Beranda / Romansa / Menipu Sang CEO Buta / #027 Permintaan Tapi Masih Masuk Akal

Share

#027 Permintaan Tapi Masih Masuk Akal

Penulis: aisakurachan
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-04 06:10:23
Ellie sudah bersiap untuk melakukan apa saja agar Raven mau menghentikan segala godaan yang menyiksanya seharian ini.

Saat mereka makan, Raven tidak berhenti menyindir soal ingin berubah menjadi orang yang lebih baik. Saat sesi latihan, Raven dengan sengaja menampakkan titik merah di lehernya, setiap ada kesempatan.

Lalu saat merasakan tarikan nafas malu dari Ellie, dia akan tertawa keras-keras. Kegembiraan Raven mungkin setara dengan apa yang dirasakan gelandangan saat memenangkan lotre.

Maka kini Ellie akan menyambar kesempatan pertama yang ditawarkan Raven tanpa berpikir panjang.

"Aku harus membaca dokumen ini, tapi aku tidak sengaja menghapus rekaman yang dibuat Jasper. Bisa tolong kau bacakan untukku?"

Raven menyodorkan alat rekam berwarna hitam sebesar jari telunjuk, lalu menggeser setumpuk dokumen yang ada di ujung meja. Ada dua atau tiga dokumen di sana.

"Setuju!" Ellie menyabet dokumen itu.

"Kau yakin? Dokumen ini penuh angka dan diagram. Kau juga harus membacanya ulang secara
aisakurachan

Dih Bangggg :)) Nanti lagi ya. Satu dulu

| 2
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menipu Sang CEO Buta   #045 Sikap Tapi Tidak Normal

    "Apa masih lama?" Ellie berdiri, sambil meremas kepalanya, yang pening berputar."Sebentar lagi. Sabar, duduk atau tidur saja. Berdiri hanya akan membuat keadaanmu semakin parah."Raven menarik tangannya, membuat tubuh Ellie terbanting di ranjang. Perjalanan yang awalnya menyenangkan, berubah menjadi petaka bagi Ellie.Bagian akhir dari perjalanan itu, harus ditempuh dengan kapal, karena Katastari ternyata terletak di sebuah pulau kecil di lepas pantai laut Ionian, Yunani.Ini adalah salah satu kelemahan yang baru diketahui oleh Ellie saat yacht yang mereka tumpangi, meluncur ke tengah laut.Pusing mual melandanya dengan amat sangat dan cepat. Ellie menyadari dengan terlambat, kalau dia ternyata tidak tahan menaiki alat transportasi air ini.Sebelum hari ini, pengalaman Ellie menaiki kapal adalah nol. Ellie merasa akan baik-baik saja karena tidak pernah mengalami masalah saat berkendara jauh dan naik pesawat, tapi ternyata kapal adalah kelemahannya. "Kau dingin sekali, Haze." Raven me

  • Menipu Sang CEO Buta   #044 Perhatian Tapi Terlalu Detail

    "Apa ini begitu mengejutkan?" tanya Raven. Yang memberi kejutan tidak merasa hal itu pantas dipermasalahkan."Tentu saja... Aku belum..."Ellie sebenarnya bermaksud mengatakan bahwa ini pertama kalinya dalam hidupnya ia berada di situasi di mana ia bisa memutuskan untuk pergi ke negara lain hanya dalam waktu sehari.Ellie hanya pernah sekali melakukan perjalanan lintas negara, dari Italia ke Inggris mengikuti ibunya. Itu pun di rencanakan dalam waktu berbulan-bulan dan rumit. Setelah itu, Ellie nyaris tidak pernah keluar dari London. Tentu saja pengetahuan Ellie tentang perjalan dan lainnya sangat sedikit.Namun, Ellie tidak akan mengaku begitu saja.“Maksudku… bagaimana dengan visa dan izin tinggal?” Ellie membelokkan arah pembicaraan, berusaha menyamarkan rasa kikuknya dengan alasan yang terdengar lebih berkelas.Raven meliriknya sekilas. Ada senyum kecil yang jelas tidak tulus karena mengandung ejekan. “Kau tidak butuh visa jika hanya ingin ke Yunani, Haze. Yunani masih masuk dalam

