Share

Bab 5

Author: Iyustine
last update publish date: 2025-12-05 12:39:43

Faya menelan ludah. Dia melihat badan tegap Alex tengah membelakanginya, sementara Sofia berdiri tepat di depan lelaki itu.

“Kamu pasti suka tubuh muda dan kencang ini kan, Al? Spesial bagian sini. Atau di….” Sofia terkikik-kikik seraya menyentuh dadanya sendiri, lalu tanpa malu, tangannya turun ke bawah perutnya.

Mendadak derai tawa Sofia musnah. Matanya telah bersitatap tanpa sengaja dengan Faya, yang berada tiga meter di belakang Alex. Namun satu detik kemudian, cekikikannya justru terdengar mengudara lebih riang. 

“Mas, aku siap melahirkan Alex junior. Empat atau lima, pokoknya sebanyak kamu mau. Rahimku ini subur, tidak kering seperti milik perempuan tua tidak berguna itu.” Sofia mengambil tangan Alex. Terlihat jelas dia ingin mengarahkan tangan Alex ke dadanya.

Faya cepat berdehem.

Alex spontan terperanjat. Membalikkan badan. “Faya… ternyata kamu di sini.”

“Suamiku….” Faya mendekat. Meraih lengan Alex. Dengan sengaja dia menirukan nada genit Sofia. “Kamu mencari aku kan, Sayang? Maaf ya, aku perlu makan dan mencari udara segar, saking lelahnya melayani kehebatanmu tadi di ranjang. Astaga, untung aku nggak pingsan, padahal aku benar-benar kewalahan sama permainan kamu.”

Alex terlihat menyungging senyum miring. Tampak membias rasa bangga.

“Ayo tidur, Mas, kita harus menyimpan tenaga untuk bercinta lagi sepuasmu subuh nanti,” lanjut Faya. Matanya melerok genit.

Sofia tampak amat kesal. Kedua tangannya sampai terkepal.  Dia berbalik, menjauh dengan menghentakkan kaki.

***

Pagi harinya, Faya turun bersama Alex. Menenteng koper yang Faya letakkan dekat meja makan.

“Pagi Papa, pagi Mama,” ucap Faya dengan nada se-ceria mungkin. Meski tidak dapat dipungkiri, badannya terasa remuk redam.  Sebab memang hanya itu yang membekas setiap Alex memberinya nafkah batin.

“Pagi, Fay.” Papa Agusto yang menjawab. Namun mata lelaki enam puluh empat tahun itu cepat beralih kepada Alex. “Kalian jadi pergi hari ini, Al?”

“Ya, Pa.” Alex duduk.

Faya bergegas menyiapkan piring. Sialnya dia kalah cepat dari Sofia. Gadis genit  berambut kecoklatan itu sudah terlebih dahulu mendaratkan piring bersih di depan Alex.

Dengan penuh percaya diri, Sofia berkata, “Mas Al mau nasi atau—”

“Sofia, biarkan Faya menjalankan tugasnya seperti biasa,” tukas Papa Agusto.

Mama Vero menghela napas panjang. “Ya, Sofia. Biarkan Faya melayani Alex makan, karena itu satu-satunya yang dia bisa berikan pada suaminya.”

Sofia yang semula kesal, mendadak terkikik. Tampak senang sekali ibu kandung dari pria yang diincarnya, terus membelanya setiap saat. “Kalau begitu, aku melayani Mama saja ya. Mama mau apa?”

“Makasih, Sayang. Tolong ayam panggang.” Mama Vero tersenyum lebar.

“Aku tambah melon ya, Ma. Biar lebih segar,” usul Sofia. Lalu menoleh pada Papa Agusto. “Apa Papa mau sekalian?”

Gadis itu menampakkan senyum sangat lebar sewaktu melihat Papa Agusto mengangguk. Dia bertukar pandangan dengan Mama Vero yang juga melebarkan senyuman. “Papa dulu ya, Ma? Nggak apa-apa kan?”

“Tentu, Sayang.” Mama Vero melirik Faya yang masih berdiri di dekat putranya.

Sementara Sofia gegas memberikan piring berisi ayam panggang dan irisan melon kepada Papa Agusto. Gerakannya ringan, ditingkahi tawa kecil yang keluar dari bibirnya. “Silakan, Papa. Selamat makan.”

“Faya, tolong tambahkan sedikit nasi.” Papa Agusto mengulurkan piring yang baru saja diletakkan oleh Sofia.

“O-oh, i-iya, Pa.” Senyuman dari bibir Faya yang indah merekah perlahan. Dia harus menahan tawa saat menangkap wajah Sofia dan Mama Vero mencibir bersamaan.

Semua bisa melihat, sebenarnya tempat nasi lebih dekat dengan Sofia. Namun sikap Papa Agusto terlihat sebagai penegasan jika dia masih menghargai menantunya yang sah.

“Mas mau omelet dengan  alpukat kan?” Faya berganti mengangkat piring Alex. Di depan orang, Faya memang memanggil Alex dengan sebutan ‘Mas’.

“Ya.” Alex menjawab, tetapi matanya menatap Sofia.

