LOGIN“Ngapain kamu di sini?” tanya Wisnu saat keluar dari mobil Arjuna.Wajah Raka yang tadi cerah saat mengantar Lia, kini kembali suram.Arjuna keluar dari mobilnya. Dia menyusul langkah Wisnu mendekat ke Raka yang pasti sudah lama menunggu mereka.“Dari mana kalian? Sengaja banget ya datengnya berdua. Punya acara pribadi kalian?!” sembur Raka kesal.Wisnu terkekeh melihat sahabatnya ngambek. “Sorry, tadi pas mau berangkat, Ko Felix telpon ngajal meeting. Ya udah aku telpon Juna dan ternyata Juna di rumah juga. Maaf ya,” jelas Wisnu sambil membujuk Raka agar tidak marah lagi.“Iya, sorry. Tadi tuh bener-bener diluar prediksi.” Arjuna juga ikut minta maaf.“Eh iya ... si Billy udah ke sini?” tanya Arjuna.“Udah! Lagi makan tuh dia di dalam.” Raka masih menjawab dengan ketus.Wisnu tersenyum lalu merangkul pundak sahabatnya. “Ya udah, masuk yuk. Aku juga laper.”“Bodo amat! Emang gua peduli!”Arjuna dan Wisnu hanya terkekeh. Teman lajang mereka ini, emosinya memang masih sering naik turun.
“Siapa ... siapa yang melakukan ini. Siapa yang tega hancurkan karier Nadira,” gumam Arjuna sambil mengepalkan tangannya erat.Ada banyak kemungkinan terjadi. Ada banyak tersangka yang lewat di kepala Arjuna.Tapi dia tidak punya bukti. Dia bahkan tidak bisa menuduh istrinya teledor karena dia tahu pasti kalau Nadira bukan tipe orang yang demikian.Arjuna menyugar rambutnya kasar. “Ah sudahlah, nanti dicari lagi. Selagi masih bisa ditangguhkan, aku akan cari penyebabnya,” ucap Arjuna yang tidak bisa memikirkan masalah ini saja, tanpa bekerja.Tanggung jawabnya banyak. Dia tidak bisa hanya fokus pada Nadira saja saat ini, meski masih jadi prioritas utamanya.Arjuna berjalan ke meja kerjanya. Dia meletakkan iPad-nya, lalu menyambar jas dokternya.Arjuna harus mengunjungi pasiennya terlebih dahulu, sebelum nanti persiapan praktik siang.Nadira yang sedang berada di ICU, mengecek keadaan pasiennya di laptop yang ada di depan meja suster jaga. Tangannya mengetik hasil pemeriksaan terbaruny
“Apa kata mereka?” tanya Wisnu.Joko melihat ke tiga orang yang ada di depannya secara bergantian. “Katanya, datanya sudah hilang, Pak,” jawab Joko ragu.“Apa?? Hilang???” ucap Arjuna dan Raka hampir bersamaan.“Benar, Pak. Kata mereka untuk yang sudah resign, datanya sudah tidak bisa dibuka lagi. Jadi mereka tidak bisa melihatnya lagi,” ucap Joko menyampaikan pesan seperti yang dia dapatkan tadi.“Brengsek!” geram Arjuna kesal, sambil mengepalkan tangannya.“Sial! Kayaknya mereka beneran sengaja deh, Jun. Mereka kayak sengaja mau hancurin karier Nadira!” Raka juga ikut marah.“Aku rasa, ada yang janggal, Jun. Data kayak gitu kan penting. Masa iya diilangin gitu aja.” Wisnu juga ikut kesal.Raka menatap Arjuna. “Kayaknya yang dibilang sama Wisnu ada benernya, Jun. Kita harus datengin Om Mahendra!” tegas Raka.Arjuna diam. Sepertinya apa yang dikatakan oleh kedua temannya ini benar adanya.Tidak mungkin sebuah rumah sakit akan menghilangkan jam terbang seorang dokter aktif, apa lagi ke
“Suaminya di rumah sakit ini,” gumam Karin pelan sambil melihat punggung Nadira yang berjalan menjauh.Rina mendekati Karin. “Iya, suaminya di sini. Dan suaminya bukan orang biasa,” bisik Rina sambil tersenyum.Karin melihat ke arah Rina. Wanita itu tampak tersenyum lebar ke arahnya, mengisyaratkan kalau dia tahu sesuatu.Beberapa dokter yang ada di sana, saling bertatapan. Mereka juga mendengar semua ucapan Nadira tadi.“Eh, apa mungkin ya kalo Dokter Juna itu suaminya Dokter Nadira?”“Kayaknya sih iya. Soalnya gak pernah liat Dokter Juna perhatian banget sama dokter lain, kayak ke Dokter Nadira tadi.”“Iya juga sih. Tapi kenapa gak ada yang tau ya? Ato emang sengaja gak kasih tau.”Salah satu dokter mengambil stetoskopnya sambil melirik ke Karin. “Yang pasti, jangan aneh-aneh aja sekarang sama Dokter Nadira. Dia istri direktur.”“Iya bener. Kalo residen gagal di tengah jalan, itu nyesek banget. Udah ah, kerja yuk.”Para dokter lain, mulai meninggalkan ruangan menuju ke pos mereka ma