  • Menipu Sang CEO Buta   #043 Pindah Tapi Jauh

    Ellie terbangun dengan sentakan, dan kebingungan sesaat."Masih bermimpi buruk?" tanya Raven.Ellie menoleh, dan melihatnya duduk di sofa tunggal, yang ada di sebelah kiri. Raven terlihat seperti model, yang duduk dengan posisi kaki saling menumpang, dan tangannya mengangkat cangkir teh klasik.Anggun sekaligus misterius. Dia juga telah berganti dengan setelan jas rapi, lengkap dengan kaca mata hitam. Tadi malam bajunya kotor terkena cipratan darah Jasper."Kendalikan dirimu, El. Usap ludahmu." Ellie membatin sambil berkedip untuk menyingkirkan pemandangan memabukkan itu. "Apa dia sengaja?" Omelan dalam kepala Ellie semakin panjang."Bagaimana Jasper?" tanya Ellie. Sofa tempatnya tidur, sudah kosong."Di atas, membersihkan diri. Keadaannya baik. Tidak ada demam dan infeksi," jawab Raven."Tangannya butuh penyangga, agar bahunya tidak bergerak." Ellie tidak bisa menemukan kain tadi malam."Sudah. Dokter yang datang tadi malam, memberinya penyangga kain.""Dokter?" Ellie heran ada dokter

  • Menipu Sang CEO Buta   #042 Kebiasaan Tapi Aku Tidak Tahu

    "Aku harus membuka jas. Duduklah sebentar."Dengan cekatan Ellie membuka baju dan memulai perawatan untuk Jasper. Kotak obat itu cukup lengkap isinya. Tadi Ellie sempat khawatir tidak akan ada cukup alkohol untuk membersihkan luka, tapi ternyata ada.Ellie menyalakan senter di ponselnya untuk memeriksa luka itu. Tepinya bersih, dan ada luka di bagian depan. Karena Jasper tertembak dari belakang, itu berarti pelurunya tembus."Sepertinya tidak ada peluru di dalam. Tapi akan lebih baik kalau bisa melakukan X-Ray, memastikan tidak ada tulang yang retak, maupun kemungkinan pecahan peluru tertinggal."Ellie menyebut untuk Raven tentu, dengan nada lebih lega. Kalau seperti yang diperkirakan, Jasper tidak akan membutuhkan operasi ."Aku akan mengaturnya." Raven mengeluarkan ponsel kuno dari saku."Apa ini yang kau sebut pengamanan?!"Ellie hanya mendengar amukan Raven sekilas, karena setelah itu kembali menumpahkan perhatian pada luka Jasper. Dari suaranya, Raven tidak hanya menegur satu oran

  • Menipu Sang CEO Buta   #041 Rumah Tapi Yang Lain

    "Ke kiri, lalu berhenti di rumah dengan gerbang berwarna hitam," kata Jasper. Memberi petunjuk arah pada Ellie."Kita tidak pulang ke rumah?" Ellie tidak mengenali daerah itu.Rumah Raven yang kemarin masih terletak di daerah hunian. Masih ada rumah di sekitar meski sangat jarang.Tapi rumah yang ini sepertinya terletak di hutan, Ellie hanya melihat pohon dan gelap. Tidak ada sumber cahaya lain, kecuali lampu mobil mereka"Tidak. Terlalu beresiko." Raven yang menyahut. "Kita tidak akan kembali ke sana.""Bagaimana dengan Marlow?" tanya Raven, pada Jasper."Sudah saya kirim pesan. Mereka mengungsi," jawab Jasper. Meski bahunya terluka, Jasper masih bisa mengirim pesan sepanjang perjalanan tadi.Tidak perlu ditanya lagi. Ellie super penasaran mendengar percakapan yang terjadi diantara mereka. Dia ingin bertanya lebih lanjut, soal apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa mereka diserang?Tapi Ellie sadar, ini bukan saat yang tepat, apalagi telinganya menangkap jika suara Jasper tidak seten

  • Menipu Sang CEO Buta   #40 Kejadian tapi Paling Gila

    "Ada sesuatu yang mengganjal, aku tidak bisa..." "Tidak boleh. Kau seharusnya menghubungi dokter jika ada sesuatu, Raven." Ellie dengan lebih tegas melarang, masih sambil mencekal lengannya.Ellie menarik ponselnya keluar. "Jasper, bisa tolong hubungi dr. Reinhart? Ada gangguan di mata Raven."Sambil memutus panggilan, Ellie bisa mendengar langkah kaki Jasper yang meninggalkan pekerjaannya."Ini hanya gatal, tidak perlu berlebihan dan memanggil dokter!" protes Raven."Kau buta dan matamu sedang dalam masa penyembuhan. Apa saja bisa terjadi! Seperti kakimu tadi!" Ellie memuntahkan rasa kesalnya begitu saja. Untung saja Jasper cepat datang, sebelum Ellie mengomel lebih panjang."Ini, sudah tersambung." Jasper menyerahkan ponsel pada Ellie.Ellie menjelaskan keadaan mata Raven pada dr. Reinhart sedetail mungkin. Dan kali ini Ellie pemenangnya, karena Dokter itu juga menganggap kondisi mata Raven harus mendapat pemeriksaan lebih lanjut. Ellie menyerahkan ponsel itu kepada Jasper, karena

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status