Faya yang melihat adegan itu, menjadi teringat tentang semalam tadi. Membayangkan jika saja dirinya terus bersembunyi, apakah Alex akan menyentuh dada Sofia? Atau menciumnya, atau… ah!

Faya duduk setelah selesai melayani Alex, dan mengisi piringnya sendiri.

Hening.

Namun Faya bisa melihat Sofia masih mencuri pandang pada Alex, dan suaminya itu sesekali membalas tatapan gadis licik tersebut. Dia tidak dapat menahan rasa panas yang mulai mengaliri kedua kelopak matanya.

“Kalian akan langsung berangkat setelah ini?” Papa Agusto memecah keheningan. Menatap Alex, lalu kepada Faya.

“Ya, dua atau tiga hari kami pergi,” sahut Alex. “Tapi aku masih bisa remote beberapa berkas penting dari sana.”

“Ngapain kamu masih berusaha membuatnya hamil, Al? Dia itu mandul, mau dibawa ke dokter paling canggih pun akan percuma. Hanya membuang uang dan tenaga,” celetuk Mama Vero.

“Faya, setelah ini Papa perlu bicara dengan kamu sebentar ya.” Papa Agusto tampak berusaha membuat ucapan istrinya tidak didengar.

“Ya, Pa.” Faya mengangguk hormat.

***

“Faya, Papa tau kamu perempuan baik yang tepat untuk Alex. Tapi kamu tau kondisi keluarga kita kan?” Papa Agusto memulai pembicaraan, sesaat setelah Faya duduk di ruang kerjanya.

Faya menelan ludah. Mengangguk samar.

Lelaki itu menghela napas panjang. “Alex sudah bicara semuanya sama Papa, kalau ternyata kamu yang… kurang subur….”

Faya mendongak cepat. Mulutnya membuka. “A-aku?”

Papa Agusto mengangguk mantap. “Papa sudah melihat semua hasil rekam medis kamu yang selama ini Alex sembunyikan.”

“S-sembunyikan?” Faya mem-beo. Seketika kepalanya terasa penuh dengan bermacam pertanyaan. Namun dia tidak tahu pertanyaan mana dulu yang akan dia utarakan.

“Papa ikut prihatin, Faya.” Wajah Papa Agusto menatap sang menantu. Matanya menyipit, garis senyumnya memudar. “Tapi Papa minta tolong, kamu jangan egois ya.”

“Maksud Papa?” Suara Faya terdengar seperti tercekik. Pikirannya sudah tertuju pada ucapan Sofia semalam. Tentang sebuah restu….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 172

    Mama Vero mengacungkan telunjuk. Sementara wajah perempuan itu sudah merah padam.Alex hanya mampu menghela napas, demi menahan diri agar tidak keceplosan bicara yang bisa memicu Mama Vero bertambah murka. Bukan kenapa-napa, hanya malas saja meladeninya. Karena pasti akan bertambah panjang tak karuan.“Kamu nggak bisa main-main karena ini soal masa depan keluarga Chandra, Al!” seru Mama Vero. “Mama nggak pernah minta apa-apa, Mama hanya mau cucu, pewaris keluarga Chandra yang murni!”Alex tetap mematung.“Buat apa kamu bela perempuan itu? Kamu bisa mendapatkan gadis yang kualitasnya jauh di atas Faya, yang latar belakang keluarganya sama dengan kita.” Mama Vero tampak terengah-engah, sebab dia bicara cepat dengan nada sangat tinggi.Dan Alex masih saja diam seribu bahasa.“Kamu ini… kamu… ah!” Kali ini dengan menghentakkan kaki kuat-kuat, Mama Vero pergi.Alex menarik napas, lalu menghembuskan sambil meraup wajah. Kakinya pun menghentak tanpa sadar.Setengah terhuyung dia berdiri, ber

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 171

    “Aku pengen jus jeruk, Pap mau sekalian dibikinin nggak?” Faya masih saja tersenyum.Alex menggeleng.“Yakin? Biasanya Pap suka… ini jeruknya segar-segar loh. Barusan aku beli di supermarket. Eh, ya nggak barusan banget sih, yang tadi pas aku ijin Pap mau pergi itu… aku ke supermarket beli buah-buahan,” lanjut Faya. Terdengar ringan, ada nada-nada riang menghiasi senyumnya.Alex menarik napas. Dalam hatinya berseru, ‘Sialan! Kok kayak sengaja banget menjelaskan supermarket. Tempat ketemuan mereka—”“Pap, kok malah melamun, kenapa sih?” Faya terkekeh.Tawa ringan yang di mata Alex tampak mengejek. Dengan kesal, Alex balik badan. Langkahnya lebar-lebar menuju ke kamar di lantai dua.“Loh, Pap marah ya?” Seruan Faya sempat terdengar.Saat mencapai tangga, Alex sempat berhenti, melirik ke belakang. Kalau biasanya, Faya terburu menyusul seraya meminta maaf, tetapi sekarang tidak ada tanda-tanda sosok istrinya itu mendekat.Alex meneruskan langkahnya dengan darah mendidih.Brak! Pintu dibuk

