Mag-log inFaya mendengar deru napas Alex untuk beberapa saat. Sampai akhirnya, Alex berkata, “Oke.”
“Makasih, Pap!” Faya berseru suka cita. “Aku mau makan mie bangka. Yeay!”
Dan Alex meresponnya dengan menutup telepon, tanpa kalimat apa pun. Namun Faya tetap ceria. Terserah dengan suaminya itu. Dia sudah mempunyai rencana manis yang disusun di kepalanya.
Faya setengah berlari ke kamar untuk bersiap. Melom
Faya menyusur taman, yang memisahkan gedung utama dan kamarnya kini, dengan hati tak karuan.Kalau benar Alex akan mengungkap semua, apakah situasi akan berbalik menjadi lebih baik? Misalnya, Mama Vero dan Papa Agusto menjadi lebih sayang padanya. Atau justru sebaliknya? Mama Vero akan tetap memaksa Alex menikah lagi dengan gadis lain. Toh siapa pun istrinya nanti, keturunan Chandra tidak akan pernah ada.Faya sampai di kamarnya. Yang dia tuju pertama adalah ponsel. Dia ingin berbagi kegelisahan dengan Revan.Spontan dia mengernyit. Pesannya yang terakhir belum juga dibaca, padahal biasanya Revan akan cepat membalas. Tidak pernah lebih dari tiga puluh menit.Faya pun gegas mengetik: Re, apa kamu sibuk?Logo jam muncul di ujung kanan. Membuat mata dan mulut Faya spontan melebar. “Apa aku diblok?” desisnya pelan. “Ah, nggak mungkin, pasti ini hape, atau sinyal?”Faya bangkit. Namun cepat duduk lagi. Memandangi ponselnya dengan bingung. Dia memutar otak untuk mengetahui apa yang salah di
Alex terpaku. Menahan napas.“Kalau boleh tau, kenapa Papa meragukan bayiku?” Suara Faya terdengar. Masih dengan nada ringan, tanpa emosi.“Kalau memang itu benar-benar bayi Alex, kenapa kamu takut menyebutkan tempat terapinya?” Kali ini suara Mama Vero menyahuti.“Aku bukannya takut, Ma. Tapi aku sudah berjanji sama Mas Alex, untuk merahasiakan tempat itu.”“Kenapa?” Papa Agusto terdengar cepat menyahut.“Aneh kan, Pa?” Terdengar Mama Vero terkekeh. “Dia ini hanya cari-cari alasan, tapi aslinya takut ketauan kalau sebenarnya dia ada main sama terapisnya. Ngaku saja kamu, Fay!”“Mama… Mas Alex itu bukan orang yang bisa aku bodohi. Mas Alex itu laki-laki pintar. Kalau memang aku berkhianat, sudah pasti Mas Alex yang akan curiga lebih dulu. Lagian tempat terapis yang memilih juga Mas Alex, yang membayar juga Mas Alex, pastilah orang-orangnya lebih patuh sama Mas Alex daripada aku.” Faya terdengar membela diri.Diam sesaat. Alex sampai harus menahan napas, demi memastikan telinganya send
“Persetan,” decih Alex lirih. Dia menyambar ponsel itu. Tidak lagi peduli apakah kelakuannya ini bernilai rendah, murahan atau apa pun itu.Rasa ingin tahu tentang percakapan apa saja yang mungkin pernah istrinya dan Revan rangkai berdua, membuat Alex tidak membuang waktu. Dengan cepat dia buka aplikasi perpesanan, dan… hatinya mencelos.Nama kontak Revan berada di urutan paling atas. Terlihat pesan terakhir yang Faya kirimkan kepada lelaki itu, tetapi tampak belum sempat dibaca meski sudah centang dua.(Kita sambung besok lagi ya, Re. Alex ternyata pulang lebih cepat. Atau kalau nanti ada kesempatan, aku telpon kamu duluan. Muach.)Disambung banyak emoticon berbentuk hati.Alex menggerakkan jarinya untuk menarik percakapan yang lebih lama dari pesan hari ini. Meski sudah menduga, jantungnya tetap terasa diremas membaca kalimat bernada mesra yang ditulis keduanya.Jari dan manik mata Alex bekerja sama cepatnya menelusur pesan-pesan tersebut. Semakin ke atas, darahnya terasa semakin me
