Home / Romansa / Menipu Sang CEO Buta / #006 Harusnya Tenang Tapi Panik

Share

#006 Harusnya Tenang Tapi Panik

Author: aisakurachan
last update Last Updated: 2025-12-12 08:59:49

Tiga jam perjalanan itu terasa begitu singkat. Ellie merasa masih belum siap menghadapi Raven. Jantungnya berpendapat sama, karena sejak tadi seolah menggedor tulang dada Ellie, meminta dibebaskan.

Sambil merapatkan mantel, Ellie menuruni tangga pesawat. Suhu di Swedia lebih dingin dari pada London. Mantelnya kurang tebal.

"Selamat datang Miss Harken. Perkenalkan saya Jasper Nicklas, sekretaris Mr. Wycliff."

Pria yang menyambutnya di ujung tangga pesawat, memberi kesan licin tidak bernoda. Setelan jasnya rapi, dan rambutnya tersisir sempurna tanpa ada anak rambut yang keluar. Kacamatanya yang berbentuk kotak, memberi kesan tegas. Dia adalah tipe pegawai yang mirip robot

Tapi meski begitu Jasper tersenyum ramah. Wajahnya terlihat lebih hidup dan tampan saat tersenyum. Ellie tanpa ragu menjabat tangannya yang hangat.

"Sepertinya Anda kedinginan."Jasper merasakan tangan Ellie sedikit gemetar.

"Benar. Saya tidak menyangka suhu di sini akan lebih dingin dari London." Ellie menggosok tangannya yang telanjang tanpa sarung tangan. Ellie sebenarnya sudah tidak tahu lagi, apakah benar tangannya gemetar karena kedinginan atau hanya karena gugup.

"Kalau begitu lebih baik kita berbicara di dalam mobil." Jasper menunjuk mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka. Mobil limousine panjang berwarna hitam.

"Silahkan. Untuk menghangatkan badan."

Jasper menawarkan segelas wine begitu mereka duduk di dalam mobil. Bukan hanya Wine, Ellie juga melihat berbagai macam buah tersaji manis di depannya. Tapi Ellie menolaknya.

"Maaf. Saya tidak bisa minum alkohol. Alasan kesehatan." Kesehatan mental lebih tepatnya. Ellie tidak mungkin menghadapi Raven dalam keadaan mabuk. Wine kualitas tinggi, meski hanya segelas akan mengirimnya ke alam mimpi.

"Oh, saya mengerti." Dengan cekatan Jasper membuka buku yang ada di pangkuannya, mencatat jika Ellie tidak bisa meminum alkohol.

"Apakah Anda perlu mencatatnya?" Ellie kaget saat tidak sengaja membaca tulisan Jasper.

Jasper mengangguk. "Saya yang akan bertanggung jawab atas kebutuhan Anda selama masa merawat Mr. Wycliff. Jadi hal-hal kecil seperti ini harus selalu saya catat. Saya harap anda tidak keberatan, Miss. Harken."

Ellie menggeleng, tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi ada satu hal yang haus segera diubahnya sebelum mereka sampai tujuan.

"Mm... Mr. Niklas, bisakah anda memanggil saya Hazel saja? Anda tidak perlu terlalu sopan. Saya hanya pegawai biasa, bukan tamu."

Japser melirik bukunya lagi. "Nama anda Ellie Harken." Jasper membaca biodata Ellie.

"Benar. Hazel adalah nama tengah saya. Dan saya lebih suka dipanggil dengan nama itu. Ellie terdengar seperti nama pasaran. Ha... Ha... Ha." Tawa Ellie sangat terpaksa.

Ellie sudah menyiapkan kalimat itu, begitu Stefan mengatakan akan mengirim biodata Ellie kepada sekretaris Raven.

Jasper tersenyum. "Tentu, dan Anda...maksudku kau juga bisa memanggilku Jasper saja. Aku juga hanya pegawai, tidak perlu terlalu sopan."

Ellie mendesah dengan lega. Satu ganjalan terlewati. "Aku rasa lebih akan lebih menyenangkan seperti ini. Aku bisa-bisa bosan jika harus bersikap sopan juga padamu."

