Share

Bab 6

Author: Iyustine
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-05 12:40:28

“Alex bilang akan membawamu ke tempat terapi sekali lagi, dan dia minta waktu enam bulan dari sekarang. Dia yakin sekali kamu bisa hamil,” kata Papa Agusto.

Faya menutup wajah dengan kedua tangannya. Mata perempuan berhidung mancung itu mulai terasa panas.

“Alex sangat mencintaimu, Faya.” Papa Agusto menghela napas, lebih panjang dari yang pertama. “Alex menolak untuk menikah lagi, demi kamu. Tapi keluarga ini perlu penerus… jadi Papa harap kamu ikut membujuk Alex untuk menikah lagi, jika ternyata kamu gagal hamil.”

Diam. Mulut Faya terasa dikunci. Kepalanya masih penuh. Terlalu penuh.

Bahkan sampai Alex datang dan membawa Faya pergi. Meninggalkan rumah mewah mereka dengan dalih pergi ke tempat terapi.

“Kamu sekarang tau kenapa kamu harus cepat-cepat hamil?”  Alex, yang menyupir sendiri mobilnya, berkata tanpa menoleh pada Faya.

“Kenapa Pap bilang sama Papa kalau aku yang man—”

“Kalau kamu nggak bisa menjalankan misi ini, mungkin Sofia bisa,” tukas Alex. Derainya menguar beberapa detik. “Kuliat dia mau melakukan apapun untuk aku.”

Faya memejamkan mata. Menarik napas. “Kenapa tega begini, Pap?”

“Jangan berdrama, Faya. Selama ini bukankah kamu juga memanfaatkan aku?” Alex menoleh sekejap. Seringainya muncul. “Jangan lupa bagaimana kamu datang dalam hidupku. Kamu itu upik abu yang menjadi cinderela setelah menikah denganku kan?”

“Pap!” Faya tersentak. Matanya melotot sempurna. Sungguh tidak terbayangkan perkataan semacam itu keluar dari mulut lelaki yang pernah menyanjungnya. “Kamu mulai terbujuk Sofia juga?”

Alex tidak menjawab.  Dan tetap bungkam meski Faya menghujaninya dengan sederet pertanyaan. Sampai Faya diam karena lelah diabaikan.

Perlahan kendaraan yang dikemudikan Alex memasuki sebuah hotel bintang lima, meluncur cepat menuju basecamp.   

“Ayo, kita ganti mobil. Bawa kopermu.” Alex turun. Seakan tidak memberi kesempatan Faya berpikir, lelaki itu menaikkan nada bicaranya. “Cepat, Faya!”

Perempuan dengan rambut digerai itu terburu-buru turun. Mengikuti langkah Alex yang sudah berjalan ke arah barat. 

Alex berhenti di samping mobil berwarna hitam yang mesinnya menyala, lalu membuka pintu belakang.

“Masuklah,” perintahnya.

Tak ingin dibentak lagi, Faya menurut saja. “Kita akan kemana?”

Brak.

Pintu ditutup. Pertanyaan Faya lagi-lagi diabaikan begitu saja.

Alex berjalan menuju pintu lain. Faya mengira, Alex akan duduk di depan, tetapi dia baru sadar ketika suaminya berkata pada sang sopir. “Lakukan tugasmu, Revan. Cepat pergi!”

“B-baik, Pak Alex.”

“Tunggu!” seru Faya. Namun sia-sia. Pintu mobil sudah dikunci otomatis, dan kendaraan roda empat itu bergerak gesit, keluar dari hotel.

“M-maafkan saya, Faya. Saya benar-benar nggak punya pilihan.” Suara Revan serak dan lirih.

Faya menghela napas. Badannya lemas, melorot begitu saja di jok belakang. Seharusnya dia paham ketika bangun tidur tadi Alex berkata tentang masa suburnya yang harus dimanfaatkan dengan baik.

“Oh, Tuhan,” desisnya nelangsa. Dia tidak ingin menangis, meski air terasa mendesak-desak di sudut matanya.

