LOGIN“Kenapa kamu nanya gitu?” tanya Arjuna.Nadira menggeleng pelan. “Gak papa, cuma mau nanya aja.”“Pa Dok ada mencurigai seseorang?”Arjuna menguap. Rasa kantuknya sudah menyerang dengan kuatnya.Matanya sudah terpejam. Tapi kesadarannya masih belum sepenuhnya hilang, karena dia masih mendengar suara istrinya.“Gak tau. Aku gak mau nuduh siapa-siapa. Meski dua orang itu sering nyakitin kita, tapi tetep aja kita gak boleh curiga tanpa bukti,” jawab Arjuna yang kemudian di susul dengan menguap lagi.Nadira tersenyum. “Pa Dok ngantuk ya?”“He em. Udah, kamu juga tidur dulu. Kita tunggu kabar dari Wisnu aja,” ucap Arjuna yang sudah tidak tahan lagi untuk tidur.“Ya udah, kalo gitu kita tidur aja dulu. Saya juga ngantuk.”Tak ada lagi yang bersuara. Dua orang itu langsung terlelap tidur.Hidup Nadira sudah sangat nyaman saat ini.Suami baik, rumah bagus, kerjaan bagus. Tidak ada lagi yang ingin dia minta saat ini.Seandainya ini hanya mimpi, Nadira tidak ingin bangun lagi.Apa lagi lusa dia
“Bantuan? Bantuan apa maksudmu, Wis?!” tanya Raka tidak terima.“Wis, benar dikatakan Raka. Kenapa juga minta bantuan. Nadira udah dicurangi ama mereka, Wis!” Arjuna setuju dengan apa yang dikatakan Raka.“Jun, kita harus kerja profesional. Kita tidak bisa sembarangan obrak-abrik rumah orang. Itu ilegal,” terang Wisnu.“Kita harus temui Om Mahendra dan minta kerja samanya buat kita lakukan penyelidikan,” lanjut Wisnu.“Minta kerja sama. Mana ada dia mau bantuin kita. Gak denger kamu tadi gimana Om Mahendra marahin Juna?” sahut Raka yang tidak yakin ide Wisnu akan berhasil.Raka menggelengkan kepalanya. “Mereka itu gak bisa diajak baik-baik.”“Kita belum coba, Ka. Lagian kan kita sekarang udah punya bukti. Jadi aku rasa, kalo emang Om Mahendra bukan pelakunya, dia pasti akan melindungi citra rumah sakitnya.”“Kalo ini sampai ke Komite medis .... aku rasa Om Mahendra gak akan mau itu terjadi,” papar Wisnu sebagai orang yang lama berkecimpung di manajemen rumah sakit.Arjuna mengangguk p
“Apa maksud kamu, Bil. Apa yang kamu temukan?” tanya Arjuna penasaran.Billy mengeluarkan kertas dari dalam tasnya. “Semuanya ada di sini, Dok,” jawab Billy sambil memegang kertas itu.Suasana mendadak hening. Para pria saling berpandangan dengan wajah yang sangat serius.Nadira yang duduk di meja makan bersama Sarah, langsung berjalan ke arah Billy.“Kak, ada apa? Apa yang terjadi sama kinerjaku?” tanya Nadira ingin tahu.Billy menoleh ke Nadira. “Kayaknya ada yang curangin kamu, Nad.”“Curang? Maksudnya gimana?” tanya Wisnu.“Bil, duduk sini. Jelaskan sama kami,” pinta Arjuna, agar Billy bisa menjelaskan apa yang mantan asistennya itu temukan.“Sayang, kamu duduk sini juga,” pinta Arjuna sambil mengulurkan tangannya ke Nadira.Para pria mulai duduk berpencar. Mereka memberikan jalan untuk Billy dan Nadira duduk di area paling tengah, di depan meja.Wisnu duduk di samping Billy di dampingi istrinya. Tentu saja Sarah juga penasaran dengan temuan Billy yang mungkin akan jadi penyelamat
“Angkat, Jun. Kita liat, dia mau apa?” ucap Wisnu yang sedang penasaran. “Loud speker, Jun. Biar kita denger semua!” pinta Raka. Arjuna mengambil ponselnya. Dia layar ponsel pintar itu, tertera nama mantan mertuanya. Arjuna menatap istrinya. Dia melihat wajah istrinya menegang. Tepat sebelum dering terakhir berbunyi, jari Arjuna menggeser tanda hijau di layar ponselnya. Tak lupa juga Arjuna mengaktifkan pengeras suara di ponselnya, agar semua orang bisa mendengarkan. “Halo, selamat siang,” sapa Arjuna sopan. “Juna! Apa-apaan kamu. Ngapain kamu ngobrak-abrik rumah sakit saya!” sembur Mahendra begitu panggilannya tersambung. Mendengar ucapan Mahendra, semua orang yang ada di sana langsung bereaksi. Mereka tidak terima dengan tuduhan yang dikatakan oleh Mahendra. “Eh ... apaaan it—“ Ucapan Raka terhenti saat Wisnu menepuk pahanya. Pria itu terpaksa menghentikan emosinya, agar tidak terdengar oleh Mahendra. Arjuna melihat ke Raka dan Wisnu. Dia menangkap sinyal kalau dia harus
