Se connecter“Berapa lama saya harus rehat, Dok?” tanya Arjuna.“Sekitar 2 minggu sampai satu bulan, Dok. Ada syaraf yang cedera dan tulangnya terkena benturan keras. Besok mungkin akan keluar memarnya,” terang Dokter Adi.Nadira menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Tangannya memegang paha Arjuna, berusaha menguatkan suaminya padahal dia sendiri tidak siap menerima kenyataan ini.“Dok,” panggil Nadira pelan.Arjuna menoleh ke istrinya. Dia kemudian melihat ke pergelangan tangan kanannya yang selama ini dia jaga baik untuk kariernya.“Saya sarankan, di minggu-minggu ini, hindari dulu masuk ruang operasi, Dok. Kalau tangannya tidak istirahat total, kemungkinan buruk bisa saja terjadi,” pesan Dokter Heru.“Tapi sebaiknya tunggu sampe pulih aja sih. Takutnya, pemulihan makin lambat nanti,” sahut Dokter Adi.“Tapi pasien saya banyak, Dok. Mereka butuh penanganan.” Arjuna masih mengkhawatirkan pasiennya.“Kita tidak punya pilihan lain, Dok. Kalau Dokter masih memaksakannya, lukanya bisa semakin se
“Mampus kamu Nadira!” pekik Sinta sambil melemparkan pot bunga keramik ke arah Nadira.Prang.Suara pecahan keramik langsung terdengar, di sertai suara teriakan wanita.“Aah.” Arjuna mengerang saat tangannya terasa sakit, setelah dia berhasil menepis pot yang mengarah ke kepala istrinya.Nadira yang tadi langsung direngkuh Arjuna dalam pelukannya, langsung melihat ke suaminya yang mengerang kesakitan.Mata Nadira membulat saat Arjuna memegangi tangannya. “Dokter!” jerit Nadira kencang.Merasa keadaan di sana sudah mengkhawatirkan, apa lagi sampai Arjuna terluka, suster penjaga Sinta langsung memegangi Sinta. Dia menekan tombol bantuan di dekat lift, untuk memanggil para suster jaga.Nadira langsung memegangi tangan suaminya. Saat dia memegang pergelangan tangan Arjuna, pria itu mendesis.“Dok, tangan Anda!” ucap Nadira panik.“Kita ke UGD sekarang, Dok!” ajak Nadira.“Mau ke mana kalian, hah? N
“Ayah bilang apa?” tanya Arjuna.Nadira menoleh ke suaminya. Dia mengusap perutnya sambil memberanikan diri mengatakan pertanyaan ayannya kemarin.“Anu Dok, ayah nanya ... kan bentar lagi kandungan saya mau masuk 4 bulan. Apa gak akan ada sekedar syukuran gitu,” tanya Nadira.Arjuna menoleh sebentar ke istrinya sebelum kembali melihat ke jalanan. ”Bukannya biasanya 7 bulan ya?” tanya Arjuna.“Kalo di tempat saya biasanya 4 bulan juga, Dok.”“Acaranya apa?”“Kurang tahu. Mungkin kayak pengajian gitu.”Arjuna membelokkan mobilnya ke sebuah rumah makan. Sesuai keinginan Nadira tadi, mereka akan membeli lauk dulu sebelum pulang.Arjuna menarik tuas rem tangannya. Dia kemudian melihat ke istrinya.“Itu bagus. Tapi bukannya saya gak mau, tapi sepertinya waktunya gak tepat.”“Selain kita masih nikah siri, saya juga masih disibukkan dengan perceraian saya. Belum lagi kita mau resign. Kamu paham kan?”