Nadira dan Arjuna tiba di rumah sakit. Sejak turun dari mobil, tangan Arjuna terus menggenggam tangan istrinya.Dia sudah tidak peduli lagi dengan tatapan banyak mata para awak medis di rumah sakitnya.Toh, sebentar lagi mereka juga akan tahu akan hubungan ini, saat Nadira berdiri di sampingnya saat ulang tahun rumah sakit.Nadira juga merasakan hal yang sama. Dia tidak peduli pada sikap orang lain kepadanya nanti.Yang terpenting saat ini adalah menjaga mentalnya agar tetap stabil, tidak sampai mengganggu kandungannya.Raka yang hendak naik ke ruang kerjanya setelah praktik pagi, kaget melihat Arjuna menggandeng Nadira di lift.Raka masuk ke dalam lift, lalu berdiri di samping Arjuna sambil tersenyum.“Udah mulai go publik nih ceritanya?” ledek Raka.“Ka, ke ruanganku dulu. Ada masalah,” ucap Arjuna.Raka langsung menoleh ke sahabatnya. “Ada apa?”“Kita bahas di sana aja. Panggil Wisnu, Iwan dan bagian HRD,” titah Arjuna.“Aku anterin istriku dulu,” lanjut Arjuna.Pintu lift terbuka.
“Siapa?” tanya Nadira pelan, agar tidak mengganggu pembicaraan suaminya.Arjuna melihat ke Nadira. Tatapan pria itu masih sangat tajam.Jelas, ada sesuatu yang salah dan penting. Wajah pria itu sangat tegang dan tidak baik-baik saja.“Urus dulu. Saya akan tanyakan di dia dulu,” ucap Arjuna pada orang yang menghubunginya.Arjuna memutus sambungan teleponnya. Dia mendengus kesal sambil terus menatap istrinya.Nadira menatap suaminya. Dia penasaran, apa yang sebenarnya terjadi.“Ada apa? Apa ada masalah?” tanya Nadira.Arjuna tidak langsung menjawab. Dia menjeda beberapa detik, sebelum akhirnya menjawab.“Nad, selama ini, kamu kalo abis operasi, selalu buat laporan kan?” tanya Arjuna ingin memastikan.Nadira mengangguk. “Iya.”“Dokter utamanya siapa?”“Ya selama saya yang mengoperasi, ya saya tulis nama saya. Emang ada apa, Dok?”Arjuna menatap Nadira. “Kuota praktikmu kurang. Residens tingkat 3 mu sedang ditangguhkan.”“Apaa???!!!”Nadira terperangah kaget mendengar penuturan suaminya.
“Nadira?” Arjuna tertawa mendengar nama dokter koas itu disebut. Namun sedetik kemudian, tatapan Arjuna kembali tajam. Tatapan mematikan Arjuna yang membuat Sinta sedikit takut saat melihatnya. “Apa kamu mau hancurkan hidup orang lain buat keegoisanmu, Sinta?!” Suara Arjuna terdengar sangat dal
“Bu-Bu Sinta,” jawab dokter muda cantik itu dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. Senyum di wajah Sinta terlihat mengerikan bagi Nadira. Dia memilih menunduk, menghindari tatapan putri pemilik rumah sakit ini. Arjuna melihat ke Nadira sekilas lalu berdiri. “Selesaikan laporannya. Besok pagi
“Ayah!” pekik Nadira yang kemudian segera berlari meninggalkan mejanya. Nadira bahkan lupa membawa nampan makannya ke tempatnya, karena dia terburu-buru. Kabar tentang ayahnya yang kembali drop, membuatnya syok. Padahal baru tadi pagi dia datang untuk mengecek sendiri keadaan ayahnya. Memastika
“Tidurlah dengan suami saya. Pinjamkan rahimmu dan lahirkan anaknya.” Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa beban seolah yang sedang dibicarakan bukanlah sesuatu yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Nadira Azzahra membeku di tempatnya, tak bisa menjawab, bahkan mulutnya ternganga mendengar perm







