Share

Bab 2

Penulis: Iyustine
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-05 12:37:40

Sebuah sensasi mulai menjalari syaraf Faya. Dalam keadaan masih terpejam, dia merasai darahnya terus berdesir.  

Dia berpasrah saat tangannya dituntun lepas dari mulut. Sementara tangan yang merambati punggungnya bergeser ke arah leher depan.

“Faya ….”

Suara yang asing bagi telinga Faya.

Perempuan itu sontak membuka mata. Terbengong sesaat, sebelum akhirnya mendorong tubuh Revan dengan kedua tangan. Kemudian dia berdiri, berjalan ke sofa sambil memegangi pelipisnya.

“Astaga. Ini gila,” gumamnya, sembari menghempaskan pantat dengan kasar. “Gila!”

Faya menoleh. Melihat pada Revan yang tampak terduduk dengan tubuh kaku. Namun pandangan lelaki itu lurus kepada dirinya.

“Apa Alex akan menghukummu kalau kamu tidak melakukannya?” Faya menyugar rambut. Tangannya bergetar di sela helaian rambut hitamnya.

Revan mengukir senyum samar. “Seharusnya itu pertanyaan saya. Apakah Pak Alex akan menghukum kamu jika kita tidak berhasil melakukannya?”

Faya membuang muka. Mendadak merasa bodoh dengan pertanyaan itu. Entahlah, tadi hanya terlintas begitu saja dalam pikirannya.

“Saya mungkin hanya akan kehilangan pekerjaan,” ujar Revan. “Tapi Pak Alex tetap akan mencari lelaki yang bisa melakukannya kan?”

Perempuan tiga puluh dua tahun itu menggigit bibir.

“M-maaf, saya menyimpulkan sendiri soal itu. Karena yang saya dengar Pak Alex adalah pewaris tunggal yang belum dikaruniai keturunan, jadi….” Revan menghela napas di ujung kalimat. Seakan tidak berani untuk meneruskannya.

Faya menggigit bibirnya semakin dalam. Paham apa yang Revan maksud, dan itu kenyataan yang menyakitkan.

Hening.

“Saya tidak akan memaksa. Kalau sekiranya kamu jijik dengan saya.” Revan terlihat menatap langit-langit kamar. Mengeluarkan lenguhan tipis, tetapi terdengar panjang. Seperti menahan sesuatu. “D-dan saya jamin, kita tidak akan pernah bertemu lagi.”

Faya tercenung. Mencerna kembali kalimat Revan. Lalu berandai-andai, jika dia menolak Revan … mungkin Alex benar-benar akan menghukumnya. Kemudian suaminya itu akan mencari pria lain, sebab Alex bersikeras mempunyai keturunan dengan cara begini.

Jangan-jangan, setelah dia menolak Revan, Alex akan mencarikan lelaki yang berani memaksanya.

Ah, Faya melenguh lirih. Lalu berdiri perlahan, dan berjalan ke arah nakas di samping tempat tidur. Dia meraih tasnya, yang jaraknya kurang dari satu meter dengan Revan. Membuka dengan tangan sedikit bergetar.

“Aku akan minum ini.” Faya menunjukkan sebuah botol kecil. “K-kamu boleh melakukannya setelah aku tertidur.”

Revan tampak terkesiap. “Jangan, nanti—”

“Aku tidak melakukannya untuk bersenang-senang, aku hanya ingin menunjukkan bakti pada suamiku,” ujar Faya sembari menelan satu butir obat tidur dosis rendah. Dia sudah memikirkan soal ini sewaktu Alex mulai membahas ide gilanya.

Suaminya itu tetap bersikeras untuk mendapatkan anak dari rahim Faya, tanpa meninggalkan catatan apa pun. Dia takut rahasianya terbongkar di kemudian hari, sehingga Alex menemukan rencana di luar nalar ini.

Bagi suaminya, membayar orang lemah yang tidak mempunyai kekuatan untuk melawan, akan lebih aman daripada meminta bantuan medis. Alex begitu takut jika dokter yang menolongnya justru suatu saat akan bersaksi untuk mengambil bayinya.

Faya menghela napas dalam-dalam. Menatap Revan yang masih terdiam, kelihatan bingung.

“Kamu masih tampak muda. Apa kamu sudah menikah?” Faya berusaha tersenyum.

Revan terlihat menelan ludah. Menggerakkan lehernya samar. Entah itu menggeleng atau mengangguk.

“Lakukan saja tugasmu, Revan. Mari kita berdoa apa yang kamu tanam hari ini, akan menghasilkan bayi di rahimku. Jadi urusan kita tidak berkepanjangan.” Faya naik ke tempat tidur. Merebahkan badannya, memejamkan mata. Berharap obat itu segera bekerja.