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 170

    “Nah, itu Alex pulang!” Suara Mama Vero terdengar memenuhi ruangan. Menyambut langkah kaki Alex yang baru mencapai ambang pintu.Perempuan enam puluh satu tahun itu tampak bangkit dari duduk. Tamunya yang terdiri dari dua orang perempuan beda generasi, ikut bangkit. Semuanya menoleh pada Alex, dan melempar senyum.“Hmm… pertanda apa ini, Jemima?” Mama Vero menepuk perempuan muda yang paling dekat dengannya. Lalu tertawa ceria. "Jarang-jarang loh Alex pulang jam segini. Iya kan, Al?”Alex menghela napas. Dia sudah dapat menduga, ini pasti berhubungan dengan kemauan sang mama yang benar-benar ingin mencarikan pengganti Sofia secepatnya.Mama Vero terlihat mendekati Alex. Tersenyum-senyum sambil sesekali melirik pada kedua tamunya. “Biar Mama tebak… pasti di kantor, hatimu seperti tiba-tiba ingin pulang terus… iya apa iya?”Tawa Mama Vero meledak. Dan dua tamunya ikut berderai.Alex tetap diam, wajahnya datar. Hati yang masih dongkol kepada Revan menjadi semakin dongkol. Rasanya harga di

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 169

    “Eh, itu Mas Revan-nya!” Seorang perempuan paruh baya berdaster, berteriak sembari menunjuk Revan. Dia pemilik rumah kontrakan.Firasat Revan langsung memberi tanda ada sesuatu yang buruk. Dia gegas bergerak untuk kembali mengangkat Kai ke dalam gendongannya. Bukan ibu pemilik kontrakan yang dia waspadai, tetapi dua orang pria berjaket hitam yang tengah merokok santai di teras rumah sewanya. Apalagi ketika kedua orang itu terlihat berdiri bersamaan. Lalu secara bersama-sama pula, mereka menjatuhkan rokok masing-masing, dan menggilas dengan ujung sepatu mereka.Sewaktu ibu pemilik kontrakan melangkah mendekati Revan, kedua pria itu membuntutinya.“Mas Revan, sudah ditunggu dari tadi loh.” Begitu dekat, si ibu pemilik kontrakan meraih lengan Revan. Menepuk-nepuk lembut. “Nggak nyangka kamu ya, Mas. Kayak sederhana banget selama ini… tapi ternyata keluargamu kaya raya. Kayak film-film yang sering Ibu tonton. Beneran nggak nyangka banget.”Revan mengernyit. Spontan mundur. Namun dua ora

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 168

    “Pak—”“Bacalah. Semakin kamu banyak bicara, semakin singkat waktumu bersama anak ini.” Alex menyipitkan mata, tetapi cepat tersenyum. Senyum yang terlihat mengejek.Setelahnya Alex tampak menatap Kai, senyumnya masih ada. Kemudian tangan lelaki itu mengelus kepala si kecil. “Kai suka anggur?”Kai mengangguk dengan mulut yang sibuk mengunyah buah berwarna keunguan tersebut.“Nanti kita beli anggur banyak-banyak, biar bisa makan anggur tiap hari. Kai mau?” ujar Alex, sembari melirik Revan yang sudah mulai memegang dokumen.Sekali lagi Kai mengangguk. Tampaknya pria kecil itu tidak bisa menjawab, sebab mulutnya begitu penuh.Alex terdengar terkekeh. “Anak pintar. Ayo kita pulang ke rumah kita.”Mobil mulai melaju, meninggalkan halaman panti asuhan.Kai terlihat mengacungkan kedua tangannya ke atas, sementara badannya bergoyang-goyang. Mulutnya yang penuh memperdengarkan tawa tipis.Revan yang duduk membeku di belakang, menelan ludah. Dia tahu sekali, Kai sedang kegirangan, tanpa paham a

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 167

    Alex tampak mengangguk. “Apa semuanya sudah siap?”“Sudah, Pak.” Vina menjawab dengan gestur tubuh yang terlihat begitu sopan. Lalu dia tampak menoleh pada Revan, kemudian beralih kepada si kecil Kai. Perempuan itu melambai dan berseru, “Kai, sini…!”Kai terlihat hendak bergerak menuruti panggilan Vina, tetapi Revan gegas meraih pergelangan kecilnya. “Jangan, Kai tunggu di sini saja sama Ole ya.” “Tapi Kai dipanggil Ibu Vina,” sahut Kai. Wajahnya membias kebingungan. “Kata Ole, Kai harus nurut sama Bu Vina kan?”Revan membungkuk, mengambil tubuh Kai dan menggendongnya. Tangan kekarnya langsung mengungkung posesif. “Mulai sekarang, Kai hanya nurut sama Ole. Oke?”Meski wajah imutnya masih menampakkan kebingungan, Kai tetap mengangguk, “Oke.” “Pegang Ole erat-erat ya, jangan lepaskan.”Tangan kecil Kai cepat mengikuti instruksi. Bergayut di leher sang paman. Sepertinya dia berfirasat, sebab setelah itu wajah Kai menempel pada dada Revan. Napasnya terdengar sedikit menderu. “Kai takut,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status