FAZER LOGINyang mana El? Mau nampar apa mau ngelus? 😏
Perlahan Ellie mencoba beringsut ke belakang, tapi tubuhnya tertahan. Melirik ke bawah, dan Ellie kembali mengumpat. Kaki Raven yang kini sudah bisa bergerak lumayan bebas, menindih kedua kakinya."Berpikir Ellie!" Dia kembali memaksa otaknya untuk bekerja. Matanya terpejam rapat, menghalangi pemandangan kulit eksotik itu, agar otaknya bisa lebih lurus."Kenapa kau memilih bertelanjang dada hari ini?!" Ellie meratap dalam hati. Raven tidak selalu tidur dalam keadaan seperti ini. Saat mereka terpaksa tidur bersama sebelum kiriman ranjangnya datang, Raven selalu tidur memakai kaos putih tipis dan celana panjang.Setelah Ellie memiliki ranjang sendiri, beberapa kali Ellie melihat dia tidur tanpa kaus, tapi Ellie tidak pernah mempermasalahkan, karena rutinitas pagi mereka berbeda. Ellie lebih sering bangun sebelum Raven, dan segera keluar kamar untuk mempersiapkan segala keperluan terapi.Dan kini dia berada sangat dekat, dengan tubuh yang mampu memporak-porandakan akal sehatnya, padahal
"Tidak!" Ellie menarik tangannya dari genggaman Raven, merasa kalau membiarkan lebih lama maka otaknya pasti akan meleleh menjadi bodoh."Bukan permintaan seperti itu! Aku tidak mau!" Ellie nyaris berteriak, karena harus menyadarkan diri sendiri juga. "Aku tidak mau..."Kalimat Ellie terpotong oleh gelak tawa Raven yang sangat keras. Pria itu kembali tertawa seperti kemarin setelah Ellie terbangun dari mabuk. "Kau sengaja! Sialan!" Ellie tidak peduli lagi dan mengumpat."Ya... sengaja." Raven menjawab diantara kekehan tawa mengejek. "Aku ingin sekali melihat wajahmu saat ini.""Tidak perlu!" sungut Ellie, sambil mengusap pipinya. Bahkan hangat pipinya pun sangat terasa. Sudah pasti wajahnya sangat merah. "Aku tidak akan meminta kita tidur bersama, Hazel. Mungkin kau tidak akan percaya, tapi aku tidak akan pernah memaksa siapapun untuk tidur denganku."Ellie mendengus, ingin membalas, tapi Raven sudah melanjutkan."Lebih tepatnya tidak ada yang menolak saat aku menginginkannya.Dengu
Ellie sudah bersiap untuk melakukan apa saja agar Raven mau menghentikan segala godaan yang menyiksanya seharian ini.Saat mereka makan, Raven tidak berhenti menyindir soal ingin berubah menjadi orang yang lebih baik. Saat sesi latihan, Raven dengan sengaja menampakkan titik merah di lehernya, setiap ada kesempatan.Lalu saat merasakan tarikan nafas malu dari Ellie, dia akan tertawa keras-keras. Kegembiraan Raven mungkin setara dengan apa yang dirasakan gelandangan saat memenangkan lotre.Maka kini Ellie akan menyambar kesempatan pertama yang ditawarkan Raven tanpa berpikir panjang."Aku harus membaca dokumen ini, tapi aku tidak sengaja menghapus rekaman yang dibuat Jasper. Bisa tolong kau bacakan untukku?"Raven menyodorkan alat rekam berwarna hitam sebesar jari telunjuk, lalu menggeser setumpuk dokumen yang ada di ujung meja. Ada dua atau tiga dokumen di sana."Setuju!" Ellie menyabet dokumen itu."Kau yakin? Dokumen ini penuh angka dan diagram. Kau juga harus membacanya ulang secar
"Aaaaghhh!" Ellie menjerit kaget, sambil berguling menjauh dari Raven. Dia duduk sambil mencengkeram bajunya erat-erat."Kenapa... Kenapa kau ada di sini? Bukan di ranjangmu sendiri?" Ellie duduk, sambil menunjuk Raven dengan galak."Ranjang? Apa benar kau sudah bangun?" Raven duduk. "Lihat di sekelilingmu dulu! Kau tidak tiba-tiba berubah buta juga bukan?" Ia menunjuk sekitar.Ellie menolehkan kepala cepat, dan menyadari jika mereka masih berada di depan perapian."Aww!" Ellie mencengkeram kepalanya, yang tiba-tiba berdenyut menyakitkan saat bergerak."Aku sarankan sup yang mengandung jahe. Itu akan mengurangi sakit kepala. Lalu mandi air hangat dan kau akan kembali segar," kata Raven. Dia sudah berhasil merambat, dan menarik dirinya ke atas kursi roda.Ellie menekan pelipis, sambil berusaha menarik ingatannya yang berkabut. Dia hanya ingat saat dimana dia mengambil puding dan mengobrol."Kau tak ingat?" Raven kini mulai menyandarkan kepala ke tangan, bersiap untuk kejadian yang past
"Tapi tadi kau bilang aku tidak beralasan, karena telah membuang perasaan untuk terus bekerja mencari uang. Tapi kau sendiri juga sibuk bekerja setiap liburan!" Raven memprotes karena pernyataan Ellie tidak sesuai dengan tegurannya tadi."Aku bekerja sesuai kewajiban. Bukan untuk mengejar uang. Saat mengambil shift pada masa liburan seperti ini, aku bisa mengurangi beban bagi rekan kerja lain yang memang butuh waktu untuk keluarga. Mereka bisa menggunakan waktu libur dengan lebih baik, dari pada aku yang hanya akan memakainya untuk bergelung di sofa, menonton netflix dengan es krim di tangan. Aku... "Kali ini Ellie mencapit mulutnya dengan jari. Sangat yakin kalau ada yang salah dengan dirinya. Mulutnya terlalu ringan berbicara. Ini tidak normal. Bukan itu saja, kepalanya juga mulai terasa ringan.Raven bertanya tentang sesuatu hal lagi, tapi Ellie tidak mendengarnya dengan jelas, suaranya terasa jauh sekali."Hazel? Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau diam?""Aku baik!" Ellie menjawa
"Aku menang apa?" Ellie bertanya heran. Tapi Raven tidak menjawab, dia hanya menggeleng sambil melanjutkan makannya."Kau tidak bisa mengatakan sesuatu yang membingungkan, lalu setelah itu menolak untuk menjelaskan!" Ellie kesal.Raven jelas tidak ingin lagi menjelaskan, tapi Ellie masih penasaran. Sifat Ellie yang paling menonjol adalah terlalu mudah ingin tahu.Dia masih bisa menahan diri, jika sadar rasa ingin tahunya sudah melampaui batas, atau mungkin sudah melewati batas hal pribadi orang lain.Seperti saat dia menahan diri untuk tidak mencari tahu atau bertanya soal hubungan Willow dan Raven yang aneh itu. Meski setengah mati penasaran, Ellie masih bisa bersikap dewasa dan mengunci mulut setiap kali rasa ingin tahu melanda.Tapi situasi yang sekarang sedikit berbeda. Raven menyembunyikan sesuatu yang berhubungan dengan dirinya."Apa kau marah?" Telinga Raven yang tajam menangkap hembusan nafas Ellie yang memburu."Ya! Kau menyembunyikan sesuatu soal diriku!" dengus Ellie.Raven







