LOGINSepanjang perjalanan pulang yang hampir memakan waktu dua jam, Faya meringkuk di kursinya. Berpura-pura lelah dan memilih memejamkan mata. Yang sebenarnya dia sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa harga dirinya masih utuh, setelah pemerkosaan … ah! Apa boleh dia menyebut demikian?
Dia melirik pada sang suami. Berharap mendapat sentuhan, atau perkataan yang membuat dia merasa masih layak disebut sebagai istri terhormat. Istri yang mempunyai nilai tinggi.
Akan tetapi Alex diam saja sedari tadi. Lelaki itu tampak sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Faya, kita sampai,” ujar Alex. Nadanya terdengar datar.
Faya membuka mata. Melihat gerbang rumah mereka baru saja dilewati mobil yang mereka tumpangi.
“Turun di samping barat, Pak!” titah Alex. Yang langsung dijawab dengan suara penuh hormat oleh sopir pribadinya.
Tangan Alex terulur. Menarik lengan Faya, membuat sang istri duduk tegak. “Rapikan dirimu. Jangan mendramatisir.”
Alex turun setelah itu. Faya mengikutinya dari belakang.
“Al, pas banget!” Seorang wanita paruh baya menyambut mereka. “Sofia juga baru datang. Liat, dia bawakan Mama hadiah.”
Perempuan muda yang bernama Sofia berdiri dari kursinya. Melempar senyum dari bibirnya yang terpoles lipcream sempurna. “Dari mana, Mas?” Suara Sofia mendayu.
“Bulan madu dong,” sahut Faya cepat. Balas tersenyum. Dia meraih lengan Alex dan mengapitnya.
“Heleh, bulan madu tidak berguna buat perempuan mandul seperti kamu!” tukas Vero, ibu kandung Alex.
Sofia terkikik. Dia terlihat sangat geli sampai menutup mulutnya. “Mas, duduk yuk. Aku bawakan—”
“Aku capek.” Alex berkelit membebaskan diri dari tangan Faya, lalu mendahului berjalan menuju tangga.
Ganti Faya tersenyum. Dia harus memberanikan diri jika berhadapan dengan Sofia. Tidak boleh tampak lemah di depan gadis yang telah secara terang-terangan dibawa mertuanya untuk menggeser posisinya sebagai istri Alex.
“Kamu harusnya tau diri, Faya.” Vero menatap tajam ketika sang menantu melewatinya. “Alex berhak bahagia.”
“Betul. Jangan egois kamu!” Sofia menuding Faya. “Keluarga Chandra memerlukan keturunan, harusnya sadar. Kamu sudah gagal menjadi istri.”
Faya tetap berjalan. Namun tiba-tiba rambutnya ditarik kencang. “Aduh!”
Saat Faya berbalik, dilihatnya Sofia melotot.
“Hormati Mama, dia sedang bicara sama kamu. Kamu pikir kamu siapa di rumah ini? Hanya orang miskin yang beruntung dijadikan menantu.” Bibir Sofia mencebik. Dia terlihat menoleh, menatap Vero. “Kalau aku jadi Mama, pasti aku sudah menamparnya. Kalau tidak, pasti dia akan lebih kurang ajar daripada sekarang.”
Vero tampak menyeringai. Dia berjalan ke arah dua perempuan di depannya. Tanpa basa basi dia melayangkan tamparan kepada Faya. Plak!
“Pergilah dari rumah ini segera. Alex itu anak Mama satu-satunya, dia berhak bahagia, kami juga berhak punya cucu.” Mata Vero mencorong.
“Aku hanya akan pergi kalau suamiku yang memintanya, Ma,” sahut Faya. Dia mundur. Mengantisipasi tangan yang bisa saja kembali menyakiti dirinya.
“Aku yakin, dia ini main dukun. Kalau tidak, Mas Alex pasti sudah memilih aku yang lebih muda. Iya kan, Ma? Apalagi aku lebih seksi.” Sofia berkacak pinggang. Tampak membusung, memamerkan dadanya yang menggembung bulat.
Faya kembali mengambil langkah mundur. “Silakan coba saja. Nyatanya suamiku setia padaku.”
Vero dan Sofia serempak menggeram. Mata keduanya melotot.
Faya menahan napas. Dia berbalik badan, lalu gegas melangkah. Matanya sudah berembun. Dia selalu berharap suatu saat hubungannya dengan Mama Vero kembali manis seperti dulu. Sebelum tahun-tahun berlalu dan kehadiran bayi yang mereka nantikan, mulai menjadi masalah.
Air menetes di pipi Faya saat dia sampai di kamar.
“Kamu jangan terlalu meladeni Sofia.” Suara Alex mengejutkannya.