“F-faya, a-apa kamu mau minum?” Revan menoleh. Memanfaatkan lampu merah  yang mengharuskan mobil berhenti sejenak. Dia mengulurkan sebotol air mineral dan sekotak tisu.

Faya membuang muka. Tidak ingin menjawab.

“Saya taruh di sini ya.” Akhirnya Revan melesakkan kedua benda yang dia sodorkan ke dalam car net organizer. Tepat di hadapan Faya. “Kalau kamu mau berhenti atau butuh sesuatu bilang saja.”

Faya buru-buru memejamkan mata. Namun isi kepalanya malah diserbu dengan kilasan suara Alex, suara Papa Agusto, suara Sofia….

“Ya Tuhan, kenapa bisa jadi begini?” Faya akhirnya menjumput tisu yang disediakan Revan.

***

Faya baru membuka mata ketika merasakan mesin mobil telah mati. Spontan dia terbelalak melihat pemandangan di depannya. Sebuah rumah kayu dengan taman penuh bunga.

Dengan mata yang masih melotot besar, dia menatap Revan yang membukakan pintu untuknya. “Kenapa ke sini?” jeritnya sekuat tenaga.

Revan tampak benar terperanjat. “S-saya hanya mengikuti perintah Pak Alex.” 

“Oh Tuhan.” Faya memegangi pelipisnya sendiri. Tentu saja perintah Alex, sebab vila mungil ini memang milik Alex. Sialnya, di tempat terpencil inilah dahulu mereka melakukan malam pertama.

Setelah sama-sama membeku, akhirnya suara lembut Revan mengudara. Terdengar canggung. “Mari kita masuk, Faya.”

Perempuan itu melihat tangan Revan terulur. Pandangan matanya naik ke wajah Revan.

Deg.

Jantung Faya masih saja melorot melihat senyum Revan yang serupa milik Alex.

“Yuk.” Revan merekahkan senyum lebih lebar.  Kepalanya mengangguk. Tangannya masih terulur.

Bagai terhipnotis, tanpa sadar Faya menyambut tangan Revan. Membiarkan pria berkulit putih itu menuntunnya turun. Bahkan menggandengnya sampai ke dalam.

“A-apa kamu pusing? Kubuatkan minuman hangat ya?”

Pertanyaan Revan menyadarkan Faya. Dia pun gegas menepis tangan yang telah menggenggamnya lebih dari satu menit itu. Tanpa berkata apa pun Faya menyeret kopernya ke dalam kamar, dan langsung menguncinya.

Begitu duduk di atas ranjang, Faya mengirim pesan pada Alex. Menginformasikan jika dirinya sudah sampai dengan selamat. Namun bermenit-menit setelahnya, pesan itu belum juga dibaca.

Faya menyibukkan diri dengan membuka media sosialnya.  Sambil sesekali mengecek pesan yang dia kirim untuk Alex. Sampai dia merasa ingin buang air kecil yang tak tertahankan. Mau tidak mau dia harus keluar dari kamar, sebab hanya ada satu kamar mandi di rumah kayu ini.

Setengah berlari Faya mencapai kamar mandi. Namun begitu pintu kamar mandi dia buka….

“AGH!!”

Teriakan membahana dibunyikan dari kedua mulut. Faya yang di ambang pintu kamar mandi, dan Revan yang tengah basah di bawah pancuran. Tanpa sehelai benang pun.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 164

    Sudah hampir satu jam berlalu, Alex masih mengintai Revan yang tampak mondar mandir.Pemuda itu berdiri di pinggir jalan, naik ke trotoar, menyender di sebuah pot besar sekitar situ. Sempat masuk ke salah satu mini market dekat situ, dan keluar dengan air mineral di tangan. Kemudian dia mulai mengulangi perilakunya. Berdiri, menyender, naik ke trotoar… gestur tubuhnya terlihat sedang menunggu seseorang.Meski memakan waktu lama, Alex tetap duduk tenang di belakang kemudi. Sesekali dia berkomunikasi dengan Miranda, untuk menginstruksikan beberapa pekerjaan. Entah mengapa, lelaki itu yakin sekali bahwa Revan tengah menunggu Faya.Dan, penantiannya benar-benar berakhir ketika mata Alex menangkap mobil yang sangat dia kenal. Mobil Faya. Melintas mulus, melewati tempat Revan berdiri begitu saja.Alex menahan napas. Apalagi saat Revan berjalan cepat ke arah barat, lalu terlihat menyeberang jalan, dan masuk ke sebuah supermarket yang tidak terlalu besar di situ.Sejenak Alex bimbang. Apakah

