LOGINMulai bab berikutnya akan berbayar ya. Mudah2an tetap lanjut. Terima kasih sudah membaca sampai di sini 🥰🥰
Ivy mengangkat kepala, saat merasakan terang dibalik pelupuk mata. Sedikit kebingungan, karena begitu sekelilingnya jelas terlihat, dia ternyata tidak sedang terbaring di ranjang.Dia ada di sofa yang dulu dipakai Matteo saat terapi. Ivy akhirnya ingat, dia tertidur saat memeluk punggung Matteo, mendengarnya berbicara.Sepertinya Matteo memindahkannya ke sofa, tapi kini Ivy tidak bisa melihat dimana dia.Suara goresan dari pojok ruangan, menarik Ivy untuk menoleh. Dan wajah Ivy tersenyum, saat melihat Matteo berdiri, di hadapan kanvas, menggoreskan warna pada lembar putih itu.Melihat kanvas yang sudah hampir penuh dengan warna, Ivy menduga Matteo sama sekali tidak tidur. Bukan hanya kanvas, jari dan baju Matteo telah penuh dengan cipratan aneka warna ,yang bercampur sampai terlihat hitam.Terdapat cipratan warna merah di ujung hidung Matteo, pada pipinya ada sedikit warna hijau. Peralatan lukis yang kemarin bersih tanpa noda, sekarang terlihat kotor dan tidak beraturan.Ivy biasanya t
Matteo menatap Ivy yang telah tertidur pulas.Seperti biasa, dia tertidur terlebih dahulu, karena Matteo harus mengerjakan beberapa dokumen. Lagi pula hari ini melelahkan. Pantas jika dia tertidur lebih cepat tadi.Mata Matteo bergulir menatap tangan Ivy yang terbuka di samping tubuhnya. Tangan itu masih menyisakan cat warna ungu di sudut kukunya. Warna yang menjadi lambang tekad Ivy, untuk terus berjuang merawatnya.Ivy mungkin memintanya untuk tidak merasa bersalah, tapi Matteo tidak bisa menghapus perasaan itu dengan mudah. Dirinyalah yang menjadi sumber masalah disini.Matteo menyentuh pipi Ivy sekali lagi lalu perlahan berjalan keluar kamar. Kantuk dan lelahnya menghilang, saat melihat warna ungu itu.Langkah kaki yang tadi mantap saat menuruni tangga, perlahan meragu dan melambat, begitu mendekati sudut tempat alat lukis itu berada.Matteo akhirnya kembali berdiri diam, pada jarak aman seperti tadi siang. Easel dan kanvas yang mencetak tangan ungu Ivy, berdiri diam di bawah sorot
Tapi Matteo menggeleng tak setuju. "Kau tahu cat minyak tidak bisa terhapus dengan mudah dari kulit bukan?""Oh.. NO!"Ivy kini benar-benar panik, memandang tangannya yang berwarna ungu merata. Dia tidak berpikir sejauh itu tadi. Ivy tadi hanya ingin menarik perhatian Matteo, agar rasa khawatir dan ketakutannya terhadap peralatan lukis itu menghilang.Hanya mungkin sekarang caranya terlalu ekstrem. Dengan lesu Ivy menatap kedua tangannya itu. Cat minyak yang tertoreh di sana, mulai kering mengeras."Apa yang tidak bisa dihilangkan dengan air dan sabun?" tanya Ivy."Tidak bisa. Itu hanya berlaku untuk cat air. Ini cat minyak."Matteo mengangkat tangan Ivy, dan tersenyum saat melihat mulut yang berwarna merah jambu itu cemberut."Ayo."Matteo menyambar botol thinner, lalu menarik tangan Ivy menuju ke dapur.Ivy membeli botol itu karena menuruti anjuran dari pemilik toko tanpa tahu apa fungsinya."Letakkan tanganmu di sini."Matteo menyuruh untuk meletakkan tangannya di atas lubang wasta
Mereka tiba di Alba hanya dalam waktu dua puluh menit. Seharusnya tidak selama itu, tapi lalu lintas hari minggu cukup padat merayap.Luigi menjalankan mobilnya perlahan sesuai dengan arahan dari Ivy. Dia menolak memberikan alamat persisnya dimana toko yang menjadi tujuannya. Alih-alih Ivy menggunakan GPS mulut untuk memberi tahu Luigi tikungan yang harus diambil.Petunjuk arah tidak biasa itu juga, yang mungkin membuat perjalanan mereka menjadi lebih lama."Seratus meter lagi, menepi. Lalu berhenti saja di situ."Luigi setelah mendapat persetujuan dari Matteo tadi menuruti setiap perintah yang keluar dari mulut Ivy.Dia menepikan mobil parkir ruang kosong yang tersisa. Jalan itu cukup ramai melihat banyaknya mobil yang berjejer. Penyebabnya tentu saja karena banyak deretan toko di jalan itu. Tapi semua hanya toko kecil, tidak sesuai dengan selera Ivy yang biasa menghabiskan ribuan dollar dalam sekali belanja."Ayo!"Dengan tidak sabar, Ivy menarik tangan Matteo mengikutinya berjalan.
"Dan aku tidak tahu berapa lama," lanjut Aria. Dia akan butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan segala rutinitas baru. Rutinitas untuk tidak lagi mencintai Matteo."Aku mengerti. Aku juga mengerti jika kau tidak ingin lagi bekerja di Viaggio," ujar Matteo. Setenang mungkin. Meski dalam hati dia akan kecewa bila Aria benar-benar keluar. Sangat sulit mendapat karyawan sepintar Aria. Apalagi dia termasuk satu diantara orang langka yang tidak bersikap takut berlebihan pada Ranallo.Aria mendecak. "Apa kau mau memecatku?"Matteo langsung kembali menggeleng panik. "Tidak...tidak seperti itu."Dalam hati, Aria geli karena bisa melihat Matteo dalam keadaan panik seperti itu. Dia belum pernah melihat Matteo panik."Aku hanya ingin memberimu kelonggaran jika memang kau tidak ingin bekerja lagi padaku," jelas Matteo."Aku tidak sepicik itu. Aku akan tetap bekerja. Gaji yang kau tawarkan cukup tinggi. Sebentar lagi, aku akan bisa pindah ke tempat yang lebih bagus dari ini."Aria menunjuk aparte
Dia terlalu nyaman, bersama dengan Matteo tanpa ikatan yang jelas. Padahal pada kenyataannya, apa yang Aria bayangkan, tidak sama dengan apa yang Matteo rasakan.Aria selama ini takut untuk mengambil jalan maju, karena tidak ingin hubungan mereka rusak atau terganggu dengan ungkapan rasa cintanya. Dan sejuta alasan lain yang mencegahnya mengambil langkah ke depan, termasuk bayangan tentang dunia hitam Notte, dunia yang tidak mungkin dipisahkan dari Matteo."Terima kasih, karena telah peduli padaku. Aku ingin mengucapkan ini sejak lama, ketika tahu kau membiayai seluruh kuliahku, tapi Dante melarangku untuk mengatakannya, sadar seharusnya fakta itu rahasia," kata Aria.Matteo menggeleng. "Aku membiayai kuliahmu karena tahu kau berhak mendapatkan itu. Aku tahu seberapa pintar dirimu, jadi bukan hanya karena rasa kasihan. Tidak perlu berterima kasih secara berlebihan padaku. Apa yang diambil oleh ayahku dari keluargamu, lebih dari apa yang aku berikan kepadamu."Aria kembali melihat sisi







