登入Deg!Langkah Nadira seketika terhenti saat dia mendengar apa yang dikatakan Sinta. Rasanya, apa yang dia khawatirkan selama ini benar terjadi.Nadira berbalik. Dia sekali lagi menatap ke arah Sinta yang berdiri di tempatnya dan melihat ke arahnya juga.Nadira menatap wajah Sinta dalam-dalam. Mencoba mencari tahu tentang kebenaran yang baru saja dia dengar.Sinta menatap Nadira. Dia sangat tahu, kalau tingkat empati dokter muda itu masih lebih tinggi dan tulus dari pada Arjuna.Sinta mengubah mimik wajahnya. Tatapan garang itu sudah menghilang, berganti dengan tatapan memelas yang sangat terlihat dengan usaha keras dia pasang.“Nad, saya sakit. Itu alasan saya minta kamu bantu saya buat bujuk Juna. Saya butuh orang buat nemenin saya,” ucap Sinta penuh permohonan.Nadira tidak menjawab. Dia masih berdiri diam, tanpa suara.Nadira sedang mencari kebenaran ucapan Sinta lewat sikap dan sorot matanya.Panca yang juga mendengar ucapan Sinta, segera berjalan mendekat ke arah Nadira.“Bu, gak
“Minta tolong? Minta tolong apa?” tanya Nadira.Tatapan Nadira kini berubah jadi tatapan penuh kewaspadaan. Aroma dari pertemuan ini sepertinya sudah tidak baik.Sinta tersenyum tipis. Tapi senyumnya itu lebih mirip dengan seringai meledek, setelah melihat reaksi Nadira.Sinta kembali melihat ke Nadira. “Santai aja. Saya gak akan minta kamu gugurkan kandungan kamu. Duduklah,” ucap Sinta memberikan jaminan.“Gak perlu basa-basi, Bu. Bilang aja, Bu Sinta butuh apa dari saya?”“Duduk dulu. Apa kamu pikir sopan kamu bicara sama orang yang lebih tua tapi kamu berdiri?” tegur Sinta.Mimik wajah Sinta berubah ketus. “Ato kamu sudah beranggapan kalo derajat kamu lebih tinggi dari saya setelah Arjuna nikahin kamu?”Sekali lagi teguran dari Sinta keluar. Kata-kata wanita itu selalu pedas di telinga Nadira.Nadira diam. Ada penyesalan di dalam hatinya, kenapa dia tadi masih sempat memikirkan kalau Sinta mungkin berubah.Wanita itu tetap saja memakinya, meski tidak dengan teriakan.Demi menjaga k
Mendengar apa yang dikatakan sopirnya, Nadira langsung menoleh dengan cepat.Dan benar saja, di depannya saat ini sudah berdiri seorang wanita dengan setelan mahal di belakang keranjang belanjanya.Nadira menatap Sinta yang berdiri berseberangan dengannya. Wanita itu juga tengah melihat ke arahnya.Tatapan yang biasanya sangat angkuh dan penuh dengan aroma kesombongan itu entah kini ada di mana. Tatapan Sinta tidak terlihat seperti biasanya.Tatapannya datar, sampai Nadira sendiri bingung dengan apa yang dipikirkan oleh wanita itu.Sinta menatap Nadira. Tatapannya turun ke perut Nadira yang terlihat lebih membuncit.Kehidupan wanita itu juga terlihat sangat jauh berbeda dari saat dia temukan dulu.Pakaiannya terlihat lebih mahal dan rapi. Penampilannya juga berubah, meski tidak dengan harga fantastis seperti dirinya.Tatapan Sinta beralih ke Panca yang dengan setia menemani Nadira berbelanja.Dia tahu, pasti mantan pekerja di rumahnya itu memilih ikut dengan Arjuna dan istri barunya.
