Masuk“Sekalian pendekatan, Ka?” ledek Wisnu.“Trus ama yang satunya gimana, Ka?” imbuh Arjuna.Mata Raka melotot melihat kedua sahabatnya. Dia memasang wajah kesal, karena diledek di depan Lia, wanita yang pernah dia sukai.“Terus ... terusin aja ngomongnya. Bener-bener mulut gak ada adab kalian ya,” sungut Raka.Arjuna dan Wisnu tertawa. Pasti teman mereka itu tidak ingin harga dirinya sebagai seorang pria akan jatuh.“Sorry Lia, becanda kok. Santai aja dulu di sini, gak lagi sibuk kan?” tanya Wisnu.Lia menggeleng. “Gak kok. Aku masih ngajar jam 4 nanti,” jawab Lia.“Kamu sekarang praktik di mana, Lia?” tanya Arjuna.Lia terdiam sebentar. Dia menunduk mendengar pertanyaan yang selalu membuat lukanya kembali terasa perih.Nadira menoleh ke suaminya. Sepertinya pertanyaan suaminya, membuat Lia tidak nyaman.Raka yang ada di samping Lia juga melihat perubahan sikap Lia yang terlalu mendadak.“Lia ... kamu gak papa?” tanya Raka.Lia kembali menegakkan kepalanya. Dia mencoba kembali tersenyum
“Loh ... sama siapa dia?” gumam Wisnu sambil terus melihat ke Raka dan pasangannya.Raka berjalan semakin mendekat ke Wisnu. Dia tersenyum saat melihat sahabatnya berdiri di depan pintu.“Aku belum telat kan?” tanya Raka.“Udah hampir telat! Dari mana aja kamu?” cecar Wisnu.“Panjang ceritanya.”Raka menoleh ke wanita di sampingnya. “Lia, masih inget dia gak? Dia Wisnu temenku dulu,” tanya Raka.“Lia? Dia Lia yang kamu ceritain itu?” sahut Wisnu kaget.Lia yang ada di antara dua pria itu jadi bingung. Wanita itu melihat ke Raka yang mengajaknya datang ke tempat ini. “Kamu cerita apa, Ka?” tanya Lia pelan.“Enggak kok. Cuma cerita kalo abis gak sengaja ketemu kamu aja.”“Pa, buruan,” panggil Sarah dari dalam rumah, menyuruh suaminya agar bisa segera masuk.Wisnu menoleh ke istrinya. “Oh iya, Ma.”Wisnu melihat ke Raka. “Ayo masuk dulu. Ntar aja ceritanya. Ayo Lia,” ajak Wisnu.Lia mengangguk canggung. Dia sama sekali tidak ada rencana datang ke acara pernikahan Arjuna.Kalau bukan kar
“Apa katanya?” tanya Arjuna ingin tahu.“Om Mahendra mau ketemu ama kita besok,” jawab Wisnu menyampaikan pesan Mahendra.“Besok? Kan besok kita sibuk, Wis. Besok pembukaan ulang tahun rumah sakit loh.”“Iya, makanya itu. Aku udah bilang juga ke Om Mahendra. Dan beliau maunya besok malam. Soalnya dia juga punya jadwal padat.”“Jadwal padat? Bukannya dia abis dari luar kota ya?”“Lebih baik ikutin aja, Pa Dok. Dari pada nanti Pak Mahendra marah dan kita malah susah dapet janji lagi,” sahut Nadira.“Nah! Ini juga yang aku pikir, Jun. Kan kita yang ada perlu ama dia. Ya mending kita ikutin aja dulu maunya, demi misi kita.” Wisnu setuju dengan usul Nadira.Arjuna mengangguk “Ya udah, kalo gitu, kita pergi. Pastikan jam dan tempat pertemuannya juga, Wis,” pinta Arjuna.“Ok, ntar aku hubungi lagi.”Arjuna akhirnya setuju. Dia akan menghormati kemauan Mahendra sambil berharap kalau besok tidak akan ada drama di pertemuan itu.“Maaf Pak Dokter, itu penghulunya udah dateng,” ucap Ningsih saat
“Kenapa kamu nanya gitu?” tanya Arjuna.Nadira menggeleng pelan. “Gak papa, cuma mau nanya aja.”“Pa Dok ada mencurigai seseorang?”Arjuna menguap. Rasa kantuknya sudah menyerang dengan kuatnya.Matanya sudah terpejam. Tapi kesadarannya masih belum sepenuhnya hilang, karena dia masih mendengar suara istrinya.“Gak tau. Aku gak mau nuduh siapa-siapa. Meski dua orang itu sering nyakitin kita, tapi tetep aja kita gak boleh curiga tanpa bukti,” jawab Arjuna yang kemudian di susul dengan menguap lagi.Nadira tersenyum. “Pa Dok ngantuk ya?”“He em. Udah, kamu juga tidur dulu. Kita tunggu kabar dari Wisnu aja,” ucap Arjuna yang sudah tidak tahan lagi untuk tidur.“Ya udah, kalo gitu kita tidur aja dulu. Saya juga ngantuk.”Tak ada lagi yang bersuara. Dua orang itu langsung terlelap tidur.Hidup Nadira sudah sangat nyaman saat ini.Suami baik, rumah bagus, kerjaan bagus. Tidak ada lagi yang ingin dia minta saat ini.Seandainya ini hanya mimpi, Nadira tidak ingin bangun lagi.Apa lagi lusa dia