Tanpa terasa air matanya mengalir.

***

Faya terbangun. Agak terkejut ketika menemukan dirinya bukan berada di kamar tidurnya sendiri.  Namun dia cepat ingat bahwa ini adalah salah satu kamar di vila milik keluarga Chandra, orang tua Alex.

“Astaga!” Faya reflek terduduk. Dia ingat jika sebelumnya ….

“Revan? Kamu masih di sini?” Faya terpekik menemukan Revan yang tadi terlihat sedang menekuri ponselnya.

“S-sudah bangun?”  Revan berdiri. Bahasa tubuhnya terlihat salah tingkah. “S-saya tidak bisa meninggalkan kamu. Takut kalau Pak Alex ….”

Lelaki itu terlihat melirik pintu.

“Berapa lama aku tidur?” tanya Faya.

“Hampir tiga jam.” Revan menjawab dengan canggung.

Faya menggigit bibirnya. Bukan merespon jawaban Revan, tetapi  dia baru sadar ada cairan lengket di pangkal pahanya. Dan tiba-tiba organ pribadinya berdenyut nyeri. Perempuan itu menunduk, perasaan terhina mendadak menyergapnya.  

“M-maafkan saya.” Suara Revan terdengar tercekat.

“Pergilah.” Faya kembali merebahkan dirinya. Membenamkan wajah ke bantal dalam-dalam. Menumpahkan sakit yang tidak bisa dia teriakkan.

Pintu terdengar dibuka.

“Sudah?” Suara Alex jelas mengudara.  “Kamu benar-benar meniduri istriku kan? Aku akan mengeceknya, dan jangan harap kamu bisa selamat kalau berani berbohong!”

Faya remuk redam. Dia merasa tak lagi mempunyai harga diri. Terlebih saat Alex mendekatinya, hanya untuk menyentuh celana dalamnya. Seakan memastikan ada jejak milik Revan di  sana.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 95

    “Yang agak kasar,” bisik Sofia.“Hah?” Samuel yang sejatinya sudah hendak mencium leher Sofia, berhenti bergerak tiba-tiba. Setengah bangun dengan menumpu badan di sikunya. Menatap wajah Sofia lekat.Sofia menggigit bibir. Terkenang bagaimana saat Alex menghunjamnya terus tanpa ampun. Menarik pucuk dadanya sampai terasa sakit. Meremas sekuat tenaga…. Tidak ada belaian, tidak ada ciuman. Namun entah mengapa, Sofia merasa ingin lagi. Mungkinkah dia ketagihan?“Yang gimana, Sayang?” Samuel mencoba memecah diamnya Sofia.“Sini aku bisikin.” Sofia menarik kepala Samuel. Mengucapkan beberapa kata dengan nafas tertahan.Samuel membeliak, tetapi perlahan seringainya muncul. Sangat lebar. “Serius kamu?”“Hu uh. Tapi jangan terlalu brutal, cukup semi-semi aja gitu. Level satu.” Sofia menggigit bibir. Sudah membayangkan kejadiannya nanti.“Oh, pasti adik kecil bahagia mendengarnya.” Samuel mengusap area privasinya sendiri. Pria itu terburu turun dari ranjang. Langsung membuka ritsleting celanany

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 94

    Mencolek sesuatu di sana, sesuatu yang terasa lembab dan membuat sedikit rasa geli. Sofia mendesis. “Ah, punyaku lembut gini kok. Masa lebih enak punya perempuan mandul itu sih? Apalagi dia udah tua, pasti kendor kemana-mana.”Jari yang baru saja menyentuh area dalam pribadinya itu, dia tarik keluar. Lalu didekatkan kepada pucuk hidung. Menghidu sesaat. “Hmm… punyaku nggak bau aneh-aneh juga.”Ah, persetan dengan sikap Alex yang sekarang ini! Dengan kehamilannya nanti, pasti Alex akan berubah. Dan Sofia bersumpah akan membuat pria itu mabuk kepayang padanya. Bucin ugal-ugalan!Sofia mengambil pakaian yang baru. Memakai make up tipis saja. Tidak ingin mengesankan jika penampilannya menggoda, karena tanpa digoda Samuel sudah pasti tergoda.***“Semoga aku nggak salah pilih bunga,” ujar Samuel, pria muda dengan tinggi seratus enam puluh satu senti meter, sambil menyerahkan buket bunga anyelir untuk Sofia.“Buat apa ginian?” Sofia mengulum senyum. Menggoyang buket bunga tersebut.“Simbol

