Share

Bab 148

Author: Lady_Rain
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-05 14:03:05

Arjuna memegang tangan istrinya. Tatapan matanya tertuju pada layar yang ada di dinding, yang akan segera menampakkan wajah buah hatinya.

Dokter Ira menggerak-gerakkan alat USD di atas perut Nadira. Dia ingin mengintip wajah bayi direktur rumah sakit ini, tapi sayangnya bayi yang sedang tidur itu malah menutupi sebagian wajahnya.

“Dok, bayinya tidur. Mukanya ditutupin tangan,” ucap Dokter Ira.

“Eh iya. Kok bisa gitu ya,” ucap Nadira membenarkan.

“Kok bisa gitu sih tidurnya. Udah kayak orang tua
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
evi erfika
Bisa ngak sinta tdk usah muncul, malas bnget liatnya wkwkwk
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 195.

    “Sinta?? Maksud kamu Sinta yang lakuin ini???” tanya Mahendra tidak suka putrinya selalu di tuduh.Arjuna langsung menoleh ke Wisnu. Dia tidak menyangka kalau sahabatnya itu akan mengatakan hal itu.Suasana yang tadinya santai, mendadak menjadi sangat tegang.Wisnu yang ingin mengutarakan dugaannya, kini jadi tidak enak sendiri. Mahendra sangat tidak menerimanya, apa lagi dengan kabar kalau Sinta sedang sakit.“Mas, maksud kamu apa? Kenapa kamu nuduh Sinta yang lakukan ini?” tanya Dina.“Setau aku, Sinta bukan orang yang tertarik sama manajemen rumah sakit. Makanya dia sampai ikhlas kalau Mas Arjuna yang gantiij Om Mahendra,” lanjut Dina.“Emm ... maksudku bukan gitu. Aku gak nuduh Sinta yang lakukan itu. Aku cuma nanya aja,” jawab Wisnu mencoba kembali mencairkan ketegangan.Mahendra melihat ke Wisnu dengan tatapan tidak suka. “Meski Sinta gak suka sama Nadira, tapi untuk yang satu ini, saya percaya Sinta gak melakukannya!” Mahendra membela putrinya.“Dia udah tenang sekarang dan gak

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 194.

    “Mas Arjuna,” sapa seorang wanita yang menyambut kedatangan Arjuna dan Wisnu di rumah Mahendra.Alis Arjuna berkerut. “Dina. Kok kamu di sini?” tanya Arjuna yang kaget melihat kehadiran sepupu mantan istrinya di rumah itu.“Ada urusan, Mas. Masuk yuk, Mas udah ditunggu sama Om Mahendra.”Dina membuka pintu lebih lebar. Mempersilakan tamu Mahendra masuk.“Duduk dulu, Mas. Aku panggilin Om Mahendra dulu,” pamit Dina.Arjuna hanya mengangguk. Dia kemudian mengajak Wisnu duduk di sofa ruang tamu.Wisnu yang sedari tadi diam, mendekat ke Arjuna. “Jun, itu bukannya sepupunya Sinta ya?” tanya Wisnu.“Iya.”“Bukannya dia tinggal di Amerika ya?”“Iya. Terakhir yang aku denger juga dia di sana.”“Trus, kok dia di sini sekarang?”“Mana aku tau!”Arjuna yang juga tidak mengetahui alasan Dina kembali ke Indonesia.“Hmm ... jangan aja dia mau deketin kamu lagi. Dulu kan dia ditendang Sinta. Mungkin aja dia tau kalo kamu cerai ama Sinta terus mau deketin kamu lagi.” Wisnu memprediksi kehadiran Dina

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 193

    “Perhitungan?” Nadira menoleh ke Karin yang bersiap untuk pergi. Tatapan mereka bertemu.Nadira tersenyum pada Karin. Dia tidak mengatakan apa-apa pada rekan kerjanya itu.Karin yang melihat Nadira tersenyum padanya, langsung melengos. Dia merasa tidak enak pada senyum Nadira yang terlihat sarat makna itu.Karin segera keluar dari ruang dokter. Dia tidak ingin berlama-lama di sana, mendengar sindiran teman-temannya.Nadira tersenyum sendiri, lalu dia segera berjalan ke ruang ganti. Dia harus segera mulai bekerja, sebagai tanggung jawabnya.Rina yang masih ada di ruangan itu melihat ke arah Nadira yang baru saja keluar dari ruang ganti. Dia memutar kursinya, agar bisa melihat Nadira yang sedang bersiap untuk mengunjungi pasiennya.“Nad, tau gak ... tadi di sini pada ribut tau pas tau kamu dateng sama Dokter Arjuna,” ucap Rina.“Ribut kenapa?” tanya Nadira sambil menyiapkan barang-barangnya.“Ya ribut. Pada gak percaya kalo kamu istrinya dokter Juna.”Nadira menoleh ke Rina sambil ters