“Bantuan? Bantuan apa maksudmu, Wis?!” tanya Raka tidak terima.“Wis, benar dikatakan Raka. Kenapa juga minta bantuan. Nadira udah dicurangi ama mereka, Wis!” Arjuna setuju dengan apa yang dikatakan Raka.“Jun, kita harus kerja profesional. Kita tidak bisa sembarangan obrak-abrik rumah orang. Itu ilegal,” terang Wisnu.“Kita harus temui Om Mahendra dan minta kerja samanya buat kita lakukan penyelidikan,” lanjut Wisnu.“Minta kerja sama. Mana ada dia mau bantuin kita. Gak denger kamu tadi gimana Om Mahendra marahin Juna?” sahut Raka yang tidak yakin ide Wisnu akan berhasil.Raka menggelengkan kepalanya. “Mereka itu gak bisa diajak baik-baik.”“Kita belum coba, Ka. Lagian kan kita sekarang udah punya bukti. Jadi aku rasa, kalo emang Om Mahendra bukan pelakunya, dia pasti akan melindungi citra rumah sakitnya.”“Kalo ini sampai ke Komite medis .... aku rasa Om Mahendra gak akan mau itu terjadi,” papar Wisnu sebagai orang yang lama berkecimpung di manajemen rumah sakit.Arjuna mengangguk p
“Apa maksud kamu, Bil. Apa yang kamu temukan?” tanya Arjuna penasaran.Billy mengeluarkan kertas dari dalam tasnya. “Semuanya ada di sini, Dok,” jawab Billy sambil memegang kertas itu.Suasana mendadak hening. Para pria saling berpandangan dengan wajah yang sangat serius.Nadira yang duduk di meja makan bersama Sarah, langsung berjalan ke arah Billy.“Kak, ada apa? Apa yang terjadi sama kinerjaku?” tanya Nadira ingin tahu.Billy menoleh ke Nadira. “Kayaknya ada yang curangin kamu, Nad.”“Curang? Maksudnya gimana?” tanya Wisnu.“Bil, duduk sini. Jelaskan sama kami,” pinta Arjuna, agar Billy bisa menjelaskan apa yang mantan asistennya itu temukan.“Sayang, kamu duduk sini juga,” pinta Arjuna sambil mengulurkan tangannya ke Nadira.Para pria mulai duduk berpencar. Mereka memberikan jalan untuk Billy dan Nadira duduk di area paling tengah, di depan meja.Wisnu duduk di samping Billy di dampingi istrinya. Tentu saja Sarah juga penasaran dengan temuan Billy yang mungkin akan jadi penyelamat
Tangan Nadira mengusap lembut punggung tangan ayahnya. Tangan yang biasanya memberinya banyak kehangatan dan perlindungan, kini harus terbaring lemah tak berdaya. Nadira menatap kulit wajah ayahnya yang pucat. Tampak sekali kelelahan menahan sakit yang sewaktu-waktu bisa mengambil nyawanya. Tanpa t
“Nadira?” Arjuna tertawa mendengar nama dokter koas itu disebut. Namun sedetik kemudian, tatapan Arjuna kembali tajam. Tatapan mematikan Arjuna yang membuat Sinta sedikit takut saat melihatnya. “Apa kamu mau hancurkan hidup orang lain buat keegoisanmu, Sinta?!” Suara Arjuna terdengar sangat dal
“Bu-Bu Sinta,” jawab dokter muda cantik itu dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. Senyum di wajah Sinta terlihat mengerikan bagi Nadira. Dia memilih menunduk, menghindari tatapan putri pemilik rumah sakit ini. Arjuna melihat ke Nadira sekilas lalu berdiri. “Selesaikan laporannya. Besok pagi
“Ayah!” pekik Nadira yang kemudian segera berlari meninggalkan mejanya. Nadira bahkan lupa membawa nampan makannya ke tempatnya, karena dia terburu-buru. Kabar tentang ayahnya yang kembali drop, membuatnya syok. Padahal baru tadi pagi dia datang untuk mengecek sendiri keadaan ayahnya. Memastika