“Tapi dia sudah sangat keterlaluan, Pap. Lama-lama dia menghasut Mama untuk membenci aku.” Faya memandang suaminya. Masih memanggil Alex dengan nama kesayangan ‘Pap’, meski Alex sudah lama hanya memanggil namanya saja.
“Sudahlah, nanti kalau kamu hamil, semua akan kembali seperti semula.” Alex terlihat mendekatinya. Dia menghela napas. “Ngomong-ngomong, apa kamu menikmati sentuhan si satpam tadi?”
Faya terkesiap. Jadi Revan adalah ….
Keterkejutan Faya belum terurai, tetapi tangan Alex yang kokoh mendadak menangkup wajah perempuan itu. Menariknya dengan cepat, lalu mulai melumat bibir tebal Faya.
“Apakah dia lebih hebat daripada aku?” bisik Alex ketika dia melepas ciumannya sekejap.
Hanya sekejap, sebab Alex kembali memagut bibir Faya dengan gerakan yang lebih dalam. Lidahnya sudah mulai bergerak aktif, sambil mendorong tubuh langsing Faya menuju tempat tidur.
Tangan kecil Faya memukul pelan.
“Kenapa? Apa kamu masih kelelahan setelah meladeni permainannya?” Alex melepas ciuman panasnya. Bola mata lelaki berkulit putih itu bergerak. Terasa sedikit mengintimidasi.
Faya menggeleng. “A-aku tidak merasakan apa-apa ….”
Alex terbahak. Tampak betul-betul tertawa lepas. Lelaki itu mundur, tangannya dia pakai untuk melepas celananya sendiri. “Tidak akan ada yang sehebat Alexander Chandra kan?”
Faya menelan ludah. Apakah Alex akan kembali membuatnya seperti mainan di atas ranjang?
Mama Vero mengacungkan telunjuk. Sementara wajah perempuan itu sudah merah padam.Alex hanya mampu menghela napas, demi menahan diri agar tidak keceplosan bicara yang bisa memicu Mama Vero bertambah murka. Bukan kenapa-napa, hanya malas saja meladeninya. Karena pasti akan bertambah panjang tak karuan.“Kamu nggak bisa main-main karena ini soal masa depan keluarga Chandra, Al!” seru Mama Vero. “Mama nggak pernah minta apa-apa, Mama hanya mau cucu, pewaris keluarga Chandra yang murni!”Alex tetap mematung.“Buat apa kamu bela perempuan itu? Kamu bisa mendapatkan gadis yang kualitasnya jauh di atas Faya, yang latar belakang keluarganya sama dengan kita.” Mama Vero tampak terengah-engah, sebab dia bicara cepat dengan nada sangat tinggi.Dan Alex masih saja diam seribu bahasa.“Kamu ini… kamu… ah!” Kali ini dengan menghentakkan kaki kuat-kuat, Mama Vero pergi.Alex menarik napas, lalu menghembuskan sambil meraup wajah. Kakinya pun menghentak tanpa sadar.Setengah terhuyung dia berdiri, ber
“Aku pengen jus jeruk, Pap mau sekalian dibikinin nggak?” Faya masih saja tersenyum.Alex menggeleng.“Yakin? Biasanya Pap suka… ini jeruknya segar-segar loh. Barusan aku beli di supermarket. Eh, ya nggak barusan banget sih, yang tadi pas aku ijin Pap mau pergi itu… aku ke supermarket beli buah-buahan,” lanjut Faya. Terdengar ringan, ada nada-nada riang menghiasi senyumnya.Alex menarik napas. Dalam hatinya berseru, ‘Sialan! Kok kayak sengaja banget menjelaskan supermarket. Tempat ketemuan mereka—”“Pap, kok malah melamun, kenapa sih?” Faya terkekeh.Tawa ringan yang di mata Alex tampak mengejek. Dengan kesal, Alex balik badan. Langkahnya lebar-lebar menuju ke kamar di lantai dua.“Loh, Pap marah ya?” Seruan Faya sempat terdengar.Saat mencapai tangga, Alex sempat berhenti, melirik ke belakang. Kalau biasanya, Faya terburu menyusul seraya meminta maaf, tetapi sekarang tidak ada tanda-tanda sosok istrinya itu mendekat.Alex meneruskan langkahnya dengan darah mendidih.Brak! Pintu dibuk
