Teilen

Bab 121. Vonis

last update Veröffentlichungsdatum: 18.08.2026 18:29:40

“Berapa lama saya harus rehat, Dok?” tanya Arjuna.

“Sekitar 2 minggu sampai satu bulan, Dok. Ada syaraf yang cedera dan tulangnya terkena benturan keras. Besok mungkin akan keluar memarnya,” terang Dokter Adi.

Nadira menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Tangannya memegang paha Arjuna, berusaha menguatkan suaminya padahal dia sendiri tidak siap menerima kenyataan ini.

“Dok,” panggil Nadira pelan.

Arjuna menoleh ke istrinya. Dia kemudian melihat ke pergelangan tangan kanannya yang selama in
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (3)
goodnovel comment avatar
Indah Salwa
selalu nunggu update nya kakk
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
rencananya mensahkan pernikahan Juna Ama nadira
goodnovel comment avatar
Zelly Frida
baiklah konflik nya jgn kelamaan ya autor .. aq yg nungguin updatenya dok juna
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 206

    “Sayang, kamu kenapa? Kok kayaknya lagi kesel gitu?” tanya Arjuna pada istrinya saat mereka pulang bersama.Nadira menoleh ke suaminya. “Gak papa, Pa Dok. Cuma lagi kesel aja sedikit.”“Masalah kerjaan?”“He em.”“Ada apa emangnya? Apa ada yang perlu aku bantu?” tanya Arjuna sambil terus menyetir.Nadira mendengus kesal. “Gak ada sih. Cuma agak kesel aja kalo ada yang denger katanya aku kerja sembarangan aja karena aku istri direktur.” Nadira mulai mengadu.Arjuna menoleh ke arah istrinya. “Siapa yang bilang gitu?”“Adalah yang bilang. Langsung kudamprat tadi orangnya.”Arjuna menoleh sebentar ke istrinya lalu dia tergelak santai. “Kamu damprat orang di rumah sakit?”“Iya. Kesel aku. Cuma karena aku sekarang gerak lebih lambat, udah dibilang aku kerja seenaknya. Gak liat apa kalo sekarang perutku udah segede gini. Berat tau bawanya!” Nadira terus mengomel sambil mengusap perutnya. Dia masih ingat betul wajah menyebalkan Bu Risma yang sudah seperti orang tidak pernah hamil saja.Arjuna

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 205

    “Hmm ... ada apa lagi ini ya,” gumam Nadira saat dia melihat pesan yang muncul di ponselnya.Sebuah pesan yang mengharuskannya datang ke HRD sekarang. Ruangan yang tidak pernah dia datangi, kini malah memanggilnya.Dia yang tadinya akan kembali ke ruang kerjanya, kini harus ke ruang HRD dulu.Nadira naik lagi ke bagian staf administrasi rumah sakit. Dia berjalan perlahan sambil memegangi perutnya agar tidak kontraksi lagi.Nadira mengetuk ruang HRD, lalu membuka pintunya. Seorang staf wanita yang akan keluar, menemuinya.“Mau cari siapa, Dok?” tanya staf itu.“Bu Risma,” jawab Nadira.“Oh, ruangannya yang itu. Masuk aja.”Nadira mengangguk. “Iya, makasih.”Staf itu pun segera keluar dari ruangan HRD.Nadira berjalan ke arah ruangan pimpinan HRD yang tadi ditunjukkan sambil sesekali memberikan senyuman pada staf yang mejanya dia lewati.Nadira mengetuk pintu ruangan itu. Setelah diizinkan masuk, Nadira pun segera membuka pintu dan masuk ke dalam sana.Seorang wanita seumuran suaminya,

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 204

    “Belum??? Kok belum sih. Alasannya apa?” tanya Arjuna geram.Wisnu tersenyum. “Sabar lah, Bos. Kan pelakunya pegawai mereka. Ya mending ntar di panggil pas dia dinas. Santai dong,” jawab Wisnu sambil tersenyum.“Kalo nanti orangnya gak dinas dan malah kabur gimana, Pak? Kan bisa aja dia gak akan kerja karena udah tau,” sahut Nadira.“Nah, iya ... bener itu kata Nadira. Ntar kita malah gak ketemu pelaku sebenarnya.” Arjuna setuju dengan ucapan istrinya.Wisnu terkikik. “Kalian ini bener-bener ya. Kebanyakan liat drama kalian.”“Ya maaf, Wis. Namanya juga mereka udah penasaran,” sahut Agus.Wisnu menoleh ke mertua sahabatnya itu. “Iya, Pak. Lucu banget mereka.”Wisnu kembali melihat ke pasangan itu. “Udah, kalian tenang aja. Nanti juga bakalan dihubungi. Jam dinas dia bentar lagi.”“Lagi pula ya, kalo misalnya dia niat pergi, pasti udah sejak dia lakukan kejahatan itu. Tapi saat ini anaknya masih do rawat di rumah sakit itu. Anaknya baru aja operasi abis kecelakaan,” lanjut Wisnu.“Ini

