Home / Romansa / Menipu Sang CEO Buta / #032 Teman Tapi Mengenal

Share

#032 Teman Tapi Mengenal

Author: aisakurachan
last update publish date: 2026-01-05 09:49:58
"Ini." Ellie meletakkan walker di depan kursi roda, lalu meletakkan kedua tangan Raven pada bagian pegangan.

"Genggam erat, lalu berdiri. Ayo!" Dengan aba-aba Ellie, Raven menjejakkan kakinya ke lantai.

"Ingat, kerahkan kekuatan kaki, jangan tangan! Tangan hanya menyangga saja." Ellie memberi peringatan, saat melihat otot tangan Raven menggembung.

Raven sudah terbiasa bergerak dengan mengandalkan tangan. Butuh pembiasaan agar kembali memperlakukan otot kakinya seperti dulu.

"Sekarang coba melang
aisakurachan

Lari el 🙂🙂

| 6
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #420 Bahagia dan Rela

    Ivy memagut bibir Matteo."Vy!" Matteo mendesah, dan tentu membalas kecupan penuh nafsu itu dengan sepenuh hati. Dia tidak tahu apa rencana Ivy, tapi itu tidak penting lagi.Dia hanya ingin mereguk manis bibir Ivy dengan puas. Basah dan hangat lidah Ivy menyapu liar, dan disambut dengan geraman garang Matteo."Vy!" Matteo mendesis sambil memejamkan mata, saat tangan Ivy menemukan apa yang dicarinya.Tangan Ivy dengan terampil menyusup ke dalam celana panjang Matteo, menyentuh secara langsung, benda yang membuatnya penasaran sejak pertama dia merasakanya dalam genggaman."Apa yang kau lakukan?" Matteo melenguh nikmat, nyaris tidak bisa membuka mata, karena gelombang kenikmatan yang dibawa oleh tangan Ivy."Membantu. Jadi kau tidak perlu memakai tanganmu sendiri.""Vy!"Matteo menarik kepala Ivy, dan melumat bibir pink Ivy dengan penuh nafsu, dan lumatan itu semakin intens, seiring gerakan tangan Ivy yang semakin cepat.Tangan Matteo mencoba menyusup ke dalam baju tidur Ivy, tapi Ivy me

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #419 Bantuan dan Extra

    Ini adalah saat yang langka, dimana Matteo bangun terlebih dahulu dari pada Ivy. Matteo memandang Ivy, yang meringkuk mencari kehangatan dengan mendesakkan tubuh pada dirinya, meski tubuhnya telah berselimut tebal.Itu memang kebiasaan Ivy setiap hari. Kebiasaan yang biasanya menerbitkan rasa kesal pada Matteo. Ivy terlalu mudah menyentuh siapapun. Sifat yang membuatnya sering setengah mati menahan cemburu.Matteo menarik selimut, agar tubuh Ivy lebih tertutup lagi. Musim dingin sudah di depan mata. Suhu saat pagi memang cukup mengigit.Merasakan gerakan Matteo, Ivy membuka mata, dan mendongak. Senyum indah yang membuat Matteo mengutuk keadaan tubuhnya. Insting pertama Matteo saat melihat senyum Ivy adalah ingin memagut bibir pink itu.Terbayang bagaimana rasanya yang manis. Namun itu adalah perbuatan menyrempet bahaya, karena sudah pasti dia akan mengalami serangan panik lagi, jika nekat melakukannya."Pagi!"Ivy beringsut ke atas, menyejajarkan wajahnya dengan Matteo."Aku terlambat

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #418 Perpisahan dan Kerelaan

    Dengan luar biasa enggan, Ivy akhirnya mau mengantar Amadea sampai ke bandara di Milan.Sepanjang perjalanan, mobil yang hanya berisi tiga orang itu, mirip mobil jenazah yang menuju pemakaman, bedanya, masih ada suara nafas yang menandakan kehidupan. Selain itu sunyi senyap.Matteo yang menyetir, karena Ivy menolak untuk duduk di belakang bersama dengan ibunya. Jadi Mauro dan Luigi berada dibelakang mereka mengendarai mobil yang lain.Mauro akan mengikuti ke New York, tanpa setahu Amadea, berangkat saat ini juga, bersmaa dengan dua bodyguard lain. Matteo telah memastikan mereka akan ada dalam pesawat yang sama dengan Amadea, dalam jarak tempat duduk yang aman hingga Amadea tidak akan sadar telah diikuti.Keputusan Matteo untuk mengirim Mauro pergi, bukan tanpa drama, Ivy marah kesal dan sempat marah pada Matteo. Bodyguard yang saat ini paling akrab dengan Ivy adalah Mauro, selain Luigi. Dia kesal karena harus merelakan Mauro mengikuti Amadea.Tapi itu keputusan terbaik. Mauro lebih ti