Mama Vero mengacungkan telunjuk. Sementara wajah perempuan itu sudah merah padam.Alex hanya mampu menghela napas, demi menahan diri agar tidak keceplosan bicara yang bisa memicu Mama Vero bertambah murka. Bukan kenapa-napa, hanya malas saja meladeninya. Karena pasti akan bertambah panjang tak karuan.“Kamu nggak bisa main-main karena ini soal masa depan keluarga Chandra, Al!” seru Mama Vero. “Mama nggak pernah minta apa-apa, Mama hanya mau cucu, pewaris keluarga Chandra yang murni!”Alex tetap mematung.“Buat apa kamu bela perempuan itu? Kamu bisa mendapatkan gadis yang kualitasnya jauh di atas Faya, yang latar belakang keluarganya sama dengan kita.” Mama Vero tampak terengah-engah, sebab dia bicara cepat dengan nada sangat tinggi.Dan Alex masih saja diam seribu bahasa.“Kamu ini… kamu… ah!” Kali ini dengan menghentakkan kaki kuat-kuat, Mama Vero pergi.Alex menarik napas, lalu menghembuskan sambil meraup wajah. Kakinya pun menghentak tanpa sadar.Setengah terhuyung dia berdiri, ber
“Aku pengen jus jeruk, Pap mau sekalian dibikinin nggak?” Faya masih saja tersenyum.Alex menggeleng.“Yakin? Biasanya Pap suka… ini jeruknya segar-segar loh. Barusan aku beli di supermarket. Eh, ya nggak barusan banget sih, yang tadi pas aku ijin Pap mau pergi itu… aku ke supermarket beli buah-buahan,” lanjut Faya. Terdengar ringan, ada nada-nada riang menghiasi senyumnya.Alex menarik napas. Dalam hatinya berseru, ‘Sialan! Kok kayak sengaja banget menjelaskan supermarket. Tempat ketemuan mereka—”“Pap, kok malah melamun, kenapa sih?” Faya terkekeh.Tawa ringan yang di mata Alex tampak mengejek. Dengan kesal, Alex balik badan. Langkahnya lebar-lebar menuju ke kamar di lantai dua.“Loh, Pap marah ya?” Seruan Faya sempat terdengar.Saat mencapai tangga, Alex sempat berhenti, melirik ke belakang. Kalau biasanya, Faya terburu menyusul seraya meminta maaf, tetapi sekarang tidak ada tanda-tanda sosok istrinya itu mendekat.Alex meneruskan langkahnya dengan darah mendidih.Brak! Pintu dibuk
“Nah, itu Alex pulang!” Suara Mama Vero terdengar memenuhi ruangan. Menyambut langkah kaki Alex yang baru mencapai ambang pintu.Perempuan enam puluh satu tahun itu tampak bangkit dari duduk. Tamunya yang terdiri dari dua orang perempuan beda generasi, ikut bangkit. Semuanya menoleh pada Alex, dan melempar senyum.“Hmm… pertanda apa ini, Jemima?” Mama Vero menepuk perempuan muda yang paling dekat dengannya. Lalu tertawa ceria. "Jarang-jarang loh Alex pulang jam segini. Iya kan, Al?”Alex menghela napas. Dia sudah dapat menduga, ini pasti berhubungan dengan kemauan sang mama yang benar-benar ingin mencarikan pengganti Sofia secepatnya.Mama Vero terlihat mendekati Alex. Tersenyum-senyum sambil sesekali melirik pada kedua tamunya. “Biar Mama tebak… pasti di kantor, hatimu seperti tiba-tiba ingin pulang terus… iya apa iya?”Tawa Mama Vero meledak. Dan dua tamunya ikut berderai.Alex tetap diam, wajahnya datar. Hati yang masih dongkol kepada Revan menjadi semakin dongkol. Rasanya harga di







