara dirinya dengan Jon, sehingga ia seolah amat membenci lelaki ramah itu. Ku harap jika aku mengetahuinya, itu bukan hal-hal mengerikan, itu hanya kebencian biasa lelaki ini terhadap orang-orang. Ya, ku harap begitu. Bersambung.Dua hari berlalu dan pagi ini Naqib bangun lebih awal, sebelum turun dari ranjang, ia sempat menatap Laiba, yang masih terlelap di sisi kanan ranjang. Setelahnya lelaki itu perlahan turun dari ranjang, dan menaiki kursi rodanya, yang memang selalu diletakkan di dekat sisi kiri ranjang, di mana ia terbaring.Naqib membersihkan diri, lalu mengganti pakaiannya dengan kaos putih polos yang cukup longgar berlengan pendek, yang dibalut jaket hoodie tipis berwarna biru tua, sementara celananya berwarna hitam berbahan corduroy.Ketika ia hendak mengenakan kaos kaki, tiba-tiba seseorang mengambil benda itu darinya, membuat Naqib mendongakkan kepala, dan matanya bertemu dengan mata ber-iris cokelat gelap milik Laiba."Aku akan melakukannya untukmu," ucap perempuan itu dengan seulas senyum, seraya kepalanya mulai menunduk dan fokus untuk memasang kaos kaki.Naqib terdiam lama sekali, tatapannya tak teralih sedikit pun dari Laiba, yang kini bahkan sudah bangkit dan berkata bahwa ia akan mengambil
Sekitar beberapa menit, Naqib kembali lagi ke kamar, membawa makan malam untuk Laiba. Dan melihat Laiba yang tengah berjongkok di sudut kamar, dekat meja belajar, Naqib segera tahu apa yang tengah dilakukan oleh perempuan itu, pasti tengah melihat kaset pita milik Naqib, tetapi lelaki itu diam saja. Ia merasa tak perlu khawatir, karena 10 kaset pita berisi suara sang Ayah, telah ia simpan di sebuah celah di bawah kotak. Bagaimana pun ia tak akan membiarkan Laiba mencoba mendengarkan isi kaset pitu itu, kaset pita yang amat berharga, bahkan lebih dari hidupnya sendiri.Lelaki itu masih tak mengatakan apa-apa, ketika Laiba bangkit dan menoleh padanya dengan ekspresi wajah terkejut. Ia hanya meletakkan makan malam Laiba di meja nakas, lalu melajukam kursi roda canggihnya menuju lemari, mengambil sebuah piyama berwarna hijau tua, dengan motif kotak-kotak yang garisnya merah dan hitam."Kau tak mau ku bantu, Naqib?" Laiba bertanya dengan nada kikuk, dan Naqib dengan cepat menggelengkan kep
Sejak sarapan Naqib telah melakukan segalanya sendiri, lagipula kini ia menyadari bahwa manusia tak bisa bergantung pada manusia lain, sedekat apapun hubungan mereka, bahwa ia harus kembali melakukan segalanya sendiri. Ia tak perlu lagi meminta bantuan Laiba, yang memang pada awalnya perempuan itu menawarkan bantuan sendiri, tetapi kini Naqib telah sadar, ia tak bisa bergantung pada siapa pun lagi, ia akan melakukan segalanya sendiri meski perlu waktu yang lama.Siang ini Naqib termenung di atas kursi rodanya, ia berada di taman belakang, atau lebih tepatnya di depan lahan yang telah ditanami bunga matahari, meskipun baru muncul kecambahnya. Lelaki itu membawa serta buku sketsa miliknya, dan sebuah bolpoin bertinta biru.Kepala lelaki itu mendongak, wajahnya tanpa ekspresi, meski melihat langit di atas sana yang begitu cerah dengan sedikit awan berserabut. Ini langit kegemarannya, langit yang membiru cerah dengan awan serabut-serabut halus serupa gula kapas, langit yang juga digemari
"Apa? Kau meminta libur lagi?" Aleisha berteriak kesal pada seseorang, yang terhubung dengannya melalui sambungan telepon. Tatapan matanya jelas menunjukkan kemarahan.Perempuan muda itu mencengkeram rambut panjangnya, dan kembali berteriak kuat-kuat. "Kau tidak bisa seenaknya begitu, Yazan!"Ketika Aleisha hendak kembali berteriak, tiba-tiba seseorang merebut ponselnya, membuat perempuan muda itu meradang. Tangannya terangkat, menampar seseorang yang tak ia ketahui siapa. Dan perempuan itu semakin meradang kala tahu siapa yang merebut ponselnya, tangan kanannya kembali terangkat, hendak menampar seseorang di hadapannya, tetapi seseorang itu dengan mudah menahan tangannya, seorang lelaki yang ternyata adalah Jon itu menyeringai."Selamat pagi, Aleisha!" sapa lelaki itu ramah, dan masih menyekal pergelangan tangan Aleisha."Lepaskan!" seru Aleisha sembari mencoba berontak dengan menarik tangannya, yang ternyata sangat sulit karena Jon menyekalnya sangat erat, tetapi Jon segera melepask
"Kau harus makan malam, Laiba," ucap Naqib, yang entah sudah ke berapa kalinya. Dan Laiba sama sekali tak menanggapi lelaki itu, ia masih saja berada di atas ranjang, berbaring telungkup dan membenamkan wajahnya ke bantal. Setelahnya Naqib menghela napas, ia tak bisa membiarkan Laiba terus murung dan menolak untuk makan malam begitu. Lelaki yang sebelumnya duduk di atas kursi roda canggihnya menghadap rak buku, kini berpindah, ia melajukan kursi roda canggihnya mendekati sang istri."Laiba!" Naqib memanggilnya tetapi sama seperti tadi sore, perempuan itu mengabaikannya. Dan kali ini, Naqib sungguh tak tahan untuk menghadapi kemurungan sang istri, bahkan mungkin mendadak ia merindukan istrinya yang cerewet, dan selalu menanyakan banyak hal. Tetapi tentu saja ia terus menyangkalnya, merasa bahwa ia hanya bersimpati pada perempuan itu. Ia bersimpati atas meninggalnya kedua mertuanya itu."Laiba," panggil Naqib lagi, yang kali ini membuat Laiba memiringkan kepalanya, menatap Naqib dengan
Yazan pada akhirnya kembali mengajukan libur pada Aleisha, karena Ibunya memintanya untuk tetap di rumah hari ini. Pemuda itu sungguh tak tahu apa yang sebenarnya sang ibu inginkan, tetapi ia berujung menurut, tak menanyakan apapun.Malam ini Yazan diminta untuk ikut kedua orangtuanya, Yazid juga Zulaikha untuk pergi ke suatu tempat menemui seseorang. Pemuda itu mengenakan kemeja biru gelap dan celana kain warna senada, rambutnya yang cepak tertata rapi, sepatunya hitam mengkilat. Berulang kali lelaki itu menghela napas, menatap jam dinding di ruang tamu, yang telah menunjukkan pukul 8 malam, dan ibunya mengatakan, mereka harus pergi ke tempat itu tepat pukul 8, tapi sekarang? Ya, Yazan hanya bisa bersabar, menunggu sang Ibu merias diri, yang tentu memerlukan waktu yang menurut Yazan sangat lama."Ibumu belum selesai, Nak?" Yazid yang baru masuk ke rumah, entah dari mana, bertanya pada putranya itu.Yazan langsung bangkit dari sofa, menatap sang Ayah, seraya menggelengkan kepala, ia