Setelah bersikap santai, kesan kaku pada Jasper perlahan menghilang. Dia cukup ramah, meski saat membahas pekerjaan, mimik wajahnya kembali serius.

"Kita sampai."

"Ini bukan Mansion Wycliff." Ellie sedikit heran saat mereka berhenti di depan sebuah rumah mewah dengan gaya yang lebih modern, berbeda dengan bangunan mirip kastil yang didatanginya dulu.

"Memang bukan. Mr. Wycliff tingal di sini setelah kecelakaan. Ini rumah pribadinya, yang tidak diketahui wartawan," jelas Jasper.

Ellie hanya mengangguk, sementara merasa naif karena berpikir Raven hanya akan punya satu buah rumah saja.

"Lagi pula kau mendarat di Gothenburg tadi bukan Stockholm. Mansion Wycliff terletak lebih dekat dengan bandara Stockholm." Jasper melanjutkan.

"Ha... Ha... Ha" Ellie kembali tertawa sumbang, Ellie sungguh merasa bodoh, karena tidak menyadari perbedaan bandara tempatnya mendarat tadi. Dia terlalu resah.

"Tapi bagaimana kau tahu jika rumah ini bukan Mansion Wycliff?" Pertanyaan Jasper sangat wajar dan masuk akal, tapi tenggorokan Ellie mendadak kering saat mendengarnya. Ia seharusnya tidak tahu rumah Raven seperti apa.

"Oh.. Mmm... Dr. Stefan kemarin bercerita jika bentuk Mansion Wycliff seperti kastil. Dan ini bukan kastil." Ellie bersyukur tidak amat tergagap saat mengucapkan kebohongan sepanjang itu. Itu berarti niatnya untuk menutupi identitasnya begitu kuat.

"Dr. Stefan sepertinya orang yang unik. Sayang aku belum pernah bertemu dengannya." Jasper menerima alasan itu.

"Lebih baik kalian tidak bertemu!" batin Ellie. Kebohongannya akan dengan mudah terbongkar jika sampai hal itu terjadi.

"Ayo.Mr. Wycliff sudah menunggu di lantai dua" Dengan gesit, Jasper mendahuluinya naik tangga saat mereka sampai di dalam.

Degup jantung Ellie seolah bergaung di telinganya sendiri, mengiringi langkah kakinya menaiki tangga. Ellie sudah menyiapkan hati untuk pertemuan ini sejak jauh-jauh hari.

Menyusun kalimat perkenalan, mengatur agar terdengar wajar dan berjarak. Tapi sepertinya tidak berguna. Susunan kata yang sudah dihapalnya, seolah jatuh berceceran seiring detak jantungnya.

Jasper membawanya ke sebuah ruang kerja mewah dan luas. Tapi jenis kemewahan yang berbeda, dengan apa yang dilihat Ellie di Mansion Wycliff. Interior ruangan itu terlihat lebih modern, dengan dominasi warna hitam dan abu-abu. Tirai, lukisan, meja, sofa, semua bergaya minimalis yang apik.

Tembok bagian timur ruangan itu seluruhnya terbuat dari kaca, agar siapa saja yang ada di ruangan itu, bisa menikmati pemandangan hijau pegunungan berkabut putih, dan danau segar dengan air kehijauan yang tenang.

"Rumah ini memang cocok sebagai tempat untuk memulihkan diri," batin Ellie.

"Mr. Wycliff, terapis anda yang baru sudah datang." Jasper berdiri di sebelah kursi tinggi yang ada persis di depan tembok kaca itu, melapor.

"Hmm... aku harap akan lebih baik dari pada terapis yang sebelumnya."

Ellie membenci kenyataan bahwa suara Raven masih begitu berpengaruh pada dirinya. Bulu halus di sepanjang tangan dan kakinya, menegak sempurna. Seperti dulu saat pertama kali mereka bertemu.

"Saya juga berharap begitu. Anda sudah memecat sepuluh terapis sampai saat ini. Saya..."