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 93

    “Kasih tau nggak ya….” Sofia berderai-derai. Merasa sudah menang dari perjuangan yang selama ini dia upayakan. Yaitu, merebut Alex dari tangan Faya. Satu langkah lagi dia akan menjadi menantu keluarga Chandra.“Dasar kamu ya!” tukas Mama Vero. Bukan marah, nadanya justru terdengar bagai semburan suka cita. Sedetik kemudian ibu kandung Alex itu terkekeh. “Semoga setelah ini Alex hatinya akan terbuka terus untuk kamu ya. Mama yakin, Alex akan lebih bahagia sama kamu.”“Oh iya, dong, Ma. Kami akan jadi keluarga sempurna. Suami, istri, dan anak-anak. Bukan sekedar suami dan istri mandul tidak berguna.” Nada Sofia melengking tinggi.Yang disambut tawa pecah membahana oleh Mama Vero. “Ngomong-ngomong, apa kamu sudah ada tanda-tanda hamil, Sof?”Pertanyaan ibu kandung Alex itu membekukan derai Sofia seketika. “Ih, Mama… anu-nya kan baru minggu lalu. Mm… tepatnya baru lima hari kan? Y-ya belum apa-apa dong, Ma.”“Setau Mama ada kok alat yang bisa menditeksi apakah sudah terjadi pembuahan sete

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 92

    “Faya….” Alex terlihat menyentuh lengan Faya. “Mama tanya soal terapi.”“O-oh. S-sukses, Ma.” Faya tergagap. Sedetik kemudian menyesali kata ‘sukses’ yang dia pilih. Namun sudah terlanjur. Mama Vero melempar senyum. “Kalian mau makan? Biar nanti Mama minta pelayan siapkan.”“Ya, kita belum makan dari tadi.” Alex yang menjawab. Tangannya bergerak merangkul bahu sang istri. Sedikit menekan di sana. “Kamu makan ya, Fay?”Faya spontan mengangguk. Dia memang lapar, tetapi mulutnya terasa tak sanggup sekedar mengatakan ‘iya’. Dia masih terlalu syok.Alex mendadak bersikap manis padanya, itu mengejutkan. Namun bila Mama Vero tiba-tiba memberi senyum kepadanya, itu… membahayakan! Jadi teringat cerita ibu tiri dan putri salju….“Fay. Ayo!” Alex menekan bahu Faya lagi.Faya terkesiap. Mama Vero sudah tidak ada di depannya. Namun samar-samar suaranya terdengar dari ruang makan. “P-pap, a-apa aku boleh mandi dulu?”Alex tampak mengernyit.Dan Faya sadar, sudah salah bicara. Dia pun segera melan

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 91

    Faya buru-buru mengikat rambutnya tanpa menyisir, sambil memandang Revan yang tubuhnya masih polos. Lelaki itu tampak terpaku di samping tempat tidur, memegangi koper Faya.“Faya!” Suara Alex lebih tinggi. Terdengar sudah mengandung amarah. Gedoran di pintu pun menyusul sedetik kemudian.“Y-ya!” balas Faya tak kalah kencang. Dia gegas mendekati Revan, mengambil alih kopernya. Dikecupnya sekilas pipi lelaki itu. “Sembunyilah.”Revan hanya terpaku. Dadanya seperti sedang menahan napas.Faya tidak sempat bicara lagi. Segera balik badan, setengah berlari menyeret koper. Keluar kamar tanpa menoleh lagi pada Revan. Kepalanya sudah berisik, mereka-reka apa yang harus dia lakukan jika Alex ternyata masuk dan singgah sebentar.Klek. Faya membuka pintu. Wajah Alex yang terlihat tegang menyergap pandangannya.Perempuan itu bernapas pelan-pelan. Men

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 90

    Faya yang sudah berada di dalam kolam renang tergelak ketika melihat Revan yang tengah berlari justru terpeleset, dan tercebur dalam posisi kepala masuk air terlebih dulu.Air pun berkecipak beberapa saat, setelah itu kepala Revan muncul dari dalam air. Terbatuk-batuk dengan wajah yang terlihat cengar cengir, tetapi cepat bergerak mendekati Faya.Sementara Faya masih tertawa-tawa, sambil menjaga keseimbangan agar tetap mengapung. Mengesankan jika dia sedang menunggu kedatangan Revan, tetapi ketika tangan lelaki itu hampir menyentuhnya, Faya sengaja menenggelamkan diri, berkelit, lalu bergerak menjauh.“Ayo tangkap aku!” teriak Faya yang muncul di sisi lain. Di belakang Revan. Terbahak lebih kencang. Dia memang pandai berenang.Revan kembali bergerak mendekat, Faya pun melakukan hal yang sama. Berulang kali begitu sampai akhirnya Faya membiarkan Revan menangkapnya.&ld

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status