ANMELDEN“Siapa yang hamil?”
Raka tiba-tiba datang bergabung dengan membawa bungkusan di tangannya. Pria itu langsung melihat ke kedua sahabatnya yang tiba-tiba menatapnya kaget.Arjuna dan Wisnu saling berpandangan. Mereka seolah sedang mencari alasan dan saling menyuruh untuk menjawab pertanyaan Raka.Raka melihat ke Arjuna dan Wisnu bergantian. “Siapa yang hamil?” tanyanya lagi.Tanpa sengaja ekor mata Raka menangkap seorang wanita yang sangat dia kenal. WanitaSinta terdiam. Dia melirik ke pengacara Arjuna yang tampaknya siap akan mempidanakannya jika bertindak kasar pada Arjuna.Dia melihat ke Arjuna. Tidak ada lagi sorot mata yang dulu dia kagumi dari pria itu sudah tidak ada lagi.Kini tatapan Arjuna hanya tak ada lagi kasih dan kelembutan. Hanya ada sorot tajam yang sangat menyakitkan.Sinta mundur selangkah. Dia mengukir senyum tipis, mencoba bersikap sedikit santai.“Mas, gimana tangan kamu? Katanya kamu mau cuti ya?” tanya Sinta mencoba membuka pertanyaan.“Aku udah resign,” jawab Arjuna tanpa melihat Sinta.Arjuna malah sibuk memperhatikan para pelayannya yang sedang sibuk membongkar isi kardus, sambil dia pilah barang mana yang harus dia bawa.Arjuna akan meninggalkan semua barang pemberian Sinta. Dia tidak mau meninggalkan satu pun jejak Sinta saat dia akan memulai lembaran baru dengan Nadira.Sinta mengepalkan tangannya. Dia tidak menyangka kalau suaminya akan melakukan tindakan sejauh itu untuk membuangnya.“Resign? Maksudnya ka
“Nad, kamu kenapa? Nadira!”Arjuna menegang saat dia mendengar suar benturan keras dari seberang sana. Dia langsung panik, takut terjadi sesuatu dengan istri dan anaknya.Dia terus memanggil istrinya sambil mendengarkan, kalau-kalau terjadi sesuatu yang serius.“Ya Alloh, Pak. Pelan-pelan, Pak.” Agus memegangi dasbor di depannya karena kaget.“Iya, Pak. Jangan ngebut,” tegur Nadira pada Panca.Panca menoleh sebentar ke Agus yang duduk di sampingnya. “Maaf Pak. Maaf, Bu. Itu tadi ada motor anak sekolah tiba-tiba nyelonong aja. Sekali lagi maaf ya, Bu,” ucap Panca menjelaskan keadaan yang terjadi.“Iya, anak itu tadi emang tiba-tiba keluar dari gang. Gak liat-liat dulu mau nyebrang.” Agus membenarkan ucapan Panca.Agus menoleh ke belakang. “Kamu gak papa, Nad?”“Gak papa, Yah. Ini belanjaannya jatoh,” jawab Nadira sambil memungut kaleng biskuit yang tadi dia beli di supermarket.Selain belanjaan, ponsel N
“Pengunduran diri?” Raut wajah Mahendra berubah seketika.Pria paruh baya itu sama sekali tidak menyangka kalau Arjuna akan melakukan ini.Meski pernah tersirat sebelumnya, tapi tidak untuk waktu secepat ini. Mata tua Mahendra menatap nanar ke arah amplop putih di atas meja. Tangannya mencengkeram kuat, sandaran tangan di sofanya, agar tidak terlihat bergetar.Kesunyian yang terasa mencekik tenggorokannya itu membuatnya kehabisan kata-kata. Di tidak tahu bagaimana menyingkapi masalah ini.Mahendra tahu kalau Nadira sudah menyatakan keluar. Mungkin ingin istirahat sampai persalinan.Tapi Arjuna, dia salah satu dokter unggulan di rumah sakit. Mahendra belum siap untuk kehilangan pria itu apa pun alasannya.Mahendra menarik napas dalam. Dia menatap menantunya dan berusaha bersikap santai.“Apa ini, Jun?” tanya Mahendra.“Surat pengunduran diri Arjuna, Pa. Mulai besok, Arjuna gak akan dinas lagi,” jawab Arjuna.Mahendra tersenyum canggung. “Apa harus sampe keluar, Jun? Apa gak bisa kamu