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 192

    “Selamat datang Dokter Arjuna,” sapa Wisnu yang berdiri di barisan paling depan.Arjuna mengangguk. “Semua sudah siap?”“Sudah, Dok. Perwakilan dari pusat juga sudah datang.”“Baiklah, mari kita mulai.”Arjuna menoleh ke istrinya. “Ayo, Sayang,” ajak Arjuna.“Iya, Pa Dok.”Nadira langsung melingkarkan tangannya di lengan sang suami. Dia tidak ingin berjalan sendirian, di tengah banyaknya sorot mata yang tertuju kepadanya.Langkah Arjuna tidak lagi bisa panjang dan cepat. Dia harus menyesuaikan dengan langkah kaki sang istri yang sedang membawa anak mereka di dalam kandungannya.“Maaf Dok, istrinya sudah hamil berapa bulan?” tanya seorang dokter senior yang sedang berjalan di dekat Arjuna.“7 bulan. Sudah mau masuk 8 bulan,” jawab Arjuna.“Sudah besar ya, Dok. Belum akan cuti, Dok?”“Belum. Sesuai prosedur aja.”“Oh begitu. Baik, Dok.”“Tolong jangan buat istri saya tidak punya kerjaan ya. Di juga harus memenuhi lembar kinerjanya sebagai residen. Tapi selama hamil, tolong dimaklumi. In

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 191.

    “Sinta,” ucap Nadira dan Sarah hampir bersamaan.Nadira menatap Sarah dengan sedikit tatapan takut. Dia yang sudah berharap kalau hidupnya akan jauh dari Sinta ternyata masih harus berhadapan lagi dengan nama itu.Sarah yang mengerti perasaan Nadira, menepuk punggung tangan ibu hamil itu pelan.“Pasti hanya kebetulan. Nama Sinta itu banyak di sini, Nad,” ucap Sarah mencoba menenangkan.Nadira mengangguk pelan. “Iya, Mbak. Semoga aja ini Sinta yang lain.”Sarah mengangguk. Dia tersenyum pada Nadira, agar wanita itu tidak terlalu khawatir.Sarah menoleh ke Lia yang sedang menerima telepon di dekat pintu belakang. Wanita itu terlihat sangat serius sambil sesekali berjalan ke area teras belakang.“Sayang,” panggil Arjuna yang baru selesai makan dan berdiri di belakang istrinya sambil memegang pundak Nadira.Nadira menoleh ke belakang. “Pa Dok. Udah selesai makan?”“Udah. Mereka juga udah selesai. Yuk, kamu sama Sarah makan dulu.”Arjuna melihat ke Lia. “Kalian duluan aja. Lia biar ntar ny

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 190.

    “Sekalian pendekatan, Ka?” ledek Wisnu.“Trus ama yang satunya gimana, Ka?” imbuh Arjuna.Mata Raka melotot melihat kedua sahabatnya. Dia memasang wajah kesal, karena diledek di depan Lia, wanita yang pernah dia sukai.“Terus ... terusin aja ngomongnya. Bener-bener mulut gak ada adab kalian ya,” sungut Raka.Arjuna dan Wisnu tertawa. Pasti teman mereka itu tidak ingin harga dirinya sebagai seorang pria akan jatuh.“Sorry Lia, becanda kok. Santai aja dulu di sini, gak lagi sibuk kan?” tanya Wisnu.Lia menggeleng. “Gak kok. Aku masih ngajar jam 4 nanti,” jawab Lia.“Kamu sekarang praktik di mana, Lia?” tanya Arjuna.Lia terdiam sebentar. Dia menunduk mendengar pertanyaan yang selalu membuat lukanya kembali terasa perih.Nadira menoleh ke suaminya. Sepertinya pertanyaan suaminya, membuat Lia tidak nyaman.Raka yang ada di samping Lia juga melihat perubahan sikap Lia yang terlalu mendadak.“Lia ... kamu gak papa?” tanya Raka.Lia kembali menegakkan kepalanya. Dia mencoba kembali tersenyum

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 5. Siapkan Diri Kamu

    Tangan Nadira mengusap lembut punggung tangan ayahnya. Tangan yang biasanya memberinya banyak kehangatan dan perlindungan, kini harus terbaring lemah tak berdaya. Nadira menatap kulit wajah ayahnya yang pucat. Tampak sekali kelelahan menahan sakit yang sewaktu-waktu bisa mengambil nyawanya. Tanpa t

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 4. Mencari Alasan

    “Nadira?” Arjuna tertawa mendengar nama dokter koas itu disebut. Namun sedetik kemudian, tatapan Arjuna kembali tajam. Tatapan mematikan Arjuna yang membuat Sinta sedikit takut saat melihatnya. “Apa kamu mau hancurkan hidup orang lain buat keegoisanmu, Sinta?!” Suara Arjuna terdengar sangat dal

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 3. Ide Konyol

    “Bu-Bu Sinta,” jawab dokter muda cantik itu dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. Senyum di wajah Sinta terlihat mengerikan bagi Nadira. Dia memilih menunduk, menghindari tatapan putri pemilik rumah sakit ini. Arjuna melihat ke Nadira sekilas lalu berdiri. “Selesaikan laporannya. Besok pagi

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 1. Tawaran Tidak Masuk Akal

    “Tidurlah dengan suami saya. Pinjamkan rahimmu dan lahirkan anaknya.” Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa beban seolah yang sedang dibicarakan bukanlah sesuatu yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Nadira Azzahra membeku di tempatnya, tak bisa menjawab, bahkan mulutnya ternganga mendengar perm

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status