เข้าสู่ระบบ“Kasihan,” desis Yasmin begitu pintu ditutup. “Ditolak sana, ditolak sini. Jadi lo harusnya ngaca, ngaca, ngaca. Karena kualitas diri lo emang nggak terpilih di semua bidang kehidupan.”Yasmin tertawa. “Kemarin lo berkoar-koar gue ngerebut Wisnu. Apa sekarang lo juga akan berkoar-koar atasanmu sudah merebut kepercayaan Pak Agusto? Kasihan, kasihan….”Miranda diam saja. Dia terus melangkah dengan wajah menunduk. Menulikan telinga dari mulut Yasmin yang menyakitkan.Di koridor, Miranda berpapasan dengan dua rekan kerjanya. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyapa. Keduanya tampak kalut, setengah berlari menuju lift. Dan saat dia baru saja duduk, kepala HRD masuk. Atasannya itu hanya menatap Miranda sekilas, untuk kemudian terburu-buru meletakkan tas, menyambar laptop lalu cepat menghilang.“Oh Tuhan.” Miranda mengambil botol minum. Meneguk cepat. Tubuhnya terasa masih gemetaran.Setelah itu dia tercenung. Menatap pada laptopnya yang terbuka dalam keadaan mati. Di situlah dia melihat
“Mir, kata Yasmin kamu sudah ditunggu Pak Agusto.” Seorang rekan yang baru saja menutup telepon, berkata pada Miranda.“I-iya. I-ini s-sudah siap kok.” Miranda merapikan berkas-berkas yang tadi diminta oleh atasannya. Dia juga sudah menyelipkan tiga lembar bukti percakapan antara dirinya dan Yasmin, untuk diperlihatkan pada Pak Agusto. Sengaja dia pilih ketikan Yasmin yang paling menjijikkan saat gadis itu membicarakan rencananya terhadap Pak Alex.“Kamu kayak nervous banget dari tadi, Mir? Kenapa sih? Perasaan kamu udah pernah beberapa kali rapat bareng Pak Agusto.” Sang rekan memicing. Berjalan mendekat.Miranda buru-buru mengambil berkas. Gerakannya seperti melompat, benar-benar mengagetkan rekannya.“Dih, aneh banget kamu….” Si rekan berderai.Miranda meringis. Seraya mendekap dokumennya erat-erat. “Namanya ngadep big boss galak. Gugup banget aku nih, takut bikin kesalahan.”“Astaga. Sampai tanganmu gemeteran gitu. Minum dulu, baca doa, Mir. Kalau nggak tenang kamu malah bisa biki
“Bantuin buka kenapa? Agak susah nih.” Wisnu meringis. Terlihat dia membagi-bagi konsentrasi. Antara tetap mengendalikan mobil dan ingin cepat membuka celananya.Yasmin tersenyum-senyum nakal. “Usaha dong. Abis itu baru aku yang berusaha.”Perempuan berambut pendek itu terus terkikik sambil melihat pada Wisnu yang tampak sibuk sendiri. Namun akhirnya, Yasmin tidak tahan juga. “Ah, kamu nih, kamu yang mau enak, aku semua yang repot.”Tangan Yasmin menyelonong. Membuka dengan terampil. Dalam beberapa detik saja, organ vital Wisnu yang sudah tampak lurus itu nongol. Tanpa babibu, mulut Yasmin langsung melahapnya.“Agh… enak sekali, Sayang.” Wisnu tampak menggeliat-geliat. Tangannya sesekali menekan kepala Yasmin, seakan takut jika perempuan itu akan menyudahi kenikmatan yang baru saja dia dapatkan.Mobil Wisnu pun melaju di jalanan yang diguyur hujan amat lebat. Berputar-putar tak tentu arah. Terkadang tampak oleng, tiba-tiba melaju terlalu cepat atau bahkan terlalu pelan. Sampai akhirny
Miranda sempat menoleh, dan melihat senyum Yasmin yang terkesan mengejek, sebelum mantan sahabatnya itu pergi bersama mantan pacarnya.Perempuan itu mencetus derai getir. Siapa pun yang melihat, bisa tahu kalau kedua manusia berlainan jenis itu mempunyai ikatan sesuatu. Mungkin benar, kalau Yasmin tidak merasa menjalin hubungan istimewa dengan Wisnu, sebab Yasmin mempunyai rencana sendiri.Namun Wisnu? Dengan bodohnya, lelaki itu menyambut jebakan Yasmin begitu saja. Sampai Wisnu berani memutuskan hubungan mereka berdua dengan tiba-tiba. Hubungan yang sudah terjalin satu tahun lebih.“Astaga, Kak Mira!” Suara perempuan, salah satu penghuni kos, datang tergopoh dari dalam. “Masuk, Kak. Segera mandi air hangat. Nanti Kakak bisa sakit.”“I-iya.” Miranda memaksa tersenyum.“Sabar ya, Kak. Pasti berat, tapi harus direlain. Nggak seberapa cowok begitu,” ujar sang teman lagi. Dia adalah orang pertama yang melapor pada Miranda ketika melihat Wisnu dan Yasmin terlihat berduaan di sebuah kafe.
Alex kembali berdiri. Meninggalkan kamar itu untuk masuk ke kamar lain. Seperti biasa, dia selalu memesan dua kamar bersebelahan. Terlebih kali ini, dia harus tinggal di situ selama Faya bersama Revan. Untuk membuat alibi kepada orang tuanya, bahwa dia dan Faya benar-benar melakukan terapi.Begitu masuk kamar yang baru, Alex menyambar botol wine, menuangkan sebagian kecil ke dalam gelas berkaki. Menenggak tandas sekali teguk, lalu duduk menengadah. Kepalanya mulai pusing, tentu saja bukan karena secuil wine itu. Melainkan karena dia menyimpan marah. Amarah yang menggelegak karena kelakuan dua pegawainya yang bernama Yasmin dan Miranda.“Huff….” Nafasnya berhembus kencang. Harga diri Alexander Chandra benar-benar tercoreng oleh kedua perempuan itu.Yasmin ternyata tidak sepolos yang dia kira. Sekretarisnya yang genit itu sudah begitu detail merencanakan sesuatu untuk mengambil keuntungan dari keisengann
Perempuan dengan setelan blazer dan rok selutut itu tampak tersenyum. Menutup pintu, lalu berjalan mendekati Alex.“Maaf, kalau saya mengejutkan Bapak.” Miranda terlihat berhenti sekitar dua meter dari tempat Alex duduk. Lalu membungkukkan punggung sekilas. “Mungkin Pak Alex bertanya-tanya, kenapa saya bisa ada di sini.”Alex diam. Hanya menatap tajam kepada perempuan yang dia tahu sebagai teman dekat Yasmin. Beberapa kali dia melihat Yasmin dan Miranda berdua di area kantor, maupun acara-acara resmi lainnya. Meski sebenarnya Alex lupa nama Miranda, kalau saja perempuan itu tidak menyebutkannya di awal tadi.Tangan Miranda tampak bertaut. Menunduk. “Mungkin Yasmin tidak akan datang, Pak Alex. Karena setelah saya baca pesan Anda, tadi saya langsung menghapusnya. Saya—”“Kamu saya pecat. Dan segera pergi dari sini.” Alex berkata dengan lirih, tetapi tegas. Dia membuang wajah ke arah berlawanan dari Miranda.“Baik, Pak. Saya terima, tapi Pak Alex harus dengar in—”“Kubilang, pergi!” Kini