"Cukup membahas soal terapis. Kau punya pekerjaan yang lebih penting." Raven memotong penjelasan Jasper.

Suara dengung mesin terdengar, saat kursi itu berbalik. Ellie menahan nafas, saat akhirnya wajah Raven terlihat.

Tidak sesuai dengan keinginan Ellie yang mencoba untuk tidak terpengaruh, jantungnya mencelos panik seketika itu juga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menipu Sang CEO Buta   #196 Tidak Satu Tapi Dua

    Setelah menunduk hormat pada Matteo, dokter itu mulai memeriksa keadaan Ellie.Dokter seharusnya tidak sesopan itu pada keluarga pasien. Namun sopan santun yang umum, tidak berlaku bagi Matteo di Neive. Sama dengan Raven yang terlalu dimanja oleh dokter dan perawat di rumah sakit beberapa saat lalu.Dokter itu mengangguk puas, begitu selesai memeriksa keadaan Ellie. "Untuk saat ini, Anda akan baik-baik saja. Namun bayi dan ibunya dalam keadaan sangat rentan. Selama keadaannya dijaga ketat, tidak akan ada masalah."Ellie dan Raven mengangguk bersamaan. Raven yang sejak awal over protective terhadap Ellie, mulai bersumpah dalam hati untuk melarangnya bergerak."Untuk sementara ini, tolong jangan banyak melakukan kegiatan berat," lanjut dokter itu, sambil memandang Ellie tajam. Seolah mengatakan jika keadaan ini adalah akibat Ellie yang terlalu memforsir tubuhnya.Ellie mengangguk sekali lagi, dan sudah bertekad untuk patuh. Dia akan melakukan apa saja untuk mempertahankan bayinya.Ellie

  • Menipu Sang CEO Buta   #195 Kakak Tapi Manusia

    "Aku tidak bisa berpikir. Aku merasa duniaku hancur saat melihatmu mengalami pendarahan itu. Tidak ada gunanya berpikir soal langkah di masa depan, karena tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpa kau. Duniaku akan berakhir saat kau pergi. Aku tidak ingin memikirkan kehidupan yang seperti itu."Raven mengumamkan ketakutan yang membuatnya tidak bisa memikirkan masa depan, bahkan untuk satu jam ke depan.Ellie memeluk tubuh besar itu. Melingkarkan tangan ke perut Raven. "Aku di sini... Kami disini. Aku tidak akan sebodoh itu lagi, dan berkata akan meninggalkanmu."Kecupan kecil mendarat di puncak kepala Ellie. "Kau memang tidak boleh meninggalkanku..." desis Raven.Ellie mempererat pelukan, karena kehangatan cinta Raven seakan mengalir memasuki tubuhnya melalui kata-kata itu."Emm... Aku tidak keberatan kau memelukku, tapi tolong jangan seerat ini." Raven meringis kesakitan, sambil mengendurkan tangan Ellie."Ada apa?""Dua tulang rusuk retak.." Raven mengangkat telunjuk dan jati tenga

  • Menipu Sang CEO Buta   #194

    Raven hanya bisa memandang dengan mata kosong, saat petugas memindahkan tubuh Ellie ke atas tandu . Dan matanya melebar ngeri, saat melihat gaun Ellie bagian bawah ternoda oleh warna merah.Ellie mengalami pendarahan. Sesuatu terjadi pada kandungannya.Tubuh Raven yang sudah terluka, seakan mendapat tusukan pedang di jantungnya. Tusukan itu adalah rasa takut.Ketakutan akan kehilangan dua hartanya yang paling berharga di dunia ini.Raven mengetatkan rahang, menahan diri untuk tidak berteriak, mengingat dia sedang berada di depan siapa. Dia melangkah tertatih mengikuti petugas membawa ambulans itu."Haze...."Di dalam ambulance, Raven duduk di kursi panjang sebelah Ellie terbaring, dan menggenggam tangannya erat."Berapa usia kandungannya?" Petugas paramedic bertanya, sambil menggoreskan pena di atas kertas, mencatat."Lima..." jawab Raven."Ada sedikit pendarahan, tapi saya harap kandungannya sudah cukup kuat," kata petugas itu, dengan nada simpatik.Dia melengkapi diri dengan stethos

