FAZER LOGIN😌😌 Hati-hati El
[Jangan lupa sarapan sebelum berangkat]Kalimat kaku itu terpampang di layar ponsel Ellie, saat dia membuka mata.Ini pertama kalinya Jasper mengirim pesan saat pagi. Kebanyakan dia mengirim pesan saat malam sebelum Ellie tidur. Tidak setiap hari, mungkin dua atau tiga hari sekali.Ellie sempat mengira Jasper tidak akan mengirim pesan lagi, setelah jawaban gila yang dikirim Caius, tapi salah. Keesokan malamnya Jasper mengirim pesan lagi. Hampir mirip dengan malam sebelumnya, hanya bertanya apakah dia sudah ada di rumah atau belum.Aksi gila Caius sudah terjadi sekitar dua minggu lalu, dan selama dua minggu ini juga, Jasper semakin sering mengirim pesan.Ellie tidak merasa terganggu, karena sebagian hatinya yang masih gila mengharapkan Raven, menyambut dengan senang hati seutas hubungan tidak berarti itu.Pesan Jasper memberinya harapan. Harapan yang bodoh tentu saja. Raven mungkin saat ini sudah melupakannya, bahkan mungkin sedang menyiapkan pernikahan dengan Willow.Ellie bisa memperk
Caius membawa Ellie makan di sebuah restoran semi formal, karena tidak mungkin membuat pesanan di restoran formal dengan cara mendadak."Pasta dan wine." Caius memesan makanan yang simple."Sama, tapi tolong air putih saja"Pelayan mengangguk mengerti dan meninggalkan mereka berdua."Kau tak suka alkohol?" Akhirnya dia sadar jika Ellie selalu menghindari alkohol."Alkohol bisa membuatmu menjadi bodoh. Untuk apa aku menyukainya?" Ellie menggeleng. Tidak akan menjelaskan kelemahannya pada Caius tentu. Ellie percaya padanya, Caius tidak akan memanfaatkan kelemahan itu, tapi sangat yakin Caius akan mengejeknya juga.Tidak akan separah Raven, tapi pasti akan ada ejekan."Pfft... Aku akan percaya saja. Tapi tolong jangan melotot seperti itu, kecantikanmu semakin menyilaukan saat matamu melotot."Caius melengkapi kalimatnya dengan mengangkat tangan, melindungi mata, untuk memblokir cahaya khayalan yang seharusnya keluar dari wajah Ellie.Kali ini Ellie tak bisa menahan tawanya lagi. Dia sampa
Ellie sekali lagi membalik laporan medis yang disusun anak baru dengan wajah kecewa. Laporan itu berantakan. Jika sudah seperti ini, dia yang harus memperbaiki semuanya.Kebanyakan dokter akan melontarkan keluhan kalau membaca laporan perkembangan pasien yang berantakan. Ellie harus memastikan semua laporan rapi sebelum menyerahkannya pada mereka.Ellie sebenarnya juga ingin mengeluhkan bagaimana 'bagusnya' tulisan dokter di kertas laporan itu. Meski dia sudah berpengalaman menjadi perawat sebelum ini, tapi kadang tulisan mereka masih terlalu rumit untuk dibaca.Tapi mengeluh soal buruknya tulisan dokter, sama dengan mengeluh pada tembok. Sama-sama tidak akan didengar.Ellie menggeliat dan melihat waktu menunjuk hampir pukul delapan malam. Pantas saja perutnya lapar.Ellie menimbang ingin memesan makanan, tapi urung. Punggungnya pegal karena sibuk membuat laporan semenjak sore. Berjalan ke kantin rumah sakit akan memberi sedikit peregangan otot.Kafetaria rumah sakit terletak di lantai
Ellie menekan layar dengan panik, ingin segera memutus panggilan, tapi sudah terlambat. Nada sambung pertama sudah terdengar saat Ellie berhasil menyentuh icon ponsel berwarna merah, mengakhiri panggilan.Ellie sesaat mematung, sebelum bergegas membuka pesan, dan mengetik kecepatan tinggi.[Maaf. Aku salah membaca nama, aku tidak sengaja menelponmu]Ellie hanya bisa beralasan tidak sengaja tentu. Jawaban Jasper datang hampir seketika.[Oh.. aku pikir ada sesuatu terjadi. Syukurlah kalau tidak ada]Jawaban tipe Jasper, selalu berpikir ke depan dan memperkirakan. Dia hampir sama pintarnya seperti Raven. Mungkin karena itu dia betah bekerja pada Raven begitu lama, meski atasannya itu sedikit antik.[Bukankah di London hampir tengah malam? Kenapa kau belum tidur!!!?]Jasper mengirim pesan yang lain. Ellie mengerutkan kening saat melihat tiga tanda seru itu. Ellie membayangkan, dia pasti terganggu karena pesannya.[Sebentar lagi, Jaz. Tidak perlu menegurku seperti itu. Biar aku tebak, kau s
SATU BULAN KEMUDIAN "Ellie!""El, kau dipanggil." Beth menyentuh wajah Ellie, untuk menarik perhatiannya, karena Ellie sepertinya tidak mendengar panggilan itu."Oh!" Ellie menoleh ke pintu, dan melihat salah satu perawat memanggilnya, untuk menyerahkan beberapa catatan pasien."Sebentar." Ellie berpamitan pada Beth, untuk mengambil dokumen itu"Kau melamun? Kau terlihat pucat, El." Beth mengelus lengan Ellie, saat kembali memijit tangannya."Aku hanya sedang memikirkan sesuatu tadi." Ellie tersenyum menenangkan.Ellie hanya belum terbiasa untuk dipanggil dengan nama Ellie lagi. Saat pikirannya kosong, atau sedang berkonsentrasi seperti tadi, Ellie menjadi abai dengan panggilan itu.Ellie tentu saja kesal, karena ini bukan pertama kalinya terjadi.Pikirannya masih belum bisa melupakan panggilan itu sepenuhnya, meski sudah sebulan ini dia kembali ke kehidupannya yang normal, dan menjadi Ellie Harken. Nama Hazel tidak akan pernah didengarnya lagi."Sepertinya semenjak kembali kau menjad
Ellie tahu dari obrolan Sophie dan Marlow sebelum hari ini, kalau pelakunya sudah tertangkap saat itu juga. Hanya beberapa jam setelah kejadian.Pengawal yang menolong Ellie, menghajar mereka tanpa ampun, baru melapor pada polisi. Tapi meski tertangkap basah, keterangan dari Ellie seharusnya masih diperlukan. Bagaimanapun korban harus menceritakan detail kejadian asal lukanya.Tapi tidak ada kunjungan atau panggilan apapun sebelum hari ini, di rumah sakit pun tidak.Ellie memang hanya tiga hari berada di rumah sakit. Menurut Sophie, Raven yang meminta rumah sakit melepaskan Ellie lebih awal, dan dokter menyetujuinya, karena semua lukanya adalah luka luar.Namun urusan dengan polisi berbeda, seharusnya Raven tidak mungkin bisa ikut campur.Lalu seakan mementahkan pendapat dalam benak Ellie, Raven muncul dari dalam rumah, dibantu oleh Jasper di belakangnya menyambut polisi itu. Dia langsung mengajak mereka masuk ke dalam.Polisi itu hanya mengangguk dan tersenyum pada Ellie, tidak menamp







