MasukMatteo mengusap dadanya sekali lagi. Kali ini tidak berhubungan dengan rasa sakit dari peluru. Sesuatu seakan meremas jantungnya, saat ingatan Ivy yang menangis kembali berkelebat di benaknya. Dia tidak menginginkan ini."Karena ini aku tidak mengungkap rencana ini padamu sebelumnya," gumam Dante."Hm?""Aku tahu kau tak akan setuju. Kau tidak akan mau menyakiti Ivy. Dan rencana ini menyakitinya."Matteo memejamkan mata, karena tak tahu apakah harus mengumpat atau berterima kasih pada Dante. "Di mana aku sekarang?" Matteo akhirnya membelokkan pembahasan, tak tahan dengan bayangan Ivy yang menderita."Aku dengar kau ada di Swiss. Mungkin.""Mungkin?""Aku hanya mengusulkan negara itu pada Raven. Mungkin dia menyetujuinya. Tapi kau tahu sendiri bagaimana dia sangat sulit menyetujui pendapat orang."Matteo hanya mengangguk, meski Dante tak bisa melihatnya. Dan sejujurnya Matteo tak lagi peduli dengan keberadaannya. Tidak penting dirinya berada di mana, karena Ivy tak ada di sini."Aku ak
Kenyataan memang kadang tidak seindah rencana, meski sudah menunggu ternyata Matteo justru jatuh tertidur saat Dante menghubunginya,Saat mencoba menghubungi balik nomor yang menghubunginya, nomor itu sudah tidak aktif. Dengan terpaksa Matteo menunggu lagi. Namun untung saja, kantuknya sudah berkurang, karena tubuhnya semakin kuat. Ponsel itu akhiri bergetar, setelah Matteo menghabiskan sarapan lembek yang terasa hambar."Aku sudah mulai takut kau tidak akan bangun lagi."Suara Dante terdengar emosional, sampai membuat Matteo terharu. Maklum saja, sapaan terakhir yang dia dengar dari ponsel itu, membuatnya kesal dalam taraf yang tidak wajar."Untuk apa ini semua?" tanya Matteo, langsung."Aku mengabulkan keinginanmu." jawab Dante."Apa aku pernah mengatakan ingin ditembak oleh Dom, dan juga olehmu? Seingatku tidak." Matteo mendengus."Bukan bagian itu. Kau pernah mengatakan padaku ingin keluar dari Notte. Itu yang sedang aku berikan.""Kau membuat kematian palsu untukku?" Matteo tentu
Matte merasa tenggorokannya sangat kering. Seperti baru saja mengarungi gurun pasir, dan tidak menemukan oase selama berhari-hari. Matteo tidak yakin bisa mengeluarkan suara. Tapi masih bersyukur karena matanya normal,dia bisa melihat ke sekeliling dengan jelas.Telinganya juga normal, karena dia bisa mendengar bunyi alat EKG, yang berdetak konstan seirama jantungnya. Jantung yang sampai saat ini masih setia menemaninya. Meski ada dua peluru menerjang tubuhnya. Dua tembakan itu tidak membunuhnya, dan sangat mengherankan. Mengingat siapa yang menembakannya.Matteo mencoba bergerak. "Agh..."Tidak membunuh, tapi jelas peluru itu melukai tubuhnya dalam kadar parah. Dadanya terasa seperti tertusuk, dan perutnya nyeri hebat dengan satu gerakan kecil."Anda sudah bangun?"Matteo menoleh terkejut, tidak melihat ada perawat di dekatnya sejak tadi. Indera-nya belum berfungsi sempurna.Perawat itu, segera bangkit dan berlari keluar memanggil dokter. Dia khusus berada di situ untuk menjaga Matte
"Kau akan melakukan apa, dan kau ingin aku melakukan apa?" Raven menggosok bagian dalam telinganya dengan jari, karena merasa salah mendengar perkataan Dante.Raven tadi sudah merasa aneh, saat Dante tiba-tiba mendorong dirinya masuk ke dalam mobil, yang saat ini hanya berisi Dom, Dante dan dirinya sendiri. Hanya mereka bertiga.Raven sebenarnya ingin semobil bersama dengan Max, karena harus mematangkan rencana. Dia ingin menegaskan pada Max, agar tidak terlalu larut dalam adu tembak yang akan terjadi nanti. Yang terpenting baginya adalah menyelamatkan Al, bukan membunuh orang sebanyak mungkin. Tujuan mereka berbeda dengan Matteo dan yang lain. Mereka ke sini bukan untuk berperang atau apapun itu namanya, Raven hanya ingin menyelamatkan anaknya."Kau belum mengerti atau belum mendengar?!" Dante kesal. Merasa sudha menjelaskan rencananya dengan sangat jelas."Aku mendengar dan mengerti! Tapi aku tidak percaya kau baru saja mengatakan akan menembak Matteo sampai terlihat mati. Dan apa i