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 203

    “Gimana ... apa kata mereka?” tanya Arjuna ingin tahu.Wisnu meletakkan iPad yang dia bawa di atas meja. “Liat dulu yang ini,” jawab Wisnu.Arjuna melihat ke Wisnu sebentar, sebelum dia mengambil iPad itu.Arjuna jadi semakin penasaran dengan apa yang dilaporkan oleh pihak Sehat Sentosa.Setelah mendapatkan iPad-nya, Arjuna kembali melihat ke Wisnu.“Oh ya Wis, aku mau minta tolong,” ucap Arjuna.“Ada apa?”“Ini loh, soal Nadira.” Arjuna menoleh ke istrinya yang duduk di sampingnya. “Bisa gak kamu urus cuti buat Nadira semester ini. Semester depan aja dia mulai lagi residen tingkat tiganya,” pinta Arjuna.Wisnu melihat ke Nadira. “Karena kehamilannya ya?”Arjuna mengangguk. “Iya.”“Iya, Wis. Belakangan petut Nadira sering kram karena kecapekan. Ayah gak tega, Wis,” imbuh Agus menguatkan permintaan menantunya.“Bisa aja sih. Nanti tinggal minta surat keterangan dari dokter kandungannya sama kepala bagian residennya. Paling gak, aku akan usahakan yang udah dijalani kemaren gak ilang. Ja

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 202

    “Sayang!” pekik Arjuna panik yang langsung berhambur ke arah istrinya dan meletakkan makanannya begitu saja.Agus yang duduk di samping Nadira juga langsung memegangi putrinya. “Nad, kamu kenapa?” tanya Agus ikut panik.“Aduh, sakit, Yah,” keluh Nadira sambil memegangi perutnya.“Kram lagi, Sayang?” tanya Arjuna yang langsung mengusap perut istrinya.Nadira hanya mengangguk sambil mengatur napas. Dia berusaha santai, agar perutnya tidak tegang lagi.“Kita ke Dokter Ira ya,” ajak Arjuna.“Gak usah. Ini udah enakan kok,” jawab Nadira yang masih memejamkan matanya, merasakan sakit di perutnya.“Tapi kamu kesakitan, Sayang.” Arjuna tetap membujuk istrinya agar mau periksa.Napas Nadira semakin tenang. Wanita cantik itu masih menarik napas dalam lewat hidungnya lalu mengembuskannya lewat mulut.Dia harus berlatih napas juga, menghadapi masa persalinan yang kian dekat.Arjuna mengusap perut istrinya. Bagian yang tadi terasa sangat keras, kini perlahan mulai lembut.“Masih sakit gak?” tanya

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 201.

    “Dokter mau?” tanya Nadira ingin tahu.Raka menoleh sebentar ke Nadira. Dia kemudian tertawa kecil mendengar pertanyaan kecil itu.“Nad, bukannya kamu udah pernah sumpah dokter ya. Dokter gak boleh membedakan pasien,” jawab Raka.Nadira mengangguk perlahan. “Iya Dok, saya mengerti. Maaf.”“Iya ... kita gak boleh membedakan pasien. Tapi ....” Raka menoleh ke Nadira. “Kalo bisa dihindari, ya mending di hindari aja.”Nadira langsung tertawa mendengar jawaban Raka. Dia sampai memalingkan wajahnya dan memegangi perutnya, karena dia tidak bisa menghentikan tawanya.Raka ikut tertawa. Dia diam-diam masih menikmati wajah cantik Nadira, saat ibu hamil itu tersenyum.Nadira berusaha menghentikan tawanya saat mereka masuk ke dalam lift. Tidak enak rasanya dilihat orang umum, jika dokternya malah tertawa lepas di rumah sakit.Nadira dan Raka berdiri tepat di barisan depan. Raka masih bisa melihat wajah Nadira yang menahan tawa.Raka menggeser badannya ke arah Nadira. “Ingat ya, Nad. Hindari!” bis

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 5. Siapkan Diri Kamu

    Tangan Nadira mengusap lembut punggung tangan ayahnya. Tangan yang biasanya memberinya banyak kehangatan dan perlindungan, kini harus terbaring lemah tak berdaya. Nadira menatap kulit wajah ayahnya yang pucat. Tampak sekali kelelahan menahan sakit yang sewaktu-waktu bisa mengambil nyawanya. Tanpa t

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 4. Mencari Alasan

    “Nadira?” Arjuna tertawa mendengar nama dokter koas itu disebut. Namun sedetik kemudian, tatapan Arjuna kembali tajam. Tatapan mematikan Arjuna yang membuat Sinta sedikit takut saat melihatnya. “Apa kamu mau hancurkan hidup orang lain buat keegoisanmu, Sinta?!” Suara Arjuna terdengar sangat dal

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 3. Ide Konyol

    “Bu-Bu Sinta,” jawab dokter muda cantik itu dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. Senyum di wajah Sinta terlihat mengerikan bagi Nadira. Dia memilih menunduk, menghindari tatapan putri pemilik rumah sakit ini. Arjuna melihat ke Nadira sekilas lalu berdiri. “Selesaikan laporannya. Besok pagi

  • Menikahi Wanita Pilihan Istriku   Bab 2. Tekanan Segala Penjuru

    “Ayah!” pekik Nadira yang kemudian segera berlari meninggalkan mejanya. Nadira bahkan lupa membawa nampan makannya ke tempatnya, karena dia terburu-buru. Kabar tentang ayahnya yang kembali drop, membuatnya syok. Padahal baru tadi pagi dia datang untuk mengecek sendiri keadaan ayahnya. Memastika

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status