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #417 Air dan Minyak

    Pertanyaan semacam itu pastilah sangat sulit terlupakan.Matteo bisa membayangkan Leone akan bertanya tanpa menimbang pantas atau tidak. Dia hanya bertanya, lalu menikmati bagaimana korbannya merasakan sakit akibat pertanyaan itu."Bukan Matteo yang membunuh kakek dan nenek!" Ivy berseru membela."Memang! Tapi kejadian itu ada karena mereka bukan? Mereka selalu menjadi sumber petaka bagi siapa pun di kota ini!""MOM! Itu berlebihan!" Ivy ingin membantah dengan pernyataan yang lebih kuat, tapi tidak tahu apa."Mereka yang membuatku ingin meninggalkan kota ini, dan tidak pernah ingin kembali! Itu keputusan yang tepat. Lihat saja, aku kembali dan apa yang menyambutku!" Amadea menggelengkan kepala."Hanya kau yang berpikir seperti itu. Banyak orang yang masih tinggal di Neive dan masih baik-baik saja," tandas Ivy."Itu karena mereka bodoh, sama sepertimu." Amadea menghampiri Ivy, lalu menunjuk dadanya."Aku sempat berpikir kau pintar, tapi ternyata tidak! Seharusnya kau pergi sejauh mungk

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #416 Perang dan Kenangan

    Vero mengangkat jempol, begitu selesai memeriksa keadaan Amadea, menyatakan jika keadaannya yang baik-baik saja, tidak ada yang salah.Ivy mengangguk mengerti. "Terima kasih banyak. Maaf sudah mengganggumu dini hari begini.""Tidak perlu sesopan itu padaku!" Vero tersenyum lalu menyenggol lengan Ivy. "Ngomong-ngomong, kita sudah lama tidak bertemu," kata Vero, sambil memasukkan stetoskop ke dalam tas."Kau sibuk!" Ivy memandang Vero dengan mata menyipit.Beberapa kali sudah dia meminta Vero untuk datang, karena dia sendiri tidak mungkin pergi ke kota dengan mudah. Keharusan membawa pengawal membuart Ivy malas. Tapi jawaban Vero selalu sibuk, sampai Ivy menyerah bertanya.Vero tersenyum bersalah. "Kesibukanku memang gila. Mungkin musim panas dan musim gugur seperti sekarang adalah waktu bagi orang untuk melahirkan. Aku heran sekali di kota kecil ini ternyata banyak orang yang melahirkan," keluh Vero."Mereka membuatku kesepian." Ivy ikut mengeluh.Vero adalah satu-satunya temannya di si

  • Menipu Sang CEO Buta   S2 #415 Ibu dan Bentakan

    "Bawa dia." Matteo menunjuk Stella, memberi isyarat pada Dom dengan kepalanya. Memintanya menjauh. Memberi kesempatan Leone untuk mendekat dengan aman."OK!" Leone mendekat ke arah Stella, begitu merasa jarak Dom dan ibunya itu sudah cukup jauh.Matteo sendiri berjalan mendekati Amadea, pertanda kepemilikan tawanan telah berganti. Saat bergerak, baik Matteo maupun Leone, tidak melepaskan pandangan. Waspada jika ada gerakan sekecil apapun.Tapi tidak ada gerakan mencurigakan. sampai Matteo berdiri di sebelah Amadea. Wanita itu memandangnya dengan mata nanar. Rasa takutnya belum berkurang. Tidak bisa menebak mana pihak baik dan mana yang buruk.Leone membantu ibunya berdiri, lalu tiba-tiba tangannya merogoh ke dalam mantel. Gerakan kecil yang segera ditangkap oleh mata tajam Matteo.Luar biasa cepat, Matteo menarik keluar dua senjata dari dalam jaket, dan menodongkan satu yang ada ditangan kiri ke arah Leone, yang kanan ke arah pengawalnya.Amadea yang ada di belakang Matteo, langsung me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status