“Apa rencanamu sekarang, Jun?” tanya Wisnu ingin tahu.Arjuna diam. Dia menatap kedua temannya dan juga Nadira yang sedang makan di ruang makan.Arjuna menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan.“Setelah papa dateng, aku akan langsung serahkan surat pengunduran diri,” jawab Arjuna.“Bingo! Itu baru temenku,” ucap Raka senang mendengar keputusan Arjuna.Wisnu juga mengangguk senang. Akhirnya Arjuna akan bergabung bersamanya di Prime.“Aku dukung, Jun. Aku seneng kamu gak nunda-nunda lagi.” Wisnu juga memberi respons.Arjuna melihat ke Nadira. Dia ingin melihat respons istrinya itu.Nadira hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Dia juga setuju kalau suaminya akan segera pindah.Setelah kejadian tadi, dirinya tidak tenang kalau suaminya masih di sana. Sinta bisa menyerang Arjuna kapan saja atau hanya sekedar menghina suaminya lagi di depan umum.Nadira tidak terima kalau pria yang selama ini dia kagumi dan dia hormati, dihina dan diinjak-injak seenaknya oleh Sinta.Arjuna lega me
“Berapa lama saya harus rehat, Dok?” tanya Arjuna.“Sekitar 2 minggu sampai satu bulan, Dok. Ada syaraf yang cedera dan tulangnya terkena benturan keras. Besok mungkin akan keluar memarnya,” terang Dokter Adi.Nadira menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Tangannya memegang paha Arjuna, berusaha menguatkan suaminya padahal dia sendiri tidak siap menerima kenyataan ini.“Dok,” panggil Nadira pelan.Arjuna menoleh ke istrinya. Dia kemudian melihat ke pergelangan tangan kanannya yang selama ini dia jaga baik untuk kariernya.“Saya sarankan, di minggu-minggu ini, hindari dulu masuk ruang operasi, Dok. Kalau tangannya tidak istirahat total, kemungkinan buruk bisa saja terjadi,” pesan Dokter Heru.“Tapi sebaiknya tunggu sampe pulih aja sih. Takutnya, pemulihan makin lambat nanti,” sahut Dokter Adi.“Tapi pasien saya banyak, Dok. Mereka butuh penanganan.” Arjuna masih mengkhawatirkan pasiennya.“Kita tidak punya pilihan lain, Dok. Kalau Dokter masih memaksakannya, lukanya bisa semakin se
“Mampus kamu Nadira!” pekik Sinta sambil melemparkan pot bunga keramik ke arah Nadira.Prang.Suara pecahan keramik langsung terdengar, di sertai suara teriakan wanita.“Aah.” Arjuna mengerang saat tangannya terasa sakit, setelah dia berhasil menepis pot yang mengarah ke kepala istrinya.Nadira yang tadi langsung direngkuh Arjuna dalam pelukannya, langsung melihat ke suaminya yang mengerang kesakitan.Mata Nadira membulat saat Arjuna memegangi tangannya. “Dokter!” jerit Nadira kencang.Merasa keadaan di sana sudah mengkhawatirkan, apa lagi sampai Arjuna terluka, suster penjaga Sinta langsung memegangi Sinta. Dia menekan tombol bantuan di dekat lift, untuk memanggil para suster jaga.Nadira langsung memegangi tangan suaminya. Saat dia memegang pergelangan tangan Arjuna, pria itu mendesis.“Dok, tangan Anda!” ucap Nadira panik.“Kita ke UGD sekarang, Dok!” ajak Nadira.“Mau ke mana kalian, hah? N
Sinta berdiri membeku di ambang pintu. Senyumnya perlahan mulai memudar melihat pemandangan di depannya.Tatapannya terpaku pada Arjuna dan Nadira yang masih berdiri berpelukan seperti pasangan sejati.Melihat Sinta masuk, Nadira langsung mendorong badan suaminya. Wajah wanita itu langsung pucat, m
Tangan Nadira mengusap lembut punggung tangan ayahnya. Tangan yang biasanya memberinya banyak kehangatan dan perlindungan, kini harus terbaring lemah tak berdaya. Nadira menatap kulit wajah ayahnya yang pucat. Tampak sekali kelelahan menahan sakit yang sewaktu-waktu bisa mengambil nyawanya. Tanpa t
“Nadira?” Arjuna tertawa mendengar nama dokter koas itu disebut. Namun sedetik kemudian, tatapan Arjuna kembali tajam. Tatapan mematikan Arjuna yang membuat Sinta sedikit takut saat melihatnya. “Apa kamu mau hancurkan hidup orang lain buat keegoisanmu, Sinta?!” Suara Arjuna terdengar sangat dal
“Bu-Bu Sinta,” jawab dokter muda cantik itu dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. Senyum di wajah Sinta terlihat mengerikan bagi Nadira. Dia memilih menunduk, menghindari tatapan putri pemilik rumah sakit ini. Arjuna melihat ke Nadira sekilas lalu berdiri. “Selesaikan laporannya. Besok pagi