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 163

    Alex menelan ludah. Itu benar-benar Revan. Foto profilnya sama dengan nomor yang biasa dia hubungi. Jadi Faya dan Revan selama ini berhubungan di belakangnya?Rahang Alex mengeras. Kemarahannya cepat mengisi kepala. Tangannya pun terkepal spontan. Namun dia tidak akan merendahkan dirinya dengan menerima panggilan itu.Beberapa detik kemudian ponsel Faya telah senyap kembali. Layarnya pun menjadi gelap. Tampaknya Revan juga tidak mencoba menelepon lagi.“Dasinya sekalian ganti ya, Pap. Kayaknya lebih cocok yang ini.” Faya keluar dari walk-in closet. Berangsur mendekat sambil membawa kemeja biru muda dan sebuah dasi.Wajah istrinya itu terlihat berseri, menampilkan senyum cantik serta pipi merona segar alami. Tampak amat kalem, tipe-tipe istri penurut…. Tangan Alex lebih erat mengepal. Harga dirinya laksana rontok seketika. Sudah berapa lama Faya dan Revan berhubungan di luar jadwal yang seharusnya?“Yang ini? Cocok kan?” Faya sudah berdiri di hadapan Alex. Menempelkan dasi dan kemeja y

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 162

    “Mama, apa-apaan!” Alex spontan berseru.Mama Vero tertawa. Tampaknya dia akan mengucapkan sesuatu, tetapi dua pelayan telah masuk membawakan hidangan. Menata dan menyuguhkan ke masing-masing piring dengan cepat.Sementara Faya tersenyum santai. Dia menatap pada Alex dengan wajah biasa saja. Seakan pertanyaan Mama Vero bukan sesuatu hal yang mengagetkan hatinya.“Mari kita makan dengan tenang.” Papa Agusto berkata begitu para pelayan selesai menghidangkan makanan. Lalu mengangguk sambil mengundurkan diri.Mama Vero tertawa lagi. Seakan dia tahu bahwa ucapan sang suami tertuju pada dirinya. Semacam peringatan kecil agar dia tidak meneruskan pertanyaan yang sempat dia ajukan pada Faya.Beberapa detik setelah tawa Mama Vero mereda, ganti Faya yang tiba-tiba berderai lirih. Sehingga ketiga orang lainnya serempak menoleh pada perempuan berambut panjang tersebut.Faya perlahan menghentikan tawanya. Lalu berkata, “Maaf, Pa. Bukan ingin membuat gaduh, tapi alangkah baiknya kalau Mas Alex menj

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 161

    “Kalau kamu boong, aku bakalan marah beneran!” cicit Faya. Dia sengaja bermanja, dan itu membuat dia nyaman. Sesuatu yang tidak bisa Alex berikan dengan konsisten. Kadang suaminya itu memang dapat memperlakukannya dengan manis, tetapi lain hari watak kerasnya membuatnya merasa tidak berharga.“Sekarang bobo dulu, sudah malam, Sayang. Bayi cantik kita juga perlu bobo kan?” Suara lembut Revan menyapu syaraf pendengaran Faya.“Cantik? Berarti bayinya perempuan?” Faya terkikik.“Iya, biar cantik seperti mamanya.”“Tapi bayi perempuan biasanya mirip Papa.” Faya kembali terkikik.Suara tawa Revan terdengar renyah sekali. “Ya, sudah, bobo ya. Sampai ketemu besok.”Dan hati perempuan itu seketika merasai udara mengalir hangat di sekujur sendinya. Faya sampai mengecup ponsel tersebut, saking terbawa suasana.***“Bu Faya.”Faya menoleh. Dan menemukan Puput di sebelah pot besar. Perempuan muda itu merekahkan senyum tipis.“Saya mau klarifikasi, Bu,” ujar Puput sembari mendekat.Faya mengernyit.