“Ada apa, Bil?” tanya Arjuna.“Anu Dok, kalo gak salah Nadira punya buku catatan pribadi yang berisi salinan operasinya sendiri.”“Oh iya. Kok kamu tau?”“Dia pernah tunjukkan ke saya, Dok. Apa mungkin saya boleh pinjam, Dok?”“Boleh. Tapi bukunya gak saya bawa.”“Besok saja saya mampir ke Prime sebelum dinas siang, Dok. Sekalian kalau boleh, saya ingin bertemu Nadira sebentar.” Billy meminta izin pada suami sahabatnya itu.“Kamu mau nemuin Nadira? Gak takut kamu? Suaminya galak dan posesif loh,” ledek Wisnu.Billy tersenyum. “Makanya saya izin dulu, Pak. Soalnya ada yang ingin saya diskusikan dengan Nadira. Biasanya dia punya banyak ide.”“Ya udah kalo gitu besok kamu temuin aja dia sekalian ambil bukunya ya,” ucap Arjuna memberi izin.“Kalo boleh tau, Nadira besok dinas apa, Dok?”“Pagi. Dia pagi terus sekarang sampai melahirkan. Dia di poli bedah sekarang. Kamu bisa langsung ke sana ya.”Billy mengangguk sambil tersenyum. “Makasih banyak, Dok. Kalau gitu ... saya permisi dulu.” Bil
“Ngapain kamu di sini?” tanya Wisnu saat keluar dari mobil Arjuna.Wajah Raka yang tadi cerah saat mengantar Lia, kini kembali suram.Arjuna keluar dari mobilnya. Dia menyusul langkah Wisnu mendekat ke Raka yang pasti sudah lama menunggu mereka.“Dari mana kalian? Sengaja banget ya datengnya berdua. Punya acara pribadi kalian?!” sembur Raka kesal.Wisnu terkekeh melihat sahabatnya ngambek. “Sorry, tadi pas mau berangkat, Ko Felix telpon ngajal meeting. Ya udah aku telpon Juna dan ternyata Juna di rumah juga. Maaf ya,” jelas Wisnu sambil membujuk Raka agar tidak marah lagi.“Iya, sorry. Tadi tuh bener-bener diluar prediksi.” Arjuna juga ikut minta maaf.“Eh iya ... si Billy udah ke sini?” tanya Arjuna.“Udah! Lagi makan tuh dia di dalam.” Raka masih menjawab dengan ketus.Wisnu tersenyum lalu merangkul pundak sahabatnya. “Ya udah, masuk yuk. Aku juga laper.”“Bodo amat! Emang gua peduli!”Arjuna dan Wisnu hanya terkekeh. Teman lajang mereka ini, emosinya memang masih sering naik turun.
“Ayah!” pekik Nadira yang kemudian segera berlari meninggalkan mejanya. Nadira bahkan lupa membawa nampan makannya ke tempatnya, karena dia terburu-buru. Kabar tentang ayahnya yang kembali drop, membuatnya syok. Padahal baru tadi pagi dia datang untuk mengecek sendiri keadaan ayahnya. Memastika
“Tidurlah dengan suami saya. Pinjamkan rahimmu dan lahirkan anaknya.” Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa beban seolah yang sedang dibicarakan bukanlah sesuatu yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Nadira Azzahra membeku di tempatnya, tak bisa menjawab, bahkan mulutnya ternganga mendengar perm
Tangan Nadira mengusap lembut punggung tangan ayahnya. Tangan yang biasanya memberinya banyak kehangatan dan perlindungan, kini harus terbaring lemah tak berdaya. Nadira menatap kulit wajah ayahnya yang pucat. Tampak sekali kelelahan menahan sakit yang sewaktu-waktu bisa mengambil nyawanya. Tanpa t
“Nadira?” Arjuna tertawa mendengar nama dokter koas itu disebut. Namun sedetik kemudian, tatapan Arjuna kembali tajam. Tatapan mematikan Arjuna yang membuat Sinta sedikit takut saat melihatnya. “Apa kamu mau hancurkan hidup orang lain buat keegoisanmu, Sinta?!” Suara Arjuna terdengar sangat dal







