Se connecter“Tapi apa, Sayang?” tanya Lia ke putranya.“Masih cakep Om yang ini,” seru Raymond polos sambil menunjuk ke Arjuna.“Cakep Om ya, Ray?” tanya Arjuna sambil terkekeh dan melirik penuh ledekan ke Raka.“Iya. Tante ini juga cantik. Kayak Mamanya Ray.” Kali ini Ray menunjuk ke Nadira.“Makasih, Sayang,” jawab Nadira sambil mengacak rambut Ray.“Kalo Om yang itu gimana, Ray?” tanya Nadira sambil menunjuk ke Raka.Ray menoleh ke Raka yang berjalan di samping mamanya. “Om ini baik juga.”“Om Raka, Sayang,” celetuk Lia agar Ray selalu mengingat nama teman-temannya.“Om Raka baik. Om, mau beliin Ray es krim?” tanya Ray.“Siap, Bos!”“Gak sekarang ya. Nanti kapan-kapan aja. Tadi kamu udah makan es krim. Nanti sakit lagi perutnya.” Lia segera memberi batasan.“Tuh, kata Mama gak boleh sekarang. Minggu depan kalo libur sekolah, kita pergi makan es krim ya?” janji Raka sekalian usaha mendekati Raymond.“Iya.”“Asek! Pendekatan!” ledek Arjuna sampai membuat Nadira tertawa.Agus yang berjalan di sam
“Ortumu aman kan, Ka? Ato belum bilang?” tanya Arjuna.Raka mengela napasnya sedikit kasar. “Jujur belum bilang sih. Aku masih bingung juga.”“Bingung soal apa, Dok?” tanya Nadira.“Ya soal Lia. Aku tuh bingung mau cerita apa ke mereka. Sedangkan hubungan aku ama Lia aja masih sangat standar banget. Dia gak gampang di deketin.” Raka menceritakan perkembangan usahanya mendekati Lia.“Kenapa gitu?”“Ya gak tau. Ntah dia masih trauma ato emang masih belum mau buat berhubungan ama orang lagi.”“Suaminya ke mana emang?” tanya Agus.“Cerai, Yah. Balik ke Australia.”Agus melihat ke Lia yanh sedang menyuapi anaknya. “Deketin aja anaknya. Kalo anaknya suka, pasti nanti mamanya gampang suka,” ucap Agus memberikan saran.“Eh! Iya ... bener itu, Dok. Bener kata Ayah!” seru Nadira kaget dengan pernyataan ayahnya dan langsung setuju.Agus menoleh ke Raka. “Iya Dok, kebanyakan janda punya anak itu pasti bakalan pentingin anaknya dulu. Kalo cowoknya pinter ambil hati anaknya, pasti dia gampang luluh
“SP1? Looh ... ada apa ini kok tiba-tiba main SP aja?” tanya Wisnu bingung.Wisnu melihat wajah Arjuna sudah terlihat sangat kesal. Dia langsung menoleh ke Raka. “Ada apa sih, Ka?” tanya Wisnu ingin tahu.Raka sedikit menoleh ke Wisnu yang berdiri di sampingnya. “Nadira abis berantem ama Bu Risma gara-gara Agnes. Dia dipanggil Bu Risma trus di bilang Nadira manfaatin jabatan Juna.” Raka menceritakan secara singkat cerita Nadira tadi.“Laah ... kok aku gak tau sih. Kapan itu, Nad?” tanya Wisnu.“Kemaren lusa, Pak. Pas abis anter ayah pulang. Kasar banget omongannya.”“Tu orang buta apa gimana sampe bilang gitu ke Nadira. Gak liat apa kalo dia lagi hamil gede!” Arjuna makin kesal.“Ya udah, nanti biar aku urus. Lagian kenapa juga Agnes sampe laporin kamu. Kan itu prosedur rumah sakit,” ucap Wisnu.“Itu dia, Pak. Saya juga bingung pas di panggil. Lagian kan dokternya juga bukan saya. Eh, malah main lapor aja.”“Dia tau gak sih Sayang kalo kamu bukan dokter mamanya?” tanya Arjuna.“Tau. A
“Aduh, maaf,” ucap Nadira saat dia tidak sengaja menabrak seseorang.“Iya. Sayang, kamu gak papa?”“Dokter Lia?” Sapa Nadira yang mengenali orang yang dia tabrak.Lia menoleh ke Nadira. “Loh, kamu ternyata, Nad. Sama siapa?” tanya Lia sambil tersenyum.“Sama Pa Dok ama ayah.” Nadira melihat ke bocah kecil di gandengan Lia. “Sama siapa, Dok?” tanya Nadira.“Oh iya.” Lia menghadapkan bocah kecil yang datang bersamanya ke arah Nadira. “Ray, kenalin ... ini Tante Nadira temennya Mama,” ucap Lia menyuruh anaknya berjabat tangan dengan Nadira.Nadira tersenyum dengan ekspresi kaget saat mengetahui Lia punya anak. “Anaknya, Dok?”Lia mengangguk. “Iya.”Nadira sedikit menekuk kakinya agar bisa menatap bocah kecil itu lalu menerima uluran tangan Raymond.“Haii ... ini Tante Nadira,” ucap Nadira memperkenalkan diri.“Halo Tante, aku Raymond.”“Ih lucunya. Kelas berapa, Dok?”“Kelas 1. Mau aku pindahin sekolahnya di sini. Biar deket aku.”“Oh iya. Biar gak kangen ya.”“Iya, Nad. Eh, aku ke Leon