Ivy mengenai langit-langit berwarna putih bersih itu. Langit-langit yang sama, yang dulu dilihatnya ketika membuka mata pertama kali, saat tiba dari Italy.Rumah sakit yang membuatnya merasakan kiamat kecil, menyadari jika Matteo tak akan ada lagi disisinya.Tapi Ivy melihatnya saat ini. Matteo berdiri di depan Raven, berteriak entah apa, Ivy tidak bisa mendengarnya, karena seluruh konsentrasi otaknya, kini berusaha menerima kenyataan jika sosok itu nyata.Matteo ada di sana, berdiri, hidup, dan sangat nyata.Pria yang memporak-porandakan kehidupannya, berdiri tak jauh darinya.Pria yang begitu dia rindukan, sampai Ivy menginginkan kematian berulang kali, agar tidak merasakan kepedihan itu.Kepedihan yang ada karena Ivy tahu dia tak akan bisa menutup kerinduan itu dengan apapun juga. Kepedihan karena Ivy tahu, seharusnya mustahil dia bisa melihat Matteo.Ivy menutup mulut, sementara matanya melakukan hal yang sudah berbulan-bulan ini mencoba untuk dicegah Ivy. Air mata membanjir deras
"Selamat pagi!"Ivy menoleh, dan segera melupakan niatnya mencari tempat duduk untuk mengencangkan tali sepatunya yang longgar. Dia melihat Cody yang memakai baju jogging berwarna navy, melambai padanya."Ini kejutan, aku tidak tahu kau biasa berada di sini saat pagi." Ivy menyapa dengan mata melebar."Ini bukan kejutan untukku. Aku tahu kau akan ada di sini," balas Cody. Mengindikasikan jika dia berada di sini memang untuk Ivy.Ivy memang pernah bercerita, sering berjalan-jalan di Central park saat minggu pagi. Perhatian yang disengaja. Kurang lebih artinya seperti itu. Ivy hanya bisa tersenyum menanggapinya."Aku butuh sedikit bergerak. Tubuhku mulai gampang pegal," kata Cody, kemudian. Sepertinya sadar jika kalimat yang tadi terlalu berani. Beberapa kali berjalan-jalan di taman ini, Ivy memang tidak pernah bertemu Cody. Jadi dia harus membuat alasan itu.Kecurigaan Ivy soal apa niat Cody mendekatinya, kembali mengemuka. Dan dia ingat, karena kedatangan Raven, dirinya belum sempat me
"Aaaaghhh!" Ellie menjerit kaget, sambil berguling menjauh dari Raven. Dia duduk sambil mencengkeram bajunya erat-erat."Kenapa... Kenapa kau ada di sini? Bukan di ranjangmu sendiri?" Ellie duduk, sambil menunjuk Raven dengan galak."Ranjang? Apa benar kau sudah bangun?" Raven duduk. "Lihat di sekel
"Tapi tadi kau bilang aku tidak beralasan, karena telah membuang perasaan untuk terus bekerja mencari uang. Tapi kau sendiri juga sibuk bekerja setiap liburan!" Raven memprotes karena pernyataan Ellie tidak sesuai dengan tegurannya tadi."Aku bekerja sesuai kewajiban. Bukan untuk mengejar uang. Saat
"Aku menang apa?" Ellie bertanya heran. Tapi Raven tidak menjawab, dia hanya menggeleng sambil melanjutkan makannya."Kau tidak bisa mengatakan sesuatu yang membingungkan, lalu setelah itu menolak untuk menjelaskan!" Ellie kesal.Raven jelas tidak ingin lagi menjelaskan, tapi Ellie masih penasaran.
"Aku pergi!" Dengan lelehan air mata di pipi, Willow berlari keluar, hampir menabrak Sophie yang berdiri di depan pintu sedari tadi.BRAK!Kali ini, buih hangat yang menjalari tubuh Ellie, larut karena suara pintu yang ditutup oleh SophieEllie melompat bangun dari pangkuan Raven, dengan nafas teren