  • Menipu Sang CEO Buta   #193 Ada Tapi Sakit

    "Pastikan mereka pergi!" Matteo memberi tanda dengan kepala, dan pengawal yang mengikutinya segera berlari menyusul Stella dan Leone. Menyisakan Dante."Kau pergilah! Aku akan mengurusmu nanti." Matteo memandang Belle."Jangan melakukan apapun padanya! Dia sudah membantuku!" Ellie dengan cepat ingat Aria sudah menawarkan perlindungan kepada Belle.Matteo memandang Ellie, yang terlihat sangat serius. "Dante, beri dia satu pengawal. Aku tidak ingin Leone membalas dendam padanya," ujarnya.Dante mengangguk, lalu mengangkat ponsel, menelepon entah siapa. Yang jelas dua menit kemudian, seseorang datang membawa Belle keluar dari sana."Raven masih hidup?" Ellie sudah mampu berdiri tegak sekarang.Hatinya sedikit lega, setelah mendengar penjelasan Matteo. Namun kembali cemas, saat Matteo membutuhkan waktu untuk menjawab pertanyaan itu."Kau tidak membunuhnya bukan?" ulang Ellie, semakin takut."Aku tidak membunuhnya. Dia masih hidup." Akhirnya Matteo bersuara.Matteo menganggukkan kepala ke

  • Menipu Sang CEO Buta   #192 Kakak Tapi Membela

    Dengan kalimat itu, Ellie tahu jika Leone benar-benar pecundang busuk. Dengan santainya, dia melempar kesalahan kepada orang lain. Wajahnya tetap datar tanpa dosa. Mengerikan sekali."Setelah semua itu, kau masih mengelak?" bentak Ellie."Tentu saja! Kau tidak mungkin percaya dengan kata-kata gadis seperti Belle. Dia sudah terkenal mampu melakukan apa saja untuk imbalan uang receh, termasuk berbohong." Dengan tangkas, Leone mendeskreditkan Belle. "Kau tidak memberiku uang receh kali ini. Kau memberiku seribu euro. Aku masih memilikinya di kantongku. Apa kau ingin melihatnya?"Belle merogoh dan mengeluarkan tumpukan uang yang masih baru, lalu melambaikannya di depan mereka semua."Ini seribu euro. Jumlah uang yang tidak mungkin aku miliki dengan mudah. Jadi kalian tahu sendiri dari mana aku mendapatkannya!"Belle mengantongi uang itu lagi, sebelum melanjutkan ceritanya. Gabungan kata-kata Stella dan Leone benar-benar membuatnya marah, dan siap membuka apa semuanya."Aku tidak semurah y

  • Menipu Sang CEO Buta   #191 Bohong Tapi Pandai

    Dante langsung berjalan mendahului mereka bertiga begitu mereka masuk. Sepertinya akan melapor pada Matteo."Kau tunggu di sini!"Ellie menyuruh Belle tinggal di ruang depan. Dia ingin bertanya pada Leone, tanpa kehadiran Belle."Tolong panggilkan Leone." Ellie meminta tolong pada salah satu pelayan yang melintas, yang segera saja melaksanakan perintahnya sambil berlari."Kau yakin tidak apa-apa? Kau pucat, El." Aria memperingatkan.Ellie menggeleng. Dia sudah cukup menerima bully-an Leone. Kali ini dia akan melawan sekuat tenaga.***"Ada apa lagi?"Leone datang dengan wajah kesal, karena Ellie berani memanggilnya keluar. Jika bukan karena penasaran dengan tujuan Ellie, dia tidak akan mau memenuhi panggilan itu.Namun dia tetap tidak mampu menyembunyikan kesan puas di wajahnya. Berpikir Ellie masih termakan tipuannya, apalagi melihat keadaannya yang pucat dan tampak lemah. Korban yang sempurna"Bagaimana kau tahu Raven akan ada di deretan kamar itu?" tanya Ellie."Ha? Bukankah aku sud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status