“Bu Sinta?”Ningsih terlihat berpikir sebelum dia menjawab pertanyaan majikannya.Ningsih menatap ke Nadira. “Hmm ... kayaknya sebelum pindah ke rumah Pak Mahendra itu, Bu Sinta sempat sakit deh Bu di rumah,” jawab Ningsih.“Sakit apa?”“Badannya anget dan gak mau makan. Beliau juga di rumah aja, gak ngapa-ngapain.”“Kalo gak salah itu gak lama setelah Pak Dokter ambil barangnya di rumah, Bu,” lanjut Ningsih.Nadira diam dan berpikir. Sepertinya Sinta hanya sakit karena stres.Mungkin depresinya masih terjadi dan itu membuat kondisi badannya menurun.Sepertinya benar kata sang suami, dia tidak perlu khawatir tentang Sinta lagi.Nadira mengangguk pelan lalu meminum teh di tangannya.“Bu Sinta udah lama pindah ke rumah Pak Mahendra?” tanya Nadira lagi.“Udah, Bu. Udah hampir dua mingguan. Tapi sebagian barangnya masih ada di sana.”“Gak pernah datang lagi?”“Beberapa hari lalu datang, mau ambil barang. Saya sekalian pamit dan di kasih pesangon.”“Bu Sinta sehat kan?”“Sehat kok, Bu. Bah
“Nad, kamu kenal Sarah?” tanya Arjuna pada istrinya.Nadira tersadar dari lamunannya. Wanita hamil itu menoleh ke suaminya.Bukannya menjawab, Nadira malah kembali melihat ke Sarah.Sarah yang sedang berdiri di depan Nadira pun ikut bingung. Dia menoleh ke Arjuna dan suaminya secara bergantian.Sarah melihat ke Nadira. “Kenapa? Apa kita pernah ketemu sebelumnya?” tanya Sarah.Nadira tersenyum lalu menunduk. “Maaf, Bu. Saya ... saya hanya keinget sama temen saya. Orangnya mirip sama Bu Sarah. Maaf, kalo bikin gak nyaman,” jawab Nadira merasa tidak enak.Sarah tersenyum. “Gak papa. Emang kamu keinget siapa?” tanya Sarah ramah sambil duduk di samping Wisnu.“Emang temen kamu mukanya mirip ama istri saya, Nad?” tanya Wisnu.Nadira menoleh ke pasangan pemilik rumah. “Mirip, Pak. Sekilas mirip banget, saya sampe langsung inget.”“Emang temen kapan? Saya gak pernah tau kamu akrab sama seseorang,” tanya Arjuna yang tidak pernah tahu kalau istrinya punya teman dekat.Nadira menatap suaminya. “
Raka mengerutkan keningnya. “Arjuna sama Sinta? Maksud kamu, Arjuna mau balik lagi ke Sinta?” tanya Raka dengan nada sedikit kesal.Punggung Nadira berdiri tegak. Tangannya bergerak seperti sedang melambai, memberi isyarat yang dikatakan Raka itu salah.“Bukan, Dok. Bukan begitu maksud saya,” jawab Nadira, takut Raka akan salah paham.“Trus maksud kamu bilang gitu apa?”Nadira menarik napas. Dia jadi agak ragu sendiri untuk memperjelas pertanyaannya.Tapi dia juga penasaran. Dan dia yakin kalau Raka pasti tahu tentang hubungan suaminya dan Sinta.“Hmm ... tapi Doktee janji dulu ya gak akan bilang ke Dokter Juna soal ini? Janji dulu,” ucap Nadira berharap Raka tidak akan mengkhianatinya.Raka menatap miring ke ibu hamil di depannya. “Kamu kayaknya takut banget sama Arjuna.”“Bukan takut, Dok. Saya cuma gak enak aja. Lagi pula itu kan masa lalu Dokter Juna. Saya gak enak aja.”Raka menyandarkan badannya ke kursi. “Nah itu udah tau. Trus kenapa sekarang malah nanya.”Nadira menipiskan bi
Tangan Nadira mengusap lembut punggung tangan ayahnya. Tangan yang biasanya memberinya banyak kehangatan dan perlindungan, kini harus terbaring lemah tak berdaya. Nadira menatap kulit wajah ayahnya yang pucat. Tampak sekali kelelahan menahan sakit yang sewaktu-waktu bisa mengambil nyawanya. Tanpa t
“Nadira?” Arjuna tertawa mendengar nama dokter koas itu disebut. Namun sedetik kemudian, tatapan Arjuna kembali tajam. Tatapan mematikan Arjuna yang membuat Sinta sedikit takut saat melihatnya. “Apa kamu mau hancurkan hidup orang lain buat keegoisanmu, Sinta?!” Suara Arjuna terdengar sangat dal
“Bu-Bu Sinta,” jawab dokter muda cantik itu dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. Senyum di wajah Sinta terlihat mengerikan bagi Nadira. Dia memilih menunduk, menghindari tatapan putri pemilik rumah sakit ini. Arjuna melihat ke Nadira sekilas lalu berdiri. “Selesaikan laporannya. Besok pagi
“Ayah!” pekik Nadira yang kemudian segera berlari meninggalkan mejanya. Nadira bahkan lupa membawa nampan makannya ke tempatnya, karena dia terburu-buru. Kabar tentang ayahnya yang kembali drop, membuatnya syok. Padahal baru tadi pagi dia datang untuk mengecek sendiri keadaan ayahnya. Memastika