“Nah, itu Alex pulang!” Suara Mama Vero terdengar memenuhi ruangan. Menyambut langkah kaki Alex yang baru mencapai ambang pintu.Perempuan enam puluh satu tahun itu tampak bangkit dari duduk. Tamunya yang terdiri dari dua orang perempuan beda generasi, ikut bangkit. Semuanya menoleh pada Alex, dan melempar senyum.“Hmm… pertanda apa ini, Jemima?” Mama Vero menepuk perempuan muda yang paling dekat dengannya. Lalu tertawa ceria. "Jarang-jarang loh Alex pulang jam segini. Iya kan, Al?”Alex menghela napas. Dia sudah dapat menduga, ini pasti berhubungan dengan kemauan sang mama yang benar-benar ingin mencarikan pengganti Sofia secepatnya.Mama Vero terlihat mendekati Alex. Tersenyum-senyum sambil sesekali melirik pada kedua tamunya. “Biar Mama tebak… pasti di kantor, hatimu seperti tiba-tiba ingin pulang terus… iya apa iya?”Tawa Mama Vero meledak. Dan dua tamunya ikut berderai.Alex tetap diam, wajahnya datar. Hati yang masih dongkol kepada Revan menjadi semakin dongkol. Rasanya harga di
“Eh, itu Mas Revan-nya!” Seorang perempuan paruh baya berdaster, berteriak sembari menunjuk Revan. Dia pemilik rumah kontrakan.Firasat Revan langsung memberi tanda ada sesuatu yang buruk. Dia gegas bergerak untuk kembali mengangkat Kai ke dalam gendongannya. Bukan ibu pemilik kontrakan yang dia waspadai, tetapi dua orang pria berjaket hitam yang tengah merokok santai di teras rumah sewanya. Apalagi ketika kedua orang itu terlihat berdiri bersamaan. Lalu secara bersama-sama pula, mereka menjatuhkan rokok masing-masing, dan menggilas dengan ujung sepatu mereka.Sewaktu ibu pemilik kontrakan melangkah mendekati Revan, kedua pria itu membuntutinya.“Mas Revan, sudah ditunggu dari tadi loh.” Begitu dekat, si ibu pemilik kontrakan meraih lengan Revan. Menepuk-nepuk lembut. “Nggak nyangka kamu ya, Mas. Kayak sederhana banget selama ini… tapi ternyata keluargamu kaya raya. Kayak film-film yang sering Ibu tonton. Beneran nggak nyangka banget.”Revan mengernyit. Spontan mundur. Namun dua ora
“Pak—”“Bacalah. Semakin kamu banyak bicara, semakin singkat waktumu bersama anak ini.” Alex menyipitkan mata, tetapi cepat tersenyum. Senyum yang terlihat mengejek.Setelahnya Alex tampak menatap Kai, senyumnya masih ada. Kemudian tangan lelaki itu mengelus kepala si kecil. “Kai suka anggur?”Kai mengangguk dengan mulut yang sibuk mengunyah buah berwarna keunguan tersebut.“Nanti kita beli anggur banyak-banyak, biar bisa makan anggur tiap hari. Kai mau?” ujar Alex, sembari melirik Revan yang sudah mulai memegang dokumen.Sekali lagi Kai mengangguk. Tampaknya pria kecil itu tidak bisa menjawab, sebab mulutnya begitu penuh.Alex terdengar terkekeh. “Anak pintar. Ayo kita pulang ke rumah kita.”Mobil mulai melaju, meninggalkan halaman panti asuhan.Kai terlihat mengacungkan kedua tangannya ke atas, sementara badannya bergoyang-goyang. Mulutnya yang penuh memperdengarkan tawa tipis.Revan yang duduk membeku di belakang, menelan ludah. Dia tahu sekali, Kai sedang kegirangan, tanpa paham a
Alex tampak mengangguk. “Apa semuanya sudah siap?”“Sudah, Pak.” Vina menjawab dengan gestur tubuh yang terlihat begitu sopan. Lalu dia tampak menoleh pada Revan, kemudian beralih kepada si kecil Kai. Perempuan itu melambai dan berseru, “Kai, sini…!”Kai terlihat hendak bergerak menuruti panggilan Vina, tetapi Revan gegas meraih pergelangan kecilnya. “Jangan, Kai tunggu di sini saja sama Ole ya.” “Tapi Kai dipanggil Ibu Vina,” sahut Kai. Wajahnya membias kebingungan. “Kata Ole, Kai harus nurut sama Bu Vina kan?”Revan membungkuk, mengambil tubuh Kai dan menggendongnya. Tangan kekarnya langsung mengungkung posesif. “Mulai sekarang, Kai hanya nurut sama Ole. Oke?”Meski wajah imutnya masih menampakkan kebingungan, Kai tetap mengangguk, “Oke.” “Pegang Ole erat-erat ya, jangan lepaskan.”Tangan kecil Kai cepat mengikuti instruksi. Bergayut di leher sang paman. Sepertinya dia berfirasat, sebab setelah itu wajah Kai menempel pada dada Revan. Napasnya terdengar sedikit menderu. “Kai takut,