“Sayang, kamu kenapa? Kok kayaknya lagi kesel gitu?” tanya Arjuna pada istrinya saat mereka pulang bersama.Nadira menoleh ke suaminya. “Gak papa, Pa Dok. Cuma lagi kesel aja sedikit.”“Masalah kerjaan?”“He em.”“Ada apa emangnya? Apa ada yang perlu aku bantu?” tanya Arjuna sambil terus menyetir.Nadira mendengus kesal. “Gak ada sih. Cuma agak kesel aja kalo ada yang denger katanya aku kerja sembarangan aja karena aku istri direktur.” Nadira mulai mengadu.Arjuna menoleh ke arah istrinya. “Siapa yang bilang gitu?”“Adalah yang bilang. Langsung kudamprat tadi orangnya.”Arjuna menoleh sebentar ke istrinya lalu dia tergelak santai. “Kamu damprat orang di rumah sakit?”“Iya. Kesel aku. Cuma karena aku sekarang gerak lebih lambat, udah dibilang aku kerja seenaknya. Gak liat apa kalo sekarang perutku udah segede gini. Berat tau bawanya!” Nadira terus mengomel sambil mengusap perutnya. Dia masih ingat betul wajah menyebalkan Bu Risma yang sudah seperti orang tidak pernah hamil saja.Arjuna
“Hmm ... ada apa lagi ini ya,” gumam Nadira saat dia melihat pesan yang muncul di ponselnya.Sebuah pesan yang mengharuskannya datang ke HRD sekarang. Ruangan yang tidak pernah dia datangi, kini malah memanggilnya.Dia yang tadinya akan kembali ke ruang kerjanya, kini harus ke ruang HRD dulu.Nadira naik lagi ke bagian staf administrasi rumah sakit. Dia berjalan perlahan sambil memegangi perutnya agar tidak kontraksi lagi.Nadira mengetuk ruang HRD, lalu membuka pintunya. Seorang staf wanita yang akan keluar, menemuinya.“Mau cari siapa, Dok?” tanya staf itu.“Bu Risma,” jawab Nadira.“Oh, ruangannya yang itu. Masuk aja.”Nadira mengangguk. “Iya, makasih.”Staf itu pun segera keluar dari ruangan HRD.Nadira berjalan ke arah ruangan pimpinan HRD yang tadi ditunjukkan sambil sesekali memberikan senyuman pada staf yang mejanya dia lewati.Nadira mengetuk pintu ruangan itu. Setelah diizinkan masuk, Nadira pun segera membuka pintu dan masuk ke dalam sana.Seorang wanita seumuran suaminya,
Tangan Nadira mengusap lembut punggung tangan ayahnya. Tangan yang biasanya memberinya banyak kehangatan dan perlindungan, kini harus terbaring lemah tak berdaya. Nadira menatap kulit wajah ayahnya yang pucat. Tampak sekali kelelahan menahan sakit yang sewaktu-waktu bisa mengambil nyawanya. Tanpa t
“Nadira?” Arjuna tertawa mendengar nama dokter koas itu disebut. Namun sedetik kemudian, tatapan Arjuna kembali tajam. Tatapan mematikan Arjuna yang membuat Sinta sedikit takut saat melihatnya. “Apa kamu mau hancurkan hidup orang lain buat keegoisanmu, Sinta?!” Suara Arjuna terdengar sangat dal
“Bu-Bu Sinta,” jawab dokter muda cantik itu dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. Senyum di wajah Sinta terlihat mengerikan bagi Nadira. Dia memilih menunduk, menghindari tatapan putri pemilik rumah sakit ini. Arjuna melihat ke Nadira sekilas lalu berdiri. “Selesaikan laporannya. Besok pagi
“Ayah!” pekik Nadira yang kemudian segera berlari meninggalkan mejanya. Nadira bahkan lupa membawa nampan makannya ke tempatnya, karena dia terburu-buru. Kabar tentang ayahnya yang kembali drop, membuatnya syok. Padahal baru tadi pagi dia datang untuk mengecek sendiri keadaan ayahnya. Memastika







