LOGINWisnu langsung terdiam mendengar pertanyaan Raka. Dia serba salah dalam bertindak saat ini.Arjuna sudah mempercayakan masalah besar ini akan aman padanya. Meski Raka adalah sahabat mereka, tapi tanpa izin Arjuna, Wisnu tidak berani mengkhianati sahabatnya itu.Raka menatap wajah Wisnu. Tampak gurat kebingungan di sana yang membuat Raka semakin berpikir apa dugaannya benar dan Wisnu juga mengetahuinya.Raka semakin menatap Wisnu dengan tatapan menuntut. “Wis, apa Juna selingkuh sama Nadira?” tanya Raka dengan suara dalam.Tatapan Raka sangat serius dan penuh curiga. Wisnu bahkan sampai salah tingkah sendiri karena tidak menyangka sahabatnya itu bisa sampai berpikir sejauh itu.Wisnu tersenyum canggung. “Apa-apaan sih kamu. Mana ada yang kayak gitu,” ucap Wisnu sambil tertawa kecil memaksa suasana tetap santai.“Aku serius, Wis.”“Aku juga serius, Ka,” jawab Wisnu.Wisnu menepuk pundak Raka. “Ka, kamu tau sendiri kan kalo Juna itu tipe orang paling setia yang pernah kita kenal,” jawab
“Nad,” panggil Raka saat melihat wanita itu hanya diam sambil melihatnya.“Nad, dipanggil itu loh,” ucap Farah sambil mendorong-dorong badan Nadira agar segera mendatangi Raka.“Iya, Nad. Udah buruan sana.” Risma dan Nadine melakukan hal yang sama.“Eh, tapi aku ... aku ma—““Udah sana. Ini kesempatan langka tau, Nad. Tunggu Dok, Nadira ikut,” sahut Farah sedikit lancang sambil mendorong tubuh Nadira lebih kencang agar badan kaku wanita itu maju.Raka tersenyum pada Nadira dan teman wanitanya. Pandangannya berakhir di Nadira. “Ayo.”Nadira tersenyum canggung. “I-iya, Dok.”Dengan sangat terpaksa Nadira pun segera mengikuti langkah Raka menuju ke pintu utama kafe.Nadira menoleh ke teman-temannya yang malah sibuk memberinya ucapan selamat dan juga dukungan semangat kepadanya.Tidak tahu saja kalau Nadira kini sedang galau maksimal. Dia takut kalau nanti Arjuna melihatnya.Bisa-bisa dia kena marah. Mending kalau marah saja, kalau dia diberi tugas yang sangat banyak, pasti ini akan sanga
“Rencana? Rencana apa sih, Mas,” ucap Sinta dengan senyum manisnya.Sinta mendekat ke suaminya. “Kamu ini terlalu negatif thinking sama aku. Aku loh beneran mau dukung kamu.”Sinta menarik napas dalam lalu menatap jauh ke depan. “Aku udah dikasih tau papa banyak hal. Seminar ini penting buat kamu. Buat karier kamu dan—“Sinta menoleh lagi ke suaminya. “Buat masa depan kita juga,” lanjut Sinta dengan mata berbinar.Arjuna menatap istrinya dengan sangat datar. Sikap seperti ini memang sering dilakukan Sinta dulu saat kehidupan rumah tangga mereka masih baik-baik saja.Tapi sejak ide gila Sinta muncul dan semua kebusukannya terungkap, Arjuna jadi penuh kewaspadaan pada setiap sikap istrinya.Wajah cantik itu menyembunyikan banyak kepalsuan yang membuatnya terlena.Sinta menatap suaminya yang sedang bengong. “Mas, kamu kenapa?” tanya Sinta.Arjuna sedikit tersentak. Dia mengusap wajahnya sendiri sambil menghela napas.“Makasih. Makasih udah mau ngerti,” ucap Arjuna.“Ya udah, aku mau mand
“Mas,” panggil Sinta lembut merayu.Sinta menggerakkan badannya perlahan, mencoba menarik perhatian suaminya.Jemari lentiknya juga berusaha membangkitkan gairah liar Arjuna yang sangat dia rindukan.Jari-jari lentik dengan cat kuku merah terawat itu berjalan pelan dari pangkal paha Arjuna sampai ke perut datar pria itu.Tatapan Sinta mulai sayu, karena dia sudah mulai terangsang, saat tangannya membelai tubuh Arjuna.Bagaimana dengan Arjuna?Pria itu membeku beberapa detik.Tatapannya turun perlahan ke tubuh istrinya yang nyaris tak tertutup apa pun selain bathrobe tipis yang sengaja dibiarkan terbuka.Biasanya, hanya dengan melihat Sinta seperti ini saja, gairahnya sudah langsung naik.Namun malam ini berbeda.Arjuna justru merasa kosong. Tidak ada hasrat.Tidak ada keinginan menyentuh.Yang ada hanya rasa lelah memenuhi kepalanya. Sejak tadi kelopak matanya seakan menyuruhnya menutup mata, padahal dia masih ingin melihat.Sinta menjatuhkan badannya di dada suaminya. Selain membelai
“Bu Sinta,” gumam Nadira pelan.Senyuman tipis langsung memudar dari wajah cantik dokter muda itu. Ketenangannya mendadak hilang saat bertemu orang yang membawa aura tidak baik baginya itu.Dia sudah bisa menebak, pasti akan ada masalah baru yang akan dia hadapi saat ini.Sinta berdiri beberapa meter di depannya sambil menatap isi troli belanja Nadira. Bukan isi trolinya saja yang menjadi perhatian Sinta, tapi penampilan Nadira juga menjadi sorotan.Sepatu pantofel hitam, celana kain dan juga kemeja warna peach. Terlihat tidak mahal, dan masih seperti gaya Nadira seperti dulu.Tapi ada sedikit yang berbeda di wajah wanita itu. Ada sapuan lipstik dan juga pipinya terlihat lebih berisi dan kemerahan, sehingga kecantikan dokter muda itu terlihat semakin cantik.“Oo, sekarang kamu belanja di sini juga ya ternyata,” sindir Sinta sambil tersenyum sinis.Nadira menunduk dan tersenyum tipis. Dia langsung bisa menebak arah pembicaraan wanita di depannya itu.Nadira memilih diam dan menarik nap
Ayu tersenyum tipis melihat sorot mata Sinta yang mulai tertarik mendengar ucapannya.Dokter muda itu melangkah mendekat perlahan, lalu ikut melihat ke arah pintu ruang penelitian yang sudah tertutup rapat.“Dokter Nadira sekarang beda, Bu,” ucap Ayu pelan seolah sedang membicarakan rahasia besar.Sinta menatap wanita di sampingnya. Dia melihat Ayu dari atas ke bawah, seolah sedang mencoba memindai penampilan wanita itu.Penampilannya lebih modis dari Nadira dan tatapan Sinta berakhir di tanda pengenal Ayu yang ada di saku dada jas dokternya.“Siapa kamu?” tanya Sinta yang tidak merasa mengenal wanita di depannya.“Oh iya, maaf saya belum perkenalkan—“ Ayu mengulurkan tangannya ke Sinta.Namun melihat Sinta tidak bereaksi, Ayu pun menarik tangannya kembali dengan canggung.“Saya Ayu, Bu. Residen tahun ke 4 di sini. Saya seniornya Nadira,” ucap Ayu memperkenalkan diri.Sinta mendengus kecil. Sepertinya dia sudah bisa membaca maksud Ayu mendekatinya.Tapi Sinta memutuskan untuk tetap me







