LOGIN😏😏 bang, ihirrr
Matteo menepikan mobilnya di suatu jalan yang cukup sepi. Ada beberapa mobil yang lewat, tapi bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Jalan itu bukan termasuk jalan utama Neive. Bukan termasuk daerah penarik turis.Matteo menghentikan mobil di depan sebuah rumah besar dan luas. Tapi tidak seperti mansion Ranallo yang terlihat megah dan modern, bangunan itu lebih mirip penginapan.Terlihat banyak jendela, dan pintu depan juga terlihat besar, dengan gaya klasik."Tidak terlihat sesuatu yang aneh disana," komentar Ivy, memandang bangunan itu dengan melongokkan kepala dari samping Matteo."Kau pikir bentuknya akan seperti apa?" tanya Matteo, melihat Ivy terheran-heran."Aku memprediksi suatu bangunan tua dengan banyak sarang laba-laba, atau mungkin bangunan gelap di suatu tempat yang tersembunyi.""Kau yakin tidak sedang membicarakan rumah hantu?" Matteo gelinya geli mendengar penggambaran Ivy tentang Notte"Ah.. benar. Aku mengambil gambaran yang salah."Ivy menyadari, Notte seharusnya
Matteo terbangun dengan sedikit linglung, tapi cepat menguasai diri saat melihat Ivy tersenyum di sebelahnya."Hai tampan!" Matteo tersenyum mendengar sapaan khas Ivy itu, lalu duduk."Apa yang kau rasakan?" Ivy duduk di sebelah Matteo, sambil merangkul tangannya."Baik-baik saja. Tidak ada lemas atau apapun." Matteo memandang tangannya dengan heran.Jika dibanding kondisi setelah sesi pertama, yang membuat dirinya hampir tidak bisa mengingat apapun, Matteo memang bisa dikatakan sangat baik.Dia bisa mengingat dengan baik segala yang dilakukan pada saat sesi, segala pertanyaan dan jawaban yang didengarnya tadi, juga perlahan kembali mengisi ingatan."Bagus. Aku memang tidak membuatmu mengingat hal yang menyeramkan atau menakutkan tadi. Aku tidak ingin kau sakit untuk kedua kalinya. Paling tidak untuk saat ini.""Hanya untuk saat ini?"Matteo merasa Ivy belum menjelaskan semuanya."Aku ingin kau mengingat hal yang menjadi penyebab utama trauma itu, dengan cara menanamkan sugesti. Aku h
"Sudah berapa kali kau melakukan hipnosis pada klien-mu?" tanya Matteo."Tidak terhitung. Apalagi jika dihitung bersama dengan praktek yang aku lakukan saat kuliah. Kenapa kau bertanya? Apa kau meragukan kemampuanku?" Ivy mendongak memandang Matteo kesal."Tidak. Tapi aku ingin tahu siapa mereka semua. Terutama untuk klien pria. Aku tidak tahu pelukan diperlukan dalam melakukan sesi hipnosis. Aku tiba-tiba kesal membayangkan kau memeluk mereka semua," gerutu Matteo."Ha... Ha...Ha!" Ivy tergelak histeris, sambil membenamkan wajah ke dada Matteo.Kalimat Matteo terlalu lucu. Matteo hanya tersenyum masam, lalu melingkarkan tangan pada punggung Ivy.Wanita yang dicintainya itu, masih tertawa selama beberapa saat. Ivy menghapus air di sudut matanya, sebelum kemudian memandang Matteo."Aku memelukmu bukan karena keharusan sebelum hipnosis. Aku memeluk karena memang ingin memeluk. Aku tidak memelukmu sebelum sesi hipnosis yang lalu!""Memang, tapi saat itu posisimu sangat dekat denganku. Ter
Ivy ingin membuat Matteo sesantai mungkin sebelum melakukan hipnosis padanya. Namun, alam raya tidak berpihak padanya. Matteo kembali disibukkan dengan pekerjaan.Viaggio meminta perhatian darinya, seperti kekasih. Ivy bahkan sempat curiga jika kesibukan itu hanya buatan Aria.Tapi Ivy menepis anggapan itu, karena sadar jika saat ini musim panas sudah hampir tiba. Dia masih bersyukur Notte tidak ikut andil dalam keriuhan ini, atau Matteo tidak mungkin bisa tidur atau berisitirahat.Musim panas adalah musim tersibuk dalam dunia wisata. Wajar jika Viaggio juga sibuk. Kesibukan yang membuat jadwal hipnosis Matteo mundur jauh. Sudah dua minggu lebih Ivy menjadwalkan sesi hipnosis, dan baru besok Matteo bisa benar-benar santai di rumah.Namun ada sisi baiknya Karena Ivy bisa mulai melakukan beberapa persiapan hari ini. Ivy sudah membuat beberapa catatan. Tapi masih merasa ada yang kurang. Dia belum tahu harus mencari ingatan bermasalah itu dari mana.Ivy terus mengelus layar ponsel dengan j
Ivy mengangkat kepala, saat merasakan terang dibalik pelupuk mata. Sedikit kebingungan, karena begitu sekelilingnya jelas terlihat, dia ternyata tidak sedang terbaring di ranjang.Dia ada di sofa yang dulu dipakai Matteo saat terapi. Ivy akhirnya ingat, dia tertidur saat memeluk punggung Matteo, mendengarnya berbicara.Sepertinya Matteo memindahkannya ke sofa, tapi kini Ivy tidak bisa melihat dimana dia.Suara goresan dari pojok ruangan, menarik Ivy untuk menoleh. Dan wajah Ivy tersenyum, saat melihat Matteo berdiri, di hadapan kanvas, menggoreskan warna pada lembar putih itu.Melihat kanvas yang sudah hampir penuh dengan warna, Ivy menduga Matteo sama sekali tidak tidur. Bukan hanya kanvas, jari dan baju Matteo telah penuh dengan cipratan aneka warna ,yang bercampur sampai terlihat hitam.Terdapat cipratan warna merah di ujung hidung Matteo, pada pipinya ada sedikit warna hijau. Peralatan lukis yang kemarin bersih tanpa noda, sekarang terlihat kotor dan tidak beraturan.Ivy biasanya t
Matteo menatap Ivy yang telah tertidur pulas.Seperti biasa, dia tertidur terlebih dahulu, karena Matteo harus mengerjakan beberapa dokumen. Lagi pula hari ini melelahkan. Pantas jika dia tertidur lebih cepat tadi.Mata Matteo bergulir menatap tangan Ivy yang terbuka di samping tubuhnya. Tangan itu masih menyisakan cat warna ungu di sudut kukunya. Warna yang menjadi lambang tekad Ivy, untuk terus berjuang merawatnya.Ivy mungkin memintanya untuk tidak merasa bersalah, tapi Matteo tidak bisa menghapus perasaan itu dengan mudah. Dirinyalah yang menjadi sumber masalah disini.Matteo menyentuh pipi Ivy sekali lagi lalu perlahan berjalan keluar kamar. Kantuk dan lelahnya menghilang, saat melihat warna ungu itu.Langkah kaki yang tadi mantap saat menuruni tangga, perlahan meragu dan melambat, begitu mendekati sudut tempat alat lukis itu berada.Matteo akhirnya kembali berdiri diam, pada jarak aman seperti tadi siang. Easel dan kanvas yang mencetak tangan ungu Ivy, berdiri diam di bawah sorot