“Bu-Bu Sinta,” ucap Nadira pelan saat dia melihat Sinta.Badan Nadira mendadak kaku. Otaknya seperti tidak bisa diperintah untuk pergi.“Aackk!” pekik Nadira saat ada sesuatu yang menariknya dengan kuat.Sinta yang baru saja kembali dari konsultasi dengan seorang psikolog, mengangkat pandangannya.Suara teriakan itu terdengar seperti suara Nadira. Tapi dia tidak melihat siapa-siapa di depannya.Sinta dibawa masuk lagi ke ruang perawatannya. Seorang suster disewa Mahendra untuk terus menemani Sinta, agar putrinya tidak merasa sendirian.Sementara itu, Nadira membulatkan matanya saat dia melihat seseorang berdiri di depannya. Tangan orang itu membungkam mulutnya agar tidak bersuara.Nadira memegang tangan orang itu, lalu menurunkannya perlahan.“Sus,” sapa pelan Nadira yang masih tegang.Suster Ira melihat ke arah lorong, tempat tadi Nadira melihat Sinta. “Udah gak ada, Dok. Kayaknya udah masuk ke kamarnya,” lapor Suster Ira.Nadira yang masih syok, terdiam sejenak. Dia mengembalikan ke
Tak ada jawaban keluar dari mulut Arjuna. Pria itu masih memeluk Nadira erat di dalam ruang tamu.Nadira yang tidak mengerti apa yang terjadi dengan suaminya hanya bisa mengusap punggung Arjuna.Arjuna melepas pelukannya. Dia menatap istrinya.“Ayahmu udah tidur?” tanya Arjuna.Nadira mengangguk. “Iya. Abis minum obat tadi Ayah tidur, Dok.”Arjuna melihat ke dalam rumah istrinya yang sudah gelap. “Kamu mau di sini ato pulang?”“Saya terserah Dokter aja.”Arjuna kembali menatap Nadira. “Malam ini kita tidur di sini aja. Saya belum nyapa Ayahmu. Gak enak kalo kamu saya bawa balik sekarang.”Nadira tersenyum tipis. “Iya, gak papa. Ayah pasti senang.”“Tapi ... apa gak papa kalo Dokter nginep di sini? Kamar saya sempit, Dok.”“Saya dulu juga pernah tinggal sangat lama di kamar sempit, Nad. Saya gak besar di keluarga dengan sendok emas.”Nadira mengangguk. “Kalo gitu, silakan masuk. Kamar saya di sana, Dok.”Nadira menunjukkan posisi kamarnya. Dia memasukkan dulu sepatu mahal suaminya dan
“Nad, kok Dokter Juna belum jemput kamu? Apa pasiennya banyak?” tanya Agus saat dia menunjuk jam sudah hampir jam 10 malam.Nadira melihat ke jam dinding di rumahnya. “Iya juga ya. Bentar, biar Nadira tanya bentar.”Nadira mengambil ponselnya. Karena takut mengganggu pekerjaan suaminya, dia memilih mengirim pesan saja.Tapi baru beberapa menit dia mengirim pesan, ponsel Nadira langsung berdering.Ada nama Arjuna di sana. Nadira pun segera menerima panggilan itu.“Selamat malam, Dok,” sapa Nadira.“Malam. Nad, saya lagi sama Raka dan Wisnu. Kamu tidur aja, gak usah tunggu saya. Kalo nanti terlalu malam, saya langsung ke apartemen aja,” ucap Arjuna memberi tahu istrinya tentang keberadaannya.“Oh, lagi sama Dokter Raka. Dokter udah makan?” Nadira masih mengkhawatirkan suaminya.“Udah. Tadi abis praktik kami makan dulu. Kamu istirahat. Jangan lupa minum susunya.” Arjuna berpesan agar istri dan anaknya tetap sehat.“Baik, Dok. Kalau begitu saya tutup dulu. Selamat malam.”Nadira mengakhir
Sinta berdiri membeku di ambang pintu. Senyumnya perlahan mulai memudar melihat pemandangan di depannya.Tatapannya terpaku pada Arjuna dan Nadira yang masih berdiri berpelukan seperti pasangan sejati.Melihat Sinta masuk, Nadira langsung mendorong badan suaminya. Wajah wanita itu langsung pucat, m
Tangan Nadira mengusap lembut punggung tangan ayahnya. Tangan yang biasanya memberinya banyak kehangatan dan perlindungan, kini harus terbaring lemah tak berdaya. Nadira menatap kulit wajah ayahnya yang pucat. Tampak sekali kelelahan menahan sakit yang sewaktu-waktu bisa mengambil nyawanya. Tanpa t
“Nadira?” Arjuna tertawa mendengar nama dokter koas itu disebut. Namun sedetik kemudian, tatapan Arjuna kembali tajam. Tatapan mematikan Arjuna yang membuat Sinta sedikit takut saat melihatnya. “Apa kamu mau hancurkan hidup orang lain buat keegoisanmu, Sinta?!” Suara Arjuna terdengar sangat dal
“Bu-Bu Sinta,” jawab dokter muda cantik itu dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. Senyum di wajah Sinta terlihat mengerikan bagi Nadira. Dia memilih menunduk, menghindari tatapan putri pemilik rumah sakit ini. Arjuna melihat ke Nadira sekilas lalu berdiri. “Selesaikan laporannya. Besok pagi