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 160

    Faya menarik napas dalam-dalam. “Semua itu kan bisa saja terjadi. Seandainya aku—”“Kalau begitu nggak perlu berandai-andai!” Alex menatap Faya tajam. “Kamu akan melahirkan anak itu, merawatnya dengan benar, dan kita kembali hidup seperti biasa.”Faya membalas tatapan Alex. Mata perempuan itu melebar. Kata ‘anak itu’ yang diucapkan Alex, sungguh membuat hatinya tertohok. Meski sebenarnya bukan yang pertama kali Faya dengar, sebab sebelumnya Alex pun memilih kata ‘anak itu’ pada janin yang tengah dikandungnya.“Apa Pap bisa mencintai anakku kalau dia lahir nanti?” Kali ini Faya sengaja menekankan kata ‘anakku’.Rahang Alex tampak kembali mengeras. “Jadi kamu benar-benar pengen berdebat?” Lelaki itu tersenyum sinis.Faya membuang muka. Ingin sekali dia mengeluarkan kata-kata yang mengganjal di hatinya. Namun sepertinya Alex memang akan menganggapnya sebagai perdebatan. Dan berdebat dengan Alex yang maunya menang sendiri itu percuma!Setelah beberapa detik terdiam dan terpaku di tempatn

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 159

    Vero bangkit. Mengambil ponselnya, mulai meneliti nomor kontak teman-teman yang dia punya. Sembari mengingat-ingat, siapa saja yang dulu pernah secara samar-samar menawarkan anak gadisnya, sebelum akhirnya dia memilih Sofia.Klek. Agusto keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah, setengah telanjang. Hanya menggunakan celana dalam saja.“Anak bungsu keluarga Santo kayaknya masih single loh, Pa,” kata Vero. Suaranya nyaring, seperti sudah menemukan solusi.Lelaki itu terlihat menghela napas. Terdengar sedikit menghentak.“Kenapa? Papa nggak suka ya? Cantik kok, masih muda juga, lulusan luar negeri. Bentar kucari sosial medianya.” Jari Vero lincah bergerak. Dia benar-benar niat sekali mencari pengganti Sofia.Agusto berangsur mendekat. Merangkul istrinya, memberi kecupan kecil. “Ma, jangan terburu-buru begitu. Kita ini keluarga terhormat. Apa kata orang-orang kalau tau Alex baru saja menikah, lalu tiba-tiba bercerai, dan sekarang mendadak mencari kandidat istri baru.”Antusias Vero sek

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 75

    Sofia menatap mata Mama Vero lekat. Menelan ludah. Perlahan senyumnya terbit, seiring dengan otak di kepalanya yang sudah menemukan rangkaian kata yang sangat bagus.Gadis itu menunduk. Memasang gestur tubuh canggung. “M-maafkan aku ya, Ma. Kemarin aku hanya menguji Mama. Entah kenapa waktu itu kep

    last updateHuling Na-update : 2026-03-25
  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 59

    Faya terkikik senang, saat melihat Revan mengangguk dengan mulut melongo. Dia pun semakin berani mewujudkan keinginannya untuk mengambil peran memimpin dalam penyatuan tubuh dengan Revan sekarang. Sebab selama ini bersama Alex… ah! Segera dia tepis pikiran itu.‘

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 61

    “Fay, pakai piring ini saja…?” Revan terdengar berseru, tetapi di ujung kalimat nadanya menjadi samar. Sepertinya karena dia kaget memergoki Faya tengah menatap ponselnya.Faya meringis malu. Meletakkan gawai tersebut ke tempat semula. “Maaf, hape-mu

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 57

    “Faya, ini…?” Revan memungut benda tersebut. Memperlihatkan kepada Faya dengan kening berkerut. “Jadi... ini yang kamu beli di apotik tadi?”Faya terkekeh. Mengangguk-angguk. Terlihat biasa saja.“Tapi ini pil kontrasepsi?” Revan masih membelalak sembari mengamati tulisan kecil-kecil yang ada di du

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status